Akibat Taruhan Menikah

Akibat Taruhan Menikah
Bertemu Tetangga Nyinyir


__ADS_3

Bu Muji, Bu Bejo, dan Bu Rudi, baru saja meninggalkan salon tempat mereka melakukan aktivitas perawatan rambut di salah satu salon kenamaan di pusat perbelanjaan. Setiap bulan, ketiganya memang selalu meluangkan waktu untuk perawatan rambut. Mereka selalu meluangkan waktu untuk pergi bersama di siang hari, saat suami dan anak-anak mereka tidak ada di rumah. Terkadang mereka juga mengajak ibunya Vara untuk bergabung bersama dengan tujuan saling mengakrabkan diri dan agar tidak stres hanya di rumah saja.


Mata Bu Muji menangkap sosok yang dikenalnya keluar dari toko parfum. Terlihat Vara menggandeng seorang pria bertubuh tinggi.


"Bu Bejo, itu Vara!" kata Bu Muji menunjuk ke arah Vara.


"Sedang apa dia keluyuran siang-siang begini? Memangnya tidak bekerja?" tanya Bu Bejo.


"Siapa pria tinggi itu?" tanya Bu Rudi.


"Ayo, kita ikuti," ajak Bu Muji.


Mereka bertiga membuntuti Vara yang menuju ke pintu masuk basement. Terlihat Vara berpisah dari pria tinggi itu.


"Loh, Vara!" tegur Bu Muji pura-pura bertemu Vara.


"Bu Muji, Bu Bejo, Bu Rudi," sapa Vara.


"Sungguh kebetulan bertemu di sini," kata Bu Rudi.


"Apa kabar, Vara?" tanya Bu Bejo.


"Baik, Ibu-ibu sendiri, bagaimana?" tanya Vara.


"Seperti yang terlihat," jawab Bu Rudi.

__ADS_1


"Tinggal di mana sekarang?" tanya Bu Bejo.


"Tinggal bersama suami, Bu," jawab Vara.


"Suami? Bukannya kau sudah ditinggal suamimu ya?" celetuk Bu Muji.


"Tidak, Bu, saya masih bersuami," jawab Vara tenang.


"Bukannya semua orang tahu bahwa kau sudah menjanda?!" kata Bu Bejo.


"Riko pernah memergokimu jualan di hotel!" celetuk Bu Muji.


"Ah, itu hanya kesalahpahaman, Bu, saya dan suami saya baik-baik saja," kata Vara seraya tertawa.


"Suamimu mana?" tanya Bu Rudi.


"Hari gini masih naik sepeda motor?!" celetuk Bu Rudi.


Viceroy menghentikan sepeda motornya di depan Vara yang nampak sedang berbincang dengan tiga orang wanita paruh baya. Ia segera melepas helm full face-nya. Ketampanan Viceroy langsung mencuri perhatian ketiga wanita paruh baya itu.


"Ibu-ibu, perkenalkan, ini suami saya," kata Vara.


Ketiganya memerhatikan pria tinggi berwajah rupawan yang mengenakan kaos lengan panjang pas di tubuh, dengan celana jeans berpotongan lurus, serta sepatu kets hitam-putih.


Viceroy menundukkan kepala, berusaha tersenyum memandang wajah-wajah yang nampak kesal melihatnya dan juga Vara.

__ADS_1


"Oh, ini ya, menantu Pak Slamet yang katanya tampan, kerjanya jual ikan?!" celetuk Bu Muji nampak berang.


Bu Muji tidak bisa menyembunyikan kekesalannya lagi.


"Vara, Vara, kau membuang berlian demi kerikil seperti ini! keponakanku jauh lebih bagus dari suamimu ini!" Bu Muji tertawa dibuat-buat.


Suasana langsung menegang.


"Bu Muji!" sergah Bu Bejo sambil melotot.


"Loh, Ibu-ibu tahu sendiri, keponakanku itu, sudah tampan, sekolahnya bagus, pekerjaannya bagus, tapi wanita bodoh ini malah memilih pria seperti ini, yang cuma modal tampang!" celetuk Bu Muji makin menjadi-jadi.


"Bu Muji, sudah, sudah," kata Bu Bejo.


"Pantas saja, ya, ibumu sampai pulang kampung, saking malunya punya anak tidak tahu diri sepertimu, Vara," lanjut Bu Muji.


"Bu Muji, terima kasih, ya, atas perkataan Bu Muji. Saya jadi bersyukur tidak memilih keponakan Bu Muji jadi suami saya, kalau tidak, hari-hari saya pasti lelah dicekoki kenyinyiran mulut keluarga kalian!" kata Vara sambil tersenyum. 


"Vara, ayo kita pergi," kata Viceroy menatap geram ibu-ibu itu.


"Permisi, Bu, sehat-sehat, ya," kata Vara berpamitan.


Viceroy segera mengendarai sepeda motornya meninggalkan ibu-ibu yang mematung mendengar perkataan Vara.


Bu Muji nampak tak bisa menyembunyikan ekspresi terkejutnya. Sungguh Vara berani sekali mengatainya nyinyir?!

__ADS_1


"Bu Bejo, suami Vara itu sungguh tampan!" Bu Rudi yang sedari tadi diam akhirnya bicara.


__ADS_2