Akibat Taruhan Menikah

Akibat Taruhan Menikah
Beban Sofia


__ADS_3

Sofia memarkirkan mobil yang dikemudikan di pelataran rumah mewah yang nanti akan menjadi miliknya. Sofia sudah berencana untuk membawa keluarganya untuk menemani tinggal di rumah mewah yang selalu menjadi bahan pembicaraan keluarganya lantaran kemewahan perabotnya yang semua bersepuh emas. Sofia sudah membayangkan dirinya menjadi nyonya besar di rumah itu. Ia akan meminta Tante Virda dan Kak Ryo untuk meninggalkan rumah tersebut agar mereka tinggal di tempat lain setelah ia dan Roy menikah. Pasti semua orang akan sangat iri padanya karena Sofia benar-benar menjadi seperti ratu dari kerajaan dalam kisah Seribu Satu Malam. Hampir setiap malam Sofia datang ke rumah calon suaminya ini dengan tujuan untuk mengakrabkan diri. Hanya saja beberapa malam yang lalu ia tidak datang lantaran sibuk menemui teman-temannya untuk memamerkan calon suaminya. Sofia tidak mau disebut gadis halu, mengaku punya suami yang memiliki ketampanan luar biasa. Hanya saja Sofia belum punya foto calon suaminya itu. Sungguh sulit untuk mendapatkan fotonya.


Sofia segera memasuki rumah mewah tersebut.


"Selamat malam, Tante," Sofia menyapa Virda.


Virda nampak duduk diam menikmati perawatan pedikur dan menikur yang dilakukan oleh petugas salon langganannya yang biasa datang ke rumah. Nampak kuku-kuku Virda sedang dicat dengan warna merah gelap, terlihat begitu indah di tangannya yang terawat sempurna.


"Sofia," Virda menyapa Sofia.


"Tante, apa malam ini Roy datang ke sini?" tanya Sofia.


"Aku rasa tidak, beberapa malam yang lalu Roy sudah datang ke sini bersama istrinya," jawab Virda.


Sofia merengut, rasanya ia benar-benar cemburu mendengar calon suaminya datang bersama istrinya ke rumah ini.


"Tante, kapan Roy dan istrinya berpisah?" tanya Sofia.


"Sofia, kau tenang saja! Roy dan istrinya akan segera berpisah," jawab Virda.


"Tapi, Tante, istri Roy sepertinya tidak mau berpisah dari Roy," keluh Sofia.


"Sofia, aku sudah meminta Roy dan istrinya untuk berpisah baik-baik, jadi yang bisa kita lakukan hanyalah menunggu," Virda menanggapi Sofia.


"Iya Tante, aku sungguh sudah tidak sabar untuk menikah dengan Roy," kata Sofia.


Virda tersenyum melihat antusiasme Sofia. Bagi Virda, Sofia lebih pantas menjadi istri Roy. Sofia adalah gadis yang baik, berpendidikan tinggi, dan tentunya berasal dari kalangan keluarganya. Sofia juga memiliki penampilan yang begitu glamor. Sungguh sempurna untuk mendampingi Viceroy.


"Selamat datang, Kak Ryo," Sofia menyambut kedatangan calon kakak iparnya itu.


"Hai, Sofia," sapa Ryo.


"Ryo, kau sudah datang, tumben pulang lebih awal," kata Virda.


Ryo segera menghampiri dan memeluk ibunya.


"Iya Bu, aku merasa lelah saja," kata Ryo.


"Apa kau sudah makan?" tanya Virda.


"Sudah, Bu," jawab Ryo.

__ADS_1


"Ya sudah, segera mandi dan beristirahat," kata Virda.


"Baik Bu, terima kasih," sahut Ryo bergegas melangkah pergi.


Sofia segera mengikuti langkah Ryo.


"Kak Ryo, bisakah kita bicara sebentar?" tanya Sofia.


"Ada apa, Sofia?" tanya Ryo.


"Begini Kak, apa Kak Ryo tahu, nomor ponsel istri Roy?" tanya Sofia ragu-ragu.


Ryo mengulas senyumnya.


"Untuk apa kau menanyakan nomor ponsel istri Roy?" tanya Ryo.


"Aku dengar dari Tante Virda, bahwa Tante Virda sudah meminta Roy dan istrinya untuk bercerai, jadi aku harus menemui istri Roy agar wanita itu benar-benar mematuhi perintah Tante Virda," jawab Sofia.


"Baiklah, kau benar Sofia, kau memang harus menemui wanita itu, agar wanita itu sadar siapa dia!" kata Ryo.


"Terima kasih, Kak," kata Sofia.


...*****...


Sofia menunggu kedatangan wanita bernama Laras yang kata Kak Ryo adalah istri calon suaminya. Ia duduk di kafe eksklusif yang ada di kawasan pusat perbelanjaan ternama. 


...*****...


Laras sungguh tak percaya bahwa istri Viceroy menghubunginya dan mengajaknya untuk bertemu. Bagi Laras, ini adalah kesempatan besar baginya untuk mengorek kelemahan istri pria itu dan menjadikannya senjata pamungkas untuk merebut suami wanita berpenampilan nyentrik yang tidak sadar diri.


Laras memasuki kafe tersebut, penampilan menyolok istri Viceroy langsung menarik perhatiannya. Laras masih belum bisa percaya bahwa pria setampan Viceroy menjadikan wanita nyentrik ini sebagai istrinya. Selera pria itu sungguh luar biasa buruk.


Laras segera duduk di kursi, menatap Sofia yang memicingkan matanya, membuat gestur tubuh yang sama sekali tidak bersahabat.


"Jauhi Roy! Jangan pernah lagi mengusik kehidupannya!" kata Sofia.


Laras memasang ekspresi terkejut yang dibuat-buat.


"Harusnya kau yang menyingkir!" kata Laras.


"Harusnya kau tahu diri! Aku adalah wanita terpilih untuk menjadi istri Roy! Aku sudah dapat restu dari orang tuanya! Sementara kau, sadar diri! Sampai kiamat pun kau tidak akan pernah dapat restu dari Ibu Roy!" cecar Sofia.

__ADS_1


"Apa?!" kata Laras.


"Aku tidak butuh restu dari siapapun untuk mendapatkan Viceroy! Tuhan sudah menjodohkanku dengan Viceroy bahkan sebelum Hawa diciptakan untuk Adam!" cecar Laras.


"Kau! Kau beraninya!" teriak Sofia.


"Kenapa?! Kau pikir aku takut?!" tantang Laras.


"Akan kuadukan pada ibu Roy!" teriak Sofia.


"Adukan saja! Aku tidak takut pada apa pun dan pada siapapun!" balas Laras. 


Sofia geram, wanita di hadapannya benar-benar gila. Pantas saja, ibu Roy tidak merestui pernikahan pria itu. Wanita ini sungguh tidak sopan dan terang-terangan berani membantah titah mulia dari Tante Virda.


Awas saja, kau! Akan kuadukan pada Tante Virda!


Laras tersenyum penuh kemenangan melihat wanita di hadapannya ini nampak gemetaran. 


Sofia meninggalkan Laras, ia sungguh kesal berhadapan dengan wanita gila dan tak tahu malu itu. Sofia sungguh tidak tenang, jika calon suaminya masih berhubungan dengan wanita macam itu. Sofia tidak mau pernikahannya nanti dibayang-bayangi oleh kehadiran orang ketiga. 


...*****...


Sofia akan mendesak Tante Virda agar calon suaminya benar-benar menyingkirkan wanita itu. Agar Sofia bisa memiliki calon suaminya itu seutuhnya tanpa harus berbagi dengan wanita lain.


Sofia sungguh harus mencari cara untuk mendekatkan diri pada calon suaminya.


Meski hampir setiap hari ia datang berkunjung ke perusahaan Roy, namun ia sungguh tidak punya kesempatan untuk bisa duduk ngobrol santai bersama Roy. Bahkan di hari libur pun, Sofia tidak bisa menemui pria itu, lantaran pria itu pasti bersama dengan istrinya. Kapan Sofia punya kesempatan untuk mengakrabkan diri pada Roy?


Sofia rasanya ingin menyerah saja, namun keluarganya mendesaknya untuk tetap mengikuti perjodohan tersebut. Dalam hati kecil Sofia, tentu saja sebenarnya ini salah. Ia mengusik rumah tangga orang. Menjadi pihak ketiga, namun ia justru pihak ketiga yang direstui.


Apalagi semua keluarga besarnya merasa sangat iri pada Sofia yang begitu beruntung bisa dijodohkan dengan Roy, anak bungsu Tante Virda yang selain tampan begitu hartawan. 


Ayah dan Ibu Sofia sudah mulai berdiskusi berapa banyak mahar yang harus mereka minta pada calon suami Sofia itu. Sofia harus bisa mendapat mahar berjumlah fantastis, karena calon suaminya adalah seorang jutawan muda.


"Nanti, kalau Sofia sudah menikah dengan Roy, semua keluarga harus masuk ke perusahaan Roy, jadikan perusahaan itu perusahaan keluarga kita," kata ayah Sofia.


"Perusahaan Roy kabarnya lebih besar dari perusahaan kakaknya!" kakak Sofia menimpali.


"Aku harus jadi manajer di perusahaan Roy! Bantu aku ya, Sofia," sahut kakak tertua Sofia.


"Kau harus bisa menguasai semua harta suamimu itu! Keluarga kita benar-benar akan makmur sejahtera sampai tujuh turunan!" kata ibu Sofia.

__ADS_1


Sofia tentu merasa sangat terbebani, semua keluarga besarnya jadi sangat bergantung padanya. Masalahnya, Sofia harus menyingkirkan dulu istri Roy yang menurutnya begitu mengendalikan Roy. Sungguh Sofia hanya bisa mengadukan hal ini pada Tante Virda, agar Tante Virda bisa membantunya.


__ADS_2