Akibat Taruhan Menikah

Akibat Taruhan Menikah
Jadilah Milikku Lagi


__ADS_3

Vara yang berada di dalam kamar mendengar kehebohan di luar kamarnya. Entah apa yang sedang terjadi karena banyak orang meneriakkan nama Riko.


"Ada apa ya itu, coba kita tengok," ajak Bu Rumi.


"Iya, Bu," jawab Vara.


Vara dan Bu Rumi segera keluar dari kamar. Vara melihat adanya kepanikan yang terjadi di luar kamarnya. Riko terlihat tak sadarkan diri saat tubuhnya digotong beramai-ramai oleh empat orang pria berjas abu-abu menuju ke teras rumah.


"Astaga, Riko!" seru Bu Rumi langsung bergabung dengan orang-orang yang mengelilingi Riko.


"Tolong jangan dikerubungi seperti ini, ya," pinta Pak Rusdy.


"Ayah, Riko kenapa?" tanya Bu Rumi.


"Tidak tahu Bu, tiba-tiba saja sudah pingsan begini, tolong ambilkan air dan minyak angin," kata Pak Rusdy berusaha untuk tenang.


Tuan Takur masih setia bertengger di teras rumah, pria nyentrik itu menghitung lembaran uang dalam koper sambil menyusunnya bersama asistennya.


"Eh, kenapa itu orang sampai pingsan begitu?" tanya Tuan Takur ke arah Oleng.


"Mungkin lamarannya ditolak, Tuan," jawab Oleng.


"Itu sih, datang melamar anak orang hanya modal dengkul! Makanya coba seperti aku ini! Berat orang menolak kalau aku sudah bawa ini banyak barang!" Tuan Takur terkekeh.


"Tidak bisa memang disamakan dengan Tuan Takur!" puji Oleng.


"Eh, berapa tadi sudah aku hitung ini? Aih lupa lagi! Oleng, hitung lagi dari awal!" perintah Tuan Takur.


"Siap, Tuan!" sahut Oleng dengan memasang wajah cemberut.


Sudah lima belas kali ia menghitung lembaran uang yang nominalnya berubah sesuka hati Tuan Takur. Tuan Takur sendiri tidak berkonsentrasi menghitung uang lantaran sibuk mencuri dengar apa yang terjadi di dalam rumah tersebut.


...*****...


Vara keheranan saat melihat ibunya yang nampak terdiam bersama rekan-rekannya. Wajah mereka nampak memucat seakan baru saja melihat hantu. Vara tertegun melihat sosok pria bersetelan jas hitam yang saat ini sedang duduk bersila, pandangan mereka saling bertemu. Berkali-kali Vara mengerjapkan matanya, siapa tahu ia salah lihat. Vara bahkan mengucek matanya, memastikan bahwa sosok yang menyita perhatiannya ini bukan hanya ada dalam khayalannya saja.


Viceroy memasang wajah tanpa ekspresi, saat Arvia dan para tetangga lamanya memasang ekspresi terperangah dengan mata melotot lebar dan mulut ternganga selebar kuda nil di kebun binatang. Sepertinya mereka lupa cara untuk menutup mulut saking kagetnya.


Arvia terbelalak dan kehilangan kemampuannya untuk bicara. Apakah ia tak salah dengar bahwa pria yang terlihat berpenampilan mewah ini adalah mantan menantunya?


Pria yang tidak punya pendidikan yang tinggi dan tidak punya pekerjaan bagus yang dapat dibanggakan oleh Arvia di hadapan semua orang adalah mantan menantunya.


Bagi Arvia, Riko yang bekerja sebagai manajer di perusahaan besar saja sudah begitu mapan, apalagi bos Riko yang notabene adalah pemilik perusahaan tempat Riko mengais rejeki.


Ini pasti salah! Geram Arvia yang menolak untuk merasa malu dan sungkan.


"Vara!" panggil Arvia saat melihat sosok Vara yang juga terdiam dan terpaku begitu keluar dari kamarnya.


"Vara, mungkin Ibu salah, coba kau pastikan lagi, pria ini apakah benar adalah mantan suamimu?" tanya Arvia ke arah Vara.


Vara sungguh merasa ibunya aneh, mengapa ibunya justru menanyakan hal yang sudah jelas?


"Ibu, memangnya sudah berapa kali aku menikah, Bu?" Vara balik bertanya.


"Vara! Kamu jangan mengaku-ngaku, ya! Suami kamu itu kan cuma tukang ikan yang tidak ganteng-ganteng amat!" sergah Bu Rudy.


"Iya! Mana mungkin pria mewah ini adalah suaminya Vara! Suami Vara itu loh ke mana-mana naik motor! Lah, Mas Tampan dan kaya raya ini naik helikopter loh, Bu!" sergah Bu Bejo.


"Betul itu, Mas Tampan yang tajir melintir ini tidak mungkin suaminya Vara!" sergah Bu Muji.


"Ibu-ibu yang terhormat, saya memang bukan lagi suami Vara, tapi dulunya saya memang suami Vara," kata Viceroy memberi klarifikasi.


Bu Muji, Bu Bejo, dan Bu Rudy terlihat menegang begitu mendengar perkataan Viceroy. Dalam benak mereka terlintas rangkaian ingatan mereka yang sudah menghina-dina Vara dan suaminya. Ketiganya saling berpandangan seakan mereka bisa berkomunikasi melalui telepati. Saat kata-kata tak mampu lagi terucap melalui mulut mereka, mata mereka yang saling melototlah yang bicara.


Mereka sungguh merasa malu karena sudah menghina dan menghakimi Vara serta suaminya yang konon katanya sama saja seperti gembel. Alangkah terkejutnya mereka saat tahu bahwa pria itu ternyata adalah seorang saudagar yang kaya raya.


Bu Muji pernah mendengar pujian yang kerap dilontarkan oleh Riko tentang betapa kaya bosnya itu. Bos Riko yang masih muda sudah begitu sukses dan membuat Riko termotivasi untuk bisa sukses juga seperti beliau. Sungguh tak kuasa Bu Muji harus menerima kenyataan bahwa pria sukses bergelimangan harta itu kerap ia gunjingkan ke semua orang yang dikenalnya sebagai fakir miskin dan anak terlantar yang dipelihara oleh negara.


Rupanya apa yang dipikirkan Bu Muji juga dipikirkan oleh Bu Rudy dan Bu Bejo. Bagaimana jika pria konglomerat itu menuntut mereka atas tuduhan pencemaran nama baik? Mereka bisa dituntut pasal berlapis karena dianggap melakukan perbuatan tidak menyenangkan. Dengan banyaknya uang yang dimiliki oleh pria itu, sungguh mudah bagi pria itu untuk menjebloskan mereka semua ke penjara.


"Ibu-ibu semuanya," kata Viceroy.


Tiga wanita paruh baya itu terkesiap. Apakah mereka benar-benar akan dipenjara karena sudah menistakan pria penuh kuasa ini?


"Saya ingin berbicara empat mata dengan Pak Slamet," kata Viceroy membuyarkan lamunan mereka.


"Silakan," kata para pria yang merupakan para negosiator segera mengambil tindakan untuk menggiring semua orang selain Pak Roy dan Pak Slamet untuk keluar dari rumah.


Bu Muji, Bu Bejo, dan Bu Rudy kembali berpandangan.


Mampus! Mampus!


Vara segera menuju ke teras, meninggalkan bapak dan mantan suaminya itu untuk bicara empat mata. Vara tentu saja bertanya-tanya, mengapa mantan suaminya itu bisa ada di rumahnya?


Viceroy sungguh pria yang selalu penuh dengan kejutan!


...*****...


Arvia duduk di teras bersama para tetangganya. Ia benar-benar merasa sungkan dan malu namun terlalu gengsi untuk mengaku bersalah pada mantan menantunya itu. Bagaimana bisa menantunya yang tidak seberapa itu ternyata adalah orang yang begitu hebat?


Arvia langsung memijat keningnya, kok rasanya kesal sekali, ya?


"Aduh, Bu Slamet, kok bisa sih, Ibu tidak tahu kalau orang sehebat itu adalah mantan menantu Bu Slamet?" kata Bu Bejo.


"Bu Slamet sengaja ya, mau menjebak kami agar kami dijebloskan ke penjara gara-gara menistakan pria itu?!" tuding Bu Muji.


"Bu Slamet ini sungguh terlalu!" rutuk Bu Rudy.


"Aduh, Ibu-ibu! Mana saya tahu kalau mantan menantu saya itu ternyata seperti sultan! Lah, saya sendiri tidak mengenal dia dengan baik!" Arvia membela dirinya.


Arvia sudah tentu tak mau disalahkan atas kejadian ini. Gengsinya terlalu tinggi, setinggi langit di angkasa.


"Vara! Ke sini kamu!" perintah Arvia ke arah Vara.


Vara segera duduk di samping Arvia.


"Kamu ini ya, senang sekali membuat Ibumu ini malu! Kamu kok tidak pernah bilang kalau suamimu itu bukan orang sembarangan!" cecar Arvia.


Vara menghela napas berat.


"Ibu, Viceroy memang bukan orang sembarangan, bukankah justru Ibu sendiri yang sudah menuduh Viceroy sembarangan?" tanya Vara.


"Loh, kok kamu malah menyalahkan Ibu?!" sergah Arvia.


"Ibu, aku tidak menyalahkan Ibu! Hanya saja aku sungguh menyayangkan sikap dan tindakan yang sudah Ibu lakukan pada Viceroy! Ibu kerap mempermasalahkan latar belakang Viceroy! Padahal aku tidak pernah mempermasalahkannya sama sekali, Bu!" kata Vara.


"Jelas sekali kurang bijaksana jika kita menilai seseorang hanya dari penampilan luarnya saja! Sungguh mencerminkan betapa dangkalnya pemikiran yang kita miliki," kata Vara sambil menatap lurus ke arah ibunya.


"Semua orang berhak untuk dihormati terlepas dari harta dan kedudukan yang ia miliki! Bukan berarti orang yang kaya dan punya kedudukan harus lebih dihormati daripada orang yang miskin!" Vara melanjutkan perkataannya.


"Jangan hanya karena kita merasa punya, lantas kita bersikap sombong! Apa sih yang bisa disombongkan manusia di hadapan Tuhan yang maha memiliki segalanya?! Ingat Bu, di atas langit masih ada Hotman Milan," kata Vara lagi.


Arvia dan para tetangga nyinyirnya itu hanya bisa terdiam.


"Haduh, tapi bagaimana ya, kalau pria itu menuntut kita semua atas tuduhan pencemaran nama baik?" tanya Bu Muji.


"Sekarang itu ya, orang kaya kan sedikit-sedikit lapor polisi! Haduh, tidak mau kalau sampai saya dipenjara gara-gara orang itu tersinggung!" gerutu Bu Bejo.


"Bu Slamet, coba tolong dibantu, itu mantan menantunya tolong dikondisikan!" pinta Bu Rudy.


"Aduh, kok saya, sih!" sergah Arvia.


Vara hanya memutar bola matanya. Ibunya sungguh benar-benar terlalu gengsi untuk mengakui kesalahan dan kekhilafannya.


"Bu Slamet, tidak ada rasa menyesal begitu ya, melepaskan menantu ningrat begitu?" tanya Bu Rudy.


Arvia hanya bisa terdiam. Entah mengapa jauh dalam lubuk hatinya terbesit rasa penyesalan yang amat dalam. Ia bahkan tak menyangka bahwa ia ternyata punya menantu super duper luar biasa kaya raya. Menantunya yang selama ini sudah ia hina-dina dan ia cemooh ternyata adalah seorang yang justru bisa menaikkan nilai prestisnya di mata orang banyak. Menantu yang benar-benar bisa membuatnya naik ke level tertinggi di strata sosial dengan kekayaan yang dimiliki oleh pria itu. Sayangnya, kini pria hebat itu bukan lagi menantunya.


"Coba pria itu suka laki-laki ya, saya jodohkan itu untuk anak saya saja! Sungguh membanggakan sekali bisa punya menantu konglomerat begitu," Bu Bejo terkekeh.


"Astaga, Bu Bejo, anak Ibu loh laki-laki semua! Nyebut, Bu! Bisa-bisanya punya pikiran seperti itu!" cibir Bu Muji.


"Lah, mana tahu kan, yang penting punya menantu kaya raya yang tampan!" sahut Bu Bejo.


Arvia hanya bisa memendam rasa penyesalannya yang seluas dan sedalam samudera. Arvia langsung berpikir, bagaimana bisa ia memohon dan memanjatkan doa yang salah kepada Tuhan untuk memisahkan Vara dari pria yang kaya raya itu?


Tuhan, apakah doa saya tidak bisa dibatalkan? Batin Arvia yang mulai merasakan rasa sesak di dadanya, namun hanya bisa ia rasakan sendiri.

__ADS_1


"Oh ya, Ibu-ibu, sekarang adalah saat yang tepat untuk memikirkan cara agar kita tidak dituntut melakukan penistaan terhadap mantan menantunya Bu Slamet!" kata Bu Bejo kepada teman-temannya.


...*****...


Viceroy menatap lurus ke arah Pak Slamet yang saat ini sedang duduk berdua saja dengannya. Begitulah, Viceroy lebih suka melakukan negosiasi saat hanya berdua saja dengan targetnya dengan tujuan agar tidak mendapat interupsi dari pihak eksternal yang akan mengganggu kelancaran proses negosiasi.


"Pak Slamet," kata Viceroy.


"Kenapa kau menceraikan Vara?" tanya Pak Slamet.


Viceroy menghela napasnya.


"Pak Slamet, mohon maaf sebelumnya, saat ini saya sungguh tidak ingin mencampur adukkan masalah pekerjaan dengan masalah pribadi, Pak," jawab Viceroy diplomatis.


Viceroy menatap tajam mantan mertuanya yang nampak terkesiap.


"Pak Slamet, saya akan menjelaskan semuanya setelah masalah lahan ini selesai," kata Viceroy dengan gayanya yang selalu terlihat meyakinkan.


Pak Slamet terlihat mengusap wajahnya dengan gusar.


"Pak Slamet, di atas lahan Pak Slamet ini rencananya akan dijadikan akses utama truk tangki yang akan memuat bahan bakar minyak dan juga hasil pengolahan minyak sawit setiap harinya. Bayangkan jika Pak Slamet tetap mempertahankan lahan ini, polusi udara dan polusi suara jelas akan menjadi santapan sehari-hari yang jelas akan mengganggu kenyamanan Pak Slamet dan keluarga," kata Viceroy.


"Bayangkan Pak, dalam lima tahun ke depan, cucu-cucu Bapak tidak bisa bermain dengan leluasa di halaman rumah lantaran banyaknya kendaraan besar yang berlalu lalang, justru akan membahayakan nyawa cucu-cucu Pak Slamet yang lucu-lucu," lanjut Viceroy.


"Lagipula, kegiatan operasional perkebunan mencapai dua puluh empat jam sehari, selama tujuh hari, bagaimana Pak Slamet bisa bersantai menikmati hari tua dengan nyaman bersama keluarga Bapak jika masih menetap di lingkungan yang tidak kondusif?"


Pak Slamet nampak berpikir, semua yang dikatakan oleh pria yang menatapnya dengan tajam ini adalah kebenaran yang hakiki.


"Bagi saya lahan ini adalah satu-satunya rumah untuk saya dan keluarga! Lahan ini adalah lahan yang saya beli sejak sebelum saya pensiun! Berat rasanya jika saya kehilangan tempat ini," kata Pak Slamet dengan tatapan mata yang menerawang.


"Saya sangat mengerti perasaan anda, Pak, hanya saja, saya tentu lebih memprioritaskan keselamatan dan kesehatan Pak Slamet dan keluarga," kata Viceroy.


Pak Slamet jelas terlihat bimbang. Ia tentu tak bisa kehilangan lahan yang sudah menjadi impiannya ini.


"Begini saja Pak, bagaimana kalau kita membuat kesepakatan," kata Viceroy.


Pak Slamet menatap tajam ke arah mantan menantunya itu.


"Saya memiliki tempat yang kiranya bisa Pak Slamet dan keluarga tempati sebagai pertukaran!" kata Viceroy.


Pak Slamet nampak berpikir lama.


"Pak Slamet, Anda tak perlu merasa ragu dan bimbang, saya tentu tidak akan membiarkan Vara merasa tidak nyaman, bagi saya kenyamanan Vara adalah prioritas utama saya," kata Viceroy.


Viceroy mengeluarkan sebuah amplop dari dalam tas kerjanya, mengeluarkan sebuah surat perjanjian penyerahan lahan yang telah disiapkan oleh tim proyek perluasan area perkebunan kelapa sawit.


Setelah menimbang-nimbang, akhirnya Pak Slamet membubuhkan tanda tangannya di atas surat perjanjian tersebut. Viceroy memeriksa kembali surat tersebut sebelum memasukkannya kembali ke dalam amplop.


"Lalu, mengapa kau menceraikan Vara? Padahal saya sudah memercayakan Vara padamu," kata Pak Slamet.


"Pak Slamet, saya tahu, Anda pasti kecewa dengan saya, namun percayalah, perceraian saya dan Vara bukanlah keinginan kami berdua," kata Viceroy.


"Ibu saya yang menginginkan perceraian kami karena pada awalnya, beliau menginginkan saya menikah dengan wanita pilihan beliau, padahal saya begitu mencintai Vara! Kurang lebihnya apa yang saya alami sama dengan kejadian yang hari ini dialami oleh Vara," kata Viceroy.


"Jujur Pak, saya sangat mencintai Vara, bagi saya Vara adalah kebahagiaan saya! Asalkan Vara benar-benar bahagia dengan pria yang Anda inginkan, saya ikhlas melepas Vara, namun sampai kapan pun saya akan tetap mencintai Vara, karena Vara sudah membawa semua cinta yang saya miliki hanya untuknya," Viceroy melanjutkan perkataannya.


Pak Slamet benar-benar sangat tersentuh dengan perkataan mantan menantunya ini. Ternyata apa yang dikatakan oleh Vara adalah benar. Mereka berdua sepakat bercerai karena tersandung restu orang tua. Padahal mereka berdua saling mencintai. Sebagai orang tua tentu saja Pak Slamet merasa bahwa kebahagiaan Vara adalah hal yang lebih penting.


"Kau tadi bilang, pada awalnya pernikahan kalian tidak direstui ibumu, apakah sekarang ibumu sudah berubah pikiran?" tanya Pak Slamet.


"Pak Slamet, sungguh saya sudah mengupayakan banyak cara agar ibu saya mau memberi kami restu, saat usaha saya membuahkan hasil, Vara justru memilih pergi dari hidup saya! Bapak pasti mengerti kan, rasanya ditinggal pas lagi sayang-sayangnya? Sakit Pak, saya tuh tidak bisa diginiin," jawab Viceroy panjang lebar.


"Seandainya saya diberi kesempatan untuk sekali lagi menjadi pendamping Vara, tentu saja itu menjadi harapan terbesar saya, Pak," kata Viceroy menatap Pak Slamet dengan penuh pengharapan.


"Pak Slamet, saya yakin, mungkin ini sudah menjadi suratan takdir untuk saya dan juga Vara! Kami menikah tanpa melalui masa pacaran seperti pasangan lain pada umumnya! Karena saya pribadi memang orang yang memilih untuk langsung menikah daripada sekedar pacaran yang tujuannya hanya untuk menjaga jodohnya orang!" lanjut Viceroy.


Pak Slamet mengembangkan senyumnya. Sungguh pria ini memiliki pemikiran yang sama sepertinya. Makanya Pak Slamet dulu tidak mau Vara mengencani pria mana pun lantaran tak mau anak gadisnya itu hanya dipermainkan oleh pria. Lagipula saat itu Pak Slamet juga menginginkan Riko untuk menjadi menantunya. Namun setelah melihat sikap Riko yang dinilai inkonsisten dan berulang kali mengecewakan Pak Slamet, akhirnya Pak Slamet menyerahkan semua keputusan di tangan Vara.


"Bagaimana, Pak? Setujukah kalau saya jadi menantu Anda lagi?" tanya Viceroy.


Pak Slamet mengulas senyumnya.


"Kalau saya sih, asal Vara bahagia, itu sudah cukup," jawab Pak Slamet diplomatis.


...*****...


Riko terhuyung saat mencoba bangkit dan menghampiri Vara.


"Vara, kau kenapa tidak pernah mengatakan bahwa suamimu adalah Pak Roy?! Kau sengaja, ya, membuatku malu di depan atasanku?!" tuding Riko yang merasa harga dirinya begitu terluka.


Vara memutar bola matanya, ia menatap Riko dengan ekspresi kasihan.


"Riko, apa kau tahu, aku bahkan tidak peduli meski Viceroy adalah seorang tukang ikan banyak utang seperti yang kau bilang! Bagiku yang terpenting adalah aku mencintainya! Makanya dulu aku memilih untuk menikah dengannya daripada memilihmu!" kata Vara diplomatis.


Vara merasa senang karena ia bisa membalas perkataan Riko saat tujuh tahun yang lalu Riko menolak untuk dijodohkan dengan Vara.


"Vara, maaf aku tidak bisa menikahimu karena aku sudah mencintai wanita lain dan itu bukan kamu," kata Riko saat ia menolak dengan tegas saat akan dijodohkan dengan Vara.


Riko merasa hatinya hancur tercabik-cabik. Ia harus menelan kepahitan yang teramat sangat. Penyesalan dan rasa malu yang harus ditanggungnya benar-benar tak terukur lagi. Ia benar-benar menyesal karena saat itu tidak memilih Vara sebagai istrinya. Ia juga menyesal karena selama ini pria yang sudah dihina dan direndahkannya ternyata adalah bosnya sendiri.


Apakah selama ini Vara sudah menceritakan semua hinaan yang dilontarkannya untuk suami Vara?


Riko! Kau benar-benar menggali lubang kuburmu sendiri!


...*****...


Viceroy membuka pintu rumah. Ia tertegun melihat ibu-ibu yang menatap tajam ke arahnya. Bu Muji, Bu Bejo, dan Bu Rudy menjadi garda terdepan.


Ekspresi wajah mereka jelas terlihat seperti sedang menghadang bakul sayur yang baru saja tiba di depan rumah.


Tiba-tiba mereka semua berlutut dan bersujud di hadapan Viceroy.


"Terima sembah sujudku! Izinkanku bertaubat!" seru mereka serempak.


Viceroy terperangah, ia benar-benar terkejut melihat para wanita paruh baya itu bersujud di hadapannya. Semalam ia bahkan tidak bermimpi ada bulan, bintang, dan matahari yang bersujud di hadapannya.


Bu Muji, Bu Bejo, dan Bu Rudy segera berlutut dengan kedua tangan menengadah. Vara terperangah, inikah yang tadi ibu-ibu itu diskusikan sebagai strategi pembebasan dari tuntutan pidana?


"Pak, tolong ampuni kesalahan kami!" kata Bu Muji dengan air mata berlinangan.


"Sungguh, kami tidak pernah bermaksud untuk menjelek-jelekkan orang setampan Anda!" kata Bu Bejo.


"Kami mohon pengampunan Anda, tolong jangan laporkan kami ke polisi atas tuduhan pencemaran nama baik!" sahut Bu Rudy.


Arvia hanya bisa menggelengkan kepala melihat kelakuan teman-temannya itu. Ia sungguh malu, dan memutuskan untuk masuk kembali ke dalam rumahnya.


"Permisi Ibu-ibu," kata Viceroy karena ibu-ibu itu menghalangi jalan.


"Pak, tolong ampuni kami!" Bu Muji mencengkeram kaki Viceroy.


"Pak, tolong, Pak!" Bu Bejo dan Bu Rudy juga ikut mencengkeram kakinya.


"Aduh, Ibu-ibu," keluh Viceroy berusaha agar tubuh tingginya tidak oleng.


"Ampun, Pak!" ketiga wanita paruh baya itu menangis kejer.


Bagi ketiga wanita paruh baya itu, pria tampan ini harus tahu makna dari the power of emak-emak yang sesungguhnya. Bersatu kita teguh, bercerai kawin lagi! Itulah motto para emak-emak nekat tersebut.


"Vara, tolong aku!" kata Viceroy ke arah Vara.


Vara hanya menyeringai, ia tidak mau ikut campur dengan emak-emak bar-bar itu.


"Ampun, Pak! Ampun!" seru mereka.


"Iya, iya, tolong lepaskan saya," kata Viceroy.


"Baiklah, tidak boleh ada tuntutan di kemudian hari!" kata mereka.


"Iya," jawab Viceroy.


Tuntutan apa yang kalian maksud? pikir Viceroy keheranan.


Ketiga wanita paruh baya itu dengan sigap melepas cengkeraman mereka.


Viceroy bisa melihat Riko yang terlihat begitu depresi di sisi teras yang lain. Rupanya pria itu sudah sadar dari pingsannya. Viceroy segera menghampirinya. Riko rasanya sudah tak punya muka untuk menghadapi atasannya itu. Ingin rasanya ia mengikat dirinya di jangkar kapal dan menenggelamkan dirinya bersama jangkar yang dilemparkan ke laut.


"Pak Riko, bagaimana keadaan Anda, apa sudah lebih baik?" tanya Viceroy.

__ADS_1


"Pak Roy, apa perlu saya tulis pengunduran diri sekarang?" tanya Riko.


"Pak Riko, Anda sedang cuti, lusa Anda harus kembali bekerja," sahut Viceroy.


"Pak, maafkan saya!" kata Riko dengan rasa malu yang tumpah ruah tak terbendung.


"Pak Riko, untuk apa Anda meminta maaf kepada saya?" tanya Viceroy.


"Sungguh Pak, saya tidak tahu bahwa Vara adalah mantan istri Anda," jawab Riko.


"Kalau Anda sudah tahu, jangan memang berani mengincarnya," kata Viceroy dengan nada mengancam.


Riko menggeleng keras sebagai bentuk penyesalannya yang begitu dalam.


Viceroy tentu tidak bisa menyalahkan Riko, karena Riko memang tidak tahu siapa istrinya. Sepertinya Viceroy memang harus mengumumkan pernikahannya jika ia menikah lagi dengan Vara.


Viceroy segera menghampiri Vara yang menatap ke arahnya.


"Vara, bisakah kita berbincang?" tanya Viceroy ke arah Vara.


...*****...


Vara menyusuri jalan perkampungan yang masih berupa jalan setapak. Vara bahkan baru kali ini bisa keluar dari rumah dengan leluasa. Bapak tidak mengizinkan Vara berkeliaran sendiri jika tidak ada yang menemaninya.


"Vara, benar kan dugaanku, kau pulang kampung dan akhirnya orang tuamu menjodohkanmu dengan laki-laki lain," kata Viceroy.


"Hari ini saja sudah ada dua pria yang datang untuk melamarmu, apalagi besok-besok!" rutuk Viceroy.


"Viceroy, sungguh aku tidak tahu masalah lamar-melamar ini," kata Vara.


Viceroy menghadang langkah Vara.


"Vara, kalau sudah seperti ini, sungguh aku harus menagih pelunasan hutangmu," kata Viceroy.


"Aku memberimu waktu untuk berpikir mengenai hubungan kita, tapi kau malah akan menikah dengan laki-laki lain!" lanjut Viceroy.


"Viceroy, aku tidak akan menikah dengan laki-laki lain!" sergah Vara.


"Lantas, apa kau mau menikah denganku lagi?" tanya Viceroy.


Vara hanya mengulas senyumnya.


"Vara, jika kau masih merasa aku mempermainkanmu karena pertaruhan yang kulakukan dengan kakakku, begini saja, coba pikir seandainya aku tidak bertaruh dengan kakakku, apakah kita akan bertemu?" tanya Viceroy.


"Lima belas tahun kita tidak pernah bertemu! Dan kita dipertemukan saat kita sama-sama saling membutuhkan! Tidakkah menurutmu ini sudah menjadi takdir kita, bertemu di waktu dan di saat yang tepat?" lanjut Viceroy.


Vara kembali mengulas senyumnya. Ia benar-benar kesal lantaran harus mengakui bahwa pria di hadapannya ini benar-benar pandai meyakinkan. Padahal lima belas tahun yang lalu, pria ini bahkan lebih banyak diam dan melotot tajam seperti orang yang selalu mengajak untuk baku hantam.


"Vara, bukankah kau sudah berjanji padaku untuk terus memasak untukku?" kata Viceroy.


Vara kembali menyunggingkan senyum.


Viceroy benar-benar gemas, entah bagaimana cara yang harus ditempuhnya untuk melakukan negosiasi dengan Vara. Viceroy tentu harus menjaga harga dirinya sebagai seorang pria. Penolakan dari Vara bukanlah tujuannya. Jika Vara terus menolak untuk kembali padanya, bagaimana jika Vara benar-benar tak ingin kembali padanya? Tak bisa ia membayangkan Vara menikah dengan pria lain selain dirinya.


"Vara, jangan bilang kau kepincut laki-laki terkaya di kampung ini karena pria itu sudah membawakanmu pisang sepohon-pohonnya!" tuding Viceroy.


Vara tertawa, bagaimana Viceroy bisa berpikir seperti itu?


"Viceroy, apa kau serius mau menikah dengan janda pengangguran sepertiku ini?" tanya Vara.


Viceroy memutar bola matanya.


"Vara, apa waktu aku menikah denganmu, kau peduli dengan latar belakang dan pekerjaanku?" Viceroy balik bertanya.


Vara tersenyum, ia benar-benar tidak peduli latar belakang Viceroy. Baginya, saat itu yang terpenting ia bisa menikah untuk memenuhi syarat yang diajukan oleh bapaknya.


"Viceroy, kalau kau memang serius ingin menikahiku lagi, bawa keluargamu datang untuk melamarku!" kata Vara.


Viceroy terperangah mendengar perkataan Vara. Vara sungguh harus melihat dengan mata kepalanya sendiri apakah Ibu Suri akan merestui mereka. Vara tentu tidak mau harus kembali menjalani ujian aneh yang tidak jelas. Dan Vara juga ingin melihat sendiri, bagaimana Viceroy bisa meyakinkan ibu Vara. Vara ingin pernikahan mereka benar-benar direstui lahir dan batin oleh orang tua mereka. Agar mereka tak perlu lagi hidup kucing-kucingan seperti dulu. Sedih rasanya jika harus mengingat masa-masa kelam pernikahan mereka.


"Vara, apa aku perlu membawa pisang, tebu, dan kelapa sepohon-pohonnya juga?" tanya Viceroy.


Vara tertawa.


"Vara, aku serius! Bagiku, daripada membawa pohon-pohon seperti itu sekalian saja kudatangkan penghulu untuk menikahkan kita sekarang juga," kata Viceroy menatap Vara lekat-lekat.


"Jadilah milikku sekali lagi dan untuk selamanya, Vara," kata Viceroy.


...*****...


Tuan Takur kembali lagi ke rumah Pak Slamet setelah ia dan Oleng membawa lebih banyak lagi uang yang masih ada di rumahnya. Ia sungguh harus menunjukkan pada Pak Slamet bahwa ia serius melamar anak perempuan beliau.


Dengan tergopoh-gopoh ia menyeret koper besar itu bersama Oleng. Jumlah uang yang ia bawa haruslah lebih banyak dari pria-pria lain yang juga melamar Vara.


Begitu memasuki pekarangan rumah Pak Slamet, langkahnya dihadang oleh para pria yang menjadi kaki tangan pria yang datang dengan helikopter tersebut.


"Pak, tolong menyingkir dulu, ada helikopter yang sebentar lagi akan mendarat," cegah mereka pada Tuan Takur.


"Wededeh! Siapa kau berani larang-larang aku? Aku ini Tuan Takur! Tuan tanah di kampung ini! Orang paling kaya di kampung ini! Minggir kau!" hardik Tuan Takur.


Tuan Takur nekat menerobos memasuki pekarangan, bertepatan dengan sebuah helikopter yang perlahan turun. Angin kencang yang ditimbulkan oleh putaran baling-baling kembali memporak-porandakan keadaan di sekitarnya. Tuan Takur dan Oleng terhempas pusaran angin, mereka berdua limbung bersama koper berisi uang yang terhempas ke tanah. Koper yang terhempas itu terbuka, uang yang berada dalam koper tersebut langsung beterbangan ke segala arah. Semua orang langsung berebut uang tersebut.


"Hujan uang!" seru mereka kegirangan.


"Oh tidak, uang maharku!" teriak Tuan Takur terdengar putus asa.


Saat helikopter mendarat sempurna, seorang pria turun dari helikopter. Pria itu memegangi seorang wanita paruh baya berpakaian megah dan mewah yang turun dari helikopter.


Keduanya terkejut saat melihat banyak orang yang nampak sibuk memungut uang yang berhamburan di mana-mana.


...*****...


Semua orang yang tadinya sibuk memungut uang langsung menghentikan kegiatan mereka tatkala melihat seorang wanita paruh baya berkulit putih memakai gaun megah berwarna biru gelap yang dipenuhi kristal swarovsky. Semua orang begitu silau saat memandangi kemewahan perhiasan berlian yang menyempurnakan penampilan wanita mewah itu. Di sampingnya, seorang pria berparas tampan berjalan mendampingi. Semua orang percaya bahwa wanita itu pastilah seorang ratu entah dari kerajaan mana sehingga mereka langsung bersujud.


Bu Muji dan rekannya terperangah melihat kemewahan wanita yang membuat mereka silau. Perhiasan berlian yang dikenakan wanita itu membuat mata mereka melotot hingga nyaris lepas.


"Asli kah itu?" bisik Bu Muji.


"Jangan-jangan imitasi," sahut Bu Bejo.


"Siapa ya itu?" tanya Bu Rudy.


"Ibu," Viceroy segera menyambut kedatangan ibu dan kakaknya.


Mendengar Viceroy menyapa ibunya membuat Bu Muji terkesiap.


"Mampus gaes, asli berliannya!" bisik Bu Muji berkasak-kusuk heboh.


Virda memutar bola matanya, anak bungsunya ini benar-benar membuatnya kaget lantaran tiba-tiba saja menyuruhnya datang. Helikopter yang dicharter segera menjemput Virda dan juga Ryo. Syukurlah kondisi Ryo sudah dinyatakan lebih baik sehingga ia sudah diperbolehkan untuk bepergian lagi.


"Pokoknya, Ibu harus datang dan melamar Vara untukku!" begitulah pesan Viceroy saat menelepon Virda.


Virda menaiki anak tangga bersama Ryo. Semua mata tak lepas menatap penampilannya yang mewah paripurna.


Saat Bu Muji tak sengaja saling bertatapan dengan Virda, Bu Muji langsung menyembunyikan perhiasan emas yang dikenakannya.


Ia benar-benar merasa kalah telak dengan wanita mewah yang masih terlihat begitu cantik meski terlihat sudah berumur.


Semua mata tak lepas mengikuti rombongan keluarga bervisual sempurna itu. Pak Slamet dan Arvia terperangah melihat penampilan tamu mereka yang benar-benar mewah paripurna. Entah mengapa Arvia jadi merasa terintimidasi dengan kehadiran keluarga bervisual serbuk berlian itu. Arvia sebenarnya enggan menemui keluarga Viceroy, namun rasa ingin tahunya pada keluarga mantan menantunya itu begitu besar.


"Pak Slamet, Bu Slamet, perkenalkan beliau adalah ibu dan kakak saya," kata Viceroy memperkenalkan keluarganya untuk pertama kalinya ke hadapan keluarga Vara.


"Nama saya Ryo," Ryo menjabat tangan bapak dan ibu Vara.


"Saya Slamet," kata Pak Slamet.


"Saya Arvia," kata Arvia tersenyum kaku.


"Virda," Virda menyodorkan tangannya dan bersalaman dengan Slamet dan Arvia.


Seketika Arvia merasa menciut. Semua hal yang bisa disombongkannya mendadak sirna. Wanita di hadapannya ini benar-benar lebih segalanya dari dia.


Suasana penuh ketegangan pun tercipta. Atmosfer di ruangan ini benar-benar terasa berat dan menyiksa. Arvia bisa melihat Vara yang nampak begitu tegang.


Ryo tersenyum ke arah Vara yang terlihat baik-baik saja.


"Pak Slamet, terima kasih sudah menerima kedatangan kami," kata Ryo dengan senyum cemerlangnya yang terulas sempurna.

__ADS_1


"Tujuan kedatangan saya bersama keluarga saya kemari yakni karena saya ingin melamar Vara," kata Ryo dengan mantap.


__ADS_2