
Vara segera kembali ke gazebo tempat mereka memancing dengan membawa nampan berisi hasil masakan Vara. Memang bukan menu mewah yang disajikan oleh Vara, karena memang di tempat ini bahan masakan yang dijual juga terbatas. Vara membawa nampan berisi ikan nila yang digoreng kering, sayur asem, dan sambal terasi. Pak Ryo segera mencicipi hasil masakan Vara. Pria itu hanya diam saja, peluh mengalir membasahi wajahnya, sesekali ia mendesis lantaran sambal yang dibuat Vara begitu pedas, namun sangat nikmat.
Vara tersenyum karena Pak Ryo makan dengan lahapnya. Vara merasa senang, ini seperti mimpi baginya. Seorang pria tampan yang selama ini hanya bisa dipujanya dalam diam, kini berada begitu dekat dengan Vara. Vara segera menyingkirkan rasa kagumnya itu jauh-jauh. Ia sadar hanya bisa sekedar mengagumi saja, apalagi menurut kabar yang beredar, Pak Ryo akan segera menikah. Sungguh tidak terpuji jika Vara berpikir untuk menggoda Pak Ryo.
Lagipula, saat ini ia sedang dalam tahap uji kompetensi menjadi karyawan tetap. Vara tidak boleh menyia-nyiakan kesempatan emas ini. Tujuh tahun ia bekerja, berjuang mengubah status kepegawaiannya dari pekerja kontrak menjadi pegawai tetap. Apalagi status pegawai tetap begitu diincar oleh para karyawan Victory Grup, lantaran begitu memengaruhi fasilitas-fasilitas yang akan diberikan kepada pegawai tetap. Yang pasti masa kerja hingga usia pensiun, lalu mendapat fasilitas asuransi kesehatan kelas premium, mendapat berbagai tunjangan, kenaikan gaji yang signifikan, pengajuan pinjaman bunga nol persen dari perusahaan, dan masih banyak benefit lain untuk karyawan tetap.
Usai menyantap makan siangnya, Ryo menyandarkan punggungnya di salah satu tiang gazebo. Ia segera berkutat di layar ponselnya, membaca satu persatu pesan yang masuk, mempertimbangkan akan membalasnya atau tidak. Sesekali ia melihat ke arah Vara yang duduk bersandar di sisi lain gazebo. Wanita itu nampak melamun, matanya menerawang jauh.
Ryo ingin bertanya mengenai kejadian tadi pagi, namun ia mengurungkannya karena tidak ingin disangka kepo. Rupanya tidak buruk mencuri waktu untuk bersantai sejenak, melupakan kepenatan bekerja. Ryo menatap Vara yang nampak memejamkan mata karena terbuai angin yang bertiup sepoi-sepoi manja.
__ADS_1
Ponsel Ryo bergetar, ia segera menjawabnya.
"Bu Vara," panggil Pak Ryo.
Sebenarnya ia tidak ingin membangunkan wanita itu. Namun, mereka harus kembali ke kantor.
Vara terkesiap, ia membuka matanya. Ia sungguh kaget karena Pak Ryo memanggilnya. Pria itu nampak bersiap-siap pergi.
Ryo melajukan mobilnya dengan kecepatan yang membuat Vara nyaris kehilangan jantung. Vara merasa ia sedang berada di samping pembalap F1 yang sedang berkompetisi di atas sirkuit balap. Wajah Ryo yang biasanya selalu terlihat ramah, kini terlihat menegang.
__ADS_1
"Kumpulkan tim marketing sekarang juga, siapkan proposal final tender proyek Aurum Mining! Harusnya sudah tidak ada masalah lagi dengan proposal tersebut! Bagaimana bisa kita kalah dari Royal Grup?!".
Vara hanya mendengarkan Pak Ryo yang sedang berbicara di telepon sambil tetap mengemudi. Vara merasa mual dan pusing karena Pak Ryo mengemudi secara ugal-ugalan.
"Pak Ryo, tolong turunkan saya di sini, saya mual sekali, rasanya mau muntah," keluh Vara.
Pak Ryo segera menghentikan mobilnya, Vara segera turun dan mengambil semua barang bawaannya. Pak Ryo nampak memasang ekspresi menyesal, namun pria itu hanya diam, lalu melanjutkan kembali perjalanannya tanpa Vara.
Vara merasa begitu mual dan pusing, ia benar-benar mabuk kendaraan. Ia berjalan menuju ke selokan terdekat lalu mengeluarkan semua isi perutnya. Vara merasa akan mengeluarkan lambung dan ususnya juga saking mualnya.
__ADS_1
nb : jangan lupa komen dan like kaka