
Viceroy tadinya ingin menghabiskan waktunya dengan piknik bersama Vara dan teman-teman Vara, masalah pada pekerjaannya membuat Viceroy harus turun tangan menyelesaikannya. Ya, Viceroy harus mengamuk dulu meluapkan kekesalannya lantaran kapal bermuatan bahan bakar minyak yang berlayar menuju lokasi pertambangan Aurum Mining ditawan oleh penduduk setempat karena dituduh menabrak keramba ikan milik penduduk. Kapal beserta para kru menjadi tawanan penduduk setempat, sementara pelanggan membutuhkan pesanan bahan bakar diantar ke tempat agar operasional proyek tetap berjalan lancar. Pak Satria selaku manajer operasional sudah berusaha melakukan negosiasi semaksimal mungkin, namun hasilnya nihil, yang ada pria tersebut juga ikut menjadi tahanan warga lokal.
Viceroy membawa koper berisi uang yang sudah disiapkan oleh Riko karena penduduk setempat memang menginginkan uang sebagai hasil negosiasi.
"Maaf, mengganggu hari libur anda, Pak Riko," kata Viceroy pada Riko.
"Tidak masalah, Pak," jawab Riko.
Viceroy segera memasuki helikopter yang membawanya pergi ke tempat tujuan. Tanpa memakan waktu lama, helikopter segera mendarat di landasan helikopter yang ada di atas kapal pengangkut bahan bakar minyak tersebut.
Semua mata tertuju pada pria yang nampak sederhana. Viceroy mengenakan rompi anti peluru yang dilapisinya dengan jaket bertudung.
"Pastikan tidak ada seliter pun minyak yang keluar dari tangki, mereka pasti mengincar minyak yang ada, selain mengincar uang!" kata Viceroy pada kru kapal yang berjaga.
Viceroy segera turun dari kapalnya untuk menemui pimpinan kampung tersebut. Suasana terasa begitu menegangkan, semua mata tertuju padanya. Viceroy tiba di sebuah rumah sederhana yang dipenuhi para warga.
Pak Satria dan Kapten Johan nampak duduk bersila di hadapan pria yang duduk di lantai dengan satu kaki ditekuk menahan perutnya.
"Ini pimpinan kalian?!" pria itu terdengar setengah membentak pada Pak Satria dan Kapten Johan.
"Bukan, Pak, saya hanya utusan," jawab Viceroy tenang. "Nama saya Viceroy," Viceroy memperkenalkan diri.
"Aku Vikar, yang ditunjuk untuk jadi penguasa kampung ini!" kata pria itu melotot ke arah Viceroy.
"Ya, saya bisa melihatnya," jawab Viceroy.
"Itu kapal sebesar itu, tabrak-tabrak keramba ikan warga di sini! Kami rugi dua puluh juta satu hari! Belum lagi keramba yang rusak, kami rugi tiga ratus juta!" cecar Vikar.
Viceroy mengerutkan keningnya, jika pria ini mengaku rugi tiga ratus juta, bagaimana dengan Viceroy yang akan mengalami kerugian hampir dua puluh miliar?! Padahal menurut tim investigasi, kapal tidak benar-benar menabrak keramba ikan, nelayan setempat sengaja memasang keramba di jalur yang dilalui kapal, padahal pemandu alam sudah berhati-hati dalam menjalankan tugasnya, sehingga kejadian ini hanya bertujuan untuk mendapat uang kompensasi.
"Apa kau tahu, di kampung ini, keluarga Lavais berkuasa selama puluhan tahun! Sekarang aku yang berkuasa, Vikar Lavais! Jadi, kau jangan coba-coba macam-macam! Tidak takut aku dengan polisi yang kau bawa!" seru Vikar kembali mencecar Viceroy.
"Keluarga Lavais?" tanya Viceroy. "Sungguh kebetulan, nama saya Viceroy Lavais, ayah saya bernama Vicram Lavais," lanjut Viceroy.
__ADS_1
Viceroy mengeluarkan kartu tanda penduduknya, membuktikan bahwa ia memang benar bernama Viceroy Lavais.
Vikar nampak tercengang mendengar perkataan Viceroy.
"Vicram Lavais?!" Vikar mengulang nama Ayah Viceroy. "Kau anak Vicram Lavais?!"
"Benar," jawab Viceroy tetap tenang.
Terdengar semua orang berkasak-kusuk di belakang Viceroy.
"Kau, anaknya Vicram yang dulu juragan ikan di kota?" tanya Vikar.
"Benar, ayah saya sudah meninggal dua puluh tahun yang lalu, lebih tepatnya dua puluh dua tahun yang lalu," jawab Viceroy.
"Astaga!" Vikar menepuk kepalanya tak percaya. "Kau anaknya Bang Vicram dan Kak Virda?!" Vikar terbelalak tak percaya.
"Benar," jawab Viceroy tak mengerti.
Sungguh tak cocok pria berwajah sangar dengan tubuh kurus namun berotot itu menangis lalu memeluk Viceroy. Pria yang dipanggil Bang Vian ikut memeluk Viceroy juga. Viceroy tercengang, namun ia membiarkan dua pria itu menangis sambil memeluknya. Semua orang yang melihat kejadian tersebut hanya bisa terkejut dan terheran-heran.
"Kau Roy yang dulu masih kecil, sering kugendong! Aku yang jaga kau dulu!" kata Vikar sambil menepuk punggung Viceroy.
Viceroy sungguh tak percaya, bahwa kasus yang sedang dialami perusahaannya akan membawanya ke acara reuni keluarga Ayahnya. Vikar, adalah adik bungsu Vicram, ayah Viceroy dan itu artinya Vikar adalah paman Viceroy.
Vicram adalah sosok pria dermawan yang menjadi tulang punggung keluarga besarnya saat menjadi juragan ikan di kota. Vicram menampung semua keluarga besarnya yang datang dari kampung. Keluarga besar Vicram sungguh terpukul atas kematian Vicram yang begitu mendadak sehingga memutuskan untuk kembali ke kampung dan memulai kembali hidup mereka dari uang yang mereka kumpulkan dari Vicram semasa pria itu masih hidup.
"Bagaimana Kak Virda? Apa beliau sehat-sehat saja?" tanya Bang Vian.
"Ibuku baik-baik saja," jawab Viceroy.
"Kakakmu, Ryo ya, sehat-sehat juga?" tanya Vikar antusias.
"Ya, sehat-sehat saja," jawab Viceroy.
__ADS_1
"Kau tampan sekali, seperti aku masih muda," kata Vikar dengan mata berbinar-binar menatap Viceroy.
Viceroy tiba-tiba menjadi selebriti di kampung itu. Ia bahkan mengadakan tur keliling kampung untuk mengunjungi seluruh keluarga besar ayahnya yang masih tersisa. Tak sedikit yang sudah tutup usia lantaran waktu yang terus berjalan.
Vikar benar-benar bahagia, bertemu dengan keponakan yang sudah dua puluh tahun lebih tak ditemuinya.
"Ini keponakanku dari kota!" seru Vikar sepanjang jalan memperkenalkan Viceroy ke semua orang.
"Paman, saya sungguh minta maaf, karena perusahaan tempat saya bekerja sudah menyebabkan masalah," kata Viceroy.
"Hebat sekali kau bisa bekerja di perusahaan besar itu, jadi apa kau di sana?" tanya Vikar.
"Saya ini cuma pesuruh saja, Paman, saya ini kerja apa saja, demi sesuap nasi, demi istri di rumah," jawab Viceroy.
"Sudah menikah, kau? Berapa sudah anakmu?" tanya Vikar.
"Belum punya, Paman," jawab Viceroy meringis.
"Jadi, berapa ganti rugi yang harus dibayarkan paman?" tanya Viceroy.
"Tidak perlu, nanti aku beritahu itu para nelayan yang lapor, jangan cari gara-gara sama keponakanku! Kasihan sekali datang jauh-jauh ke sini," kata Vikar.
"Jangan begitu, Paman, saya ganti dua puluh juta bagaimana?" tanya Viceroy.
"Tidak perlu, banyak sekali itu, begini saja, ganti saja semuanya dua puluh juta dengan minyak sepuluh galon," kata Vikar.
"Kalau minyak tidak bisa paman, itu punya orang, kalau sampai kurang seliter saja, potong gaji kami paman, mau makan apa anak dan istri di rumah," Viceroy masih melakukan negosiasi. "Dua puluh juta saja ya, Paman," lanjut Viceroy.
"Baiklah," kata Vikar akhirnya.
"Terima kasih, Paman, saya sungguh berterima kasih pada Paman," kata Viceroy.
"Sudah seharusnya Roy, kita ini masih keluarga," jawab Vikar.
__ADS_1