
Viceroy menatap gelisah layar ponsel, memandangi foto pemandangan matahari terbenam yang menjadi foto profil Vara di aplikasi pesannya. Viceroy galau, apakah ia harus menelepon Vara atau tidak. Baru tiga malam ia tidak bertemu Vara, rasanya waktu bergulir begitu lamban. Viceroy tidak ada menghubungi Vara sama sekali, berharap wanita itu yang lebih dulu menghubunginya. Apa Vara baik-baik saja? Apa yang sedang dilakukannya?
Viceroy sungguh ingin tahu, namun ia terlalu gengsi untuk menghubungi lebih dulu.
Vara memang pernah komplain pada Viceroy, karena wanita itu sulit sekali menghubunginya. Memang, ponsel Viceroy tidak akan berhenti berdering kecuali ia mematikannya. Tiga ponselnya bahkan bisa berdering bersamaan, karena begitu banyak orang yang menghubungi. Padahal ia sudah membedakan, satu ponsel untuk urusan kantor, satu ponsel lagi untuk klien, dan satunya lagi untuk keperluan pribadi. Viceroy sendiri memasukkan nama Vara ke ponsel khusus untuk klien, karena saat pertemuan pertamanya dengan Vara, Viceroy menganggap Vara adalah kliennya. Sehingga tak heran, jika Vara menelepon, ia baru akan menghubungi Vara kembali setelah pembicaraannya dengan klien lain berakhir.
Berkali-kali Viceroy mengetik pesan yang kemudian dihapusnya kembali. Lebih mudah berbicara langsung daripada harus mengetik pesan, itulah yang ada dalam benaknya.
Viceroy memilih mengalah, ia akhirnya menekan tombol panggil, dan menunggu nada tersambung.
Apa harusnya ia melakukan panggilan video saja?
Ah, tapi ini sungguh memalukan, batin Viceroy bergulat.
Ia bahkan baru saja selesai mandi dan hanya mengenakan handuk yang terlilit di pinggang. Vara pasti akan menganggapnya pria murahan, yang sengaja pamer badan untuk menggodanya.
"Viceroy," kata Vara.
Terdengar suara musik yang begitu menggema.
"Kau belum kembali ke hotel?" tanya Viceroy.
"Belum," jawab Vara.
__ADS_1
"Jam berapa sekarang? Dan kau masih di luar?" tanya Viceroy.
Vara tidak menjawab.
"Iya, nanti aku kembali ke hotel," jawab Vara.
"Kembali sekarang juga," perintah Viceroy.
"Untuk apa aku harus cepat-cepat kembali ke hotel? Aku kesepian dan ketakutan!" sahut Vara.
"Kau mau aku kembali sekarang juga?" tanya Viceroy.
Vara kembali diam.
Vara tersenyum, saat ini ia sungguh salah tingkah.
"Katakan padaku kau merindukanku, aku akan kembali sekarang juga," kata Viceroy.
"Jangan bercanda, Viceroy, kau bahkan menghilang entah ke mana," sahut Vara.
"Aku tidak bercanda, Vara," kata Viceroy.
"Rindu, aku merindukanmu," kata Vara terdengar tertawa kecil.
__ADS_1
Viceroy segera menutup teleponnya. Ia bergegas memakai pakaian lalu mengemasi barang-barangnya.
"Pak Bagas, saya harus pulang lebih dulu, sampai ketemu di kantor," kata Viceroy menelepon Pak Bagas.
"Baik, Pak," jawab Pak Bagas keheranan.
Padahal jadwal penerbangan mereka kembali ke tanah air adalah besok siang.
Viceroy tidak peduli, ia segera menghubungi pilot pesawat jet pribadinya untuk menjemputnya sekarang juga. Ia akan pulang untuk menemui wanita yang merindukannya.
...*****...
"Terima kasih, Pak Ryo, saya permisi dulu," kata Vara berpamitan pada Ryo.
Vara meminta Ryo mengantarnya ke rumah Santika. Sementara, Vara akan mengakui bahwa rumah Santika adalah rumahnya karena Vara memang tidak punya rumah. Ia tak mungkin meminta Pak Ryo untuk mengantarnya ke hotel tempatnya menginap. Daripada memunculkan pertanyaan yang harus dijelaskan, dengan begini lebih baik.
Ryo hanya diam, rasanya begitu berat untuk berpisah dengan Vara. Ia menahan tangan Vara, menarik tubuh wanita itu ke pangkuannya dan memberi ciuman yang dalam pada bibir mungil wanita itu. Terdengar wanita di atasnya ini melenguh dan tersengal-sengal mengatur nafasnya yang sama memburunya seperti nafas Ryo. Ryo menahan tubuh wanita itu, seakan tak ingin melepaskannya begitu saja.
Ryo tersadar dari lamunannya begitu mendengar pintu mobilnya tertutup.
Vara sudah keluar dari mobilnya, membuka pagar sebuah rumah sederhana, dan mengetuk pintu rumah tersebut.
Ryo segera mengemudikan mobilnya meninggalkan rumah tersebut begitu dilihatnya Vara memasuki rumah itu. Ryo menepikan mobilnya di pinggir jalan.
__ADS_1
Ia menyandarkan kepalanya, lalu menarik nafas dan menghembuskannya dengan begitu berat. Ia sungguh tak mengerti, mengapa sesaat ia berfantasi seperti itu. Ini sungguh gila dan benar-benar di luar akal sehatnya. Ryo bahkan terlalu tua untuk berdebar-debar karena jatuh cinta.