
Bapak hanya bisa menghela napas berat berkali-kali. Rasanya hari ini begitu banyak kejadian yang menimpa keluarganya hanya dalam beberapa jam terakhir. Istri dan anak perempuannya adalah dua wanita yang begitu berharga dalam hidupnya. Bapak sama sekali tidak bisa memilih untuk membela siapa. Cintanya pada istrinya benar-benar sebesar cintanya pada anak semata wayangnya. Dilema pria yang hidup di antara dua cinta memang sangat berat.
"Vara, sudah cukup kamu mempermalukan Bapak dan Ibu! Tidak bisakah kamu menjadi anak yang berbakti?! Ibu ini sudah susah payah membesarkanmu! Kamu itu anak Ibu satu-satunya! Kebanggaan Ibu! Ibu mempersiapkanmu menjadi wanita yang hebat, wanita yang pantas untuk mendampingi pria yang hebat! Kalau Ibu tidak memikirkan masa depan kamu, ngapain Ibu repot-repot menyekolahkanmu tinggi-tinggi! Ngapain ibu repot-repot mendidikmu menjadi wanita yang mahal!" cecar Arvia.
"Ibu tuh kesal kamu itu bebal! Dikasih tahu orang tua untuk menikah dengan pria bagus seperti Riko malah milih yang tidak jelas juntrungannya! Lihat, akhirnya kamu jadi janda! Menikah kok seumur jagung! Kamu pikir kamu itu artis ibukota apa!" ibu masih mencecar Vara.
"Suamimu yang tidak jelas itu akhirnya malah meninggalkan kamu!" lanjut ibu.
"Bu, Vara tidak ditinggalkan! Justru Vara yang memilih meninggalkan suami Vara, Bu!" kata Vara.
"Sudahlah Vara, kamu harus menerima pinangan Riko! Ibu tidak mau mendengar alasan apapun lagi! Pokoknya kamu harus menikah dengan Riko!" tandas ibu.
"Riko sudah jauh-jauh datang kemari bersama keluarga besarnya! Jadi hargai niat baik mereka! Kamu itu sudah jadi janda! Apa yang bisa kamu banggakan dari tubuhmu yang sudah jadi bekasnya orang?!" cecar ibu lagi.
"Syukur-syukur Riko masih mau memberimu mahar, mengadakan pesta pernikahan besar-besaran, padahal kamu itu cuma janda! Kamu itu sudah bukan anak gadis yang masih perawan! Sadar diri kamu, ya!" ibu masih mencecar Vara dengan dahsyatnya.
"Sudah Bu, cukup, Bu," sergah bapak yang merasa ibu sudah benar-benar keterlaluan.
"Anak sendiri jangan dihina-dina begitu!" tandas bapak.
"Pak, Ibu begini biar Vara sadar diri! Cinta saja tidak cukup untuk modal berumah tangga! Lupakan saja mantan suamimu yang sama sekali tidak bisa dibandingkan dengan Riko yang sempurna!" lanjut ibu.
...*****...
Riko terkejut melihat kedatangan bosnya. Ia segera menuruni anak tangga rumah panggung tersebut dan menghampiri pria yang langsung menyita perhatian para warga kampung. Terutama kaum hawa yang bagi mereka sungguh tak pernah melihat pria setampan itu datang ke kampung mereka.
Sungguh ketampanan yang menyilaukan. Pria itu bertubuh tinggi dalam balutan jas hitam yang membungkus sempurna tubuhnya. Kulitnya yang putih dengan rambut yang hitam dan tertata rapi benar-benar menyita perhatian.
"Ada orang turun dari langit!" begitulah para warga kampung berseru heboh.
"Apa dia malaikat?!"
Riko tertawa dalam hatinya, kalau Pak Roy adalah malaikat, sudah pasti beliau adalah malaikat pencabut nyawa. Amukannya yang maha dahsyat setiap kali marah itu benar-benar menggetarkan jiwa. Riko sungguh salut dengan wanita yang sudah menjadi istri pria tersebut. Mungkin saja gendang telinga wanita itu sudah pecah sehingga tak mampu mendengar omelan pria itu lagi.
"Pak Roy," sapa Riko.
"Loh, Pak Riko," balas Viceroy menyapa Riko.
"Sedang apa Anda di sini, Pak?" tanya Riko keheranan.
"Tanya saja pada Bapak-bapak ini," sahut Viceroy sambil membuka kacamata hitamnya dan menyimpannya ke saku dalam jas.
Herdi dan Pak Gunawan hanya bisa menunduk. Mereka sungguh merasa tidak punya muka karena akhirnya terpaksa menghubungi bos besar mereka untuk datang menghadapi seorang warga yang membuat mereka melambaikan tangan ke arah kamera. Namun mereka tahu, meski atasan mereka ini mencecar mereka habis-habisan, namun pria itu tetap datang meluangkan waktunya untuk menyelesaikan masalah ini.
"Semuanya, perkenalkan beliau adalah Pak Riko, manajer keuangan Royal Grup. Beliau berbasis di kantor pusat," Viceroy memperkenalkan tim dari proyek perkebunan kelapa sawitnya pada Riko.
"Salam kenal semuanya," sapa Riko.
Para pria itu mengangguk membalas sapaan Riko.
Viceroy mengerutkan kening melihat banyaknya orang yang berkumpul di rumah panggung tersebut. Sepertinya ada acara hajatan yang diadakan di rumah itu.
"Pak Riko, serius Anda mengadakan acara lamaran? Kenapa ramai sekali, itu apa maksudnya ada banyak pohon pisang, pohon tebu, hingga hewan ternak? Apa ini semua Anda yang menyiapkannya?" tanya Viceroy keheranan.
"Bukan saya Pak, semua ini disiapkan oleh pria itu untuk melamar calon istri saya," jawab Riko sambil mengarahkan pandangannya pada pria berpenampilan nyentrik yang masih berdiri di teras rumah.
"Wah, terniat sekali," Viceroy keheranan.
"Begitulah Pak, namanya juga orang kampung, sembarangan sekali main tikung calon istri orang," cibir Riko.
"Sepertinya calon istri Anda bukan wanita sembarangan ya, Pak Riko, sampai bisa membuat pria datang membawa pisang sepohon-pohonnya!" kata Viceroy menyembunyikan senyumnya.
Entah wanita seperti apa yang dilamar oleh Riko hingga ada pria lain yang juga datang melamarnya dengan membawa arak-arakan seramai ini. Viceroy sungguh terheran-heran. Ia bahkan hanya membawa dirinya saat dulu melamar Vara.
Mungkin yang dilamar Riko adalah kembang kampung, pikir Viceroy.
"Jauh juga ya, Pak Riko, Anda cari jodoh sampai ke tempat terpencil seperti ini," kata Viceroy.
"Sebenarnya saya dulu sudah dijodohkan dengan calon istri saya ini, hanya saja tujuh tahun yang lalu saya menolaknya, namun kini saya sudah mantap untuk menikahinya, terlebih kini ia sudah menjanda, jadi posisi kami sama," Riko menjelaskan.
"Oh wah, jodoh memang tak kemana ya, Pak Riko," komentar Viceroy.
"Ngomong-ngomong Pak Roy, Anda kemari untuk menemui siapa?" tanya Riko.
"Menurut informasi yang saya terima, saya harus menemui Pak Slamet untuk melakukan negosiasi," jawab Viceroy.
"Oh, Pak Slamet itu calon mertua saya, Pak," kata Riko.
"Wah, kebetulan sekali," kata Viceroy.
"Silakan Pak, Pak Slamet ada di dalam," tukas Riko.
Viceroy segera menaiki anak tangga satu per satu, Riko mengekorinya. Sementara itu tatapan tajam Tuan Takur langsung menyambut kehadiran Viceroy di teras rumah bergaya panggung tersebut.
"Siapa lagi laki-laki ini?! Mau melamar anaknya Pak Slamet juga kah?!" sembur Tuan Takur.
Viceroy hanya diam, mengabaikan pria berpenampilan nyentrik itu.
Maaf, saya tidak tertarik rebutan kembang kampung! Pikir Viceroy.
"Lihat saja, sebentar Oleng datang bawa semua uangku! Minggir memang kalian pria-pria tak punya uang!" celetuk Tuan Takur.
"Aih, lamanya juga si Oleng itu!" gerutu Tuan Takur kesal.
Tuan Takur tidak boleh kalah dengan pria yang baru saja datang dengan helikopter yang sedang parkir di pekarangan tersebut. Helikopter itu bahkan saat ini sedang menjadi tontonan para warga kampung.
Terlihat para anggota pria itu menghalau para warga yang berusaha mendekat ke helikopter tersebut.
"Jangan kira kau punya pesawat, lantas aku kalah darimu! Uangku lebih banyak lagi!" gerutu Tuan Takur.
"Pak Roy, mau tunggu di teras atau langsung masuk, Pak?" tanya Riko.
"Saya tunggu di teras saja, tidak enak karena belum dipersilakan masuk oleh pemilik rumah," jawab Viceroy.
"Baik Pak, kalau begitu, saya panggilkan Pak Slamet," kata Riko.
...*****...
Riko segera memasuki rumah, ia segera menghampiri kedua orang tuanya yang nampak masih terdiam seribu bahasa. Pak Rusdy dan Bu Rumi masih tenggelam dalam pikiran mereka masing-masing. Mereka datang ke kampung untuk menemui keluarga Pak Slamet. Pak Rusdy dan Bu Rumi tentu saja menyambut baik niat Riko untuk mempersunting Vara sebagai istrinya.
"Kamu serius, Riko?" tanya Pak Rusdy saat Riko mengutarakan keinginannya menikahi Vara.
"Serius, Ayah," jawab Riko mantap.
"Memangnya Vara setuju menikah denganmu?" tanya Bu Rumi.
"Ibu, ibu Vara sudah meyakinkanku bahwa Vara sudah tidak akan punya alasan lagi untuk menolak lamaranku, Bu!" kata Riko. "Aku sadar telah melakukan kesalahan saat berkali-kali menolak perjodohan yang sudah repot-repot Ayah dan Ibu aturkan untukku! Berkali-kali aku menolak saat Vara sudah siap menikah denganku! Sehingga bagiku ini adalah saat yang tepat untuk menebus kesalahanku itu," kata Riko berusaha meyakinkan ayah dan ibunya.
"Baiklah Riko, Ibu ikut apa maumu saja," kata Bu Rumi.
"Ya, Ayah juga dukung apapun keputusanmu," kata Pak Rusdy.
"Ayah," kata Riko menghampiri Pak Rusdy.
"Ada apa, Riko?" tanya Pak Rusdy.
"Bisa minta tolong panggilkan Pak Slamet?" tanya Riko.
"Pak Slamet dan istrinya masih di kamar bersama Vara," kata Bu Rumi.
"Ayah, di luar ada Pak Roy datang untuk menemui Pak Slamet," Riko menjelaskan.
__ADS_1
"Pak Roy?" tanya Pak Rusdy.
"Roy anggota klub bulu tangkisku itu loh, Ayah," sahut Riko.
"Oh, astaga! Sudah lama Ayah tidak bertemu dengan Roy," kata Pak Rusdy.
"Iya Ayah, tidak enak membiarkan orang penting menunggu," kata Riko.
"Baiklah, biar Ibu saja yang memanggil Pak Slamet," kata Bu Rumi segera bangkit.
"Ayah mau berbincang dengan Roy dulu kalau begitu," kata Pak Rusdy.
Riko segera mengikuti ibunya melewati banyaknya orang di dalam rumah.
...*****...
Bu Muji, Bu Bejo, dan Bu Rudy berkasak-kusuk bersama beberapa ibu-ibu lain yang ikut dalam tur ke kampung halaman Bu Slamet dalam rangka meramaikan acara lamaran Riko. Mereka semua tercengang saat mendengar bahwa Vara menolak lamaran Riko. Vara terlihat masuk ke dalam kamar diikuti kedua orang tuanya.
"Hih, kalau aku jadi Bu Slamet itu ya, Vara itu sudah ku hihh hihh," kata Bu Muji sambil meremas pergelangan tangannya seakan itu adalah leher.
"Awas Bu, nanti gelang emasnya lepas, jauh tempat ini dari toko emas," tegur Bu Bejo.
"Iya, ya, Vara itu sudah jadi janda saja, tingkahnya banyak betul! Sudah bagus Riko punya itikad baik untuk menikahinya!" cibir Bu Rudy.
"Ya itu Bu, Riko itu ya kok ndablek betul jadi orang, masih saja bersikeras mau menikahi Vara! Sudah begitu kok mau-maunya mengeluarkan banyak uang untuk pesta mewah! Sayang sekali rasanya itu duit untuk janda! Kalau perawan sih, wajar saja ya mahal maharnya, namanya juga barang baru masih segelan!" cibir Bu Muji berapi-api.
"Sabar Bu Muji, itu Bu Slamet kan lagi nego Vara, siapa tahu Vara berubah pikiran," kata Bu Bejo.
"Ada apa itu ribut-ribut di luar ya, Bu?" tanya salah satu tetangga mereka.
"Halah, itu pasti kelakuan orang kampung yang kampungan itu! Yang katanya mau melamar Vara juga!" celetuk Bu Muji.
"Wah, wah, Vara jadi janda kok malah lebih laris, ya," komentar Bu Rudy.
"Maklum Bu, namanya juga tinggal di kampung, cepat lakunya, saingan kan tidak banyak!" sahut Bu Bejo seraya terkekeh.
Mata Bu Muji menangkap Riko dan Bu Rumi yang terlihat mengetuk pintu kamar tempat keluarga Pak Slamet berkumpul.
"Kak Rumi sedang apa?" tanya Bu Muji.
"Mau menemui Pak Slamet," kata Bu Rumi sebelum mengetuk pintu kamar Vara.
"Untuk apa? Pak Slamet dan Bu Slamet masih nego-nego Vara, tuh," sahut Bu Rudy.
"Atasanku ingin bertemu Pak Slamet, Bu Rudy," Riko menimpali.
"Atasan?!" seru mereka terperangah.
"Ya ampun Riko, bosmu sampai ikut datang kemari! Kamu ajak ikut lamaran juga?" tanya Bu Muji seraya tertawa.
"Maaf Tante, tidak seperti itu ceritanya," sahut Riko seraya terkekeh.
"Hih, coba kamu rayu-rayu itu bosmu, siapa tahu bisa jadi sponsor utama untuk pesta pernikahanmu, Riko," kata Bu Bejo.
Riko terkekeh, Pak Roy bahkan tidak menggelar resepsi pernikahannya.
"Ibu-ibu, nanti dikira bos saya yang menikahi Vara kalau minta beliau yang jadi sponsor," kata Riko masih tetap terkekeh.
"Terus, bosmu itu di mana?" tanya Bu Rudy.
"Beliau menunggu di teras," jawab Riko.
"Loh, Riko, kenapa tidak dipersilakan masuk?" tanya Bu Muji.
"Beliau sungkan karena belum dipersilakan masuk oleh pemilik rumah, Tante," jawab Riko.
"Wah, sopan sekali bosmu itu! Tinggi etikanya, ya," komentar Bu Muji.
"Riko, coba dikenalkan, siapa tahu bisa dikenalkan untuk keponakan-keponakan saya," kata Bu Rudy terkekeh.
"Maaf Bu Rudy, bos saya sudah menikah," sahut Riko.
"Oh begitu, siapa tahu cari istri baru, keponakan suami saya cantik-cantik, loh," kata Bu Rudy bersikeras.
"Wah, tidak berani saya, Bu Rudy," sahut Riko sambil terkekeh.
"Jadi penasaran, mau lihat bosnya Riko seperti apa," kata Bu Bejo.
"Sudah pasti tajir melintir dong, Bu Bejo!" sahut Bu Muji.
...*****...
Pak Slamet segera membukakan pintu kamar Vara. Bu Rumi tersenyum di ambang pintu. Bu Rumi bisa melihat ketegangan yang terjadi dalam keluarga Pak Slamet.
"Pak Slamet, mohon maaf mengganggu, ada orang yang ingin bertemu dengan Pak Slamet," kata Bu Rumi.
"Oh, begitu," kata Pak Slamet.
"Pak Slamet, Bu Slamet, bolehkan saya bicara berdua dengan Vara?" tanya Bu Rumi.
"Oh ya, silakan, Bu," sahut Pak Slamet dan istrinya dengan cepat.
Vara dan Bu Rumi saling berpandangan begitu bapak dan ibu keluar dari kamar Vara. Bu Rumi segera duduk di lantai dan menghadap ke arah Vara.
"Bu Rumi, maafkan Vara, Vara tidak ingin menikah dengan Riko karena Vara sudah mencintai pria lain," kata Vara dengan air mata yang mulai mengalir.
"Vara, sudah jangan menangis, sungguh tidak masalah bagi Ibu jika Vara memang menolak lamaran Riko," kata Bu Rumi.
"Ibu sangat paham, cinta memang tidak bisa dipaksakan, Vara berhak bahagia meski bukan bersama Riko," lanjut Bu Rumi sambil menghapus air mata di pipi Vara.
Vara segera memeluk Bu Rumi. Bu Rumi tentu saja merasa sedih karena wanita secantik dan sebaik Vara tidak bersedia menjadi menantunya. Wanita paruh baya itu sungguh mengerti bahwa Vara enggan menikah dengan Riko lantaran merasa kecewa akibat sikap Riko yang dinilai begitu inkonsisten. Berkali-kali Riko menolak saat akan dijodohkan dengan Vara dengan berbagai macam alasan, mulai dari masih ingin meniti karir, fokus berkarir, hingga akhirnya justru menikahi wanita lain.
...*****...
Pak Slamet dan Arvia keluar dari kamar Vara. Arvia segera bergabung dengan Bu Muji dan rekan, sedangkan Pak Slamet segera disambut oleh Riko.
"Bagaimana, Bu Slamet?" tanya Bu Muji.
"Kesal sekali rasanya saya ini, Bu," keluh Arvia.
"Vara itu ya, masih bersikeras tak mau menerima lamaran Riko! Heran saya itu! Apa sih bagusnya mantan suaminya sampai Vara masih tetap membela laki-laki tak berguna itu?!" geram Arvia.
"Mungkin seksnya bagus itu, Bu Slamet, makanya Vara belum bisa lupa," celetuk Bu Rudy seraya terkekeh.
"Iya, tidak sekedar masukkan burung dalam kandang saja, Bu," Bu Bejo tertawa.
"Iya, perempuan itu kan kalau sudah kena enaknya burung, mana bisa lupa," Bu Muji ikut tertawa.
"Halah burang-burung, biar kata seksnya tingkat dewa kalau tidak ada uangnya, mau beli beras pakai apa?" cibir Arvia.
Bu Muji tertawa terbahak-bahak diikuti para tetangganya.
...*****...
"Atasan Riko mau bertemu Bapak?" tanya Pak Slamet pada Riko saat mereka menuju ke teras rumah.
"Iya Pak, Pak Roy dari Royal Grup adalah atasan saya," jawab Riko.
Pak Slamet mengerutkan keningnya begitu melihat para negosiator yang sudah duduk memenuhi teras. Mata Pak Slamet tertuju pada sosok yang sedang duduk membelakangi pintu masuk. Sosok pria berjas hitam yang saat ini sedang berbincang dengan Pak Rusdy.
Hoo, jadi ini bos mafianya, pikir Bapak sambil mengangguk.
__ADS_1
"Pak Roy," panggil Riko.
Viceroy mendengar suara Riko yang memanggilnya. Ia menoleh sekilas sebelum bangkit dari duduknya. Matanya menangkap sosok pria paruh baya yang memakai kaos bergambar partai dan celana pendek bergambar pemandangan pantai di bawah lutut. Pak Slamet sepertinya seorang partai fan boy lantaran bukan masa kampanye namun tetap memakai kaos bergambar partai.
Kok pria paruh baya ini terlihat seperti bapaknya Vara, ya? pikir Viceroy.
Begitupun dengan Pak Slamet yang tak bisa melepaskan pandangannya dari sosok pria dengan tatapan mata tajam yang begitu mengintimidasi dalam balutan jas hitam yang membuat pria itu terlihat begitu mewah.
Kok pria ini seperti suaminya Vara, ya? pikir Pak Slamet.
Kedua pria itu saling bertatapan dan membuat suasana begitu tegang. Herdi bisa memahami situasi tersebut, menghadapi Pak Slamet memang membutuhkan mental yang kuat.
"Tuan Takur!" seru Oleng.
Pria mungil itu terlihat ngos-ngosan saat mendorong koper besar saat menaiki tangga.
"Panjang umur kau, Oleng! Lamanya kau kutunggu, sampai jamuran aku!" Tuan Takur segera menarik koper besar tersebut.
"Pak Slamet, ini uang tambahan mahar untuk Adik Vara! Kalau masih kurang nanti Oleng kusuruh ambil lagi!" Tuan Takur segera membuka koper berisi tumpukan uang ke hadapan Pak Slamet.
Vara? Viceroy terbelalak.
"Permisi kau, orang kaya kampung," sergah Herdi pada Tuan Takur.
Tuan Takur tersingkir saat para pria di belakang Herdi langsung meringkus Tuan Takur untuk menjauh dari bos mereka.
"Pak Slamet, beliau adalah Pak Roy, pimpinan dari Royal Grup yang anda cari," kata Herdi.
Viceroy kehilangan kata-katanya. Ia sungguh masih belum memercayai situasi yang saat ini sedang terjadi di hadapannya. Otaknya berpikir secepat mungkin untuk mengolah semua informasi yang ada. Jika pria di hadapannya adalah Pak Slamet, berarti pemilik lahan yang harus ditemuinya ternyata adalah bapaknya Vara, itu artinya Vara ada di rumah ini. Lantas wanita yang dilamar oleh pria nyentrik dan juga Riko adalah Vara!
Viceroy berusaha untuk tidak mencampurkan urusan pribadinya dengan pekerjaan. Saat ini tujuan utamanya datang jauh-jauh ke tempat ini adalah untuk menyelesaikan pekerjaannya.
"Pak Slamet," kata Viceroy membuyarkan lamunan Pak Slamet.
Pak Slamet menatap pria di hadapannya dengan segala kebimbangan yang merasuk dalam sukmanya. Ia ragu, apakah pria di hadapannya ini sungguh mantan menantunya, ataukah hanya pria yang kebetulan mirip dengan mantan menantunya saja? Pak Slamet tentu tidak bisa langsung menghakimi pria tersebut. Pria ini memiliki aura yang sangat mengintimidasi, sungguh berbeda dengan mantan menantunya. Akan sangat memalukan jika ia langsung asal sebut saja. Apalagi pria di hadapan Pak Slamet ini adalah orang hebat, tentu Pak Slamet tidak boleh asal-asalan.
"Pak Slamet, perkenalkan saya Viceroy Lavais, saya datang kemari untuk melakukan negosiasi dengan Anda," Viceroy mengulurkan tangannya.
"Se-Slamet," Pak Slamet menyambut tangan Viceroy.
"Pak Slamet, Pak Roy, sebaiknya berbincang dalam rumah saja, di luar terlalu ramai," usul Riko.
Pak Slamet masih begitu tegang saat memasuki rumah. Riko meminta keluarganya untuk keluar dari rumah dan menunggu di teras.
...*****...
"Ibu-ibu, bisa tolong pindah ke teras dulu?" tanya Riko kepada kumpulan ibu-ibu yang duduk di dekat dapur.
"Loh kenapa, Riko?" tanya Bu Muji.
Belum sempat Riko menjawab, Arvia segera bangkit menghampiri suaminya. Sosok pria bertubuh tinggi dan berparas tampan itu tidak mungkin bisa dilupakan oleh Arvia. Meski pria itu mengenakan setelan jas yang rapi dan nampak manglingi, Arvia tetap tak bisa memaafkan pria yang sudah merampas anak semata wayangnya. Membuat Vara yang penurut menjadi seorang anak pembangkang.
"Huh, lihat siapa yang datang! Masih berani kau menampakkan diri! Dasar tidak tahu malu!" cecar Arvia ke arah Viceroy.
Semua mata langsung tertuju pada Arvia. Suasana langsung menegang seketika.
"Bu Slamet, jangan marah-marah begitu, nanti tekanan darahnya naik," kata Bu Muji yang menghampiri Arvia.
"Eh, ngomong-ngomong, pria tampan ini kok mirip sama suaminya Vara, ya? Eh, maksudnya mantan suaminya Vara," kata Bu Rudy mengamati sosok pria tampan di hadapan mereka.
"Iya ya, mirip sekali," sahut Bu Bejo.
"Huh! Dia ini kan memang mantan suaminya Vara!" geram Arvia.
Riko merasa tubuhnya tersambar petir dan kepalanya dihantam balok mendengar perkataan Arvia.
"Ibu, maksud Ibu, pria ini mantan suami Vara?" tanya Pak Slamet.
"Aduh bapak, makanya kacamatanya dipakai! Bagaimana Bapak bisa tidak mengenali mantan suami Vara? Biar kata dia pakai baju serapi ini tetap tidak bisa menipu mataku yang masih sehat!" lanjut Arvia dengan sikapnya yang tidak bersahabat.
Pak Slamet nampak tak bisa menutupi rasa terkejutnya. Begitu juga Riko yang nampak memucat. Darah seakan menghilang dari wajahnya.
Ini bohong kan, tidak mungkin Pak Roy adalah mantan suami Vara!
"Ibu, maaf, Bu," Riko menyela ucapan Arvia.
"Ada apa, Riko?" tanya Arvia.
"A-apa Ibu yakin dengan ucapan Ibu? Pria di hadapan kita ini adalah mantan suami Vara?" tanya Riko dengan kengerian yang tak terlukiskan.
"Tentu saja Riko, pria ini sungguh memalukan sampai Ibu enggan mengeksposnya! Apa coba yang bisa dibanggakan dari seorang tukang ikan yang tidak berpendidikan seperti orang ini?! Sungguh tidak bisa dibandingkan denganmu yang begitu sempurna dan sangat cocok mendampingi Vara!" kata Arvia begitu antusias.
Viceroy nampak berusaha setenang mungkin. Ia sudah terlatih untuk mengendalikan emosinya. Memasang poker face sudah menjadi keahliannya.
Wajah Riko benar-benar pucat sepucat-pucatnya. Bagaimana bisa pria yang punya segalanya di matanya ini menjadi pria yang terdengar hina di mata calon mertuanya?
Apa calon mertuanya ini tidak tahu siapa Pak Roy?
Sungguh perbuatan hina dari seorang Riko yang hanyalah budak hamba sahaya dari Pak Roy yang maha berkuasa atas segala yang ada di alam semesta Royal Grup. Riko sudah melakukan dosa besar karena menginginkan janda dari bosnya itu.
Jiwa Riko meronta-ronta seakan hendak meninggalkan raganya.
Tuhan, cabut nyawa hamba sekarang! Jerit Riko dalam hati.
Malaikat maut, cepat sudah cabut nyawaku! Cabut! Tidak usah tunggu-tungguan begitu! Teriak Riko dalam diamnya.
"Oh ya, Riko, ngomong-ngomong mana bosmu? Kok tidak di ajak masuk?" tanya Bu Muji.
"Loh, bosnya Riko datang?" tanya Arvia.
"Iya Bu Slamet, itu loh helikopternya masih parkir di depan rumah," sahut Bu Bejo.
"Riko, diajak masuk dulu bosmu!" kata Arvia.
Bosku sudah masuk dari tadi, Bu! Oh Tuhan, cabut nyawaku sekarang! Batin Riko terlihat menutupi rasa putus asanya.
"Oh ya, ngomong-ngomong mau apa kau kemari? Apa kau mau menjadi saksi pernikahan Vara dengan calon suami barunya?" tanya Arvia ke arah Viceroy.
"Ibu, hentikan," kata Pak Slamet menegur Arvia.
"Bapak ini kenapa sih masih membela mantan menantunya yang tidak seberapa ini?!" sergah Arvia.
"Ibu Slamet, saya sungguh menghargai apapun keputusan Anda! Mohon maaf sebelumnya, saya datang kemari bukan untuk menyaksikan pernikahan Vara dengan calon suami barunya!" kata Viceroy dengan tenang.
"Baguslah kalau begitu, kau sadar diri juga!" kata Arvia.
"Lalu, saya kemari sebagai pemilik Royal Grup yang datang untuk mendiskusikan masalah lahan Pak Slamet yang harus segera menemukan titik terang agar proyek perluasan area perkebunan kelapa sawit milik saya ini bisa berjalan sesuai dengan jadwal yang telah ditetapkan," Viceroy menjelaskan panjang lebar.
"Apa? Royal Grup? Riko, bukankah kau bekerja di Royal Grup?" tanya Bu Muji ke arah Riko.
Riko yang sudah pucat pasi nampak mengangguk lemah.
"Iya Tante, dan beliau inilah atasan saya," jawab Riko yang berusaha tegar saat melakukan kontak mata dengan Viceroy.
Dalam kepala Riko saat ini ia seakan melihat Pak Roy sedang menari bersama anggota grup idola wanita cantik asal negeri ginseng. Pria itu seakan sedang menyadarkan Riko dari perbuatan hinanya yang sudah berani mencoba merampas permaisuri dari raja, sementara Riko hanyalah seorang rakyat jelata yang hina dina.
"Look at you, now look at me! Look at you, now look at me! Ha! How you like that! Tereretet! Tereretet!"
"Riko!!"
Terdengar teriakan bersamaan hilangnya kesadaran Riko.
__ADS_1