
Gedung bulu tangkis sudah ramai dengan penonton yang siap meramaikan dan memberi dukungan kepada para peserta babak final turnamen internal bulu tangkis tahunan Victory Grup. Setiap tahun, turnamen bulu tangkis ini khusus untuk pertandingan ganda, yakni ganda putra, ganda putri, serta ganda campuran. Setiap tahun, Pak Ryo akan turun ke lapangan untuk menjadi kontestan WO tim ganda putra. Tahun ini, Pak Ryo justru menjadi kontestan tim ganda campuran. Siapa pun yang menjadi pasangan Pak Ryo, pasti mendapat seragam khusus.
Vara sungguh merasa tertekan, karena semua orang membicarakan betapa kompaknya seragam yang dikenakan Pak Ryo dan juga Vara. Mereka jadi terlihat seperti pasangan yang memakai baju kembar.
"Anda tenang saja, nanti saya yang akan melindungi anda," kata Pak Ryo pada Vara.
...*****...
Vara tahu, pada dasarnya Pak Ryo adalah pemain tunggal, sehingga posisi Vara di lapangan hanyalah sebagai pelengkap agar dapat disebut ganda. Kemenangan pun diraih dengan mudah oleh beliau hanya dalam dua set permainan.
Pertandingan kembali dilanjutkan dengan permainan ganda putra yang mengundang decak kagum para penonton yang bersorak-sorai gegap gempita.
Vara yang duduk di pinggir lapangan bersama penonton nampak merasa tidak enak, karena saat pertandingannya dengan Pak Ryo, suasana tidak terlalu antusias seperti pertandingan yang berlangsung saat ini.
"Vara, kau sungguh enak, menang tanpa berjuang," sindir Imel yang menghampiri Vara.
"Apa ini bisa disebut bertanding secara sportif?" sambung Dinda.
"Aduh, teman-teman, ini semua maunya Pak Ryo," Mbak Rani langsung membela Vara.
"Benar, Mbak, saya ini ikut apa kata Pak Ryo saja," sahut Vara.
"Wah, Vara, kau sungguh penurut atau karena mengincar posisi karyawan tetap ya?! Kelihatan sekali menjilat Pak Ryo," Dinda terkekeh.
Vara nampak menegang, Dinda dan Imel nampak tersenyum sinis karena merasa bahwa Vara sungguh licik lantaran sudah menang tanpa berjuang.
"Sudah, Vara, memang begitu kalau warganet julid," kata Mbak Rani menyemangati Vara.
Karena Mbak Rani tahu keputusan ada di tangan Pak Ryo, sementara Vara hanya mengikuti perintah saja.
...*****...
__ADS_1
Tepuk tangan membahana memenuhi gedung saat pembagian medali sebagai simbolis untuk para pemenang. Satu per satu para pemenang mendapat medali yang dikalungkan langsung oleh Pak Ryo, segera mendapat tepuk tangan para penonton.
"Pak Ryo tidak pakai medali?" tanya Imel.
"Saya yang kalungkan boleh, Pak?" tanya Dinda.
Pak Ryo hanya menjawab dengan senyum. Vara sungguh merasa tidak enak. Daripada jadi korban sindiran pedas Imel dan Dinda, ia bergegas berpamitan untuk pulang lebih dulu.
Vara segera keluar dari gedung olahraga, sambil mencari taksi daring. Vara menunggu di pintu keluar gedung.
"Bu Vara, saya akan mengantar anda," kata Pak Ryo yang tiba-tiba muncul di samping Vara.
"Pak Ryo!" Vara terkesiap.
...*****...
Ryo membawa Vara ke sebuah restoran mewah berlokasi di salah satu hotel berbintang lima yang berada di pesisir pantai. Restoran dengan konsep terbuka, menghadap langsung ke arah laut. Vara sungguh bertanya-tanya, mengapa Pak Ryo selalu membawa Vara ke tempat-tempat eksklusif dan mewah?
"Bu Vara, silakan pesan apapun yang Anda inginkan," kata Pak Ryo begitu pelayan menyodorkan buku menu untuk mereka.
"Jangan katakan Anda hanya pesan air mineral saja," lanjut Pak Ryo.
"Saya tidak mau, Pak, saat anda minta penggantian dana ke perusahaan akan jadi pertanyaan, untuk kegiatan apa!" kata Vara.
Pak Ryo tertawa.
"Bu Vara, saya tidak mungkin meminta penggantian dana untuk kegiatan pribadi saya," kata Pak Ryo.
"Lalu, untuk apa anda mengajak saya ke tempat mewah seperti ini?" tanya Vara.
"Tentu saja, untuk merayakan kemenangan," jawab Pak Ryo.
__ADS_1
"Pak Ryo, menurut pendapat saya, saya merasa kemenangan ini tidak adil untuk saya! Saya bahkan tidak berjuang dari awal, lantas tiba-tiba menang, rasanya sungguh tidak adil," kata Vara mengungkapkan unek-uneknya.
Pak Ryo tersenyum.
"Bu Vara, masalah keadilan, itu tergantung sudut pandang," kata Pak Ryo. "Menurut sudut pandang saya, anda berhak untuk ikut babak penyisihan, namun pekerjaan membuat anda tidak bisa hadir! Anda punya kemampuan yang harus saya apresiasi, saya bahkan bisa kalah dari anda karena jujur saja, awalnya saya meremehkan anda," lanjutnya.
"Jangan terlalu memikirkan anggapan orang lain, mereka hanya iri dengan pencapaian anda," kata Pak Ryo lagi.
Vara tertawa, saat ini Pak Ryo terlihat seperti motivator kondang yang sedang memberi motivasi di depan publik.
Pak Ryo memanggil pelayan lalu mulai memesan makanan. Vara mendengar penyanyi yang sedang membawakan lagu-lagu populer untuk menghibur pengunjung restoran.
"Apa ada pesanan lagu yang ingin didengar?" tanya pelayan itu ramah.
"Ada," jawab Vara.
Ryo tersenyum, wanita di hadapannya terlihat menuliskan sesuatu di kertas memo.
Ryo terkesan, wanita ini sungguh bukan orang yang pemilih. Dari sekian banyak makanan, wanita ini justru hanya memesan nasi goreng. Tipe wanita yang penurut dan tidak menuntut. Sungguh berbeda dengan kekasih Ryo yang begitu pembangkang dan penuh tuntutan. Hubungan Ryo dan kekasihnya bahkan sudah berada di titik jenuh, membuat Ryo berpikir untuk segera mengakhiri hubungan tersebut. Kehadiran Vara sungguh memberi angin segar untuk Ryo, getaran-getaran yang membuat Ryo merasa ia memang membutuhkan cinta yang baru.
Ryo tertegun saat mendengar lagu yang dibawakan oleh penyanyi bersuara indah itu. Vara terlihat antusias mendengar lagu tersebut.
"La vie en rose," Vara mengikuti penyanyi itu.
"Ini lagu pesanan anda, Bu?" tanya Ryo.
"Benar, Pak" jawab Vara tersenyum riang.
Vara langsung jatuh hati sejak pertama kali mendengar lagu tersebut. Apalagi mengingat saat mereka berdansa dengan perasaan yang begitu berbunga-bunga.
Ryo tersenyum, mendengar lagu tersebut membuatnya terkenang pada lagu kesukaan ayahnya ketika masih hidup.
__ADS_1