
Vara mengambil barang-barangnya yang ia titip di resepsionis hotel. Mereka berdua segera meninggalkan hotel, sepeda motor yang dikendarai Viceroy mulai meninggalkan wilayah perkotaan, menuju suatu tempat yang begitu jauh dari pemukiman penduduk. Jalur masuknya melalui perbukitan yang di sisi kiri-kanan dipenuhi pepohonan yang rimbun. Vara merasa matanya dimanjakan pemandangan hijaunya pepohonan dan udara yang sangat segar.
Sebuah pintu gerbang hitam dijaga dengan ketat oleh pasukan bersenjata lengkap. Vara sungguh terkejut saat pasukan bersenjata lengkap itu menghentikan perjalanan mereka. Beberapa saat kemudian terlihat mereka membukakan pintu gerbang besar dan mempersilakan mereka masuk.
Vara hanya diam saja, ia tak berani bertanya-tanya, karena Viceroy pun juga masih diam saja. Vara yakin, Viceroy pasti marah dan tersinggung atas ucapan Bu Muji yang jelas sekali mempermalukan mereka berdua. Bagi Vara, ia tak mau ambil pusing, karena Bu Muji memang terkenal sangat nyinyir di perumahan tempat Vara tinggal dulu. Padahal ayah dan ibu Riko tidak seperti itu, mengapa Riko benar-benar mirip seperti tantenya itu?
Mereka mempermasalahkan latar belakang Viceroy, persis seperti ibu Vara.
Apakah Ibu sendiri yang menceritakan latar belakang Viceroy kepada para tetangga nyinyir?
Padahal Vara sama sekali tidak pernah mempermasalahkan latar belakang Viceroy. Ia sungguh berterima kasih karena pria itu sudah bersikap baik padanya selama mereka menikah, itu sudah lebih dari cukup.
Mata Vara tertuju pada sebuah rumah berdinding kaca berwarna biru. Rumah bergaya minimalis dengan cat putih yang nampak megah. Rumah yang dikelilingi pepohonan rimbun, terdapat gazebo dan kolam-kolam ikan. Vara terpana karena terdapat taman bunga aster beraneka warna. Mulai dari kuning, merah, merah muda, putih, hingga ungu di kiri-kanan jalan setapak menuju ke rumah itu.
Pintunya terbuat dari kaca berpanel elektrik, Viceroy membuka pintu dengan mengetuk layar ponselnya. Mereka memasuki rumah yang tidak terlalu besar. Dapur bergaya modern langsung menyambut mereka begitu pintu terbuka.
"Rumah siapa ini, Viceroy?" tanya Vara.
"Rumahku," jawab Viceroy.
Vara terpana, rumah bergaya minimalis dan modern, jauh lebih sederhana daripada rumah ibu Viceroy. Interiornya pun sangat minimalis, tidak ada karpet bulu tebal ataupun ornamen-ornamen emas.
__ADS_1
"Kita tidak akan tinggal di hotel lagi, kita akan tinggal di sini," kata Viceroy. "Barang-barangmu ada di ruangan yang itu," Viceroy menunjuk sebuah pintu di salah satu sudut dapur.
"Apa itu kamarku?" tanya Vara.
Viceroy mengerutkan kening, ia tidak mungkin menyuruh Vara tidur di gudang.
Vara segera menuju ke ruangan yang ditunjuk Viceroy. Ruangan itu tidak terlalu besar, barang-barang Vara masih berada dalam kardus. Vara sungguh merindukan barang-barangnya yang sudah beberapa bulan ini tidak dilihatnya.
Ia membuka salah satu kardus untuk mengecek isinya, memastikan tidak ada barang yang hilang. Viceroy mengekori Vara yang nampak membuka kardus berisi buku-buku koleksi wanita itu.
"Viceroy, kau masih menyimpan buku ini?" tanya Vara menunjukkan sebuah buku kenangan yang dibagikan saat mereka lulus SMA.
Viceroy mengedikkan bahunya, ia sungguh tidak ingat, karena berkali-kali harus pindah rumah.
"Apa yang kau tertawakan?" tanya Viceroy.
"Viceroy, apa kau melakukan prosedur operasi plastik?" tanya Vara penuh selidik.
Vara membandingkan foto zaman dulu dengan wajah Viceroy yang sekarang. Sungguh terlihat perbedaan yang signifikan. Viceroy begitu kurus, dengan wajah yang terlihat seperti orang yang menantang berkelahi. Rambutnya selalu dipotong plontos layaknya orang yang akan berangkat wajib militer.
"Tentu saja tidak, hanya saja itu masih masa paceklik," sahut Viceroy seraya tertawa.
__ADS_1
Vara tertawa, sungguh ia tak bisa membayangkan Viceroy yang berwajah sangar itu memakai lip balm.
Viceroy merebut buku yang dipegang Vara, untuk mencari foto Vara.
"Lihat, betapa kau sok cantik! Ponimu seperti tirai dan masih bertahan sampai sekarang!" ejek Viceroy seraya tertawa.
"Jadi, kau masih mengenaliku setelah lima belas tahun berlalu, karena poniku ini?" tanya Vara.
Viceroy tertawa lagi, sepertinya memang begitu.
"Vara, beres-beresnya nanti saja, sekarang ada hal yang lebih penting yang harus kita lakukan," Viceroy tersenyum licik.
Vara nampak menegang saat Viceroy memeluknya dari belakang.
...*****...
"Lemaskan tanganmu, jangan kaku begitu," Viceroy memberi komando.
Vara merasa tangannya mulai berkeringat.
"Pelan-pelan saja, tidak usah terburu-buru, ini sangat mudah," lanjut Viceroy. "Ingat ya, bagian kanan stang untuk gas, gunakan rem belakang di bagian kiri," kata Viceroy lagi.
__ADS_1
Viceroy tersenyum puas, Vara mudah mengerti instruksinya. Ia sengaja mengajari Vara mengendarai sepeda motor, agar Vara tak perlu naik ojek daring lagi. Ia sungguh cemburu saat melihat Vara dibonceng pria lain. Ia tak mau Vara dibawa lari oleh tukang ojek yang tertarik pada Vara. Tragedi pijat erotis sungguh membangkitkan sisi posesif Viceroy. Meski Viceroy terlalu sungkan untuk mengatakan bahwa ia begitu cemburu, sehingga berupaya menutupinya sedemikian rupa.
Lagipula tinggal di kawasan terpencil dan bersifat pribadi seperti ini berada di luar jangkauan ojek daring. Viceroy bisa saja mengajari Vara mengemudikan mobil, hanya saja naik sepeda motor lebih praktis dan cepat. Itulah alasan mengapa Viceroy lebih suka mengendarai sepeda motor kemana-mana. Selain lebih praktis dan cepat sampai tujuan, bahan bakarnya juga lebih hemat dan biayanya jauh lebih murah.