
Vara mendapat panggilan tes penerimaan karyawan di sebuah perusahaan bergedung megah dan tinggi dengan kaca berwarna biru dan cat berwarna abu-abu. Gedung itu nampak menjulang tinggi dan begitu megah daripada bangunan lain yang ada di sekitarnya. Tanpa plang nama perusahaan, sehingga nampak begitu misterius.
Vara datang ke perusahaan ini pasca mendapat telepon dari pihak perekrutan perusahaan bernama Royal Marine. Vara memeriksa surat elektronik yang ia kirimkan secara acak. Ia bahkan tidak ingat pernah mengirimkan lamaran kerja ke perusahaan tersebut. Vara memang sudah cukup lama tidak mengirimkan lamaran pekerjaan kecuali tujuh tahun yang lalu. Ia menyebar daftar riwayat hidupnya ke semua perusahaan yang ada di kota ini. Beberapa hari yang lalu Vara bahkan tidak ada mengirim lamaran kerja ke perusahaan tersebut lantaran ia menyebar resumenya ke perusahaan-perusahaan yang membuka lowongan pekerjaan. Setelah memeriksa surat elektroniknya, barulah Vara sadar bahwa tujuh tahun yang lalu ia memang ada mengirimkan lamaran pekerjaan ke perusahaan itu, hanya saja saat itu belum ada panggilan dari perusahaan tersebut.
"Pagi, Bu, ada keperluan apa?" tanya petugas keamanan bernama Pak Edris menyambut Vara.
"Undangan tes kerja, Pak," jawab Vara.
"Bisa tolong diperlihatkan undangannya?" tanya Pak Edris.
Pak Edris tidak mau kecolongan lagi saat ada orang yang mengaku sebagai pelamar kerja, tak tahunya berbuat kerusuhan seperti beberapa hari lalu.
Vara mengeluarkan ponsel dan menunjukan surat elektronik di layar ponselnya.
"Bisa tolong KTP atau kartu pengenal lain, Bu?" tanya Pak Edris.
Vara menyerahkan KTP-nya, Pak Edris terlihat mencatat nama Vara di buku tamu.
"Ini badge pengunjung, silakan dipakai ya, Bu," kata Pak Edris menyerahkan badge pengunjung untuk Vara.
"Terima kasih, Pak," kata Vara segera menuju ke pintu masuk gedung perusahaan itu.
"Ada apa cengar-cengir begitu, Ed?" tanya Pak Malik, rekan Pak Edris.
"Nama ibu tadi, seperti nama kapal-kapal barunya bos," sahut Pak Edris terkekeh.
__ADS_1
"Memangnya siapa nama beliau?" tanya Pak Malik.
Pak Edris memperlihatkan KTP yang ditinggalkan wanita itu. Keduanya terkekeh, sungguh kebetulan sekali nama wanita itu seperti nama-nama kapal pengangkut bahan bakar minyak yang didatangkan bos besar dari luar negeri.
...*****...
Vara segera menuju ke meja resepsionis yang menyambut Vara dengan ramah. Vara dipersilakan mengisi buku tamu. Resepsionis bernama Putri itu mempersilakan Vara duduk di sofa bersama beberapa kandidat lain. Vara terpana melihat sosok wanita bertubuh gemuk dengan penampilan yang membuatnya nyaris terkena serangan jantung lantaran begitu nyentrik. Entah mengapa wanita itu mengingatkan Vara pada penampilan ibu mertuanya.
Putri mencebik, melihat sosok bernama Sofia yang mengaku sebagai istri dari bos besar itu ikut hadir dalam tes penerimaan pegawai. Di saat semua kandidat peserta tes kepegawaian mengenakan busana formal, Sofia justru mengenakan gaun berjubah warna ungu terong dengan payet-payet di seluruh gaun. Rambutnya dicepol bergaya pramugari. Riasan tebal dengan lipstik berwarna merah cerah dan perona pipi membuatnya terlihat seperti orang yang habis ditampar.
Vara sungguh tercengang, apa sekarang penampilan nyentrik seperti itu sedang menjadi tren?
Di mata Vara, gaya ibu Viceroy tentulah terlihat begitu berlebihan bagi Vara yang menyukai segala sesuatu yang terlihat sederhana. Lalu ada wanita yang seakan menyalin gaya ibu Viceroy untuk dijadikan gaya berbusana sehari-hari.
Apa gaya orang kaya sekarang seperti itu, ya? Pikir Vara.
Mbak Ratih adalah staff HRD yang bertanggung jawab untuk mengurus perekrutan di perusahaan Royal Grup. Mengingat standar yang ditetapkan oleh Pak Roy terhadap karyawan yang direkrut perusahaan tersebut begitu tinggi, tentulah Mbak Ratih punya tanggung jawab yang begitu besar untuk menyeleksi calon-calon pegawai yang dipanggilnya untuk mengikuti tes masuk. Hampir setiap hari Mbak Ratih mengundang para kandidat untuk mengikuti seleksi penerimaan yang rumitnya seperti seleksi tes calon penerimaan pegawai negeri sipil. Pak Roy tentu saja akan benar-benar marah pada Mbak Ratih jika karyawan yang direkrut oleh Mbak Ratih tidak sesuai dengan standar kompetensi perusahaan.
'Jangan sampai perusahaan mempekerjakan karyawan kaleng-kaleng,' itulah pesan Pak Roy yang selalu diingat oleh Mbak Ratih.
"Sudah semua, Mbak," jawab Putri. "Mbak, istri bos ikut tes juga?" bisik Putri.
"Iya, beliau kirim daftar riwayat hidupnya dua hari yang lalu," jawab Mbak Ratih merendahkan suaranya.
"Kenapa istri bos ikut tes?" tanya Putri.
__ADS_1
"Tanya saja pada Pak Roy," jawab Mbak Ratih.
Putri mencebik, menanyakan segala sesuatu pada Pak Roy sama saja seperti bertanya pada malaikat pencabut nyawa. Siap-siap saja dimaki-maki karena dianggap mencampuri urusan pribadi beliau.
"Untuk semua peserta tes, harap ikut saya ke ruang rapat di lantai teratas, silakan lewat tangga yang ada di samping pintu masuk," kata Mbak Ratih kepada semua peserta tes.
Satu per satu peserta tes menaiki tangga, namun Sofia tidak mau. Ia minta menggunakan lift.
"Saya ini istri Pak Roy, jadi jangan samakan dengan calon pegawai yang lain!" kata Sofia menepuk dadanya.
Putri mencebik, ia segera mengantar Sofia menggunakan lift menuju ke lantai teratas.
"Saya tidak mau satu lift dengan karyawan, ya," kata Sofia mengusir Mbak Ratih yang memasuki lift.
Mbak Ratih segera keluar dari lift. Begitu pintu lift tertutup, Mbak Ratih nampak mendelik gusar.
"Ih, amit-amit sombong sekali istrinya Pak Roy itu!" celetuk Putri.
"Dia bahkan ikut tes penerimaan karyawan, kalau diterima, dia berarti jadi karyawan juga!" rutuk Mbak Ratih menahan kekesalannya.
"Hih, gemas sekali aku, Mbak, dengan Bu Sofia itu, serius dia itu istrinya Pak Roy? Pak Roy sudah begitu menyeramkan, istrinya lebih menyeramkan lagi!" cibir Putri.
"Sudahlah, Put, namanya juga jodohnya orang! Hanya saja, meski Pak Roy itu galak, tapi beliau tidak seangkuh itu!" kata Mbak Ratih.
"Siapa yang bisa menduga ya, Pak Roy punya selera yang begitu aneh! Padahal Pak Roy begitu tampan, kenapa dapat istri seperti genderuwo begitu!" cibir Putri lagi.
__ADS_1
"Putri, sudah, jangan julid begitu," tegur Mbak Ratih. "Nanti kau juga dapat suami galak seperti Pak Roy baru tahu rasa!"