
Sofia segera duduk di sofa ruang kerja Viceroy yang berada di lantai teratas gedung perusahaan Royal Grup. Sofia terpana melihat ruangan kerja yang minimalis. Viceroy duduk di sofa yang berbeda sisi dari Sofia. Ibu Viceroy memang sudah menginformasikan bahwa Sofia akan datang ke kantor Viceroy, agar Sofia bisa mendapat pekerjaan di perusahaan tersebut.
"Apa yang membawamu ke sini?" tanya Viceroy dingin.
Viceroy melipat tangannya di depan dada dan menatap lurus ke arah Sofia. Sofia merasa gemetaran dengan tatapan mata calon suaminya itu. Tatapan mata setajam pisau dan sedingin es yang begitu mengintimidasinya.
"Tante Virda pasti sudah mengatakan ...," Sofia menggantungkan kalimatnya karena Viceroy menerima telepon.
Sofia duduk menunggu hingga Viceroy selesai menerima telepon. Namun sungguh ia mulai gusar, karena pria itu tiba-tiba keluar dari ruangan kerjanya, bolak-balik seperti setrikaan, masih tetap dengan ponsel yang menempel di telinga kirinya. Sofia merasa seperti orang telantar, karena Viceroy begitu sibuk.
Terlihat seorang wanita datang dan menunjukkan dokumen yang harus ditanda tangani Viceroy.
"Harga sudah disepakati, segera diaturkan pengantarannya," kata Viceroy.
"Baik, Pak," jawab wanita itu.
"Maria, tolong dicek stok minyak di kapal!" Viceroy menelepon seseorang melalui telepon di meja kerjanya.
__ADS_1
Viceroy duduk kembali ke sofa, melihat Sofia yang nampak memasang wajah cemberut. Namun Viceroy tidak peduli, siapa suruh wanita itu datang di jam kerjanya.
"Sampai di mana tadi pembicaraan kita?" tanya Viceroy.
"Oh ya, tante Virda ...," jawab Sofia.
"Iya, halo, Pak," Viceroy kembali menjawab teleponnya.
Sofia melengos, sepertinya ia sungguh salah sudah menemui pria itu di jam kerjanya. Viceroy masih tetap sibuk dan jelas sekali mengabaikan keberadaan Sofia.
Awalnya Sofia sungguh senang, saat mendapat kabar bahwa Tante Virda memilihnya untuk bertunangan dengan Viceroy. Pria yang menjadi rebutan para sepupunya. Sofia dianggap layak menjadi tunangan Viceroy, mengingat ia memiliki pendidikan sarjana dari universitas terkenal. Ada sepupu yang masih lajang, hanya saja masih menempuh pendidikan SMP dan SMA.
Saat pertemuan pertamanya dengan Viceroy, Sofia langsung jatuh hati pada ketampanan Viceroy. Meski ada kakak Viceroy yang juga tampan, namun Viceroy justru terlihat lebih memesona dengan sikapnya yang dingin.
Tante Virda menyuruh Sofia untuk menemui Viceroy, agar Sofia bisa mendapat pekerjaan yang membuatnya bisa mengenal lebih dekat calon suaminya itu. Karena menurut Tante Virda, Viceroy adalah pekerja keras yang tak ada waktu luang untuk berkencan. Belum lagi, saat ini Viceroy juga masih menikah dengan wanita lain. Tante Virda berharap, kehadiran Sofia bisa membuat Viceroy mempertimbangkan mana wanita yang lebih baik, istrinya ataukah Sofia.
"Apa?!" teriak Viceroy membuat Sofia terlonjak kaget.
__ADS_1
"Bukankah saya sudah pernah katakan berkali-kali?! Jangan coba-coba jual minyak yang ada di kapal saya!! Mau memang dibalik piring nasinya orang-orang itu?! Turunkan semua kru kapal yang terlibat! Saya tidak mau tahu! Kalau perlu ambil jalur hukum! Tuntut mereka semua, jebloskan ke penjara!" teriak Viceroy penuh kemurkaan.
Sofia sungguh syok mendengar teriakan Viceroy yang terdengar seperti petir yang menyambar-nyambar di tengah badai. Sofia langsung menggigil ketakutan, pria yang ada di hadapannya ini benar-benar seperti monster.
"Beleng-beleng semua itu orang kapal! Bisa-bisanya berani jual minyak di daerah kekuasaan saya?! Mau cari mati apa?!" Viceroy menutup teleponnya.
Viceroy menatap Sofia yang nampak memucat dan gemetaran hebat. Sofia benar-benar tidak bisa berkata apa-apa, seketika pikirannya langsung kosong.
"Oh ya, kau," kata Viceroy menghela nafas berat. "Begini ya, saya tidak bisa mempekerjakan orang hanya karena orang itu direkomendasikan oleh siapapun, semua tetap tergantung pada kualifikasi dan kompetensinya! Kalau Anda memang tetap mau bekerja di perusahaan saya, Anda harus mengikuti prosedur yang telah disiapkan," Viceroy menjelaskan.
"I-iya," Sofia mengangguk.
"Kalau anda sudah mengerti, pergilah, saya masih banyak pekerjaan!" perintah Viceroy.
Sofia bergegas pergi dari ruangan Viceroy. Sofia gemetaran, ia bahkan tak sadar bahwa ia terkencing-kencing di celana karena mendengar teriakan Viceroy yang begitu mengerikan.
Sepertinya ia harus memikirkan ulang mengenai perjodohannya dengan Viceroy. Ia sungguh tidak bisa membayangkan bagaimana nasibnya jika menikah dengan pria itu. Tidak hanya sikapnya saja yang dingin namun ternyata temperamennya pun begitu keras. Entah bagaimana wanita yang menjadi istri pria itu bisa tahan menikah dengan pria galak macam Viceroy.
__ADS_1