Akibat Taruhan Menikah

Akibat Taruhan Menikah
Masakan Vara


__ADS_3

Vara sungguh tak menyangka Viceroy memiliki rumah yang memang tidak terlalu besar, namun memiliki pekarangan luas. Terdapat kebun mini yang ditanami pohon tomat, pohon cabai, timun, paprika, kemangi, kentang, serta beraneka jenis rimpang dan bawang. Ada juga instalasi hidroponik yang ditanami selada air dan sawi. Selain kolam ikan, juga ada kolam yang berisi udang air tawar.


Viceroy menangkap ikan dan juga udang air tawar dari kolam dengan menggunakan serokan. Sementara Vara segera menyiapkan bahan-bahan masakan dari kebun mini yang ada di pekarangan, lalu membawa semua bahan-bahan tersebut ke dapur. Vara tentu saja bisa memasak karena pernah ikut kursus memasak sesuai permintaan dari ibunya. Viceroy terpana, mengawasi Vara yang sibuk membersihkan ikan dan juga udang.


"Ada yang bisa kubantu?" tanya Viceroy menghampiri Vara.


"Apa ada beras?" tanya Vara. "Bisa tolong memasak nasi?" tanya Vara.


Viceroy mengangguk, untunglah ia sudah mempersiapkan semua keperluan rumah sebelum memutuskan untuk menempati rumahnya ini.


Viceroy tersenyum, ia sungguh tak menyangka bahwa ia akan membawa Vara untuk tinggal di rumah impiannya. Rumah ini dirancang oleh Regina sesuai keinginan Viceroy. Viceroy ingin rumah sederhana yang nyaman, jauh dari keramaian dan benar-benar sangat privat. Ia ingin menghabiskan waktunya yang berharga bersama Regina. Ia sudah membayangkan akan memasak bersama Regina di dapur mereka yang modern dan lengkap. Saling bercanda dan bermesraan di sela-sela aktivitas memasak mereka. Setelah Viceroy pikir-pikir, Regina tentu saja tidak akan mau melakukan hal itu. Wanita itu bahkan tidak mau makan, apalagi memasak. Sungguh berbeda dengan Vara. Vara terlihat begitu menikmati waktunya memasak, di mata Viceroy saat ini, Vara benar-benar terlihat seperti bidadari yang singgah di dapur, memasak untuknya.


Viceroy langsung memeluk Vara dari belakang, lalu menciumi belakang leher Vara.


"Viceroy," Vara merasa geli.


Viceroy tersenyum, lalu menatap ke arah Vara.


"Duduk manis dulu, ya, sebentar lagi siap," kata Vara sambil mendorong Viceroy yang memburu bibirnya.

__ADS_1


Viceroy duduk menunggu di meja makan, ia terpana karena Vara benar-benar pandai dalam menghidangkan makanan. Meski Vara hanya memasak ikan dan udang goreng, lalapan serta sambal, namun sungguh membuat Viceroy berbunga-bunga.


Viceroy segera mencicipi masakan Vara, terutama sambal yang nampak menggiurkan. Viceroy sampai memejamkan mata, ia mendesis karena rasa pedas yang begitu nikmat memenuhi mulutnya.


"Aku sungguh tidak tahu kau bisa memasak," kata Viceroy.


"Bukankah sudah kukatakan aku pernah ikut kursus memasak?" kata Vara sambil menuangkan air mineral ke dalam gelas Viceroy.


Wajah Viceroy nampak memerah, peluh mulai membasahi keningnya.


"Apa begitu pedas?" tanya Vara.


Vara senang mendengar pujian Viceroy.


"Apa kau ingat, saat masih sekolah dulu, aku selalu membawa banyak makanan yang kumasak sendiri?" kata Vara.


"Benarkah? Kupikir itu masakan ibumu," sahut Viceroy.


"Ibuku justru tidak pernah memasak, sudah ada katering langganan," kata Vara. "Jadi, biasanya aku memasak sendiri untuk sarapanku, kalau tidak sempat dimakan di rumah, aku membawanya ke sekolah," lanjut Vara.

__ADS_1


"Entah mengapa, aku menyesal tidak pernah mencicipi masakanmu dulu," kenang Viceroy.


Vara tertawa.


"Aku tidak keberatan untuk memasak setiap hari, asal kau memakannya," kata Vara.


Viceroy tersentuh mendengar ucapan Vara, entah bagaimana caranya untuk meluapkan perasaannya yang kini berbunga-bunga. 


...*****...


Viceroy mengendarai sepeda motor menuju ke dermaga yang berada di bawah bukit, cukup jauh dari rumahnya. Pengemudi speed boat segera menyambut Viceroy, dan langsung mengantar pria itu ke tengah lautan luas.


Viceroy mengeluarkan sebuah kotak hitam berisi cincin berlian. Cincin yang ia persiapkan untuk Regina jika wanita itu menerima lamarannya. Regina menganggap bahwa Viceroy salah mengartikan kedekatan mereka. Regina meninggalkannya dan meminta Viceroy untuk tidak menunggu.


Rasanya berat bagi Viceroy untuk membuang sebuah cincin yang harganya setara satu unit apartemen mewah pada bisnis properti yang sedang dijalankannya.


Ia membuang cincin itu, bersama semua perasaannya pada Regina ke dalam lautan yang luas membentang di hadapannya. Awalnya ia berpikir sudah tidak ada lagi wanita yang 'lebih' dari Regina. Hanya Regina yang pantas untuknya. Namun anggapannya itu sungguh keliru. 


Seorang wanita yang tidak peduli siapa Viceroy dan tidak peduli latar belakangnya, membuatnya telah jatuh cinta.

__ADS_1


__ADS_2