
Vara memijat kepalanya yang mendadak pening saat membuat laporan pengeluaran kas operasional perusahaan. Kondisi uang kas operasional juga makin menipis lantaran terjadi lonjakan biaya yang naik secara signifikan.
"Ada apa, Vara?" tanya Mbak Rani yang melihat wajah Vara begitu kusut saat membaca laporan yang akan diserahkannya pada Pak Bram.
"Uang kas operasional menipis dan belum ada penggantian untuk pengisian saldo kas. Semua laporanku masih tertahan karena ada biaya pengeluaran yang begitu besar," keluh Vara.
Mbak Rani membaca laporan pengeluaran kas yang disusun oleh Vara. Wanita berusia empat puluh tahun lebih itu terbelalak.
"Astaga Vara!" Mbak Rani terlonjak kaget.
"Yang benar saja! Biaya makan siang untuk Bu Sofia mengambil jatah seperempat dari saldo harian kas operasional," Mbak Rani masih terbelalak.
"Itulah, Mbak," kata Vara.
"Aku bingung sekali, entah apa yang harus kulakukan? Bagaimana aku melaporkan hal ini pada Pak Bram?" Vara nampak gelisah.
"Coba didiskusikan dulu dengan Pak Bram," usul Mbak Rani.
"Kau tidak bisa menutupi masalah ini terus, arus perputaran dana kas harus terus berjalan agar operasional perusahaan tidak terhambat," Mbak Rani menasehati.
"Baik Mbak, sebentar habis makan siang aku akan menemui Pak Bram," kata Vara.
"Bu Vara, Bu Sofia minta dibelikan makan siang di Restoran OC," kata Sari begitu memasuki ruang kerja Vara.
Vara mendelik gusar, saat ini uang kas operasional sudah sangat menipis. Ia tentu lebih memprioritaskan dana untuk kegiatan yang sangat penting dari pada hanya sekedar makan siang untuk Bu Sofia.
"Maaf, Sari," kata Vara.
"Bisa tolong disampaikan bahwa saat ini dana kas operasional masih dalam proses pencairan," Vara melanjutkan.
"Jadi, maksud Bu Vara saat ini dana belum ada?" tanya Sari.
"Masih diproses," jawab Vara.
"Baiklah, akan saya sampaikan," sahut Sari.
...*****...
Sofia langsung menuju ke ruangan kerja Vara begitu mendengar bahwa Vara tidak memberikan dana pada Sari untuk makan siangnya.
Braakk...!
Sofia menggebrak meja kerja Vara. Mbak Rani yang sedari tadi berkutat dengan pekerjaannya langsung terperanjat seperti halnya Vara.
"Bu Vara!" teriak Sofia.
"Apa maksud Anda tidak memberiku jatah makan siang?! Kau mau aku mati kelaparan?!" teriak Sofia lagi.
Vara terkesiap dan menatap lurus ke arah Sofia.
"Maaf, Bu Sofia," kata Vara berusaha untuk tetap tenang.
"Saya tidak bermaksud untuk tidak memberi anda jatah makan siang. Hanya saja jika anda meminta makan siang seperti biasanya, saya belum bisa menyiapkannya, Bu," kata Vara.
"Kenapa?" tanya Sofia dengan nada penuh menantang.
Wanita itu bahkan melotot sambil bertolak pinggang.
"Maaf Bu, dana operasional sementara masih dalam proses pencairan, sehingga kas operasional saat ini masih kosong," jawab Vara.
"Kok, bisa dana kas operasional sampai kosong?" tanya Sofia lagi.
__ADS_1
"Ini perusahaan besar, loh! Uangnya pasti banyak!" lanjut Sofia.
"Kau pasti hanya beralasan saja, padahal kau enggan untuk menuruti perintahku!" cecar Sofia.
Vara hanya diam menatap Sofia yang mengamuk dan mengundang kedatangan banyak orang.
"Bu Vara! Aku adalah adik ipar Pak Ryo, selaku pemilik perusahaan ini! Itu artinya perusahaan ini milikku juga! Kau itu hanya pegawai yang harus menuruti perintah pemilik perusahaan! Kau pasti paham apa maksudku!" Sofia masih mencecar Vara.
"Asal kau tahu, ya! Suamiku itu sangat kaya raya! Aku bisa saja meminta makan siang yang lebih mewah dari yang biasa kau suguhkan untukku!" lanjut Sofia.
Ya, minta saja pada suamimu yang kaya raya itu! Jangan meminta dana operasional perusahaan untuk makan siang mewahmu, batin Vara.
"Aku benar-benar akan mengadukanmu pada Pak Ryo!" ancam Sofia.
Sofia bergegas pergi dari ruangan kerja Vara. Ia meninggalkan Vara yang nampak memucat.
...*****...
Pak Bram membaca laporan pengeluaran kas operasional yang dibuat oleh Vara. Pak Bram terkejut dengan nominal yang melonjak signifikan, terutama untuk biaya makan siang Sofia. Dalam satu hari mencapai lima juta hanya untuk membeli camilan dan makan siang Sofia. Hal tersebut terjadi lantaran betapa cerewetnya Bu Sofia dalam memilih makanan. Sofia tanpa segan meminta semua makanan yang diinginkannya. Jika tidak sesuai, wanita itu akan marah dan mengancam akan mengadukan hal tersebut pada Pak Ryo. Ia akan beralasan bahwa karyawan Pak Ryo sama sekali tidak menghormati dan menghargai keinginannya.
Semua makanan yang dimakan Sofia haruslah makanan yang berasal dari restoran tersohor atau pun masakan dari hotel berbintang lima.
"Bu Vara, apa Anda sudah membicarakannya dengan Pak Ryo?" tanya Bram ke arah Vara.
"Saya pikir ini sungguh berlebihan," kata Pak Bram.
"Makan siang Bu Sofia per hari sama dengan nominal makan siang harian satu perusahaan," Bram berdecak keheranan.
Vara hanya diam saja, ia sungguh tak berani lantaran Sofia berkata bahwa ia adalah adik ipar Pak Ryo. Dan ternyata hampir semua karyawan di perusahaan ini diancam oleh Sofia yang membawa-bawa statusnya sebagai adik ipar Pak Ryo.
"Perusahaan ini punya kakak iparku. Jadi jangan macam-macam kalau masih mau bekerja di sini!" kata Sofia mengeluarkan kalimat saktinya kepada semua orang.
"Bu Vara, coba konfirmasikan hal ini kepada Pak Ryo. Jangan hanya diam saja. Saya mengerti posisi anda. Hanya saja, ini terlalu berlebihan," kata Pak Bram mengusap wajahnya dengan gusar.
"Baik, Pak," kata Vara.
Vara segera keluar dari ruangan Pak Bram sambil menghela napas berat.
Rakus sekali wanita itu, pantas saja begitu gemuk!
Vara segera menuju ke ruangan Pak Ryo untuk meminta persetujuan laporan tersebut. Pak Bram tidak berani menyetujuinya lantaran nominal dana yang tidak masuk akal hanya untuk makan siang.
Vara mengetuk pintu ruang kerja Pak Ryo.
"Permisi, Pak," kata Vara.
"Silakan," jawab Pak Ryo masih fokus pada ponselnya.
"Pak Ryo, ada hal yang ingin saya bicarakan mengenai pengeluaran dana kas operasional," kata Vara.
Pak Ryo menatap ke arah Vara. Vara menyodorkan laporan yang dibuatnya. Pak Ryo membaca daftar laporan itu dengan kening berkerut.
"Pengeluaran untuk makan siang Sofia," kata Pak Ryo terperangah.
"Benar Pak, itu permintaan dari Bu Sofia," kata Vara.
Pak Ryo menghela napas berat. Sofia baru bekerja beberapa hari, lebih tepatnya dua minggu. Bukannya Pak Ryo pelit, hanya saja lima puluh juta terlalu berlebihan untuk sekedar makan siang.
"Bu Vara, siapa yang menyetujui Anda mengeluarkan dana sebesar ini hanya untuk makan siang Sofia?" tanya Ryo menatap Vara dengan tajam.
"Bu Sofia meminta sendiri, Pak," jawab Vara.
__ADS_1
Pak Ryo segera menelepon Sofia.
"Sofia, tolong ke ruangan saya sekarang," kata Pak Ryo.
"Baik, Kak Ryo," jawab Sofia.
...*****...
Sofia segera memasuki ruang kerja Pak Ryo.
"Silakan duduk, Sofia," kata Pak Ryo mempersilakan Sofia duduk di samping Vara.
"Vara, kau berdiri saja!" kata Sofia memerintah Vara.
Sofia tidak mau duduk di samping karyawan. Vara mengalah, lalu ia segera berdiri. Pak Ryo menatap Vara yang terlihat diam menuruti perintah Sofia.
"Sofia, saya dapat laporan pengeluaran kas operasional. Saya bukannya membatasi, hanya saja pengeluaran untuk makan siangmu terlalu berlebihan," kata Ryo.
"Ya ampun, Kak Ryo, ini nominal yang tidak seberapa! Kenapa bisa disebut berlebihan?" tanya Sofia.
"Lagi pula saya juga makan siangnya bersama teman-teman kantor!" lanjut Sofia.
"Sofia, saya mengerti kemurahan hatimu. Hanya saja ini uang perusahaan, bukan uang pribadi," kata Pak Ryo.
"Tapi ini untuk kepentingan karyawan, Kak!" protes Sofia.
Vara mendelik gusar, wanita ini bahkan hanya mengajak makan teman-teman satu gengnya.
"Makanan yang aku pesan itu murah-murah saja, Kak. Aku curiga, jangan-jangan laporan ini dinaikkan untuk kepentingan pribadi," kata Sofia menuduh Vara.
"Bu Sofia, saya membuat laporan berdasarkan pengambilan dana dan nota-nota yang terkumpul," jawab Vara merasa tak terima Sofia menuduhnya.
"Bu Vara, jadi kau menuduhku menaikkan daftar harga makanan, begitu?!" nada bicara Sofia meninggi.
"Bukan begitu, Bu," kata Vara.
"Baiklah, kalian bisa pergi," kata Pak Ryo sebelum mendengar adu mulut yang tak penting.
"Bu Vara, tolong diperiksa baik-baik laporan Anda," kata Pak Ryo pada Vara.
"Baik, Pak," jawab Vara kemudian bergegas pergi meninggalkan ruang kerja Pak Ryo.
Sofia masih belum beranjak pergi.
"Kak Ryo, sungguh aku bicara yang sejujurnya! Kak Ryo lebih percaya aku atau Vara?" tanya Sofia.
"Aku ini adik ipar Kak Ryo, sedangkan Vara hanya orang lain lho, Kak," lanjut Sofia.
"Iya Sofia, saya mengerti, kembalilah bekerja," kata Pak Ryo.
"Kak Ryo, aku bahkan belum makan siang karena Vara tidak memberiku dana, Kak," keluh Sofia.
Pak Ryo mengerutkan keningnya.
"Vara mengatakan bahwa uang kas operasional perusahaan sedang kosong! Aku curiga, jangan-jangan dia yang memakai uang kas operasional untuk keperluan pribadinya," Sofia mulai mengompori Pak Ryo.
"Sofia, bagaimana kau bisa bicara seperti itu?" tanya Pak Ryo.
"Haha," Sofia tertawa.
"Kak Ryo, semua orang di perusahaan ini bahkan sudah membicarakan hal tersebut. Informasi yang kudengar menyatakan bahwa Vara menggunakan uang kas operasional perusahaan untuk membiayai kehidupannya," Sofia tersenyum.
__ADS_1
"Kabarnya, Vara itu membiayai kekasihnya yang hanya berprofesi sebagai tukang ojek," lanjut Sofia.