Akibat Taruhan Menikah

Akibat Taruhan Menikah
Ibu Atau Istri


__ADS_3

"Vara, kau kenapa lesu begitu?" tanya Viceroy yang melihat Vara nampak tidak semangat saat menyantap makan malam mereka.


"Lelah hayati rasanya," jawab Vara.


"Lelah kenapa?" tanya Viceroy.


"Aku mau berhenti bekerja saja," jawab Vara.


"Loh, kenapa berhenti?" tanya Viceroy keheranan.


"Aku lelah, situasi dan kondisi kantorku berubah menjadi kurang menyenangkan," jawab Vara.


"Memangnya kemarin-kemarin bagaimana?" tanya Viceroy.


"Ya, biasanya sih aman saja, gara-gara kedatangan satu orang perusuh, kantor rasanya jadi seperti di neraka," gerutu Vara.


Viceroy tersenyum, baru kali ini ia mendengar keluhan Vara mengenai pekerjaannya. Selama ini mereka memang tidak pernah membahas masalah pekerjaan saat sedang bersama. Ia hanya ingin fokus bersama Vara saat mereka menghabiskan waktu berdua. Hanya saja sepertinya saat ini Vara sedang mengalami masalah yang sepertinya serius.


"Aku tidak tahu apa salah dan dosaku padanya, tapi sumpah, dia benar-benar minta ditumbuk kepalanya!" cibir Vara.


"Haha," Viceroy tertawa mendengar cibiran Vara.


"Seberapa menyebalkannya oknum tersebut sampai membuat istriku ini mau menumbuk kepala oknum itu?" tanya Viceroy.


"Dari skala satu sampai sepuluh, dia dapat poin sebelas," cibir Vara.


Viceroy tertawa lagi, Vara benar-benar menggemaskan saat sedang kesal.


"Lantas, apa kau sudah menumbuk kepalanya?" tanya Viceroy benar-benar ingin tahu.


"Aku sudah melemparnya dengan salah satu botol wewangian koleksiku, untung saja meleset, kalau saja kena, bisa benjol itu kepalanya," jawab Vara.


Viceroy tertawa melihat ekspresi Vara yang begitu menggemaskan.


"Vara, apa kau tahu, hal yang kau lakukan itu sungguh sangat berbahaya, kau bisa kena tindak pidana karena dianggap membahayakan nyawa seseorang, terlebih kau melakukannya dalam lingkungan kerja, bagaimana jika oknum itu menuntutmu?" tanya Viceroy.


"Bagaimana kalau kau dituntut melakukan tindakan percobaan pembunuhan? Kau mengancam akan membunuh orang saja, bisa dituntut, loh," lanjut Viceroy.


"Viceroy, kau jangan menakutiku seperti itu! Tapi sungguh, tidak kena, aku hanya bermaksud menyuruh oknum itu untuk diam! Lelah aku mendengar dia menghinaku dan menghina orang tuaku," rutuk Vara.


"Apa?! Dia berani menghinamu dan orang tuamu?!" Viceroy terperangah. "Siapa dia? Di mana rumahnya? Kita datangi dan tumbuki itu kepalanya!" cecar Viceroy.


"Kalau perlu lempari rumahnya dengan batu lalu bakar saja rumah sekaligus penghuninya," lanjut Viceroy.


Kini giliran Vara yang tertawa. Viceroy tersenyum melihat Vara tertawa. Ia selalu ingin Vara tertawa bahagia saat bersamanya. Viceroy merasa sangat bersalah setiap kali Vara meneteskan air mata karenanya.


"Viceroy, kau benar-benar sadis! Kau bisa dipenjara jika berbuat anarkis seperti itu," kata Vara masih tetap tertawa.

__ADS_1


"Habisnya, berani sekali oknum itu menghinamu dan orang tuamu! Apa dia tidak tahu berurusan dengan siapa?!" lanjut Viceroy seraya tertawa.


"Yah, semoga Tuhan memberinya hidayah dan membuatnya kembali ke jalan yang benar," kata Vara pada akhirnya.


Viceroy tersenyum ke arah Vara.


"Viceroy, apa malam ini kau menginap di sini?" tanya Vara ragu-ragu.


Viceroy menatap ke arah Vara. Saat ini ia memang sedang berada di bawah pengawasan ketat ibunya. Ia bahkan hanya bisa mencuri-curi waktu untuk mengunjungi Vara hanya untuk sekedar makan malam bersama.


Vara merengut, ia bisa melihat jelas bahwa malam ini Viceroy lagi-lagi tak akan menemani tidurnya.


"Viceroy, aku benar-benar kesepian," kata Vara.


"Vara, apa kau pikir aku tidak tidur sendiri juga?" tanya Viceroy.


Vara memajukan bibirnya.


"Kita bahkan selalu melakukan panggilan video sebelum tidur, apa kau melihat ada orang lain yang berbaring di sampingku?" tanya Viceroy lagi.


"Ya, mana aku tahu kalau selepas panggilan video kau menyelinapkan calon istrimu itu ke kamarmu," sahut Vara.


"Vara, aku hanya mengizinkanmu selaku istriku untuk berada di sisiku saat aku terlelap," kata Viceroy menatap lembut ke arah Vara.


"Benarkah?" tanya Vara.


"Vara, apa kau meragukan cintaku padamu?" tanya Viceroy.


Viceroy menarik Vara ke dalam pelukannya.


"Sabar ya, anggap saja ini ujian untuk memperkuat cinta yang kita miliki," kata Viceroy sambil mengelus kepala Vara dan mencium puncak kepala Vara.


"Iya, aku mengerti," kata Vara.


Viceroy kembali meraih bibir Vara. Saling melepas rindu meski hanya dalam waktu yang singkat. Mereka memang tidak pernah bisa saling menahan diri jika hanya berduaan. Terlebih bagi Vara, suaminya ini benar-benar begitu memanjakannya dan selalu memberinya kepuasan yang maksimal saat mereka saling memanen madu cinta. Viceroy sungguh sosok pria yang tidak pernah sekali pun bersikap egois dalam aktivitas panas mereka. Bagi Viceroy, kepuasan Vara adalah prioritas utamanya.


Viceroy menatap jam tangan, sudah waktunya ia untuk kembali pulang.


"Vara, aku pulang dulu," kata Viceroy berpamitan.


"Iya," jawab Vara yang masih belum rela melepas kepergian suaminya.


"Aku mencintaimu," kata Viceroy sebelum pergi.


"Aku juga mencintaimu," balas Vara.


...*****...

__ADS_1


Viceroy segera menghilang dari balik pintu yang tertutup. Vara benar-benar tidak tahu, sampai kapan ia dan Viceroy harus menjalani hubungan kucing-kucingan seperti ini. Ia benar-benar hanya bisa berdoa agar Tuhan membukakan pintu hati Ibu Suri. Sehingga Ibu Suri akhirnya merestui mereka. Begitu pun Vara juga berdoa agar ibunya bisa menerima Viceroy sebagai menantunya.


...*****...


Viceroy segera memasuki rumah ibunya. Rasanya benar-benar mengesalkan harus tinggal di rumah ini lagi. Hidup seatap dengan kakaknya benar-benar kurang menyenangkan. Sebelum menikah, Viceroy bahkan lebih sering tidur di ruang kerjanya daripada harus tinggal di rumah. Dulu ia pulang hanya sesekali itu pun kalau ibu dan kakaknya tidak ada di rumah. Kalau pun kebetulan bertemu, ya mereka cukup saling mengabaikan saja atau sekedar basa-basi saling sapa daripada mereka harus bertengkar lagi.


Ryo nampak sudah duduk menunggunya di ruang keluarga bersama sang ibu.


"Kenapa baru pulang, Roy?" tanya Virda.


"Banyak pekerjaan yang harus kuselesaikan, Bu," jawab Viceroy.


Ryo dan Virda nampak berpandangan. Ryo segera menyerahkan sebuah amplop yang masih tersegel rapat ke arah Viceroy.


"Apa ini, Ryo?" tanya Viceroy.


"Itu dokumen dari tim kuasa hukum yang kutunjuk untuk mengurus perceraianmu dengan istrimu," jawab Ryo.


Viceroy merasa ada petir yang menyambar dalam kepalanya.


"Ibu, Ryo, apa-apaan ini?" tanya Viceroy memandang bergantian ke arah ibu dan kakaknya.


"Roy, berterima kasihlah pada Ryo yang sudah membantu menguruskan perceraianmu," kata Virda.


"Kau tenang saja Roy, aku sudah mengerahkan tim kuasa hukum terbaik yang akan membantumu! Kau bisa meminta mereka untuk tidak mengaturkan pembagian harta gono-gini," sahut Ryo.


"Ibu! Aku tidak bersedia menceraikan istriku," kata Viceroy.


Viceroy menatap tajam ke arah ibu dan kakaknya.


"Aku mencintai istriku, Bu," kata Viceroy.


"Roy, sudahlah tidak usah sok sinetron!" sergah Ryo.


"Roy, kembali ke kamarmu sekarang!" perintah Virda sebelum keributan kembali terjadi di hadapannya.


Viceroy benar-benar geram, ia bergegas meninggalkan ibu dan kakaknya. Ryo segera menyusul Viceroy.


"Roy! Kau harus putuskan! Kau harus memilih antara ibu atau istrimu!" kata Ryo.


Viceroy hanya bisa diam, ia tak bisa menjawabnya.


"Roy, dengan uang yang kau miliki, kau bisa mendapatkan semua wanita yang kau inginkan! Kau bahkan bisa membangun harem!" kata Ryo memprovokasi adiknya.


"Ryo, apa kau pernah serius jatuh cinta?" tanya Viceroy menatap tajam ke arah Ryo.


Ryo kembali menyunggingkan senyumnya.

__ADS_1


"Roy, dengarkan perkataanku baik-baik! Kau memang punya banyak uang, dengan semua uangmu kau bisa mendapatkan wanita mana pun yang kau inginkan! Tapi kau hanya punya satu orang tua, yaitu Ibu! Lebih baik kau kehilangan istrimu daripada kau kehilangan Ibumu! Sudah cukup dulu kita kehilangan ayah tanpa sempat membuat ayah bahagia dengan kesuksesan yang sudah kita raih! Meski kau tukar semua uang yang kau punya, ayah kita tidak akan pernah kembali!" Ryo menjelaskan panjang lebar.


Ryo melangkah pergi meninggalkan Viceroy yang masih tetap diam seribu bahasa. Viceroy benar-benar terpukul dengan perkataan Ryo. Apa yang diucapkan oleh Ryo adalah sebuah kebenaran yang tak terbantahkan.


__ADS_2