
"Bapak, apa kabar?" tanya Vara saat menelepon bapaknya.
"Baik, Vara, kau dan suamimu sendiri bagaimana?" tanya Bapak di seberang sana.
"Kami baik-baik saja, Pak," jawab Vara.
"Pak, Vara kangen sekali sama Bapak dan ibu," lanjut Vara.
"Iya, Bapak juga kangen sekali padamu," kata bapak.
"Pak, kabar Ibu bagaimana? Apa ibu baik-baik saja?" tanya Vara.
Bapak terdengar menghela napas berat.
"Iya, ibumu baik-baik saja," jawab bapak.
"Pak, bisakah Vara bicara pada Ibu?" tanya Vara.
Vara sungguh rindu untuk mendengar suara ibunya, berbulan-bulan ia tidak mendengar suara ibunya pasca orang tuanya pulang kampung. Ibu selalu menolak untuk bicara dengan Vara.
"Pak, kasih tahu anakmu yang bebal itu, segera urus perceraiannya dari suaminya itu, Riko sudah siap untuk menikahinya," terdengar ibu menyahut dari jauh.
"Astaga, Ibu, kenapa sih hal itu dibahas terus?!" terdengar gerutuan bapak.
"Pak, Bapak sudah dengar sendiri penuturan Riko, bagaimana Vara menjalani hidupnya yang penuh keprihatinan!" sergah Ibu.
"Ibu! Vara baik-baik saja, suami Vara benar-benar bertanggung jawab penuh pada Vara, Vara tidak hidup dalam keprihatinan, Bu! Vara sungguh hidup dengan baik di sini! Vara punya suami yang begitu menyayangi dan menjaga Vara dengan sangat baik, Bapak dan Ibu sungguh tidak perlu cemas!" kata Vara.
"Vara, penyesalan itu selalu datang terlambat! Jangan memang kau datang dan menangis kepada orang tuamu karena suamimu itu mencampakkanmu! Pria yang tidak jelas asal-usulnya tentu tidak bisa disamakan dengan Riko!" Ibu masih menyahut dengan nada ketus.
"Ibu sudah, Bu!" kata Bapak menengahi.
"Vara, sudah ya, nanti lagi teleponnya, tunggu Ibumu tenang," kata Bapak.
"Iya Pak," sahut Vara sebelum menutup teleponnya.
Vara menghela napas berat. Ibunya benar-benar masih belum bisa diajak bicara baik-baik. Vara justru benar-benar merasa sangat bahagia menikah dengan Viceroy. Pria itu sungguh memberi Vara kebebasan yang membuat Vara merasa lebih menikmati hidupnya tanpa merasa terkekang sama sekali.
Vara meletakkan kembali ponselnya di atas nakas begitu mendengar pintu unit apartemennya dibuka dan sosok suaminya muncul sambil membawa bungkusan makanan untuk makan malam mereka.
"Nasi goreng spesial," kata Viceroy yang seakan bisa menebak pikiran Vara.
"Abang pulang bawa nasi goreng!" Vara bertingkah manja saat menyambut kedatangan Viceroy.
"Abang?" Viceroy mengerutkan alisnya. "Vara, kau bahkan lebih tua sepuluh hari dariku," Viceroy terkekeh.
"Viceroy, kau mengingat ulang tahunku?" tanya Vara keheranan.
"Vara, mana mungkin aku bisa lupa, karena kau berulang tahun di bulan yang sama denganku! Lagi pula dalam tiga tahun kau selalu merayakan ulang tahunmu di sekolah," sahut Viceroy.
Vara tersenyum, ia segera menyiapkan piring dan sendok untuk meletakkan nasi goreng yang akan menjadi menu makan malam mereka. Selama tinggal di apartemen, Vara tidak pernah memasak lagi lantaran peralatan masak yang tidak lengkap. Dapur yang kecil juga menghambat ruang gerak Vara untuk memasak di dapur.
*****
Usai mandi dan berganti pakaian, Viceroy segera duduk di balkon untuk menyantap makan malam mereka sambil menikmati keindahan malam. Malam nampak begitu cerah dengan rembulan yang nampak besar berdampingan dengan taburan bintang-bintang yang berkelip manja disertai deru ombak yang terdengar sayup-sayup. Unit apartemen yang ditempati Vara menghadap ke arah laut sehingga saat Vara pulang sebelum petang, ia bisa menikmati pemandangan matahari terbenam.
"Nasi gorengnya enak sekali, beli di mana?" tanya Vara.
"Hmm, kasih tahu tidak, ya?" Viceroy bertingkah sok imut.
Vara tertawa, ia benar-benar gemas melihat suaminya yang akhir-akhir ini sering bertingkah sok imut.
...*****...
Vara segera naik ke atas kasur menyusul Viceroy yang sudah duduk di tepi kasur. Vara langsung memeluk manja Viceroy.
"Viceroy, apa malam ini kau akan menginap di sini?" tanya Vara.
Viceroy menatap lembut ke arah Vara dan langsung membelai lembut rambut Vara. Vara benar-benar rindu untuk menghabiskan malam bersama suaminya ini.
"Iya, malam ini aku akan menginap di sini," jawab Viceroy.
"Nanti ibumu mencarimu," gerutu Vara.
"Tenang saja, aku sudah mematikan ponselku," Viceroy kembali meraih bibir Vara.
__ADS_1
"Apa kau tahu, akhir-akhir ini aku merasa seperti jadi istri kedua," gerutu Vara.
"Vara, kau pilih mana, jadi istri pertama tapi diduakan, atau jadi istri kedua tapi diutamakan?" tanya Viceroy sambil tersenyum jahil.
"Viceroy!" gerutu Vara sambil mencubit gemas perut pria itu.
"Aduh sakit, Vara," Viceroy mengaduh.
"Viceroy, kalau kau berpikir untuk menduakanku, jangan salahkan aku menigakanmu!" cibir Vara.
"Atau langsung tujuh orang saja sekalian biar jadi anggota boygrup!" lanjut Vara.
"Duh, galaknya istriku ini," Viceroy mencubit cuping hidung Vara dengan gemas.
...*****...
Viceroy tiba- tiba terdiam. Ia tidak tahu harus bagaimana untuk bicara pada Vara. Saat ini ia benar-benar sedang membawa beban seberat gajah yang ada dipundaknya. Rasanya lidahnya terlalu kelu untuk mengucapkan sesuatu yang tersangkut di tenggorokannya.
"Viceroy, ada apa? Kenapa kau hanya diam saja?" tanya Vara.
"Vara, kau pasti tahu bahwa aku sangat mencintaimu," kata Viceroy sambil mengecup puncak kepala Vara.
"Ya, aku juga sangat mencintaimu," kata Vara.
Viceroy mengambil tasnya yang ia letakkan di atas nakas. Ia mengambil sebuah amplop dan menyodorkannya pada Vara.
"Viceroy, apa ini?" tanya Vara keheranan.
Vara tertegun saat melihat air mata menggenang di pelupuk mata Viceroy.
...*****...
Vara menuju ke balkon kamar unit apartemennya. Ia mengambil sebatang rokok dari sekotak rokok yang baru saja ia beli di minimarket lantai dasar gedung apartemen. Ia menyulut ujung rokok dengan korek gas. Asap langsung berhembus keluar dari mulutnya.
Ini benar-benar lebih buruk daripada mimpi buruk itu sendiri. Secara mendadak suaminya datang membawa sebuah dokumen yang benar-benar sangat tidak ia inginkan.
Viceroy segera memeluk Vara dari belakang. Vara masih menikmati sebatang rokok di tangannya.
"Vara, ini bukan inginku," kata Viceroy meneteskan air matanya.
"Ibuku yang menginginkan perceraian kita," kata Viceroy lagi.
Vara masih menghembuskan asap rokoknya dengan tenang. Ia benar-benar tidak menyangka bahwa ia harus bercerai dari Viceroy. Vara bahkan baru menikmati indahnya saling mencintai dengan pria yang begitu dicintainya. Pria pertama dalam hidupnya yang benar-benar membuatnya jatuh cinta setengah hidup.
"Aku mencintaimu Vara, hanya kau yang paling kucintai, tetapi aku tidak bisa menolak permintaan ibuku," kata Viceroy penuh kegetiran.
Ia benar-benar sangat mencintai Vara. Namun ibunya menginginkan perceraian mereka. Viceroy benar-benar terpukul karena ibu mendesaknya untuk menceraikan Vara.
Vara mematikan puntung rokoknya, ia berbalik dan langsung menenggelamkan tubuhnya untuk memeluk suaminya yang begitu ia cintai dengan segenap hati, jiwa, dan raganya.
Manisnya kehidupan berumah tangga baru saja ia cicipi, namun mendadak ia harus berpisah seperti ini. Vara bahkan tidak pernah mengencani pria mana pun selama hidupnya lantaran orang tua yang sudah menyiapkan perjodohan, membuat Vara hanya mendapatkan harapan kosong selama dua puluh tahun.
Kehadiran Viceroy benar-benar begitu istimewa di hati Vara. Pria sederhana yang begitu baik dan memperlakukannya juga dengan sangat baik. Pria yang sudah menjaga dan melindungi Vara. Memberi kebebasan yang selalu diidam-idamkan oleh Vara lantaran merasa orang tuanya terlalu mengekangnya.
"Vara, aku benar-benar sangat mencintaimu, percayalah hanya kau yang selalu ada dalam hatiku," kata Viceroy yang menyeka air mata Vara dengan jemarinya.
"Viceroy, apakah tidak ada cara lain lagi? Tidakkah sebaiknya kita kawin lari saja? Aku tidak masalah jika harus hidup dari nol, asalkan aku tetap bersamamu," Vara memohon.
"Apa aku perlu berlutut dan memohon agar ibumu menerimaku? Meminta agar kita jangan sampai bercerai, aku sangat mencintaimu, aku tidak mau berpisah darimu, Viceroy!" kata Vara yang mulai meneteskan air mata yang ia kira stoknya sudah menipis.
Air mata benar-benar membanjiri wajah Vara seperti tanggul yang jebol. Dunia Vara seakan runtuh seketika dan hancur porak-poranda.
Viceroy mencium kedua tangan Vara yang terkepal dan gemetaran lantaran ia menangis sesenggukan. Viceroy dilema, ia tidak bisa memilih antara ibu yang dihormatinya atau istri yang begitu dicintainya. Keduanya merupakan wanita yang sangat berharga dalam hidupnya. Sebagai anak yang berbakti, tentulah ia harus memilih ibunya. Ibu yang sudah mengandung, merawat, dan membesarkannya. Berkat doa dan dukungan ibunya yang membuat Viceroy menjadi seperti sekarang ini.
"Vara, aku hanya mempunyai satu orang tua yang tersisa, yaitu ibuku," kata Viceroy.
"Aku tidak bisa menolak keinginannya."
"Tapi aku tidak ingin berpisah darimu, Viceroy!" Vara menangis histeris dalam pelukan Viceroy.
"Vara, aku pun juga tak ingin berpisah darimu! Kita memang bercerai, tapi kita tetap bisa saling mencintai," kata Viceroy meyakinkan Vara.
"Kita bercerai dan kau menikah dengan wanita pilihan ibumu, lalu aku hanya akan jadi simpananmu, apakah begitu maksudmu?!" cecar Vara.
Viceroy menatap Vara.
__ADS_1
"Vara, aku hanya mencintaimu, sungguh! Percayalah padaku! Aku tahu, ini berat untuk kita berdua. Namun aku percaya, pasti akan ada hikmah di balik semua ini," kata Viceroy.
"Vara, kumohon bijaksanalah dalam menyikapi ibuku," Viceroy memohon pada Vara.
"Percayalah padaku, cinta kita tak akan berakhir hanya karena perceraian ini."
Vara bisa memahami betapa Viceroy adalah seorang anak yang sangat berbakti pada orang tuanya. Tidak seperti Vara yang membangkang perintah orang tua. Ia menolak perjodohan yang telah diaturkan oleh orang tuanya dan memilih menikah dengan pria pilihannya sendiri demi mempertahankan pekerjaan.
Entah mengapa Vara jadi teringat perkataan-perkataan yang dilontarkan oleh Riko saat terakhir kali mereka bertemu.
"Pernikahan tanpa restu dari orang tua hanya akan berakhir di pengadilan! Restu orang tua adalah restu Tuhan! Tanpa restu orang tua, tidak akan ada keberkahan dalam pernikahanmu."
Sepertinya apa yang dikatakan oleh Riko adalah benar. Vara hanya bisa menerimanya dengan lapang dada. Mungkin ini memang sudah menjadi suratan takdir yang harus diterimanya dengan keikhlasan lahir dan batin.
Vara tidak boleh menyesali keputusannya saat ia sepakat untuk menikahi Viceroy. Lagi pula mereka berdua sama-sama menikmati keindahan cinta itu sendiri meski hanya dalam tempo yang relatif singkat. Meski singkat, mereka sangat bahagia. Belum tentu orang yang pernikahannya lama akan merasakan kebahagiaan yang hakiki.
"Viceroy, cintai aku malam ini dengan seluruh cinta yang kau miliki," kata Vara saat mereka sama-sama saling menghapus air mata yang membasahi wajah mereka.
"Aku benar-benar sangat mencintaimu, Vara, bawalah semua cinta yang kumiliki tanpa tersisa," kata Viceroy menatap Vara lekat-lekat.
Viceroy segera membenamkan bibirnya pada bibir Vara. Aroma tembakau meninggalkan rasa manis dan pahit yang campur aduk menjadi satu. Seperti kisah cinta mereka yang menurut Vara begitu manis sekaligus terasa pahit.
Malam ini adalah malam terakhir mereka menjadi sepasang suami-istri yang masih terikat dalam ikatan pernikahan. Malam ini menjadi malam panjang untuk mereka berdua yang masih bisa saling memiliki, sepenuhnya, dan seutuhnya tanpa pernah terbagi.
...*****...
Pagi telah tiba, Vara benar-benar terjaga karena baginya setiap detik terasa terlalu berharga. Ia masih memeluk Viceroy yang semalaman membisikkan kata cinta untuknya. Ia masih belum bisa membayangkan bagaimana ia menjalani kehidupannya tanpa Viceroy di sisinya.
"Vara, ayo kita sarapan bersama," ajak Viceroy yang membawakan Vara menu sarapan dari salah satu restoran cepat saji yang berada di dekat apartemen.
Vara masih diam seakan jiwanya telah terpisah dari raganya.
"Vara," kata Viceroy dengan ekspresi memelas.
...*****...
Vara menguatkan dirinya saat harus menandatangani dokumen perceraian.
Viceroy memeluk dan mencium Vara untuk menguatkannya. Rasanya Vara benar-benar tidak bisa menerima semua ini.
Vara gemetaran saat ia mulai membubuhkan tanda tangannya pada setiap dokumen yang harus ditanda tangani.
"Vara, apartemen ini bisa kau miliki, mobil, dan aku akan tetap memberimu tunjangan finansial," kata Viceroy.
"Viceroy, terima kasih, tapi aku tidak membutuhkan semua itu," kata Vara.
Aku hanya menginginkanmu, batin Vara memberontak.
"Vara," kata Viceroy.
Vara mengambil tasnya, membuka dompetnya dan mengeluarkan kartu debit yang diberikan Viceroy untuknya. Ia sudah bukan istri Viceroy lagi, ia merasa tak berhak mendapat apa pun lagi dari pria itu.
"Vara, ambil saja, aku merasa masih memiliki kewajiban untuk memberimu tunjangan finansial, aku tidak menganggap ini sebagai kompensasi, tapi murni sebagai bentuk tanggung jawab penuhku terhadapmu," kata Viceroy lagi.
"Viceroy," Vara menggeleng.
"Vara, tolong jangan menolaknya, pesanku hanya satu, gunakan dengan bijak," kata Viceroy mengembalikan kartu debit itu ke tangan Vara.
"Viceroy, aku sungguh minta maaf, aku tidak bisa menjadi istri yang baik untukmu! Aku tidak tahu apa salah dan kurangku sehingga aku tidak layak menjadi pendampingmu! Hiduplah dengan baik, dan berbahagialah meski bukan bersamaku," kata Vara menatap Viceroy dengan pandangan yang berkabut karena air mata.
"Vara, bahagiaku adalah saat bersamamu," kata Viceroy menyeka air mata Vara yang kembali jatuh.
"Aku mencintaimu, Vara," kata Viceroy.
"Aku mencintaimu, Viceroy," kata Vara.
Usai menandatangani semua dokumen, Viceroy menyimpan kembali semuanya ke dalam amplop.
"Vara, aku pergi dulu," Viceroy berpamitan.
Viceroy kembali meraih bibirnya dan menciumnya untuk yang terakhir kali sebelum mereka benar-benar kembali menjadi orang yang hanya pernah saling mengenal di masa lalu.
Tangis Vara kembali pecah saat Viceroy sudah menghilang di balik pintu yang tertutup.
Kini Vara benar-benar sendirian dan hanya bisa berteman dengan sepi. Pernikahannya dengan Viceroy memang telah berakhir, namun ia masih akan tetap mencintai pria itu untuk selamanya.
__ADS_1
Karena pria itu telah pergi dengan membawa semua cinta Vara. Begitu juga Viceroy yang menyerahkan semua cintanya hanya untuk Vara.