
Tuan Takur menatap keempat istrinya yang nampak bersitegang lantaran menolak keinginan Tuan Takur untuk menikah lagi dengan anak Pak Slamet yang digadang-gadang secantik bidadari. Suami mereka menyebutkan bahwa ia benar-benar telah jatuh cinta pada pandangan pertama kepada wanita cantik bak jelmaan bidadari tersebut.
"Abang, tolong dipikirkan lagi keinginan Abang untuk menikahi anaknya Pak Slamet! Abang bahkan tidak mengenalnya, bagaimana Abang bisa langsung memutuskan untuk menikahinya?!" tanya Lilis, istri pertama Tuan Takur.
"Iya Bang, lagipula dia perempuan kota, mana kita tahu orangnya seperti apa!" sahut Roros istri kedua Tuan Takur.
"Perempuan kota yang terlampau modern tentu bisa memicu perseteruan di rumah ini!" sergah Sujiati yang kerap disapa Suji, merupakan istri ketiga Tuan Takur.
"Bagaimana jika nanti Abang dimonopoli sama dia?!" Jejen istri keempat Tuan Takur merengut.
"Apalagi kabar yang tersebar, wanita itu adalah seorang janda yang menikah hanya seumur jagung!" sahut Roros.
"Aku curiga dia bukan perempuan baik-baik, Abang! Perempuan kota seperti dia pasti hanyalah wanita simpanan saja!" Jejen menimpali.
Tuan Takur nampak berpikir. Tuan Takur sendiri sebenarnya berprinsip daripada ia berzina lebih baik ia menikahi wanita-wanita yang ia inginkan. Selama ini para istrinya tidak ada yang menentangnya saat meminta izin untuk menikah lagi. Entah mengapa kali ini keinginannya untuk mempersunting perempuan kota yang cantik jelita dan telah menjadi janda ini begitu ditentang oleh para istrinya. Tuan Takur bahkan tidak peduli dengan status janda wanita yang membuatnya jatuh cinta pada pandangan pertama itu. Tidak masalah wanita itu berstatus janda, toh ia sudah jatuh cinta.
"Sudahlah! Kalian angkat tangan yang setuju Abang kawin lagi! Yang tidak setuju silakan angkat kaki dari rumah ini!" tandas Tuan Takur.
Keempat istri Tuan Takur bersitatap. Bisa dipersunting oleh orang terkaya di kampung tentulah menjadi keinginan dan kebanggaan para gadis di kampung tersebut. Hidup mewah dan nyaman jelas terjamin jika mereka masih tetap menjadi istri Tuan Takur.
Tuan Takur segera memerintahkan Oleng untuk menyiapkan semua hal yang diperlukan demi mempersunting anak perempuan Pak Slamet yang kecantikannya begitu viral di kampung mereka. Tuan Takur bahkan sudah mendengar informasi bahwa beberapa pemuda lajang di kampung juga mulai bergerak untuk berlomba-lomba mendekati wanita cantik itu. Tuan Takur tidak boleh menyia-nyiakan waktu yang ada. Ia harus segera bertindak sebelum incarannya diambil orang.
...*****...
Pak Slamet sedang sibuk membersihkan pekarangan halamannya yang begitu luas. Tanah tersebut sudah dibelinya sejak lama. Ia memang bercita-cita hidup di kampung untuk menghabiskan masa pensiunnya. Ia ingin hidup di kampung yang jauh dari ingar bingar perkotaan. Di pekarangan rumahnya, pria berusia lebih dari enam puluh tahun itu menghabiskan waktunya untuk berkebun kecil-kecilan dan memelihara ikan air tawar seperti ikan nila, ikan mujair, dan ikan mas dalam kolam yang berada di pekarangan bagian samping rumahnya.
Terlihat dua buah mobil memasuki pekarangan rumah Pak Slamet. Sepuluh orang pria bersetelan jas berwarna abu-abu turun dari mobil dan langsung mendapat sambutan kurang menyenangkan dari Pak Slamet.
Para negosiator ini belum menyerah juga! Pikir Pak Slamet.
"Selamat pagi, Pak Slamet," sapa mereka dengan segala keramah tamahan.
"Kalian semua ini tidak mengerti bahasa manusia, ya?!" bentak Pak Slamet.
"Berapa kali harus kukatakan pada kalian bahwa aku menolak untuk menjual lahan ini?!" lanjut Pak Slamet sambil melotot geram ke arah para pria itu.
"Pak Slamet, kami mohon kerja sama yang baik dari Anda," kata Herdi, salah seorang negosiator memberanikan diri untuk bicara.
Herdi sudah berkali-kali mengajak Pak Slamet untuk melakukan negosiasi. Namun Pak Slamet sungguh tipe orang yang begitu keras, berbeda dengan warga kampung lain yang justru senang saat lahan mereka harus dibeli oleh perusahaan karena terkena area perluasan lahan perkebunan kelapa sawit.
Para warga kampung yang menjual lahan biasanya akan meninggalkan kampung dengan uang hasil penjualan lahan mereka. Herdi menatap ke arah Pak Gunawan, keduanya saling bersitatap. Mereka bisa saja menggunakan cara ilegal untuk mendapatkan lahan Pak Slamet. Salah satunya adalah dengan membakar rumah pria paruh baya tersebut. Namun tentu itu bertentangan dengan kebijakan perusahaan. Bisa-bisa mereka semua akan mendapat tuntutan yang akan merugikan semua pihak. Citra perusahaan sudah pasti akan rusak, mereka kehilangan pekerjaan, hingga mendekam dipenjara, serta membayar biaya ganti rugi sebagai buntutnya.
"Pak, kami akan membayar dua kali lipat dari harga yang ditawarkan sebelumnya," kata Herdi.
Herdi tentu saja harus melakukan tugasnya sebagai negosiator. Ia harus melakukan negosiasi harga. Selama harga yang ditawarkannya tidak melebihi anggaran yang sudah ditentukan oleh perusahaan tentu saja itu tidak masalah. Ia bahkan akan menerima bonus jika berhasil membuat kesepakatan harga di bawah standar perusahaan.
"Maaf, Bung! Meski kau tawarkan sepuluh kali lipat pun, saya tidak akan menjual lahanku ini pada kalian!" tandas Pak Slamet dengan pandangan berapi-api.
"Pak Slamet, kami mohon kerja sama yang baik dari Anda, kami hanyalah bawahan yang bekerja untuk atasan kami," kata Herdi.
"Benar, Pak Slamet, pekerjaan kami adalah piring nasi kami," sahut Pak Gunawan.
"Pekerjaan kalian adalah piring nasi kalian, tapi lahan ini adalah milik saya! Kalau kalian ambil dan tukar dengan uang yang nilainya tidak seberapa itu, bagi saya tentu saja hal itu menjadi masalah besar!" sergah Pak Slamet.
Pak Slamet mendengus berat.
"Suruh atasan kalian itu datang dan temui saya secara langsung! Jangan cuma bisa menyuruh para bawahan seperti kalian!" lanjut Pak Slamet dengan gaya menantang.
Pak Slamet mengacungkan sebilah parang yang tadinya ia gunakan untuk menebas rumput-rumput liar yang mengganggu kebun sayurannya, para pria itu nampak mundur. Sungguh berbahaya jika parang tersebut melayang ke arah mereka.
Herdi dan Pak Gunawan beserta rekan-rekannya saling melemparkan pandangan. Negosiasi mereka dengan Pak Slamet benar-benar menemui jalan buntu.
Apakah mereka harus memanggil atasan mereka yang super galak itu?
Dalam benak mereka, jika harus memanggil atasan mereka untuk menemui Pak Slamet tentu saja akan melukai harga diri mereka. Mereka pasti akan dianggap tidak bisa bekerja. Bonus mereka jelas pasti lenyap dan mereka benar-benar bisa kehilangan pekerjaan mereka.
"Pak Gun, bagaimana ini?" tanya Herdi berbisik ke arah Pak Gunawan.
"Apakah perlu kita memanggil Pak Roy?"
"Mau tidak mau sepertinya harus, Pak, karena proyek harus segera dilaksanakan!" jawab Pak Gunawan.
Pak Slamet kembali menebas rumput-rumput liar dengan parang yang ia ayunkan ke arah rumput. Tidak bisa Herdi bayangkan jika parang tersebut melayang ke arah mereka dan melukai mereka.
Pak Gunawan dan Herdi terlihat mundur dari barisan. Para negosiator lain berupaya merayu Pak Slamet. Namun tetap saja Pak Slamet justru makin bersikeras menolak semua tawaran tersebut.
Belum selesai masalah Pak Slamet dengan para negosiator, muncul keramaian lain yang memasuki halaman rumah pria paruh baya tersebut.
Rombongan Tuan Takur datang membawa banyak barang bawaan dalam tandu-tandu dan gerobak-gerobak yang dibawa secara beriringan. Tandu-tandu yang dipikul oleh banyak orang itu berisi buah-buahan seperti selusin buah pisang sepohon-pohonnya, selusin buah nangka, selusin buah semangka, satu gerobak tebu yang masih lengkap dengan daun-daunnya, satu gerobak durian, satu gerobak kelapa yang didorong oleh beberapa pria. Dalam gerobak-gerobak lain dipenuhi sembako berupa beras berkarung-karung, tepung berkarung-karung, hingga telur berpiring-piring. Belum lagi arak-arakan sapi dan kambing yang ikut menyemarakkan iring-iringan tersebut. Para wanita datang membawa banyak makanan yang ditutup dengan tudung saji berwarna merah dengan hiasan mencolok berwarna emas.
Para pria dengan sigap segera mendirikan tenda, menyiapkan kursi dan meja-meja untuk meletakkan semua makanan yang dibawa oleh rombongan Tuan Takur.
"Pak Slamet!" sapa Tuan Takur dengan gayanya yang slebor seslebor penampilannya.
Tuan Takur mengenakan kemeja putih dengan jas motif bunga-bunga putih berdasar merah yang dipadukan dengan celana kulit berwarna hitam. Tak lupa sepatu boot dengan aksesoris emas menyempurnakan penampilannya. Tuan Takur segera menghampiri Pak Slamet, Oleng mengekor di belakang sambil membawa koper besar. Saking besarnya itu koper, Oleng sampai teroleng-oleng membawa koper tersebut.
"Tuan Takur, ada apa ini?" tanya Pak Slamet keheranan dengan semua arak-arakan yang terhenti di halaman rumahnya.
"Pak Slamet, ajaklah saya masuk ke rumah Pak Slamet, kita bincang-bincang serius tapi santai sambil makan-makan kue," jawab Tuan Takur.
...*****...
Ibu Vara bernama Arvia, seorang wanita paruh baya berusia awal lima puluhan. Arvia adalah seorang wanita yang dulu begitu cantik dan memesona. Ia dan suaminya menikah karena perjodohan yang diaturkan oleh orang tuanya. Ia menikah dengan Slamet yang saat itu berusia sepuluh tahun lebih tua darinya. Arvia merasa dulu orang tuanya menjualnya pada Om-Om yang punya pekerjaan bagus.
"Arvia, kamu itu kalau menikah dengan Slamet, hidupmu terjamin! Slamet itu dewasa, mapan, dan pekerjaannya bagus! Jangan samakan dengan pacar-pacarmu yang masih minta uang dari orang tuanya saja! Pikirkan ke depannya masa depanmu dan anak-anakmu terjamin!" kata ibunya saat Arvia hendak menolak lamaran dari Slamet karena ketika itu Arvia masih duduk di bangku SMA kelas 3 saat Slamet melamarnya.
Arvia mematut dirinya di depan cermin. Sisa-sisa kecantikan yang dimiliki masih jelas terpancar di wajahnya. Ia memiliki kulit putih dengan rambut hitam tebal seperti Vara. Awalnya Arvia merasa kesal dan marah karena orang tuanya menjodohkannya dengan Slamet. Pria yang sama sekali bukan tipe idamannya dan hanya bermodal mapan serta punya pekerjaan bagus. Namun ternyata Slamet adalah pria yang baik, tidak neko-neko, dan sangat menyayangi keluarganya. Entah mengapa Arvia jadi merasa bersyukur karena orang tuanya menjodohkannya dengan pria yang baik. Sebagai orang tua tentu saja Arvia ingin anak semata wayangnya itu bahagia dengan pria yang terjamin jelas bibit, bebet, dan bobotnya.
Jauh dalam lubuk hatinya, Arvia tentu saja kecewa pada Vara yang menolak saat dijodohkan dengan Riko, dan memilih menikah dengan pria yang tidak jelas. Mentang-mentang pria itu berparas tampan dan berpenampilan menarik, Vara langsung dengan mudahnya kepincut pria itu. Pria yang bahkan saat melamar dan menikahi Vara hanya bermodal tampan! Geram rasanya jika Arvia kembali mengingat Vara digunjingkan habis-habisan oleh para tetangganya.
"Bu Slamet, Vara itu loh cantik, sekolahnya tinggi, masa' ya, nikah cuma di balai nikah, tanpa pesta meriah?" komentar Bu Muji.
"Yah, bagaimana ya, Bu, Vara maunya seperti itu," sahut Arvia.
"Bu Slamet ini, masa' sih Bu, tidak ingin punya menantu yang bagus tidak hanya wajahnya, tapi latar belakang pendidikan, pekerjaan dan dari keluarga terpandang?" sahut Bu Bejo.
__ADS_1
"Itu loh, Bu, anaknya Bu Jupri, tidak cantik, tidak sekolah tinggi, kerjanya cuma jadi pelayan di restoran, bisa dapat suami yang kerjanya di perusahaan minyak luar negeri! Dua kali gajian sudah bisa beli mobil baru!" sambung Bu Rudy.
"Wah, sudah rejeki anaknya Bu Jupri ya itu," Arvia menimpali.
"Memangnya, apa sih kerja menantu Bu Slamet itu? Katanya wajahnya tampan dan tinggi! Apa jangan-jangan jual diri ya Bu?" tanya Bu Muji seraya terkekeh.
"Kok jual diri, Bu?" Arvia balas terkekeh.
"Ya, sekarang kan, pria tampan itu maunya kerja yang enak-enak dan dapat uang!" sahut Bu Rudy.
"Kalau jual diri sih, tidak tahu ya, Bu, tapi menantuku itu mengakunya pedagang hasil laut," kata Arvia.
"Oh, tukang ikan dong ya, Bu Slamet!" seru Bu Muji seraya tertawa.
"Tukang ikannya tampan sekali itu Ibu-Ibu!" sambung Bu Bejo.
"Memang ya, kalau cinta sudah melekat, tahi kucing saja rasa cokelat!" Bu Rudy menimpali.
"Padahal ya Bu, Vara itu cocoknya ya sama Riko! Riko loh sekolahnya bagus, cumlaude di angkatannya! Kerjanya di perusahaan bagus, jadi manajer lagi, padahal masih muda! Banyak sekali loh Bu Slamet yang mau sama Riko itu!" Bu Muji memprovokasi Arvia.
"Bu Muji benar, coba saya punya anak perempuan, saya jodohkan itu dengan Riko," kata Bu Bejo.
"Iya ya, sungguh mubazir, Vara yang cantik, sekolahnya bagus, malah dapat tukang ikan!" sahut Bu Rudy.
"Sudah begitu, tidak jelas lagi, ke mana itu suaminya Vara, masa' ya, habis nikah bukannya bulan madu, malah ditinggal begitu saja! Kasihan sekali nasibnya Vara itu, Bu!" kata Bu Muji.
"Benar itu, Bu Slamet! Vara itu nikahnya kok kesannya sembunyi-sembunyi begitu? Lebih baik diputus saja Bu, mumpung belum terlanjur jauh!" usul Bu Rudy.
Saat itu Arvia tidak bisa berkata apa-apa. Apa yang bisa ia banggakan dari menantunya yang tidak punya pendidikan tinggi, tidak punya pekerjaan bagus, bahkan keluarganya juga tidak jelas. Pernikahan yang awalnya saja tidak jelas pasti akan berakhir tidak jelas juga. Arvia sungguh senang dengan perceraian yang menimpa Vara, setidaknya bisa membuat Vara lebih berpikir logis. Jangan hanya karena pria yang melamarnya berwajah tampan dan berpenampilan menarik, lantas anaknya itu langsung kepincut.
Arvia segera berdandan, ia juga mengenakan pakaian terbaik yang ia miliki untuk menyambut kedatangan keluarga Riko yang rencananya akan tiba sebentar lagi untuk melamar Vara. Tentu saja ia tidak mengatakan apapun pada suami dan anaknya itu. Biarlah kedatangan Riko menjadi kejutan untuk suami dan anaknya.
Terdengar keriuhan dari luar rumah yang membuat Arvia berpikir bahwa mungkin itu adalah rombongan keluarga Riko yang telah tiba. Arvia segera memakai semua perhiasan yang ia miliki. Mematut sekali lagi penampilannya sebelum memutuskan untuk keluar dari kamar dan menyambut calon keluarga barunya.
...*****...
Arvia terperangah melihat keriuhan yang terjadi di depan rumahnya. Kerumunan massa berkumpul membawa banyak barang-barang dan hewan ternak.
Tuan Takur langsung menaiki tangga mengekori Pak Slamet.
"Ibu Slamet," Tuan Takur membungkuk di hadapan Arvia.
"Pak, ada apa ini?" tanya ibu ke arah bapak dan mengabaikan Tuan Takur.
Bapak melihat penampilan ibu begitu cantik dan rapi seakan siap untuk menyambut tamu.
"Loh, Bapak pikir justru Ibu tahu," jawab bapak.
Vara yang mendengar keramaian dari kamarnya segera bergabung dengan bapak dan ibunya.
Tuan Takur langsung terpesona saat melihat kehadiran wanita yang akan ia lamar. Wanita secantik ini pasti akan memperbaiki keturunan, itulah yang ada dalam pikiran Tuan Takur.
"Bapak Slamet, Ibu Slamet, izinkan saya mengutarakan maksud dan tujuan Tuan Takur datang kemari, yakni ingin melamar anak kalian," kata Oleng.
"Apa?!" seru Pak Slamet dan istrinya terperangah begitu mendengar perkataan Oleng.
Vara sungguh tak percaya dengan apa yang didengarnya. Entah apa yang ada dalam otak pria berpenampilan nyentrik itu.
"Iya Pak Slamet, Bu Slamet, saya datang dengan niat yang lurus dan tulus untuk memperistri Adik Vara," kata Tuan Takur dengan senyum terkembang yang justru menakutkan bagi Vara.
"Tuan Takur, terima kasih, kami hargai niat lurus dan tulus Tuan Takur," kata Arvia. "Hanya saja, saya sebagai orang tua keberatan, Tuan," lanjut Arvia.
"Eh, kenapa Bu Slamet keberatan? Kurangkah mahar yang saya berikan ini?" tanya Tuan Takur.
"Oleng!" seru Tuan Takur.
Oleng segera membuka koper yang dibawanya setengah hidup saat menaiki tangga rumah Pak Slamet. Tumpukan uang dan perhiasan emas langsung terhidang di hadapan mereka.
"Ini uang jumlahnya satu miliar, perhiasan emas satu set sebanyak satu kilogram, ada juga sertifikat tanah dan rumah," Tuan Takur menjelaskan isi kopernya.
"Eh, masih kurangkah ini, Pak Slamet? Itu saya juga bawa sembako, lima ekor sapi, dan sepuluh ekor kambing! Kasih tahu saya kurangnya apa? Nanti saya tambahi!" lanjut Tuan Takur.
"Begini Tuan Takur, Tuan Takur ini istrinya sudah banyak! Saya tidak mau anak saya jadi koleksi Tuan Takur," jawab Arvia diplomatis.
Tuan Takur nampak tercengang mendengar penjelasan Arvia. Tuan Takur melemparkan pandangannya ke arah para istrinya yang berada di antara kerumunan.
"Kalau istriku itu kucerai semua, bagaimana? Bisakah?" tanya Tuan Takur.
"Abaang!" teriak para istri Tuan Takur.
"Tuan Takur, maaf sekali, saya sebagai orang tua tidak setuju jika melihat Tuan Takur menikahi anak saya, tapi membuat para istri Tuan Takur jadi janda!" kata Arvia menatap tajam ke arah Tuan Takur.
Tuan Takur lagi-lagi terkesiap. Calon mertuanya ini benar-benar tidak bisa diajak kompromi.
"Bu Slamet, saya serius Bu, mau melamar anak Ibu! Daripada jadi janda banyak fitnahnya, lebih baik saya nikahi saja ya?" Tuan Takur kembali bicara.
Para rombongan Tuan Takur menyingkir tatkala melihat iring-iringan mobil yang memasuki pekarangan rumah Pak Slamet.
Seorang pria berkemeja biru turun dari mobil beserta rombongannya. Pria itu mengedarkan pandangan, alisnya berkerut melihat banyaknya tandu dan gerobak yang memenuhi pekarangan. Terdapat juga tenda dan meja-meja yang sudah disusun berisi banyak hidangan.
Riko tersenyum, dalam hati ia begitu senang karena calon mertuanya benar-benar menyambutnya semeriah ini.
Pak Rusdy dan Bu Rumi juga turun dari mobil beserta rombongan keluarga mereka. Bu Muji juga turut mengundang Bu Rudy dan Bu Bejo serta beberapa tetangga lain untuk ikut dalam rangka acara melamar Vara.
"Riko!" seru Arvia menyambut kedatangan Riko beserta rombongannya.
Vara tertegun melihat kehadiran Riko, begitu juga dengan bapak yang hanya bisa terbengong-bengong.
Mau apa Riko datang? pikir Vara bertanya-tanya.
Bapak segera menyambut kedatangan Pak Rusdy.
"Apa kabar Ibu-Ibu semua?" sapa Arvia.
"Baik, Bu Slamet," jawab mereka kompak.
__ADS_1
"Jauh juga, ya, kampung Bu Slamet," kata Bu Bejo.
"Begitulah, Bu," Arvia terkekeh.
"Vara," sapa Bu Rumi.
"Bu Rumi," Vara segera menyambut Bu Rumi.
Arvia segera menyambut para tetangganya yang sudah lama tak ia temui.
"Ibu, saya jadi tidak enak, Ibu menyambut kedatangan saya dan keluarga dengan begitu meriahnya," kata Riko pada Arvia.
"Tidak seperti itu Riko, tidak tahu Tuan Takur ini, aneh-aneh saja," Arvia terkekeh sambil melemparkan tatapan skeptis pada Tuan Takur.
"Eh Ibu, saya ini tidak aneh-aneh! Saya ini serius mau melamar Adik Vara untuk jadi istri kelima saya," sergah Tuan Takur.
"Apa?!" sergah Riko yang langsung melayangkan tatapan tajam ke arah pria berpenampilan nyentrik yang nampak menantang Riko.
"Anda mau melamar Vara?" tanya Riko.
"Ya! Saya mau melamar Dik Vara! Lihatlah, saya sudah datang dengan semua yang bisa saya bawa dan saya berikan untuk Dik Vara," jawab Tuan Takur penuh percaya diri.
Riko menyembunyikan senyumnya.
Dasar orang kampung yang kampungan! Batinnya.
"Riko, sudah, tidak usah pedulikan Tuan Takur, mari kita masuk ke dalam rumah saja," ajak Arvia.
Arvia segera membawa tamunya masuk ke dalam rumah.
"Vara, ayo masuk!" perintah Arvia.
"Pak Slamet! Bu Slamet!" seru Tuan Takur saat Arvia menutup pintu rumah.
Tuan Takur mendengus keras, rasanya kesal sekali. Ia tidak boleh menyerah.
...*****...
Vara masih menegang, ia benar-benar tak percaya apa yang sedang dialaminya. Vara sudah duduk bersama kedua orang tuanya. Begitu pun Riko yang juga sudah duduk bersila bersama keluarganya. Riko melemparkan senyum ke arah Vara, namun Vara hanya bersikap dingin.
"Pak Slamet, Bu Slamet, terima kasih sudah menerima kedatangan kami dengan baik," kata Riko.
"Sungguh kejutan melihat kedatangan kalian semua," kata Pak Slamet ke arah Arvia.
Arvia tersenyum-senyum senang.
"Terima kasih sudah datang jauh-jauh kemari," kata Arvia.
"Tidak jauh Bu, selama ada sarana transportasi yang menunjang," kata Riko.
Keluarga Riko mengangguk mengamini.
"Pak Slamet, Bu Slamet, pasti sudah tahu maksud dan tujuan saya beserta keluarga datang kemari," kata Riko.
Pak Slamet masih belum lepas dari rasa herannya.
"Pak Slamet, Bu Slamet, mohon izinkan saya untuk melamar Vara menjadi istri saya," kata Riko yang merasa cukup berbasa-basinya.
Vara menegang mendengar ucapan Riko.
"Oh, tentu saja, Riko!" sahut Arvia begitu antusias.
"Vara siap untuk menjadi istrimu," kata Arvia.
"Ibu!" sergah Vara.
Arvia melotot ke arah Vara.
"Maaf, Vara tidak mau, Bu," kata Vara segera masuk ke dalam kamarnya.
"Vara!" seru Arvia segera mengikuti Vara.
Terlihat ekspresi Riko menegang karena Vara langsung menolaknya tanpa tedeng aling-aling. Semua keluarga Riko saling berpandangan tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
...*****...
"Vara! Kamu ini ya, sungguh tidak sopan! Riko dan keluarganya sudah jauh-jauh datang kemari! Bagaimana kau bisa menolak niat baik Riko?!" sergah Arvia.
"Menurut Ibu, kamu sudah tidak punya alasan untuk menolak Riko!" lanjut Arvia.
"Ibu! Vara tidak mau menikah dengan Riko!" kata Vara dengan tegas.
"Vara! Kamu harusnya bersyukur Riko masih mau menerimamu padahal kamu itu sudah jadi janda!" tandas Arvia.
"Ibu, maaf, tapi Vara tidak mau menikah dengan Riko! Vara tidak mencintai Riko!" sergah Vara.
"Oh, apa maksudmu kamu masih mencintai mantan suamimu yang tidak jelas itu?! Mantan suamimu yang meninggalkanmu begitu saja! Mantan suamimu yang jadi jodohmu yang turun dari langit itu?!" cecar Arvia.
"Ibu, cukup," kata Bapak segera menengahi Vara dan ibunya.
...*****...
Riko mendengus berat saat ia keluar dari rumah dan berdiri di teras. Ia benar-benar merasa terpukul karena Vara menolak kembali lamarannya.
Tuan Takur yang masih berdiri di sudut teras yang lain nampak mengawasi Riko dengan tatapan tidak bersahabat. Ia masih menunggu kedatangan Oleng untuk membawakan lebih banyak uang lagi.
Mata Riko menangkap rombongan para pria yang nampak bersiap di pinggir pekarangan membubarkan massa. Menyingkirkan tenda, menyuruh pemikul tandu dan gerobak serta para penggembala sapi dan kambing untuk menyingkir dari pekarangan. Mobil-mobil pun segera dipindahkan. Area pekarangan yang begitu luas itu benar-benar disterilkan.
Tak berapa lama terlihat sebuah helikopter yang perlahan turun. Angin yang timbul dari baling-baling helikopter tersebut seakan memporak-porandakan kerumunan massa yang berada di sekitarnya.
Mereka semua terkaget-kaget melihat sosok yang bagai turun dari langit keluar dari helikopter.
Pria bertubuh tinggi dan berkacamata hitam itu melemparkan pandangan pada semua orang yang menatapnya hingga nampak lupa berkedip.
"Selamat datang, Pak Roy," Herdi dan Pak Gunawan segera menyambut kedatangan bos besar mereka.
__ADS_1