Akibat Taruhan Menikah

Akibat Taruhan Menikah
Pemberi Harapan Kosong


__ADS_3

Sepanjang perjalanan pulang, Vara hanya diam saja, Ozy dan Santika berpandangan. Ozy tentu saja terkejut karena Pak Riko ternyata mengenal Vara. Dan lebih mengejutkan lagi, ternyata mereka nampaknya memiliki hubungan yang lebih dari sekedar orang yang saling mengenal. 


Sungguh, piknik yang tadinya direncanakan untuk bersantai sambil makan rujak buah, berujung pada keadaan yang penuh ketegangan. 


Terlihat jelas sikap Vara yang tadinya selalu tersenyum ceria berubah menjadi lebih banyak diam. Seakan Vara tak nyaman dengan kehadiran Riko yang muncul di tengah-tengah mereka dan bertindak seolah berusaha untuk mengakrabkan diri.


"Ozy, Santika, aku mau pulang," kata Vara yang merasa muak dengan kehadiran Riko.


"Yah, Vara, kita baru juga duduk santai," protes Ozy.


"Baiklah, kau boleh tinggal, aku akan pulang bersama Santika," kata Vara mengajak Santika.


"Iya, aku juga mau pulang," sahut Santika yang lebih bisa membaca situasi daripada Ozy.


"Vara, aku akan mengantarmu pulang," kata Riko.


"Tidak, terima kasih, Riko," tolak Vara.


Riko menghela nafas, ia menatap ke arah Vara, berusaha agar emosinya tidak tersulut lantaran Vara memilih bersikap dingin terhadapnya.


"Baiklah Vara, tolong kau pertimbangkan kembali penawaranku, anggap saja ini kesempatan yang bisa kuberikan padamu, aku melakukan ini demi kebaikan kita bersama!" Riko melanjutkan perkataannya dengan penuh percaya diri.


"Kalau begitu sampai jumpa, kutunggu kabar baikmu, Vara!" kata Riko sebelum melangkah pergi meninggalkan mereka. "Ozy, sampai jumpa besok di kantor!"


"Iya, Pak Riko, sampai jumpa besok," kata Ozy sambil menundukkan kepala.


...*****...


Ozy menatap Vara yang hanya diam menatap ke luar jendela mobil yang membawa mereka pergi dari tempat piknik. 


"Ozy, lihat ke depan!" kata Santika yang duduk di kursi depan, mengawasi Ozy yang mengemudikan mobil namun sebentar-sebentar menoleh ke arah Vara karena cemas pada Vara.


"Aduh, Vara, dari tadi kau melamun terus, hati-hati kerasukan setan!" celetuk Ozy.


"Ozy, Pak Riko itu atasanmu?" tanya Santika.

__ADS_1


"Iya," jawab Ozy.


"Atasanmu yang galak itu?" tanya Santika.


"Bukan, itu lain lagi, yang galak itu pemilik perusahaan. Pak Riko itu manajer keuangan, orangnya baik dan ramah, sangat populer di kalangan karyawati!" jawab Ozy.


Santika ber-oh, ia mencuri pandang ke arah Vara. 


"Ozy, aku dan Vara mau singgah ke spa, tolong antar kami ya," kata Santika.


"Baiklah, aku juga ikut, ya!" kata Ozy.


Vara dan Santika langsung dipersilakan petugas di pusat pijat refleksi dan perawatan tubuh yang menjadi tempat langganan Vara untuk memanjakan diri. Vara sungguh terkenang saat mengajak Viceroy ke tempat ini. Bagaimana pria itu begitu heboh karena merasa pijat refleksi terlihat begitu erotis di matanya. Viceroy sungguh nampak seperti pria polos yang sibuk dengan dunianya sendiri. 


Vara segera mengganti pakaiannya dengan jubah mandi berwarna merah gelap yang disiapkan petugas di ruang loker. 


"Kak Vara, silakan ikuti saya," kata terapis Vara mengantar Vara ke bilik perawatan.


"Kak Santika, silakan ikuti saya," kata terapis Santika.


Vara bertemu kembali dengan Santika di kolam air hangat, di sampingnya terdapat kolam air dingin yang nampak kosong tanpa pengunjung. Ruangan sauna juga nampak sepi, hanya ada seorang petugas yang berjaga di dekat ruang loker. Vara dan Santika segera berendam dalam kolam air hangat.


"Vara, Riko itu, pria yang lamarannya kau tolak ya?" tanya Santika berhati-hati.


"Benar," jawab Vara sambil memejamkan matanya.


"Vara, apa tidak salah, orang tuamu menjodohkanmu dengan pria belagu macam itu?" tanya Santika tak percaya.


"Tidak," jawab Vara singkat.


Sungguh miris jika Vara harus kembali mengingat hal-hal yang sebaiknya harus dilupakannya.  


"Apa kau menyukai pria itu?" tanya Santika.


"Aku tidak menyukai ataupun membencinya, hanya saja, aku sudah begitu kecewa atas perbuatannya, terlebih pada orang tuaku."

__ADS_1


"Apa?!" Santika terperangah.


"Riko, katanya sungguh tampan, dari keluarga baik-baik, berpendidikan tinggi, bekerja di perusahaan bagus serta memiliki jabatan penting! Dia sungguh pria paling sempurna di mata orang tuaku! Orang tuaku kecewa aku tidak menikah dengannya, San!" kata Vara.


Santika tak mampu berkata apa-apa.


"Dua puluh tahun pria itu memberi impian kosong pada orang tuaku," Vara terkekeh. "Aku sungguh berterima kasih pada suami yang sudah menikahiku! Jadi aku tidak perlu menikah dengan Riko!" lanjut Vara.


"Kau benar, Vara, sebaiknya kau berhati-hati padanya. Bagaimana bisa dia menginginkan wanita yang sudah bersuami secara terang-terangan seperti itu?! Sungguh tidak tahu malu!" rutuk Santika.


Usai melakukan spa, Vara dan Santika segera menuju ke pusat perbelanjaan. Sudah lama mereka tidak jalan berdua bersama, Ozy tentu saja masih mengekori mereka. Vara dan Santika memasuki gerai yang menjual sepatu dan tas. Keduanya nampak sibuk melihat-lihat sepatu dan tas. Vara sungguh ingin membeli sepasang sepatu baru. Sepatu tanpa hak menjadi sepatu kesukaan Vara, sementara Santika sangat menyukai sepatu hak tinggi.


"Vara, cantik sekali, kan sepatu ini," kata Santika memamerkan sepatu berwarna pink lembut ke arah Vara.


"Cantik sih, tapi haknya seperti egrang!" komentar Ozy.


"Mau coba pakai, Ozy?" tanya Vara.


"Aduh, bisa patah kakiku kalau jatuh!" cibir Ozy.


Santika dan Vara kemudian menuju ke toko yang menjual pakaian dalam. Ozy terpaksa menunggu di luar toko, ia tentu tidak mau dianggap pria mesum karena memasuki toko pakaian dalam wanita. Ozy hanya mencuri-curi pandang, pakaian dalam apa yang dicari oleh kedua temannya itu. Mata Ozy tertuju pada manekin yang memajang pakaian dalam berwarna merah, membuat wajah Ozy memerah karena membayangkan Santika memakai pakaian dalam itu. Ozy langsung membentur-benturkan kepalanya di tembok terdekat.


Sungguh pikiran hina yang terkutuk!


Vara menatap lingerie berwarna merah muda lembut yang membuat wajahnya bersemu merah. Dalam benaknya ia membayangkan memakai lingerie tersebut dan memamerkannya pada Viceroy.


"Vara, beli sudah, jangan dilihat terus," goda Santika.


"Aih, apa sih," Vara menjadi salah tingkah.


"Atau yang motif macan tutul ini juga seksi!" goda Santika lagi.


"Iih, apa sih San," cibir Vara.


"Kenapa, suamimu lebih suka melihatmu tanpa lingerie, begitu?!" goda Santika lagi.

__ADS_1


Vara memutar bola matanya, ia benar-benar berdebar-debar jika mengingat malam di mana ia dan Viceroy benar-benar sudah terbakar gairah. Ia sungguh terbuai sentuhan Viceroy yang seakan melumpuhkan tubuhnya. Membuatnya serasa terbang ke awang-awang. Namun semua harus dihentikannya karena Vara belum mendapat restu dari ibu Viceroy dan ibunya. Ia tidak mau dituduh melakukan jalan pintas demi mendapatkan restu dengan kehamilan. Vara sungguh ingin mendapatkan restu sesuai dengan prosedur yang sudah ditetapkan oleh Ibu Suri.


__ADS_2