
Vara merapikan meja kerjanya, menyimpan semua dokumen ke dalam lemari di bawah meja, kemudian mematikan komputer. Selanjutnya, Vara memilih salah satu dari kumpulan losion yang berada dalam sebuah tas berbentuk ember untuk menyimpan koleksi losion miliknya.
Mbak Rani merasa meja kerja Vara jadi terlihat kumuh lantaran dipenuhi koleksi losion Vara. Mbak Rani pun memberi saran agar Vara menyimpan koleksi losionnya dalam sebuah tempat agar terlihat lebih rapi.
Vara segera menyapukan losion ke tangannya. Aroma lemon bercampur bunga melati tercium begitu segar. Ia segera mematut dirinya di depan cermin saku untuk memulaskan lipstik berwarna jingga lembut ke bibir. Tak lupa ia menyemprotkan kembali wewangian pada kemejanya. Ia sudah bersiap untuk menunggu suaminya datang menjemput.
"Vara, tumben sudah siap-siap pulang," kata Mbak Rani yang juga sudah bersiap untuk pulang.
"Iya, Mbak, lelah juga kerja, pergi gelap, pulang gelap, tidak kaya-kaya juga," Vara terkekeh.
"Resiko jadi karyawan yang makan gaji ya begitu, beda kalau kau jadi pengusaha," sahut Mbak Rani.
"Mbak Vara ini, mau pulang saja begitu rapi dan wangi," kata Jenah menghampiri meja kerja Vara.
"Mau pergi kencan ya, Mbak?" tanya Elva yang juga langsung menghampiri meja Vara.
Vara hanya tersenyum sumringah. Ia dan Viceroy sudah berencana untuk makan malam di luar.
"Kalau begitu kami duluan ya, Mbak," Jenah dan Elva berpamitan.
"Duluan ya, Vara," pamit Mbak Rani.
"Iya, hati-hati di jalan," sahut Vara.
...*****...
Tak berapa lama menunggu, Vara bergegas menuju ke gerbang depan karena Viceroy mengabari bahwa ia sudah dalam perjalanan menuju ke arah kantor Vara.
Vara segera memasuki mobil yang dikemudikan suaminya itu.
"Vara, kau mau makan malam apa?" tanya Viceroy sambil mengemudikan mobil.
"Kau mau makan malam apa?" Vara balik bertanya.
"Makan apa saja yang penting kau juga makan," jawab Viceroy.
"Bagaimana dengan lalapan ayam goreng di alun-alun kota?" tanya Vara.
"Tidak masalah," jawab Viceroy.
Viceroy baru saja akan memarkirkan mobil di parkiran alun-alun kota, ponselnya berdering memunculkan nama ibunya. Viceroy menatap Vara yang nampak menegang.
"Ibu," jawab Viceroy.
"Roy, kau di mana?" tanya Virda.
"Ada apa, Bu?" tanya Viceroy.
Viceroy nampak menegang saat mendengarkan perkataan ibunya. Waktu bahkan terasa berhenti berputar, sebuah perintah yang sama sekali tidak bisa dibantah, dan harus dilaksanakan meski hatinya begitu berat untuk melakukannya.
__ADS_1
...*****...
Usai makan malam di alun-alun kota, Viceroy membawa Vara ke sebuah apartemen yang berlokasi di pusat kota. Mereka segera memasuki sebuah unit tipe studio yang sudah difasilitasi secara lengkap.
"Vara, apa kau suka apartemen ini?" tanya Viceroy.
"Iya, lebih bagus dan mewah dibanding kamar kosku dulu," jawab Vara.
Mata Vara mengelilingi apartemen yang dilengkapi dapur kecil dan kamar mandi tersebut.
"Vara, apa kau keberatan jika menempati apartemen ini?" tanya Viceroy.
"Viceroy, apa maksudmu? Bukankah kita sudah punya rumah?" tanya Vara.
"Akses menuju rumah kita sulit, kau bahkan belum bisa mengendarai sepeda motor dengan baik ataupun mobil," jawab Viceroy.
"Viceroy, apa maksudmu, kita pindah rumah?" tanya Vara lagi.
Viceroy bimbang, ia tidak tahu harus berkata apa pada Vara. Namun, ia yakin bahwa Vara pasti bisa memahaminya.
"Vara, untuk sementara aku akan tinggal di rumah utama atas permintaan dari Ibuku," jawab Viceroy.
Viceroy bisa melihat ekspresi Vara yang seketika langsung murung. Vara langsung tertunduk lemah.
"Viceroy, maksudmu kita hidup terpisah?" tanya Vara.
Viceroy mengangguk pelan.
Vara merasa air matanya kembali menggenang memenuhi pelupuk matanya.
"Vara," kata Viceroy segera membawa Vara ke dalam pelukannya.
Viceroy segera mengelus punggung Vara dengan lembut dan penuh kasih sayang.
"Vara, kumohon jangan menangis," kata Viceroy.
"Viceroy, apakah kau tidak bisa menolak keinginan Ibumu?" tanya Vara.
Viceroy menyeka air mata yang mengalir dari mata Vara. Saat ini ia benar-benar dilema. Ia begitu mencintai Vara, namun tidak bisa membangkang pada ibunya.
"Vara, kau pasti selalu mendengar ungkapan bahwa surga berada di telapak kaki ibu," kata Viceroy menatap lembut ke arah Vara.
"Vara, aku benar-benar sangat mencintaimu, tetapi aku juga sangat menghormati Ibuku," Viceroy melanjutkan.
"Vara, kau pasti masih mengingat bahwa kebijaksanaan merupakan hal dasar paling utama untuk menghadapi ibuku," Viceroy tersenyum lembut pada Vara.
Vara menatap Viceroy, suaminya ini benar-benar sungguh pria yang sangat berbakti pada ibunya. Pria yang baik adalah pria yang memuliakan ibunya.
"Vara, anggap saja ini sebagai ujian untuk cinta yang sedang kita perjuangkan. Masalah ibuku adalah urusanku," kata Viceroy.
__ADS_1
Vara masih terlihat ragu.
"Vara, percayalah padaku sampai akhir," Viceroy masih meyakinkan Vara.
"Baiklah, aku percaya padamu, Viceroy," kata Vara.
"Kenapa aku mendengarnya seperti terpaksa begitu?" tanya Viceroy.
"Ya, habisnya aku harus bagaimana?" tanya Vara.
"Kau terdengar tidak ikhlas menerimanya," jawab Viceroy.
"Ya, siapa istri yang bisa ikhlas harus hidup terpisah dari suaminya?" gerutu Vara.
"Vara, apa yang kau takutkan? Apa kau takut aku akan berpaling darimu?" tanya Viceroy.
"Tentu saja, ibumu bahkan sudah menyiapkan calon istri untukmu," sungut Vara.
"Vara, meski tujuh bidadari datang untuk menggodaku, aku tak akan pernah berpaling darimu!" kata Viceroy.
"Huh, gombal," cibir Vara.
"Kok gombal sih! Kupastikan kau adalah wanita pertama dan wanita terakhir yang bisa memilikiku sepenuhnya dan seutuhnya!" Viceroy tersenyum menatap Vara.
Vara kembali memeluk Viceroy, pelukan pria itu benar-benar selalu bisa membuatnya tenang. Seperti halnya rokok yang selalu dijadikannya pelarian saat ia membutuhkan ketenangan.
"Vara, aku benar-benar mencintaimu," kata Viceroy.
"Aku juga sangat mencintaimu, Viceroy," kata Vara.
...*****...
Viceroy menatap jam tangan, ia menghela nafas berat. Ia segera turun dari kasur dan memakai kembali pakaiannya. Vara masih berbaring di kasur dan mengawasinya.
"Aku akan langsung meneleponmu begitu aku tiba di rumah," kata Viceroy sambil mengecup lembut kening Vara.
"Ya, aku menunggumu," kata Vara.
"Kalau begitu, aku pergi dulu," Viceroy berpamitan.
Vara menatap punggung Viceroy yang menghilang bersama pintu unit yang tertutup. Vara merasa matanya memanas. Ia merasa dadanya begitu sesak. Namun segera di tepisnya jauh-jauh perasaan sedih yang melanda hatinya.
Vara benar-benar menyadari bahwa ia hanyalah seorang istri, sementara Ibu Suri adalah ibu Viceroy. Sampai kapan pun seorang anak laki-laki tetaplah milik ibunya. Saat ini, Vara hanya bisa yakin dan percaya sepenuhnya pada Viceroy. Pria itu sudah berjanji dan tak akan mengingkari janjinya.
...*****...
Viceroy melangkah menuju ke parkiran bawah tanah. Ia yakin sekali, Ryo pasti kembali menghasut ibunya. Viceroy sangat tahu bahwa ibunya lebih berpihak pada Ryo.
Sebegitu inginnya Ryo memenangkan pertaruhan mereka.
__ADS_1
"Baiklah, Ryo, kita lihat saja, siapa yang akan memenangkan pertaruhan ini," Viceroy bermonolog.
Ia segera menginjak pedal gas mobilnya dan meninggalkan parkiran bawah tanah yang nampak temaram.