Akibat Taruhan Menikah

Akibat Taruhan Menikah
Ujian Pertama Vara


__ADS_3

Vara segera memesan taksi daring meninggalkan rumah keluarga Viceroy. Ia merasa tidak mengerti dengan ibu Viceroy. Wanita itu menyuruhnya pergi setelah Vara menyajikan teh sesuai perintahnya. Vara menghidangkan air panas dalam teko, ia juga menyiapkan es batu dalam wadah terpisah, aneka teh celup berbagai jenis yang didapat dari dapur, gula tebu kemasan, gula jagung dalam kemasan, bubuk krimer, cangkir, tatakan cangkir, gelas, hingga sendok teh yang semuanya disiapkan Vara secara terpisah di atas nampan kayu besar. Vara bahkan menuangkan teh panas ke dalam cangkir, dan menghidangkan es teh juga. Terserah Nyonya itu mau minum teh yang seperti apa, karena Nyonya tidak mengatakan secara spesifik ingin teh seperti apa? 


Vara hanya bisa menghidangkan teh yang ada di dapur berkonsep modern dan minimalis itu. Nyonya hanya melipat tangannya di depan dada, menatap Vara dengan tatapan tajam yang mengintimidasi tanpa berkata apa-apa.


***


Virda nampak kesal, karena wanita di hadapannya ini ternyata tidak bodoh. Padahal jika wanita ini menghidangkan teh panas dalam cangkir, ia akan membuang atau mengguyurkan teh buatan wanita ini ke arah wanita ini. Melemparkan cangkir ke lantai sebagai bentuk protes karena tidak menghidangkan teh sesuai keinginan Virda.


Namun, wanita muda ini justru membuatnya tak bisa berkutik ataupun menyalahkannya, karena wanita ini begitu cerdas, tidak memberi kesempatan bagi Virda untuk mencari-cari kesalahannya dalam menghidangkan teh. Wanita muda ini begitu lengkap menyajikan teh, sampai gula pun disiapkan terpisah.


Dari semua gadis yang pernah diuji untuk menghidangkan teh, hanya wanita ini yang membuat Virda tidak bisa berkomentar apa-apa. Biasanya gadis lain akan banyak bertanya, mau teh panas, atau es teh? Teh susu, atau es teh susu? Gulanya perlu berapa sendok?


Sungguh, Virda biasanya akan menumpahkan teh ke lantai, minta dibuatkan teh yang baru, sampai mendapatkan teh yang sesuai dengan keinginan Virda. Tak jarang setiap gadis yang diujinya perlu berkali-kali membuat teh.

__ADS_1


Dari uji menghidangkan teh ini, Virda bisa menilai kepribadian seorang wanita. Wanita muda ini rupanya cerdas, teliti, dan sangat berhati-hati. Seakan ia memang sudah merencanakan semua secara matang dalam waktu yang begitu singkat. Wanita ini seakan menunjukkan bahwa ia sudah menyiapkan segalanya, sementara keputusan terserah anda!


Rubah ini sungguh licik! Pikir Virda.


Virda sungguh kesal, karena harus mengakui bahwa wanita ini sudah lulus dalam penilaian pertamanya.


"Pergilah!" perintah Virda segera beranjak dari sofa.


Ia meninggalkan Vara yang nampak kebingungan. Nyonya bahkan tak menyentuh teh yang sudah disiapkan Vara. Apa ia begitu benci pada Vara?


Vara memang beberapa kali menelepon bapak untuk menanyakan kabar ibu yang masih saja marah karena Vara menikah dengan pria yang tidak bisa membuat ibunya bangga. Belum lagi Vara mendengar tuduhan Riko yang mengatakan bahwa Vara kini telah menjadi janda yang jual diri.


Bagaimana kalau Vara tidak lulus uji sertifikasi ibu Viceroy? Vara benar-benar menjadi janda dan bapak pasti akan benar-benar menyeretnya untuk pulang kampung.

__ADS_1


Mengapa menikah dengan Viceroy begitu ribet? Memangnya siapa Viceroy sampai ibunya begitu selektif dalam memilih menantu?


Bukannya Vara mau memandang rendah mertuanya yang terlihat seperti orang kaya baru. Keluarga Viceroy kaya raya pasti karena kakaknya yang bekerja begitu keras. Viceroy hanya pedagang ikan yang entah berjualan di pasar mana. Ingin rasanya Vara mengunjungi semua pasar untuk mencari Viceroy, karena pria itu mengaku bahwa ia memang pedagang ikan. Vara sungguh tidak suka dipandang begitu rendah, karena ia sendiri sudah merasa rendah. Mau direndahkan seperti apa lagi?


Vara menepis jauh-jauh pikiran buruknya itu. Ia tak boleh memandang rendah orang lain hanya karena mendengar kata orang. Tidak pantas manusia menilai sesama manusia, merasa dirinya lebih unggul hanya karena berasal dari keluarga berada, berpendidikan tinggi, dan memiliki jabatan tinggi.


"San, lagi apa? Jalan bersama yuk," ajak Vara menelepon Santika.


"Maaf, Vara, hari ini aku sudah ada janji dengan adikku," jawab Santika.


"Baiklah, selamat bersenang-senang," sahut Vara.


Dulu Vara memang dikelilingi banyak teman, mereka sering menghabiskan waktu bersama, belajar, jalan-jalan, makan, nonton film, pergi karaoke, hingga nongkrong di kafe. Namun setiap tahun, teman-teman Vara berkurang. Apalagi mereka yang sudah fokus berumah tangga, waktu mereka sudah tersita untuk mengurus keluarga kecil mereka. 

__ADS_1


Entah mengapa Vara merasa hampa, benar kata bapak, harusnya sekarang adalah usia yang pas bagi Vara untuk benar-benar menikah, membangun dan merawat keluarga kecilnya. Bukannya luntang-lantung tak jelas seperti saat ini. Mencari-cari teman yang bisa diajak untuk mengusir rasa sepi.


__ADS_2