Akibat Taruhan Menikah

Akibat Taruhan Menikah
Bertemu Vara


__ADS_3

Vara membaca pesan yang dikirimkan Viceroy. Pria itu mengabarkan bahwa ia ada urusan mendadak, Vara tak perlu menunggunya. Vara mencebik, apakah Ibu Suri memanggil Viceroy?


Vara tentu saja tak bisa melawan kehendak Ibu Suri. Viceroy jelas akan langsung datang saat ibunya memanggilnya. Sebagai istri yang saat ini belum mendapat restu, tentu saja Vara hanyalah wanita yang tidak memiliki kuasa apapun terhadap Viceroy.


Vara menyadari, saat ini ia dan Viceroy tak ubahnya macam teman satu kamar yang hidup bersama untuk patungan membayar uang sewa kamar kos. Meski Vara berstatus sebagai istri Viceroy, itu hanyalah pernikahan hitam di atas putih. Vara sungguh berharap suatu hari nanti, ia benar-benar dapat diterima oleh ibu Viceroy sebagai menantunya. Meski harus dimadu, Vara rela asalkan Viceroy sungguh bisa menjadi suaminya seutuhnya. Vara rela dimadu dengan wanita yang menjadi pilihan Ibu Suri, asalkan ia benar-benar bisa diterima sebagai menantu.


"Ada apa, Vara?" tanya Santika.


"Suamiku mendadak ada urusan, jadi kembali lebih dulu," jawab Vara dengan hati yang terasa sesak.


"Apa?! Mas Tampan pergi? Aduh, padahal aku sudah menyiapkan banyak buah-buahan untuk menyuapinya!" kata Ozy. "Yah, beri pelayanan ekstra supaya Mas Tampan mau beli mobil!" lanjut Ozy.


"Haha," Vara tertawa.


"Kau tak tanya urusan apa?" tanya Santika.


"Mungkin dipanggil ibunya," jawab Vara.


"Yah, mungkin membetulkan genteng bocor!" sahut Ozy.


Terdengar kehebohan saat ada helikopter yang mendarat di landasan helikopter yang lokasinya cukup jauh dari gazebo utara. Tak berapa lama, terlihat helikopter tersebut lepas landas, mengundang perhatian banyak orang.


"Hebat ya, di sini ada landasan helikopter juga," kata Vara.


"Jelas, di sini memang lengkap! Royal Grup memang bukan perusahaan kaleng-kaleng," sahut Ozy yang sibuk mengunyah mangga.


"Oh ya, Vara, ibu yang tadi kau temui itu, siapa?" tanya Santika.


"Teman orang tuaku," jawab Vara.

__ADS_1


"Sumpah, kalian akrab sekali seperti ibu dan anak saja," komentar Ozy.


"Haha," Vara tertawa.


Teman-temannya pasti kaget, kalau tahu wanita paruh baya tadi nyaris menjadi mertua Vara.


"Duh, jadi mules, aku ke toilet dulu ya teman-teman," Ozy bergegas berpamitan.


"Ozy, jangan lupa cuci tangan yang bersih," seru Santika.


"Haha, Ozy kebanyakan makan mangga," Vara tertawa melihat Ozy yang berlari tunggang langgang.


Tiba-tiba tawa Vara terhenti saat melihat sosok Riko yang berdiri tak jauh dari gazebo tempat Vara berada.


...*****...


Riko berdecak kesal saat harus ke kantor di hari libur. Pak Roy, atasannya, memintanya untuk datang ke kantor, dan mengambil sebanyak mungkin uang tunai yang tersimpan dalam brankas di ruang kerja atasannya itu. Uang tunai tersebut merupakan uang kas operasional perusahaan yang disimpan Pak Roy untuk keperluan dadakan, seperti saat ini, atasannya membutuhkan uang tunai sebanyak satu setengah miliar.


Riko bergegas menuju ke lokasi wisata petik buah milik bosnya itu. Sepertinya beliau sedang mengadakan kunjungan kerja di sana, itulah yang dipikirkan Riko. Begitu memarkirkan mobilnya, Riko kaget karena bertemu dengan orang tuanya.


"Ayah, Ibu," Riko menyapa orang tuanya.


"Riko, kebetulan bertemu di sini," kata Pak Rusdy, ayah Riko.


"Iya, Ayah, Roy memanggilku ke sini," jawab Riko.


"Benarkah, Ayah tidak ada bertemu dengannya," kata Pak Rusdy.


"Ayah pasti tahu, betapa luasnya tempat ini," kata Riko.

__ADS_1


"Riko, Ibu bertemu Vara di gazebo utara," kata Bu Rumi.


"Benarkah, Bu?" tanya Riko.


"Vara terlihat semakin cantik, Ibu sampai pangling, lho," kata Bu Rumi.


Riko tersenyum kecut.


"Padahal Ibu berharap kau bisa menikahi Vara, sayang sekali kalian tidak berjodoh," kata Bu Rumi.


"Sudahlah, Bu, masih banyak wanita lain yang lebih dari Vara," kata Riko.


"Ya, Ibu tahu, tapi Ibu sudah cocok dengan Vara," kata Bu Rumi nampak sedih.


"Ayah, Ibu, aku harus pergi sekarang," Riko berpamitan.


"Riko, sering-sering mampir ke rumah," kata Pak Rusdy.


Riko bergegas pergi meninggalkan orang tuanya.


Riko tinggal di apartemen perusahaan yang menjadi fasilitas untuk karyawan level manajer. Selain itu, Riko juga diberi fasilitas mobil kantor yang dipakainya sebagai mobil pribadi. Membuat Riko terlihat begitu sukses di mata orang-orang yang mengenalnya. Namun di mata Riko, pria yang justru lebih sukses lagi adalah Pak Roy. Di usia yang terbilang sangat muda, pria itu sudah memiliki perusahaan multi bidang yang menggurita dengan omzet yang sudah menyentuh angka triliunan. Tak cukup menghitung kekayaan pria itu dengan kalkulator dua belas digit. Pria itu bahkan memiliki helikopter pribadi yang siap mengantarnya ke lokasi-lokasi yang sulit dijangkau dengan pesawat konvensional. 


Pak Roy berpamitan memasuki helikopter pribadinya begitu Riko menyerahkan koper berisi uang tunai. Info yang didengar Riko, ada masalah pengiriman bahan bakar minyak menuju lokasi pertambangan Aurum Mining. Menurut Laras, kapal pengangkut bahan bakar minyak tersebut ditawan oleh penduduk lokal lantaran terjadi insiden.


Sultan sungguh bebas menggunakan uangnya, begitulah yang ada dalam benak Riko. Jika Riko adalah seorang wanita, ia pasti benar-benar kepincut pria yang super duper kaya raya itu. Istri pria itu pastilah menjadi wanita yang bergelimangan harta. Harusnya Pak Roy mengadakan pesta pernikahan super mewah, tapi pria itu malah terkesan menyembunyikan istrinya. Entahlah, hanya pria itu dan Tuhan yang tahu, siapa wanita yang entah beruntung atau buntung memiliki suami temperamental seperti Pak Roy.


Riko teringat perkataan ibunya, yang bertemu Vara di gazebo utara. Kata ibunya, Vara terlihat semakin cantik. Ya, Vara memang terlihat semakin cantik, bahkan saat pertemuan mereka di pelataran hotel. Riko tentu terlalu malu untuk mengakui kecantikan Vara. Karena dulu ia bahkan sama sekali tidak tertarik pada Vara yang dianggapnya tidak menarik dan sama sekali tidak seksi seperti Laras, mantan istrinya.


Mata Riko menangkap sosok Vara yang duduk di salah satu gazebo. Rambut hitamnya yang panjang dibiarkan terurai, begitu kontras dengan kulitnya yang seputih susu. Vara mengenakan dress panjang medium berwarna biru langit. Riko merasa terhipnotis saat melihat tawa Vara yang seakan mengundangnya untuk menghampiri wanita itu.

__ADS_1


 


__ADS_2