
Vara berusaha untuk tetap tenang, ia gelisah karena lagi-lagi harus mengambil izin kerja secara mendadak. Meninggalkan lagi pekerjaan tentu saja membuatnya tidak enak pada Mbak Rani yang menjadi rekan kerjanya. Pekerjaan Vara sendiri bukan pekerjaan yang bisa ditinggal, lantaran ia memegang uang kas operasional perusahaan. Dalam satu hari saja, pengeluaran untuk operasional perusahaan sangat banyak, ia harus menghitung dana fisik dan membuat laporan harian yang mau tidak mau harus membuatnya lembur. Belum lagi harus membuat laporan reimbursement harian, membuat Vara berlomba dengan waktu.
Viceroy bisa melihat kegelisahan Vara, ia mendengar sendiri Vara berkali-kali minta maaf kepada rekan kerjanya untuk mengambil alih pekerjaan Vara hari ini, karena masih ada urusan mendadak. Viceroy tersenyum lagi karena Vara ternyata adalah orang yang sangat bertanggung jawab pada pekerjaan.
"Aku sungguh minta maaf, Vara," kata Viceroy merasa tidak enak.
"Tidak apa-apa, Viceroy, aku baik-baik saja," kata Vara.
...*****...
Mereka segera memasuki rumah. Virda langsung menyambut mereka. Viceroy mengecup punggung tangan dan memeluk ibunya, karena Viceroy memang jarang sekali bertemu dengan Sang ibu.
Vara baru saja hendak mengikuti perlakuan Viceroy, namun Virda langsung mengabaikannya. Vara hanya tersenyum kikuk.
Virda memakai baju terusan lengan panjang berwarna merah gelap, ia nampak begitu elegan dan glamor dengan perhiasan berlian yang masih setia menyempurnakan penampilannya. Vara yakin, jika di jalan, wanita ini pasti akan dijuluki toko perhiasan berjalan, dan akan menjadi incaran pembegal.
"Roy, maaf ya, memintamu datang, padahal kau begitu sibuk," kata Virda.
"Tidak masalah, Bu, Vara juga tidak masalah, benar kan, Vara?" kata Viceroy ke arah Vara.
Vara mengangguk dan tersenyum. Ibu Viceroy memberi Vara selembar catatan, daftar barang yang harus dibeli oleh Vara di pasar. Ia memberi Vara waktu selama satu jam sudah harus kembali ke rumah tersebut. Vara mengerutkan alis saat membaca daftar belanjaan yang diberikan oleh Si Nyonya Meneer.
__ADS_1
1. Telur bersertifikasi 10 biji
2. Daging istimewa 1 kg
3. Hewan perusak susu 1 kg
Virda sangat percaya diri dengan daftar belanjaan yang ia buat. Tebak-tebakan untuk menguji kecerdasan wanita muda yang licik.
Vara bergegas hendak ke pasar untuk membeli barang tebak-tebakan itu.
"Vara, aku akan pergi bersamamu," kata Viceroy.
"Tidak apa-apa, Viceroy, aku bisa pergi sendiri," kata Vara sambil berpamitan.
...*****...
Virda menatap lurus anak bungsunya itu dengan tatapan prihatin.
"Roy, Ibu sudah tahu semuanya, kau menikah dengan wanita itu demi ambisimu saja!" kata Virda dengan lembut.
Viceroy hanya diam mendengarkan.
__ADS_1
"Roy, kalau kau memang mau menikah, menikahlah dengan wanita yang baik, jangan seperti dia!" kata Virda.
"Apa maksud, Ibu?" tanya Viceroy.
"Ryo sudah menceritakan pada Ibu, istrimu itu bukan wanita baik-baik! Wanita itu sungguh licik, hanya ingin hartamu saja, dan akan mempermalukan keluarga kita!" jawab Virda.
"Apa?! Ryo mengenal istriku?" tanya Viceroy.
"Ya, Ryo sendiri yang cerita, wanita itu bahkan menggoda kakakmu untuk tidur dengannya! Apa kau tidak malu, punya istri binal begitu?!" celetuk ibu.
Viceroy hanya bisa geleng-geleng kepala, entah dari mana asal sumber berita hoaks itu. Viceroy ingin tertawa, tapi takut dosa karena menertawakan ibunya.
"Ibu, terima kasih, tapi kurang bijaksana jika Ibu hanya mendengar hal tersebut dari satu pihak! Aku berani bertaruh, istriku bukan orang yang seperti itu!" kata Viceroy.
Virda nampak berpikir keras, sejujurnya ia juga tidak percaya, karena wanita yang dideskripsikan Ryo sungguh berbeda dengan istri Roy.
Viceroy memegang tangan ibunya.
"Ibu bisa membuktikannya sendiri, aku berani jamin, wanita yang kupilih bukan wanita sembarangan," kata Viceroy meyakinkan ibunya.
Virda tidak pernah melihat Viceroy seperti ini terhadapnya. Virda jadi tertantang untuk membuktikan tantangan Viceroy. Sehebat apa wanita muda itu sampai bisa membuat Viceroy tergila-gila padanya.
__ADS_1