
Laras senang, salah satu strateginya untuk memancing keluar istri Viceroy membuahkan hasil. Wanita berpenampilan nyentrik yang langsung menjadi pembicaraan semua orang di Royal Grup. Pantas saja pria itu menutup rapat pernikahannya, ternyata istri pria itu benar-benar seperti Ondel-Ondel. Dengan memakai gaun-gaun panjang bertabur payet, riasan tebal dengan tubuh gempal berisi yang membuat Laras ingin tertawa keras-keras, mengejek selera pria itu.
Menurut Bagas, wanita itu beberapa kali datang ke kantor untuk menemui Viceroy, hanya saja Viceroy sering kali tidak ada di tempat. Laras harus menemui wanita itu, ia harus menunjukkan bahwa wanita itu sungguh tak pantas mendampingi Viceroy. Bagi Laras, hanya ia yang pantas untuk menjadi istri Viceroy.
"Ya, ampun, kupikir secantik dan sehebat apa istri Viceroy sampai pria itu benar-benar begitu rapat menyembunyikan pernikahannya, Bagas," komentar Laras saat Bagas memberi informasi padanya.
"Yah, Pak Roy mungkin memang memiliki selera yang unik," jawab Bagas.
"Apa Viceroy dijodohkan oleh orang tuanya dengan tandon air itu, Bagas?" tanya Laras lagi.
"Menurut Riko, Pak Roy tidak dijodohkan," sahut Bagas.
"Ya ampun, kalau begini sungguh mudah bagiku untuk merebut Viceroy dari istrinya! Aku jadi bersimpati pada Viceroy, mengapa dia mau menikah dengan ibu-ibu tua bangka seperti itu!" Laras tertawa keras-keras.
"Musuh yang terlihat memang lebih mudah untuk dikalahkan! Aku jadi tidak perlu merasa melawan kotak kosong lagi!"
...*****...
Sofia biasa datang ke kantor Viceroy untuk membawakan calon suaminya makan siang sesuai arahan dari Tante Virda. Namun pria itu selalu tidak ada di tempat. Menurut keterangan beberapa karyawan, atasan mereka itu begitu sibuk mengurus pekerjaannya.
"Apa! Suamiku tidak ada lagi di kantor?!" Sofia berdecak kesal pada resepsionis bernama Putri itu.
"Kau pasti berbohong padaku!" cecar Sofia.
__ADS_1
"Maaf, Bu, tapi Pak Roy memang belum terlihat datang ke kantor," kata Putri.
Sofia merengut, benar-benar susah sekali untuk menemui calon suaminya itu. Sofia merasa kedatangannya kali ini kembali sia-sia karena lagi-lagi ia menjadi ajang tontonan para karyawan yang terlihat kepo. Bagi Sofia, ia sudah sewajarnya bersikap seperti itu, karena ia akan menjadi istri pemilik perusahaan ini. Ia akan menjadi Nyonya Bos yang berkuasa penuh di perusahaan besar ini. Sofia akhirnya memutuskan pulang, dan akan kembali mengadu pada Tante Virda.
Sofia baru saja hendak pergi meninggalkan gedung kantor tersebut, saat seorang wanita berpenampilan seksi datang menghampirinya.
Wanita itu bertubuh tinggi dan ramping dengan kulit eksotis. Rambutnya yang ikal, panjang dan bergelombang terurai menampakkan leher yang jenjang. Sofia langsung merasa insecure saat melihat aset kembar wanita itu begitu besar, terumbar dengan belahan yang begitu nampak jelas dibalut pakaian dengan belahan dada yang rendah. Ditambah rok ketat di atas lutut yang mengekspos jelas kakinya yang ramping. Wanita itu berwajah tegas, dengan alis menukik tajam, bibir tebal dengan sapuan lipstik merah menyala dan mata yang dibingkai dengan garis mata bergaya kucing, ditambah bulu mata tebal nan lentik anti badai. Bagi Sofia wanita ini terlihat seperti belalang sembah di atas dedaunan.
...*****...
Laras menatap wanita bertubuh gempal di hadapannya. Usia wanita ini seperti wanita yang sudah berumur empat bahkan kepala lima, wajah yang bulat, berhidung kecil tanpa tulang, bibir yang lebar dan tebal dalam sapuan lipstik berwarna pucat. Matanya dibingkai dengan riasan smokey gelap dengan alis yang ramping dan tinggi.
Sungguh di mata Laras wanita ini seperti babi yang didandani.
"Siapa, ya?" tanya Sofia memicingkan matanya.
"Bisa kita bicara di tempat lain?" tanya Laras.
"Maaf, saya tidak tertarik bicara dengan orang asing," jawab Sofia tegas.
"Orang asing?!" Laras tertawa. "Bukankah yang orang asing itu justru anda? Terlebih, anda sepertinya tidak punya cermin ya di rumah? Ondel-ondel seperti anda tidak pantas menjadi istri Pak Roy, hanya aku yang pantas!" lanjut Laras.
Sofia syok mendengar wanita asing yang datang, mengatainya Ondel-ondel, dan merasa lebih pantas menjadi istri Roy! Siapa wanita itu sebenarnya?
__ADS_1
Laras tersenyum penuh kemenangan, ia bergegas pergi meninggalkan Sofia yang mematung. Wanita itu sungguh tidak sejajar untuk bisa bersaing dengan Laras. Ya, Laras hanya perlu menjatuhkan mental wanita itu saja. Dengan begitu, wanita itu pasti akan mundur dengan sendirinya. Lihat saja, Laras benar-benar akan menyingkirkan wanita itu dan merebut Viceroy seutuhnya.
...*****...
Sofia sungguh tak terima diperlakukan seperti itu, apa wanita itu adalah istri Roy? Karena wanita itu menyebut dirinya lebih pantas jadi istri dari calon suaminya itu.
Sofia jadi teringat pembicaraannya dengan Tante Virda dan Kak Ryo. Saat itu, Viceroy sudah pergi lebih dulu begitu selesai makan malam.
"Loh, Roy di mana, Bu?" tanya Ryo yang langsung bergabung di meja makan.
"Sudah pergi dari tadi, katanya masih ada urusan," jawab Virda.
"Urusan? Haha, paling menemui istrinya!" kata Ryo.
"Kak Ryo, tahu istri Roy?" tanya Sofia memberanikan diri untuk bertanya.
"Tentu saja aku tahu!" jawab Ryo. "Kenapa? Sofia mau tahu istri Roy?" tanya Ryo.
Sofia mengangguk, ini kesempatannya untuk mengorek informasi sebanyak mungkin tentang istri dari calon suaminya itu.
"Yang pasti kau lebih unggul darinya Sofia, istri Roy itu wanita yang binal, bahkan pernah menggodaku! Sungguh aku lebih mendukungmu untuk menjadi adik iparku daripada wanita itu," Ryo menjelaskan.
"Terima kasih atas dukungan Kak Ryo," kata Sofia malu-malu.
__ADS_1