
Hari masih begitu pagi saat Vara sudah berkutat di dapur. Ia akan menyiapkan sarapan. Viceroy masih tidur, meringkuk seperti kucing di dalam selimutnya. Selesai memasak, Vara segera mandi dan berpakaian, lalu membangunkan Viceroy yang semalam berjanji akan mengantarnya pergi ke kantor lantaran merasa cemas karena Vara belum mahir mengendarai sepeda motor.
"Viceroy, bangun!" Vara menggoyang-goyangkan tubuh pria itu.
Viceroy menggeliat, perlahan membuka matanya, lalu tersenyum. Vara sungguh kesal, mengapa pria ini senantiasa tampan dalam kondisi apapun?!
"Bangun, ini sudah pagi, katanya kau mau mengantarku pergi ke kantor," kata Vara.
"Air," kata Viceroy berusaha untuk menegakkan tubuhnya.
Vara segera menyodorkan sebotol air mineral yang disediakannya di atas nakas. Setiap bangun pagi, pria itu memang selalu meminta air minum. Viceroy meneguk air mineralnya.
"Terima kasih," katanya.
Vara masih menatap Viceroy yang terlihat enggan beranjak dari kasur.
"Ada apa lagi?" tanya Vara.
"Cium aku," jawab Viceroy sambil menarik Vara ke dalam dekapannya.
Vara tertawa, namun ia tetap melakukannya. Ia mencium pipi Viceroy dengan malu-malu.
__ADS_1
"Satunya lagi," perintah Viceroy.
...*****...
Viceroy segera mandi dan berpakaian, ia turun ke dapur dan melihat Vara yang sudah menunggunya di meja makan. Hidangan pun sudah tersaji. Benar kata Riko, menikah itu enak. Mulai bangun tidur hingga kembali tidur, akan ada yang melayani secara eksklusif.
"Kenapa menatapku seperti itu?" tanya Vara saat Viceroy menatapnya tajam.
"Memastikan apa mataku salah, ada bidadari yang sedang menemaniku sarapan," jawab Viceroy tanpa mengubah ekspresi seriusnya.
Viceroy mengerutkan alis karena melihat Vara yang menoleh ke kiri, ke kanan, dan ke belakang.
"Hah?!" Viceroy melongo mendengar pertanyaan Vara.
"Bukankah di rumah ini hanya ada kita berdua? Siapa satu orang lagi yang kau lihat?" tanya Vara. "Jangan membuatku merinding pagi-pagi begini," lanjut Vara.
Viceroy tertawa, ia jadi bertanya-tanya, sebenarnya ia yang tidak bisa menggombal atau Vara yang tidak bisa digombal?
Memang, ketika masih SMA dulu, Vara tidak pernah digombal oleh para pemuda. Vara hanya gadis biasa, yang baik hati, dan dermawan. Para pemuda merasa terlalu segan untuk menggombal Vara. Apalagi tersebar berita bahwa bapaknya Vara sungguh galak, membuat mereka berpikir seribu kali jika berani mengganggu Vara.
Viceroy masih menatap Vara tanpa mengalihkan sedetik pun pandangannya. Vara merasa salah tingkah, apa ada sesuatu yang aneh di wajahnya. Cepat-cepat Vara mengambil cermin saku dari dalam tas. Viceroy mengulas kembali senyumnya sambil meneguk air mineral, mengakhiri sesi sarapan.
__ADS_1
Vara segera mencuci piring-piring kotor, daripada menunggu saat ia kembali pulang.
Viceroy langsung memeluk kembali Vara dari belakang.
"Vara, terima kasih atas sarapannya," kata Viceroy.
Vara hanya mengangguk dan tersipu malu. Padahal dalam hati ia menjerit histeris karena sangat senang.
Vara menatap Viceroy yang terlihat sangat tampan dan segar. Tercium aroma segar dan maskulin yang menguar dari tubuh pria itu. Viceroy memakai parfum yang dihadiahkan oleh Vara. Viceroy meraih wajah Vara dan menghadiahkan kecupan yang lembut di bibir Vara. Viceroy menggendong Vara ke atas meja makan tanpa melepas ciumannya. Ia terlalu bahagia karena bisa memiliki seorang istri yang membuatnya jatuh cinta. Ketika kecupan itu berubah menjadi ciuman yang lebih menuntut, ponsel Viceroy berdering memecahkan keheningan. Mereka berdua seketika membubarkan diri. Vara segera mengatur kembali detak jantungnya yang berantakan, seberantakan penampilannya saat ini. Ia merapikan kembali rambut dan pakaiannya yang acak-acakan akibat ulah Viceroy.
Viceroy menghela nafas untuk mengatur kembali kesadarannya, sebelum menjawab telepon dari ibunya.
"Ibu," kata Viceroy.
"Roy, temui Ibu sekarang bersama istrimu," kata ibunya di seberang sana.
Terdengar ibunya menutup telepon. Viceroy menatap ke arah Vara yang nampak menegang.
__ADS_1