Akibat Taruhan Menikah

Akibat Taruhan Menikah
Sofia


__ADS_3

Viceroy memasuki rumah pukul sepuluh malam. Ia terkejut melihat Vara yang duduk menunggunya di meja makan. Vara tersenyum ceria menyambutnya. Terlihat Viceroy berusaha menarik senyum. Ia tidak ingin Vara mencemaskannya. 


"Viceroy, kau sudah makan?" tanya Vara.


"Sudah," jawab Viceroy sambil mengangguk.


"Aku sudah menyiapkan air mandi untukmu," kata Vara.


"Terima kasih," kata Viceroy menatap lembut Vara.


Vara mengikuti Viceroy yang menuju ke kamar mereka di lantai dua. Viceroy segera melepas pakaiannya dan masuk  kamar mandi untuk berendam. Tanpa disuruh, Vara segera menyapukan sampo ke rambut Viceroy dan menggosok punggung pria itu.


"Kau pasti lelah," kata Vara.


"Tidak," jawab Viceroy singkat.


"Viceroy, apa wanita itu cantik?" tanya Vara.


Viceroy hanya diam.


"Vara, bisakah kau memberiku waktu untuk sendiri?" tanya Viceroy.


Vara mengangguk, ia segera keluar dari kamar mandi, meninggalkan Viceroy merenung sendiri. Vara segera menuju ke dapur, dan membuatkan segelas susu protein hangat yang biasa diminum Viceroy sebelum tidur.


...*****...


"Roy, ini Sofia, anak Pak Haji Bahra," Virda memperkenalkan Viceroy pada sosok gadis bertubuh bongsor berkulit cokelat.

__ADS_1


Viceroy menatap Sofia yang nampak terpana dengan ketampanan Viceroy. Viceroy memasang wajah datar.


"Sofia baru saja lulus S1 dari Universitas JKS jurusan psikologi," lanjut Virda.


Sofia nampak malu-malu, bersama ibu dan ayahnya yang nampak begitu bangga karena anaknya dijodohkan dengan anak bungsu Virda.


"Ini Roy, anaknya Kak Virda, sungguh tampan," puji Bu Haji Bahra.


"Roy ini memang jadi rebutan," sahut Virda.


"Apalagi usahanya bagus sekali," sahut Pak Haji Bahra. 


"Bisa besar ini uang mahar untuk Sofia, ya, Kak Virda," kata Bu Haji Bahra.


"Ibu, Roy," panggil Ryo yang menghampiri meja tempat keluarganya berkumpul.


Viceroy menatap Ryo yang langsung duduk di kursi yang ada di sampingnya. Rupanya ini benar-benar acara keluarga, makanya Virda tidak mengizinkan Vara untuk datang. Padahal Viceroy ingin membawa Vara dan memperkenalkan Vara pada calon istrinya untuk membandingkan Vara dengan calon madunya. Jelas sekali hanya dalam sekali lihat, Vara jauh lebih menarik.


Sofia juga terpana pada Ryo, pria dewasa berparas rupawan, dengan rambut berpotongan rapi yang memperlihatkan keningnya yang mulus. Pria itu berwajah lebih ramah daripada Roy. Senyum cemerlangnya selalu terulas, berbeda dengan Roy yang nampak kaku dan dingin.


"Ryo, ini Sofia, calonnya Roy, bagaimana menurutmu?" tanya Virda pada Ryo.


"Cantik," jawab Ryo tersenyum miring.


Viceroy ingin tertawa keras-keras, jika dibandingkan dengan Vara, sama saja membandingkan mutiara dengan boba. Viceroy hanya tertawa dalam hatinya.


Sepertinya Ryo hanya menjilat ibunya dengan mengatakan bahwa Sofia itu cantik, tapi bohong.

__ADS_1


Sesi makan malam dengan keluarga Bahra sudah selesai, keluarga itu pamit undur diri. Viceroy masih tetap bersikap dingin, ia hanya menyibukkan diri dengan memakan hidangan yang tersedia di meja.


"Lapar apa doyan?" tanya Ryo.


"Aku harus makan yang banyak, menghadapi kenyataan itu berat," jawab Viceroy dingin.


Ryo tertawa, namun kemudian tertegun, ia seperti pernah mendengar perkataan tersebut. Entah di mana, ia lupa.


"Ibu, aku pamit lebih dulu," kata Viceroy begitu selesai makan.


"Roy, masih ada yang harus kita bicarakan," kata Virda.


"Apa maksud Ibu?" tanya Viceroy.


"Roy, menikahlah dengan Sofia, lalu ceraikan istrimu," jawab Virda.


Ryo tersenyum penuh kemenangan, sementara adiknya nampak menegang.


"Ibu! Bukankah Ibu mengajukan syarat pada istriku agar ia mau dimadu?! Kenapa Ibu jadi menyuruhku untuk menceraikan istriku?!" tanya Viceroy.


"Pak Haji Bahra keberatan jika anaknya dijadikan istri kedua," kata Virda.


"Sudahlah, Roy, Sofia gadis yang cantik dan baik, sungguh berbeda dengan istrimu yang bukan wanita baik-baik!" sahut Ryo.


"Segera urus perceraianmu, Roy," kata Virda.


Viceroy tidak menjawab, ia bergegas pergi meninggalkan ibu dan kakaknya.

__ADS_1


"Tuh, Bu, benar kan, betapa Roy sudah tergila-gila pada janda binal?! Dia bahkan menentang keputusan Ibu, dasar anak durhaka! Apa dia mau dikutuk jadi batu?!" cibir Ryo.


Viceroy kesal, ia pulang ke rumahnya dengan perasaan kacau. Begitu tiba di rumah, mendapat sambutan hangat dari Vara, seketika membuat amarahnya redam. 


__ADS_2