
Ryo mengemudikan mobil menembus gelapnya malam. Sepanjang perjalanan menuju ke rumahnya, lagu La vie en rose menemani dalam kesendiriannya. Ia sudah mengantar Vara pulang, namun ia merasa bahwa wanita itu masih menemaninya. Menatapnya lembut dengan senyum yang menawan sehingga membuat Ryo berdebar tak karuan.
Ryo tersenyum, ini bahkan bukan cinta pertamanya, namun mengapa sungguh menggetarkan jiwa?
Tidak sedikit wanita yang telah dikencaninya, semua wanita cantik yang tentunya selevel dengannya. Ryo tentu sangat selektif dalam memilih wanita yang akan dikencani. Ia tentu tak mau seperti adiknya yang tidak pernah berkencan dan justru menikah dengan wanita sembarangan.
Jeny, kekasih yang sudah dikencaninya dalam tiga tahun terakhir ini mendesaknya untuk menikah. Jeny merasa sudah begitu lelah dengan hubungan jarak jauh yang mereka lakukan.
"Ryo, jadi kapan kita akan menikah?" tanya Jeny.
"Jeny, memangnya kau siap bertemu dengan ibuku?" tanya Ryo.
"Untuk apa ibumu perlu menguji segala, Ryo? Memangnya apa kurangku? Aku bahkan berasal dari kalangan atas!" Jeny menolak dengan tegas saat mendengar bahwa ia perlu menghadapi ujian dari ibu Ryo.
"Jeny, aku akan menikahimu jika kau lulus ujian dari ibuku," kata Ryo.
"Ryo, bahkan jika aku mengandung anakmu pun, aku tetap harus mengikuti ujian konyol dari ibumu?!" tanya Jeny.
"Tentu saja," jawab Ryo. "Oleh karena itu, Jeny, persiapkan dirimu dengan baik, aku akan menjemputmu," kata Ryo.
Jeny tentu bukan satu-satunya wanita yang mengisi hari-hari Ryo dalam tiga tahun ini. Bahkan selama ini, belum ada wanita yang diajak Ryo untuk bertemu dengan ibunya lantaran kebanyakan wanita itu sudah tidak lolos dari proses seleksi Ryo.
Mungkin ini saat yang tepat bagi Ryo untuk membawa Jeny ke ibunya, dengan begitu Ryo punya alasan untuk mengakhiri kejenuhan hubungan mereka.
"Ryo, Sayangku," kata Jeny dengan suara manja begitu mendengar suara Ryo.
"Jeny-ku yang paling kucintai, bersiaplah Sayang, aku akan menjemputmu untuk menemui Ibuku," kata Ryo.
"Ryo, kenapa mendadak sekali?!" kata Jeny.
__ADS_1
"Jeny, bukankah aku sudah memintamu mempersiapkan diri dari dulu?" tanya Ryo.
"Kau benar, Ryo, tapi ini terlalu mendadak," jawab Jeny.
"Aku akan menyuruh sekretarisku untuk mengaturkan penerbanganmu besok pagi," kata Ryo.
"Tidak bisa, Sayang, besok aku ada meeting penting," tolak Jeny.
"Jeny, aku akan menikahimu, bukankah itu yang kau inginkan?" tanya Ryo.
"Baiklah, Sayang, aku mencintaimu," jawab Jeny.
Ryo menutup teleponnya dan tersenyum pada bayangan Vara yang masih menemaninya di dalam mobil.
"Tunggu saja, aku pasti akan memilikimu," kata Ryo bermonolog.
...*****...
Ryo menyambut kedatangan Jeny di bandara. Jeny langsung memeluk erat kekasih yang sudah enam bulan terakhir tak pernah ia temui. Hanya sekedar telepon, berkirim pesan, dan panggilan video yang dapat mereka lakukan.
Jeny sungguh ingin menikah dengan Ryo, wanita berusia dua puluh lima tahun yang jatuh cinta pada pria yang dua belas tahun lebih tua darinya. Pengusaha muda dan cantik yang merupakan anak dari pengusaha tambang yang sukses.
Ryo sudah meminta waktu ibunya untuk menguji Jeny. Ibu tentu akan melakukannya dengan senang hati, karena akhirnya Ryo mempunyai niatan untuk menikah juga.
...*****...
Jeny mengeluh saat harus menunggu ibu Ryo selama tiga jam. Wanita muda itu memasang wajah luar biasa cemberut saat ibu Ryo akhirnya muncul setelah melalui sesi latihan yoga.
"Siapa namamu?" tanya Virda.
__ADS_1
"Jeny, Tante," jawab Jeny penuh percaya diri.
"Tolong siapkan teh," perintah Virda.
"Tante, bukankah di rumah ini sudah ada pembantu?" tanya Jeny.
"Benar, tapi saya ingin kau yang menyiapkan teh," jawab Virda.
"Maaf, Tante, tapi membuat teh bukan tugas saya," tolak Jeny tegas.
Virda tertawa mendengar perkataan Jeny. Apa Ryo sedang mengajaknya bercanda dengan membawa wanita pembangkang seperti ini?
Jeny tersenyum karena merasa bahwa ibu Ryo menyukainya, buktinya ibu Ryo bisa tertawa lepas seperti itu.
Nampaknya Virda harus menyudahi sesi ujiannya dengan wanita muda ini, daripada darah tingginya harus kambuh lantaran menahan emosi.
"Kau boleh pergi," perintah Virda.
"Serius, Tante?" tanya Jeny tak percaya. "Tante tidak memberiku ujian cinta seperti kata Ryo?" lanjut Jeny.
"Tidak perlu," jawab Virda.
"Jadi Tante menerimaku?" tanya Jeny.
"Ya, aku menerima perpisahan kalian secepatnya," jawab Virda dengan ekspresi datar.
"Terima kasih sudah meluangkan waktumu untuk menemuiku," lanjut Virda.
Virda segera meninggalkan Jeny yang nampak mematung.
__ADS_1