
Viceroy menatap wajah-wajah yang nampak menegang saat memimpin rapat dadakan terkait masalah yang menimpa perusahaan. Beberapa saat yang lalu ia mendapat kabar bahwa sepuluh dari dua puluh lima armada kapal yang dikontrak oleh kliennya terancam di breakdown alias penghentian operasi sementara akibat adanya temuan dari auditor pihak klien. Pak Satria, selaku manajer operasional sudah menjelaskan detail masalah tersebut, beliau juga sudah memberikan beberapa solusi, yang tentu saja harus mengeluarkan anggaran lebih untuk proyek tersebut.
Viceroy memijat belakang lehernya, satu unit armada yang di breakdown akan dikenai penalti senilai hampir 750 juta per harinya. Sepuluh unit armada harus dipenalti sebanyak 7,5 miliar per hari. Wajar saja Viceroy mengamuk tidak karuan.
"Segera lakukan investigasi internal, jangan sampai pihak klien tahu, dan selesaikan secepatnya masalah tersebut! Ke depannya saya tidak mau ada masalah yang sama terulang lagi!" kata Viceroy, masih dengan amarah yang menguasai dirinya.
"Tolong lebih diperhatikan lagi kinerja semua orang! Jangan cuci tangan begitu saja! Ada masalah apa lagi?!" tanya Viceroy kepada semua orang yang masih nampak tegang setelah mendengar amukannya yang senantiasa dahsyat.
Ozy mengerutkan kening, menatap berkali-kali Wati yang melotot ke arahnya. Ozy sungguh tak percaya, ia harus mengajukan permohonan pembayaran rekapitulasi pajak pribadi bosnya itu.
"Wati, bos besar ini kaya raya sekali, ya," kata Ozy. "Bayar pajaknya saja sebanyak ini?!" komentar Ozy.
"Kalau masalah kaya sih, tidak perlu ditanyakan lagi! Bisa punya perusahaan sebesar ini dengan total aset kekayaan sebanyak itu, kau pasti bisa menghitung sendiri kekayaan beliau, yah, mungkin saat ada waktu senggang, kau bisa coba hitung-hitung kekayaan Pak Roy," kata Wati.
"Waduh, kurang kerjaan sekali apa ya, aku sampai harus menghitung total kekayaan Pak Roy," cibir Ozy.
"Pak Roy itu sungguh keren sekali ya, begitu tampan, dan bergelimangan harta, andai tidak segalak itu, sempurna sekali beliau!" kata Fika memuji.
"Haha, setampan apa Pak Roy itu sampai kalian memuji seperti itu?!" tanya Ozy.
"Makanya Ozy, hari ini kau harus menghadap langsung ke Pak Roy! Jangan kabur lagi seperti hari itu!" ancam Wati.
__ADS_1
"Aduh, Mbak Wati, aku itu pria sensitif, dengar petir saja, jantungku sudah berdebar-debar!" kata Ozy.
"Ozy! Anggap saja tes mental!" Wati tersenyum licik.
"Ih, bagaimana kalau aku nanti digigit Pak Roy?" Ozy gemetaran.
"Pak Roy, tidak menggigit, hanya akan memutilasimu! Cepat segera antri ke depan ruangannya!" perintah Wati.
...*****...
Ozy dengan berat hati mulai mengantri di depan ruangan Pak Roy yang hingga saat ini belum pernah ditemuinya. Tentu saja karena orang penting memang sulit untuk ditemui. Suasana di depan ruangan Pak Roy sangat senyap, hanya suara ketik-ketik jemari yang beradu dengan keyboard. Para karyawan yang bekerja di sekitar ruangan Pak Roy memang dituntut untuk bekerja dengan tenang. Bahkan untuk menerima telepon diharuskan untuk mengeluarkan suara serendah mungkin agar tidak mengganggu ketenangan.
Ozy merapalkan semua doa yang dihafalnya, termasuk doa makan dan doa sebelum tidur. Karyawan selevel manajer saja bisa habis diamuk Pak Roy, apalagi Ozy, yang baru sebulan lebih ini bekerja. Ia tak boleh menghindar lagi, kalau tidak ingat harus bayar cicilan mobilnya yang masih tersisa empat tahun, Ozy benar-benar memilih hengkang. Percuma gaji besar tapi ternyata bosnya seperti monster.
Terlihat karyawan lain terkekeh melihat kelakuan Ozy yang komat-kamit dengan tubuh gemetaran. Berkali-kali pria kemayu itu ke toilet sambil menunggu antrian. Ozy sungguh ketakutan, bagaimana jika tiba-tiba saja ia terkena serangan jantung karena mendapat amukan dari Pak Roy?
Ozy belum siap mati dalam keadaan perjaka, apa sebaiknya ia menelpon Santika dan mengatakan perasaan yang sebenarnya?
Betapa ia rela kredit mobil selama lima tahun agar bisa mengantar dan menjemput Santika ke mana pun wanita itu mau pergi tanpa harus kehujanan dan kepanasan. Harusnya Mas Tampan, suaminya Vara itu juga beli mobil ya, supaya Vara, temannya itu tidak kehujanan, kepanasan, dan masuk angin karena naik sepeda motor.
Giliran Ozy akhirnya tiba, ia segera mengetuk pintu ruangan kerja Pak Roy. Ozy melepas sepatunya, karena semua orang melakukan hal yang sama sebelum memasuki ruangan Pak Roy.
__ADS_1
Ozy terpana, karena karpet bulu yang diinjaknya ini sungguh sayang untuk diinjak. Ozy menatap ruangan paling besar yang ada di gedung ini. Ruangan dengan nuansa hitam putih yang sungguh terlihat maskulin.
"Pak Roy, boleh saya masuk?" tanya Ozy berdiri di ambang pintu.
Ozy menangkap sosok pria tinggi dalam balutan jas hitam yang sedang berdiri membelakangi Ozy. Pria itu nampak sedang mencari sesuatu dari lemari kaca berisi file dokumen. Ozy terpana, apa bosnya ini model? Punggungnya yang tegap itu mencuri perhatian Ozy.
"Silakan," sahut pria itu, tanpa melihat ke arah Ozy.
Ozy segera duduk di kursi yang berada di depan meja kerja berbentuk huruf L, dengan dua monitor komputer besar di salah satu sisi, dan setumpuk dokumen yang memenuhi sisi meja yang lain.
Ozy bisa mencium aroma parfum yang begitu maskulin menguar memenuhi ruangan. Entah mengapa ia merasa familiar dengan aroma tersebut. Ia lupa pernah menciumnya di mana.
"Ada apa?" tanya pria itu lagi membuat lamunan Ozy buyar.
"A-anu, Pak, saya mau mengajukan estimasi pembayaran pa-pajak!" kata Ozy tergagap.
"Pajak? Bukannya saya sudah bayar?!" pria itu terdengar menaikkan suaranya setengah oktaf, membuat Ozy tersentak kaget.
"Pajak yang mana lagi yang belum saya bayar?!"
Pria itu memutar tubuhnya, memandang ke arah Ozy. Ozy ternganga, ia bahkan lupa cara menutup mulutnya. Pun demikian pria yang sedang menatap Ozy dengan tatapan tajam.
__ADS_1