Akibat Taruhan Menikah

Akibat Taruhan Menikah
Keinginan Vara


__ADS_3

Laras baru saja tiba di lobi hotel berbintang lima untuk menghadiri undangan pesta pernikahan Viceroy. Laras masih menunggu kedatangan Riko. Laras sungguh terkejut saat menerima undangan resepsi pernikahan dari Viceroy. Nama mempelai wanita dari pria itu adalah Varadisa. Vara sendiri tak lain adalah wanita yang dijodohkan dengan Riko sejak zaman dahulu kala, itu menurut penuturan Riko. Sungguh ironis rasanya mendengar kisah Riko yang sudah berhutang banyak, bahkan berhutang pada Laras hanya untuk meminang Vara. Lebih mengejutkan lagi saat Riko tahu bahwa Vara ternyata adalah istri bosnya. Riko sungguh menggali lubang kuburnya sendiri. Itulah yang ada dalam benak Laras saat Riko datang dan bercerita panjang lebar sambil menangis bombay. Riko sempat depresi saking malunya.


Mata Laras menangkap sosok Sofia yang nampak digiring oleh petugas keamanan dengan tangan diborgol. Terlihat percikan darah mengotori gaun putihnya. Laras benar-benar merinding melihat wanita itu. Ia sungguh tidak mau lagi berurusan dengan wanita yang sudah nyaris membunuhnya. Wanita itu benar-benar lebih kejam dengan penampilan bodohnya yang sangat menipu.


Siapa lagi yang menjadi korban wanita itu? Batin Laras sambil bergidik ngeri.


Riko segera menghampiri Laras, pria itu datang bersama kedua orang tuanya.


"Ibu, Ayah," sapa Laras.


Meski Laras sudah tidak menjadi menantu Pak Rusdy dan Bu Rumi, namun Laras masih tetap menjaga hubungan baik dengan mantan mertuanya. Ia dan Riko berpisah karena Laras yang lebih mementingkan karirnya daripada rumah tangga mereka.


Terlihat rombongan karyawan Royal Grup yang baru saja tiba. Terlihat juga rombongan karyawan Victroy Grup yang berkumpul di lobi. Mereka semua datang nampak seperti orang-orang yang mau tawuran antar kampung.


"Pak Riko," sapa rombongan karyawan Royal Grup.


"Baru datang, Pak?" tanya mereka pada Riko.


"Iya, mari masuk bersama," ajak Riko.


Langkah mereka semua terhenti saat melihat banyaknya tamu yang turun dari arah ballroom.


"Permisi, mohon maaf sebelumnya, apakah Anda semua adalah rombongan yang akan menghadiri acara resepsi pernikahan Pak Viceroy Lavais dan Ibu Varadisa?" tanya seorang panitia menghampiri rombongan tamu yang baru datang.


Mereka semua mengangguk.


"Untuk para tamu undangan, mohon maaf kenyamanan Anda terganggu, acara resepsi pernikahan tersebut harus berakhir sekarang," terlihat panitia acara bergerak memberi informasi.


"Mohon maaf atas ketidaknyamanan ini, terima kasih sudah datang," lanjutnya lagi.


"Loh, kok sudah bubar?" tanya mereka keheranan dan tentunya bertanya-tanya heboh.


Dari desas-desus yang tersebar akhirnya mereka tahu bahwa acara resepsi pernikahan tersebut berakhir lantaran adanya insiden penikaman yang dialami oleh mempelai pria.


...*****...


Pak Slamet, Arvia, dan Virda masih berada di hotel untuk meminta maaf kepada para tamu yang sudah datang sementara acara resepsi pernikahan yang belum berjalan setengahnya itu malah dirundung musibah.


Bu Muji dan para tetangga menghampiri keluarga Pak Slamet.


"Pak Slamet, Bu Slamet, Bu Virda, semoga anak kalian baik-baik saja, yang tabah, ya," kata mereka.


"Terima kasih, Ibu-ibu semua," kata Arvia.


"Kami pamit dulu ya, Pak, Bu," lanjut mereka berpamitan.


"Hati-hati di jalan ya, Bu," pesan Arvia.


Ketiganya segera duduk di salah satu meja VIP setelah para tamu pulang. Arvia merangkul Virda untuk saling menguatkan. Meski mereka sering bersitegang, namun kejadian kali ini benar-benar membuat mereka sadar bahwa mereka harus kompak lantaran mereka sudah menjadi keluarga.


Arvia menatap Virda yang terlihat begitu terpukul. Pak Slamet menyodorkan gelas berisi air mineral untuk Virda.


"Silakan diminum, Bu Virda," kata Pak Slamet.


"Terima kasih, Pak," kata Virda.


"Roy pasti baik-baik saja," kata Arvia sambil menepuk punggung Virda dengan lembut.


"Pak Slamet, Bu Arvia, saya mau ke rumah sakit," kata Virda.


"Iya Bu, kami ikut juga, tapi sebaiknya kita ganti pakaian dulu," usul Arvia.


...*****...


Para pengunjung rumah sakit benar-benar terkejut saat melihat pasien yang dilarikan ke IGD dengan masih memakai busana pengantin. Viceroy segera mendapat pertolongan medis untuk menghentikan pendarahan yang dialaminya.


Vara hanya bisa menunggu di luar ruang IGD bersama Ryo dan rombongan pria yang rupanya adalah paman Viceroy dari pihak almarhum ayahnya. Vara benar-benar merasa sedang mengalami mimpi buruk. Pesta pernikahannya dengan Viceroy membuat suaminya itu meregang nyawa. Vara sungguh tak ingin kehilangan suaminya. Meski terdengar sepele, hanya ditikam tusuk konde, namun jika tikaman itu mengenai bagian vital, Viceroy benar-benar bisa kehilangan nyawanya.


Padahal kebahagiaan baru saja menyelimuti mereka. Mereka saling bercanda dan saling menggoda satu sama lain. Mereka baru saja menyelesaikan perkara restu yang selama ini menjadi penghalang utama hubungan mereka. Apakah maut juga ikut serta menjadi penghalang cinta mereka?


Jika memang kemungkinan terburuk adalah kematian, sungguh sangat menyedihkan untuk Vara. Baru sebulan lebih Vara melepas status jandanya, masa' iya dia harus kembali menjadi janda lagi?


Vara kembali menangis sesenggukan, harusnya saat ini mereka menyambut kehadiran para tamu undangan mereka. Menerima semua doa restu dari setiap tamu yang datang dan mengucapkan selamat untuk mereka.


Mereka segera berpindah ke depan ruangan operasi karena menurut informasi dari perawat yang tadi ditanya oleh Ryo, saat ini Viceroy sedang menjalani operasi akibat luka tusukan yang cukup dalam.


Vara hanya bisa menangis dalam diam, berdoa pada Tuhan agar masih memberikan suaminya kesempatan untuk bersamanya lagi dalam keadaan hidup.


Ryo pun nampak terpukul, entah mengapa ia merasa menyesal karena melarang adiknya itu untuk mengenakan rompi anti peluru saat akan memakai busana pengantinnya.


"Roy, untuk apa kau pakai rompi anti peluru? Tidak akan ada yang berani menembakmu, kau itu hanya mengadakan resepsi pernikahan, bukannya pergi perang," Ryo terkekeh saat ia juga mengenakan seragam pendamping pengantin.


Viceroy mematut dirinya di depan cermin, memang terlihat aneh saat ia melapis rompi anti peluru dengan busana pengantin. Sehingga Viceroy melepas rompi anti pelurunya.


"Kalau kalian lelah, kalian bisa beristirahat dulu, biar Paman yang menjaga Roy di sini," kata Vikar pada Ryo dan Vara.


Bang Vian beserta rombongannya benar-benar berjaga dengan baik untuk menemani Ryo dan Vara.


"Paman, saya tetap akan berada di sini menunggu suami saya," kata Vara.


"Vara, bagaimana kalau kita kembali ke hotel dulu untuk mengganti pakaian kita? Rasanya kurang nyaman karena mengundang perhatian," lanjut Ryo.


Vara sungguh tidak menyadari bahwa penampilannya begitu menyolok. Namun ia sungguh ingin selalu berada di sisi Viceroy, meski hanya dari luar ruangan.


Ryo sadar bahwa adik iparnya itu sama sekali tak ingin pergi meninggalkan suaminya.


"Baiklah, kalau begitu aku akan minta tolong pada sopir untuk membawakan pakaian ganti untukmu," kata Ryo.


...*****...


Usai berganti pakaian, Ryo segera menuju ke kantor polisi bersama kuasa hukum yang telah dihubunginya untuk mengusut perkara kasus penikaman yang dilakukan Sofia terhadap Viceroy.


Sofia nampak duduk tenang saat Ryo mengunjunginya. Ryo juga sudah mendapatkan informasi mengenai Sofia yang memang sudah merencanakan pembunuhan terhadap Viceroy. Tusuk konde yang menjadi senjata telah diamankan oleh pihak kepolisian. Tusuk konde itu terbukti sudah dimodifikasi pada bagian ujungnya agar menjadi lebih runcing sehingga dapat mengoyak apapun.


"Sofia, apa kau sama sekali tidak merasa bersalah atas perbuatanmu?" tanya Ryo.


Sofia tertawa.


"Untuk apa aku harus merasa bersalah, Kak? Bukankah yang salah itu justru Roy karena Roy tidak memilihku untuk menjadi istrinya?! Apa coba kurangku, Kak Ryo?!" tanya Sofia.


Kau kurang waras Sofia, jawab Ryo dalam hati.


"Roy itu cocoknya hanya denganku, Kak! Tidak ada wanita yang lebih pantas menjadi istri Roy selain aku! Aku sangat mencintainya, Tuhan sudah menciptakan Roy hanya untukku!" kata Sofia.


"Kak Ryo pasti tahu kan, sakit rasanya, saat semua orang sudah tahu bahwa aku yang akan jadi istri Roy, tapi di pelaminan, Roy malah bersanding dengan wanita lain. Vara si perempuan binal dan gatal yang sudah menggoda Roy! Mana bisa kubiarkan dia merebut Roy di depan mataku! Roy juga begitu, sudah jelas aku yang direstui Tante Virda untuk jadi istrinya! Tapi dia justru membiarkan wanita jahanam itu yang memilikinya! Tidak bisa aku terima itu, Kak!" cecar Sofia dengan air mata yang mulai berlinangan.


"Daripada Roy tidak bisa kumiliki, lebih baik sekalian saja tidak ada wanita lain yang bisa memilikinya! Jadi impas kan?!" kata Sofia.


Ryo bisa melihat perubahan ekspresi Sofia yang tadi nampak begitu sedih seketika berubah senang.


Ryo berusaha untuk tidak menunjukkan rasa gentarnya pada Sofia yang nampaknya memang telah kehilangan akal sehat.


"Sofia, sepertinya kau belum mengerti arti cinta yang sesungguhnya! Bagiku mencintai seseorang adalah dengan membahagiakannya, bukannya justru melukainya! Melihat orang yang kita cintai berbahagia meski bukan bersama kita, bagiku itulah arti cinta yang sebenarnya," kata Ryo sambil menatap lurus Sofia.


Sofia tertawa renyah.


"Kak Ryo bisa bicara seperti itu karena Kak Ryo tidak berada pada posisiku!" tandas Sofia.


"Sofia, aku bahkan lahir lebih dulu darimu! Jelas pengalaman hidupku jauh lebih banyak darimu! Sofia, penyesalan itu memang selalu datang di akhir, kalau di awal itu namanya pendaftaran," kata Ryo sambil mengulas senyum cemerlangnya.


"Jadi Sofia, kau harus terima semua akibat dari perbuatanmu! Mungkin pengadilan di dunia bisa kau nego, tapi pengadilan Tuhan tentu tidak bisa kau tawar!" lanjut Ryo.


Ryo segera meninggalkan Sofia yang nampak mematung. Ryo segera menemui tim kuasa hukum yang menunggunya.


"Pak, tolong proses hukum untuk Sofia benar-benar dijalankan dengan baik. Tuntut agar hukuman yang diberikan untuk Sofia benar-benar seberat-beratnya, agar dia tahu arti penyesalan yang sesungguhnya," kata Ryo pada mereka.


"Baik, Pak Ryo," kata mereka serempak.


...*****...


Vara segera memeluk ibu dan mertuanya yang baru saja tiba di rumah sakit. Saat ini mereka semua harus saling menguatkan satu sama lain. Virda memeluk erat Vara yang nampak rapuh. Virda merasa ia diterjang ombak penyesalan yang begitu dahsyat. Ia sungguh tak menduga bahwa Sofia yang dulu ia pilih untuk menjadi istri anak bungsunya akan melakukan hal sesadis itu ketika perjodohan mereka dibatalkan. Padahal anak bungsunya saat itu sudah memilih wanita terbaik untuk menjadi pendampingnya.


Virda sungguh salut pada menantunya ini. Padahal Virda sudah begitu banyak menzalimi Vara, wanita yang begitu penurut dan sama sekali tidak menuntut. Pantas saja Viceroy begitu bersikeras mempertahankan wanita ini.


"Vara, Ibu benar-benar minta maaf, ini semua salah Ibu, Ibu yang menjadi penyebab semua ini," kata Virda menyalahkan dirinya.


Air mata Virda kembali berlinangan di wajahnya yang nampak sudah lelah.


"Ibu, kita berdoa saja, semoga Viceroy baik-baik saja," kata Vara.


"Keluarga Pak Viceroy," seorang perawat keluar dari ruang operasi.


"Pasien ternyata kehilangan darah cukup banyak, adakah di antara keluarga yang bisa mendonorkan darah? Stok darah di PMI untuk golongan darah A kebetulan sedang kosong, sehingga kami butuh pendonor langsung," kata perawat itu melanjutkan.


Virda dan Ryo tidak memiliki golongan darah yang sama dengan Viceroy.


"Golongan darah Roy sama dengan golongan darah almarhum ayahnya," kata Virda.


"Golongan darah kami sama," kata Vikar dan Bang Vian bersamaan.


...*****...


Vara menatap Viceroy yang masih belum sadarkan diri pasca operasi. Menurut tim dokter yang menanganinya, beruntung tusuk konde yang menghujam perut Viceroy tidak mengenai organ yang vital. Hanya saja Viceroy benar-benar kehilangan banyak darah.


Viceroy sudah dipindahkan ke ruang VIP begitu keluar dari ruang operasi. Kini semua orang hanya tinggal menunggu pria itu sadar.


Lagi-lagi Vara meneteskan air matanya. Viceroy yang selalu senantiasa terlihat sehat kini nampak terkulai tanpa daya. Rambutnya yang hitam nampak lembut, matanya yang selalu menatap tajam itu tertutup rapat. Mulut yang pandai bicara dan meyakinkan, serta memiliki kemampuan mencium yang begitu baik itu hanya bisa terkatup rapat. Viceroy yang selalu nampak mengintimidasi itu kini justru tergeletak tak berdaya.


Vara meraih tangan suaminya dan menempelkan ke pipinya.


"Viceroy, kumohon segeralah bangun," kata Vara membiarkan dirinya kemudian terlelap karena rasa lelah yang menderanya.


...*****...


Ryo memasuki ruang VIP tempat adiknya dirawat. Sudah hampir tiga hari adiknya itu belum kunjung sadarkan diri. Ryo melihat Vara yang nampak tertidur sambil memegangi tangan adiknya. Ia bisa merasakan kesedihan yang dirasakan oleh Vara. Ryo membuka mantel yang ia pakai dan menyampirkannya ke punggung Vara.


Terbesit dalam benaknya, bagaimana jika adiknya itu tak kunjung sadar dan kemudian dinyatakan meninggal?


Setan pun membisikkan kemungkinan yang membuat Ryo merasa berdebar-debar.


Itu artinya, kau bisa memiliki Vara, Ryo.


Ryo menepis jauh-jauh bisikan setan yang menyusup di pikirannya. Saat ini ia sungguh berharap adiknya segera sadar dan sehat seperti sedia kala.


Ryo terkejut melihat Viceroy yang nampak mulai menunjukkan gerakan perlahan pada jemarinya. Perlahan matanya terbuka dan kepalanya bergerak untuk mengumpulkan kesadarannya.


Ryo segera menekan bel untuk memanggil perawat dan dokter, mengabarkan bahwa adiknya itu akhirnya telah sadar.


Vara merasakan ada gerakan tangan yang membelai wajahnya sehingga Vara terbangun dari tidurnya.


"Viceroy!" Vara menangis haru melihat suaminya itu menatapnya lembut.


...*****...


Keluarga Viceroy menyambut senang begitu mendengar kabar pria itu sudah bangkit dari ambang kematian. Tak henti-hentinya bapak dan ibu Vara melakukan sujud syukur saking senangnya mereka menyambut kebangkitan menantu mereka itu.


Virda menangis haru sambil memeluk erat Ryo yang juga nampak meneteskan air mata haru. Begitu pula Vikar dan Bang Vian beserta rombongan mereka yang begitu senang mendengar berita baik tersebut.


Bapak dan ibu langsung merangkul Vara yang menangis karena akhirnya suaminya itu tersadar juga.


Saat ini mereka semua sedang menunggu di luar ruangan VIP sementara tim dokter sedang memeriksa kondisi Viceroy. Terlihat tim dokter dan perawat keluar dari ruangan dengan wajah yang cerah.


"Dokter, bagaimana kondisi anak saya?" tanya Virda.


"Syukurlah, kondisi Pak Viceroy baik-baik saja, dengan perawatan yang intensif dan istirahat yang cukup, beliau akan segera pulih," jawab salah seorang dokter.


Terdengar kelegaan yang begitu besar dari mereka semua. Virda mengarahkan pandangannya pada anggota keluarga almarhum suaminya itu. Di saat tak satu pun keluarga besar Virda datang untuk mengunjunginya di rumah sakit, keluarga almarhum suaminya justru menemaninya.


...*****...


Keluarga Haji Bahra nampak begitu takut saat bertandang ke rumah Virda. Rasa bersalah dan rasa malu sungguh mendera keluarga itu. Entah keberanian macam apa yang masih tersisa sehingga mereka harus meminta maaf pada Virda.


"Kak Virda," kata Pak Haji Bahra.


"Kak Virda, kami minta maaf," kata Bu Haji Bahra.


"Kami sungguh tidak tahu bahwa Sofia akan berbuat senekat itu, Kak," kata Pak Haji Bahra.


"Maaf, Kak Virda," kata Bu Haji Bahra dengan air mata yang bercucuran.


"Kak Virda, tolong saja, Sofia itu baru bebas dari penjara, Kak," Pak Haji Bahra mulai ikut menangis.


"Pak Haji, Bu Haji, kalian merasa kecewa pada saya karena membatalkan pertunangan Roy dan Sofia, lihat betapa kecewanya saya karena Sofia mencoba membunuh Roy dan merusak pesta pernikahan Roy! Bayangkan jika Sofia benar-benar menjadi istri Roy, jangan-jangan aku pun akan dibunuhnya!" cecar Virda.


"Kak Virda, tolong kasihani Sofia, itu Sofia masih muda, masih panjang perjalanan hidupnya," kata Bu Haji Bahra menangis tersedu-sedu memohon kembali pengampunan Virda.


"Bu Haji, apa yang dilakukan Sofia sungguh sama sekali tidak termaafkan! Aku hampir kehilangan anakku yang begitu berharga karena ulah Sofia yang sama sekali tidak mencerminkan sikap kekeluargaan!" tandas Virda.


"Kak Virda, kita ini keluarga, Kak, tidak bisakah dibicarakan baik-baik?" tanya Pak Haji Bahra.


"Huh, keluarga?! Lebih baik aku tidak usah punya keluarga sekalian daripada harus mengakui pelaku kriminal sebagai keluarga! Mulai detik ini aku sungguh tidak peduli meski kalian sudah tidak menganggapku keluarga lagi!" Virda meluapkan kekesalannya.


"Baiklah Kak Virda, akan kuberitahu seluruh kelurga besar! Bahwa Kak Virda sudah tidak mau menjadi keluarga lagi!" kata Pak Haji Bahra dengan nada mengancam.


"Silakan saja! Toh, aku juga tidak minta makan dari kalian! Saat aku masih susah dulu, kalian bahkan tidak memedulikanku dan anak-anakku! Kalian toh mengakuiku sebagai keluarga karena aku sudah berharta! Benar begitu, kan?!" tandas Virda.


"Sampai jumpa di pengadilan Pak Haji, Bu Haji! Kupastikan Sofia mendapat hukuman seberat-beratnya atas perbuatannya itu!" tandas Virda.


Pak Haji dan Bu Haji Bahra pun pergi meninggalkan Virda. Bagi Virda saat ini, hukum harus ditegakkan, tidak peduli keluarga atau bukan, salah tetaplah salah di mata hukum yang berlaku.


...*****...


"Pak, tolong masalah itu diurus betul-betul," terdengar Viceroy sudah kembali sibuk berbincang di telepon.


Vara hanya bisa menggelengkan kepalanya. Suaminya ini benar-benar pria penggila kerja. Pria itu masih menjalani opname di rumah sakit, namun bukannya beristirahat malah justru sibuk mengurus pekerjaan. Menelepon ke sana kemari bahkan hingga terkesan mengabaikan Vara.


"Apa?!" seru Viceroy tertahan lantaran merasakan rasa nyeri pada luka pasca operasinya.


"Viceroy, tolong ingat, lukamu masih belum sepenuhnya sembuh," kata Vara yang mengawasi suaminya.


Viceroy menyeringai, ia menurunkan nada bicaranya menjadi lebih tenang. Kalau sudah terbawa emosi karena urusan pekerjaan, tensinya sudah pasti meninggi. Ia segera menutup telepon dan menyerahkan ponselnya pada Vara.


"Maaf, cantik," ia terkekeh.


Ryo terlihat memasuki ruangan tempat Viceroy dirawat bersama Virda.


"Ini Roy, semua makanan yang kau pesan," kata Ryo meletakkan beberapa bungkus makanan ke atas meja.


"Kemarikan, kepingin sekali aku makan semua itu," kata Viceroy.


"Kamu ini masih belum sembuh betul Roy, tolong makanmu dijaga dulu," kata Virda.


"Roy, tumben kau minta makanan yang aneh-aneh, kau ini seperti sedang mengidam saja," sahut Ryo.


Viceroy terlihat mengabaikan perkataan ibu dan kakaknya. Saat ini ia begitu senang melihat makanan yang dibawa Ryo. Ada jalangkote, sanggar Belanda, barongko, hingga pisang gapit.

__ADS_1


"Ini jalangkote paling enak, coba kau cicipi, Vara," kata Viceroy sambil menyodorkan makanan yang lebih Vara kenal sebagai pastel.


"Iya, enak sekali, beli di mana?" tanya Vara.


"Beli di langganannya Roy," jawab Ryo.


"Ini barongko, kalau Ibu yang bikin, rasanya juara," Viceroy kembali menyuapkan semua makanan yang dicicipinya ke mulut Vara.


"Roy, kasihan Vara, dari tadi kau jejalkan itu makanan ke mulutnya," tegur Virda.


"Ibu, ini enak, jadi Vara harus coba juga, lagipula aku suka sekali saat melihat Vara sedang makan," kata Viceroy seraya terkekeh melihat Vara yang nampak sibuk mengunyah makanan.


"Roy, rombongan Vikar mau kembali pulang, tolong aturkan perjalanan mereka," kata Virda.


"Mereka menunggu kapalmu yang akan mengantar mereka kembali pulang," kata Ryo.


"Tidak perlu, akan kusewakan helikopter yang lebih besar saja, supaya mereka lebih cepat sampai di tujuan," kata Viceroy.


...*****...


"Kalau begitu, kami pulang dulu, Kak Virda," kata Vikar berpamitan pada Virda dan Ryo.


"Iya Kak Virda, Ryo, nanti jalan-jalan ke kampung kami, ya," kata Bang Vian.


"Vikar, Vian, aku sungguh minta maaf dan kuucapkan terima kasih banyak pada kalian semua, entah dengan apa aku harus membalas kebaikan kalian semua," kata Virda.


"Kak Virda, kami semua masih ingat betul, Kak Virda dan Bang Vicram selalu baik pada kami, mana bisa kami melupakan kebaikan kalian," kata Vikar.


"Kak Virda, kita kan keluarga," kata Bang Vian.


"Sampai ketemu lagi, salam untuk semua keluarga di sana," kata Virda.


"Iya Paman, salam untuk keluarga di sana," kata Ryo sambil memeluk satu per satu pamannya itu.


Helikopter yang disewa Viceroy sudah menunggu untuk membawa semua rombongan pulang ke kampung mereka.


"Salam untuk Roy dan istrinya," kata Vikar.


"Mudahan Roy cepat sembuh dan cepat dikasih anak ya, Kak Virda," kata Bang Vian.


"Terima kasih, oh ya Bang Vian, ini titipanku untuk kalian dan juga keluarga di kampung," kata Virda menyerahkan amplop cokelat besar berisi banyak uang.


"Tidak usah repot-repot, Kak Virda," tolak Vikar.


"Sungguh, terimalah, aku tidak tahu oleh-oleh apa untuk keluarga di kampung," kata Virda.


"Terima kasih banyak, Kak Virda," kata Bang Vian.


"Kami pergi dulu," kata Vikar.


Satu per satu rombongan itu dikawal masuk ke helikopter, mereka bahkan melepas alas kaki mereka sebelum masuk ke helikopter.


...*****...


Semua mata tertuju pada Sofia yang nampak duduk tenang saat hakim membacakan hukuman lima belas tahun penjara untuk Sofia atas kasus percobaan pembunuhan yang dilakukannya terhadap Viceroy.


Keluarga Haji Bahra menangis histeris saat mendengar hakim mengetuk palu atas vonis tersebut. Mereka sungguh tak bisa menerima keputusan itu.


Virda dan Ryo merasa hukuman itu terlalu ringan untuk Sofia. Namun sepertinya itu keputusan yang lebih baik daripada Sofia bebas berkeliaran.


"Ryo, kau pasti bisa mengusir keluarga Haji Bahra untuk keluar dari kota ini, kan?" tanya Virda usai menghadiri persidangan Sofia.


"Tentu saja, Bu," jawab Ryo.


"Terserah, jika kita mau dianggap jahat! Daripada kedamaian kita terusik!" tandas Virda.


"Itu berlaku juga pada keluarga lainnya yang berani mengusik keluarga kita, Ryo, Ibu sungguh tidak bisa memaafkan mereka! Tidak masalah berapa pun uang yang harus dikeluarkan!" lanjut Virda.


"Baik Bu, aku mengerti," kata Ryo.


...*****...


Viceroy memeluk ibu dan kakaknya sebelum mereka berpisah di bandara. Viceroy sudah sepenuhnya pulih usai mendapat serangan mendadak dari Sofia yang nyaris merenggut nyawanya.


Ia mengantar kepergian Ryo yang harus melakukan operasi jantung di Jerman. Itu pun Ryo sempat mengundur keberangkatannya selama satu bulan lantaran menunggu sang adik pulih sepenuhnya.


"Roy, Vara, kalian harus saling menjaga satu sama lain," pesan Virda begitu melepas pelukan Vara.


"Iya, Bu," jawab Vara dan Viceroy serempak.


"Kalau begitu, sampai jumpa lagi," kata Ryo pada mereka.


"Ya, begitu tiba segera kabari kami," kata Viceroy.


Virda dan Ryo segera menuju ke pintu penerbangan internasional.


"Vara, mari kita pergi," kata Viceroy mengajak Vara untuk pergi.


...*****...


Viceroy segera menghentikan mobil yang dikemudikannya di pelataran parkir gedung Victory Grup.


"Viceroy, kenapa kita ke sini?" tanya Vara.


"Vara, berapa lama kau bekerja di Victory Grup?" Viceroy balik bertanya.


"Tujuh tahun," jawab Vara.


"Tujuh tahun dan selama itu kau hanya menjadi pegawai kontrak?" tanya Viceroy lagi.


"Ya, begitulah," jawab Vara.


"Vara, mulai hari ini, kau bos di perusahaan ini," kata Viceroy.


Vara tercengang mendengar perkataan Viceroy.


"Mana bisa begitu, Viceroy!" sergah Vara.


"Kenapa tidak bisa? Sekarang kan kau istriku, perusahaan ini milikku, lalu artinya apa?" tanya Viceroy.


Vara terlihat nampak berpikir. Viceroy segera meraih bibir Vara untuk mendaratkan satu kecupan lembut.


"Apa pun milikku tentu menjadi milikmu juga," kata Viceroy sambil tersenyum.


"Jadi maksudmu, kau memberiku hadiah berupa perusahaan ini?" tanya Vara keheranan.


"Vara, aku bukan manusia super yang bisa mengurus semua pekerjaanku sendiri, sehingga aku butuh seseorang yang bisa kupercaya untuk membantuku, dan aku memilihmu, apakah kau keberatan?" tanya Viceroy.


"Viceroy, aku tidak yakin apakah aku bisa," jawab Vara.


"Vara, yang penting yakin dulu, urusan bisa itu karena biasa," kata Viceroy.


"Vara, kau jangan cemas, semua keputusan tetap di tanganku, kau hanya perlu mendiskusikan semua pekerjaan yang ada di perusahaan ini padaku," lanjut Viceroy.


"Yah, dengan catatan, begitu Ryo kembali, tentu kita harus fokus bekerja sama untuk makin mengembangkan Royal Grup bersama-sama," Viceroy tersenyum lagi.


"Bagaimana, setuju?" tanya Viceroy.


"Cium bibirku, jika kau setuju," kata Viceroy.


Vara sungguh tak perlu merasa sungkan saat harus mencium Viceroy yang juga balas memberinya ciuman lembut.


Vara melangkah keluar dari mobil mendampingi Viceroy. Semua mata langsung menyambut kehadiran mereka. Mereka semua tentu terkejut saat melihat kehadiran Vara yang datang bersama bos besar mereka.


Alya, Imel, dan Dinda menjadi orang yang paling terkejut melihat kedatangan Vara.


Viceroy segera mengumpulkan semua karyawan yang ada.


"Selamat siang semuanya, terima kasih sudah bersedia meluangkan waktu untuk berkumpul sekarang. Hari ini, saya mengumumkan penunjukkan langsung Ibu Varadisa selaku istri saya untuk menangani seluruh kegiatan operasional Victory Grup, apa pun yang berhubungan dengan kegiatan operasional perusahaan silakan langsung berkoordinasi pada beliau," kata Viceroy.


Terlihat semua orang tercengang mendengar pengumuman bos mereka. Semua teman-teman Vara terkejut dan terheran-heran. Vara pun sebenarnya masih belum bisa memercayai semua ini.


Selama tujuh tahun ia bekerja dengan baik berharap sangat bahwa statusnya sebagai pegawai kontrak bisa dipermanenkan. Ia bahkan menolak untuk ikut pulang kampung bersama orang tuanya demi mempertahankan pekerjaan yang sudah menyita hampir seluruh waktunya. Dedikasi dan loyalitas yang tak perlu diragukan lantaran keinginannya untuk mendapat status sebagai pegawai tetap di Victory Grup. Hingga akhirnya ia memutuskan untuk mundur lantaran menyerah pada impian sederhananya itu.


Namun siapa yang bisa menduga bahwa suaminya yang selalu penuh dengan kejutan ini justru memberikan perusahaan ini padanya, meski hanya bersifat sementara tapi tetap saja, ia menjadi bos di perusahaan ini.


Alya, Imel, dan Dinda menghampiri Vara yang terlihat dikerumuni teman-temannya yang menyambut senang sekaligus tak percaya bahwa Vara kembali ke Victory Grup namun langsung menjadi bos sekaligus istri dari Pak Roy.


"Mbak Vara, sungguh benar-benar kejutan," kata Jenah.


"Wah, Vara langsung dapat bos," Mbak Rani terkekeh.


"Ternyata apa kata Sofia benar ya, kau pelakor!" sahut Imel.


Suasana pun seketika menegang berkat ucapan Imel.


"Kau membuang tukang ojekmu lalu menggoda Pak Roy!" Alya menambahi.


"Wajar sih, akhirnya Sofia begitu marah padamu, kau terang-terangan merebut Pak Roy yang jelas akan menjadi suami Sofia!" celetuk Imel.


"Mohon maaf semuanya, kalian salah jika menyebut Vara menggoda saya!" kata Viceroy yang langsung menghampiri Vara.


Vara terkejut melihat kehadiran Viceroy.


"Lagipula tukang ojek yang kalian sebut itu sebenarnya adalah saya sendiri, jadi tidak masalah kan jika Bu Vara menggoda saya?" kata Viceroy.


Vara tersenyum melihat Viceroy yang mengedipkan sebelah matanya.


"Mari Bu Vara, masih banyak yang harus kita diskusikan," kata Viceroy mengajak Vara pergi.


Terlihat wajah Alya, Imel, dan Dinda yang nampak memucat seakan darah surut dari wajah mereka. Tiba-tiba saja mereka semua jadi teringat perbuatan mereka yang sudah begitu nyinyir terhadap hidup Vara.


"Sepertinya aku harus menulis surat pengunduran diriku," kata Alya.


...*****...


"Selamat sore, Bu Vara," sapa Putri, resepsionis yang bekerja di Royal Grup, tersenyum ramah pada Vara.


Senang sekali rasanya melihat wanita cantik itu, kini dengan perut yang semakin membesar, setiap kali berkunjung ke Royal Grup.


"Selamat sore," balas Vara. "Masih ada tamu Pak Roy, ya, Put?" tanya Vara.


"Iya Bu, Pak Roy masih bersama tamunya di ruang rapat," jawab Putri.


"Kalau begitu, saya tunggu saja di ruangan beliau," kata Vara.


"Baik, Bu," jawab Putri.


Putri masih mengingat dengan jelas wanita dengan nama unik ini sebagai peserta tes penerimaan karyawan. Ia sungguh tak menduga bahwa wanita inilah istri Pak Roy yang sesungguhnya.


Putri tentu tidak bisa lupa saat wanita itu datang, ia pikir wanita itu datang menemui Pak Roy untuk wawancara kerja. Sehingga Putri membiarkan Vara menunggu selama tiga jam lamanya. Putri terlalu takut untuk menghubungi Pak Roy lantaran pria itu sedang mengadakan rapat internal. Putri masih belum bisa lupa bagaimana bosnya itu mengamuk memarahinya. Namun wanita itulah yang membela Putri.


"Pak Roy, tidak apa-apa, Anda kan begitu sibuk, jadi saya bisa memakluminya," kata Vara.


"Putri, lain kali kalau istri saya ini datang, langsung antar ke ruangan kerja saya saja!" kata Viceroy.


Putri terperangah.


"Bu Vara, kenapa tidak memberitahu lebih awal?" tanya Putri ke arah Vara.


"Maaf, saya tidak mau disangka wanita halu lantaran sembarangan mengaku-ngaku sebagai istrinya Pak Roy," Vara tersenyum.


Yah, Vara memang harus memahami bahwa masih banyak orang yang tidak tahu statusnya sebagai istri Viceroy lantaran resepsi pernikahannya yang hancur berantakan akibat ulah Sofia.


"Bu Vara itu sungguh cantik, ramah, dan sopan ya, Mbak Ratih," kata Putri.


"Apalagi selama hamil ini, beliau sungguh terlihat makin cantik," puji Putri lagi.


"Kau benar Put, auranya keluar sekali," puji Mbak Ratih.


"Sungguh aku kaget sekali ternyata istri Pak Roy adalah Bu Vara! Sungguh tak kusangka wanita itu bahkan pernah sempat ikut tes melamar kerja di sini," kata Mbak Ratih.


"Pak Roy memang luar biasa, istrinya saja harus ikut tes kerja ya kalau mau bekerja bersama beliau," Putri terperangah.


"Itulah mengapa Pak Roy benar-benar orang yang sangat profesional dalam bekerja," komentar Ratih.


...*****...


Perut Vara semakin membesar, usia kehamilannya saat ini sudah memasuki minggu terakhir. Menurut prakiraan dokter kandungan, ia memang akan melahirkan dalam minggu ini. Harusnya Vara sudah mengambil cuti untuk beristirahat. Namun pekerjaannya sungguh belum bisa ia tinggal.


Vara dan Viceroy sepakat untuk tidak membahas masalah pekerjaan saat mereka berada di rumah. Sehingga setiap tiga hari sekali, Vara pasti mengunjungi Royal Grup untuk membahas pekerjaannya dengan suaminya itu.


Vara mengelus perutnya, ia sungguh tak menyangka perutnya akan membuncit sebesar ini. Kehamilan pertamanya ini benar-benar sebuah anugerah yang begitu luar biasa. Anak pertama dan akan menjadi cucu pertama yang kehadirannya memang sudah begitu dinantikan.


Viceroy memasuki ruang kerjanya dan menatap lembut istrinya yang sedang mengelus perut besar itu. Ia segera duduk di sofa lalu menciumi perut Vara dengan gemas.


"Anak bapak masih betah di dalam, ya?" tanya Viceroy sambil mengelus perut Vara.


"Ehem, Pak, kita bahas pekerjaan dulu, ya," sahut Vara.


"Vara, bukankah sebaiknya kau sudah mengambil cuti?" tanya Viceroy.


"Aku lebih suka di kantor, ramai dan banyak orang," jawab Vara.


"Lagipula di kantor banyak teman-teman yang memberi banyak wejangan untuk menyambut kelahiran anak kita," kata Vara.


"'Baguslah kalau begitu," kata Viceroy menatap Vara lekat-lekat lalu meraih bibir Vara.


...*****...


Ozy bergegas menuju ke ruangan Pak Roy untuk mengajukan estimasi pembayaran pajak. Ozy tahu sudah terlambat baginya untuk menemui Pak Roy di saat jam pulang kantor. Hanya saja, mumpung pria itu ada di kantor, tentu saja ia harus menemui beliau mengingat betapa sibuknya Pak Roy hingga hampir-hampir sulit untuk ditemui.


Ozy mengedarkan pandangan, ia mengintip mencari tahu apakah Pak Roy masih ada di ruangan kerjanya.


Ozy terperanjat saat menyaksikan adegan yang membuat jantungnya seakan berhenti berdetak. Ia melihat Pak Roy yang sedang duduk memangku seorang wanita di atas sofa. Terlihat keduanya saling berciuman mesra.


Dokumen yang dibawa Ozy sampai jatuh berserakan di lantai. Yang lebih mengejutkan lagi, wanita yang berada di pangkuan Pak Roy adalah Vara. Ozy terkesiap karena dua insan itu langsung mengarahkan pandangan mereka pada Ozy yang terpaku di ambang pintu. Vara segera turun dari pangkuan Viceroy. Entah mengapa ia merasa sungkan karena tertangkap basah seperti ini.


"Ozy," sapa Vara.


"Vara, kok kamu bisa ada di sini?!" tanya Ozy keheranan.


"Memangnya salah ya, istri saya datang menemui saya, Pak Ozy?" tanya Viceroy ke arah Ozy.


Ozy terkesiap mendengar perkataan bosnya itu. Ozy melemparkan tatapannya ke arah Vara dan Pak Roy secara bergantian.


Pak Roy adalah suami Vara?


Vara adalah istri Pak Roy?


Itu artinya Pak Roy dan Mas Tampan adalah orang yang sama?


Vara sungguh keheranan, mengapa Ozy berekspresi seperti itu?


Apa Ozy sungguh tidak mengenali Viceroy?

__ADS_1


Ozy terbelalak, matanya melotot lebar hingga nyaris lepas, napasnya tertahan, tubuhnya mengejang saat menggelepar di lantai. Ozy bahkan berguling-guling seperti cacing kepanasan.


"Ozy!" seru Vara.


Wahai para setan, makhluk halus, dedemit penghuni ruang kerja Pak Roy, rasuki aku sekarang! Batin Ozy menjerit.


Ozy sungguh berharap ia kerasukan sekarang. Ia benar-benar merasa malu jika mengingat bagaimana ia menistakan suami Vara. Ozy masih ingat dengan jelas bagaimana ia menggoda dan mencubit gemas suami Vara. Ozy juga tentu tak boleh melupakan bagaimana ia menceritakan dengan hebohnya tentang Pak Roy yang galaknya bak blasteran dari neraka.


"Viceroy, Ozy sepertinya kesurupan setan!" kata Vara terlihat panik.


"Coba sini kuinjak bijinya Ozy, siapa tahu setannya langsung keluar!" kata Viceroy.


"Oh jangan, Pak! Itu masa depan!" Ozy langsung berguling dan menelungkup seperti sendok di atas piring.


"Tuh, lihat Vara, mana ada orang bisa kerasukan setan," kata Viceroy seraya tertawa.


"Ozy, sudah bangun, mau tiduran sampai kapan?" tanya Vara.


Ozy terlihat segera duduk bersimpuh.


"Vara, aku ini lagi malu semalu malunya!" Ozy terlihat begitu depresi.


"Tapi kemaluanmu masih ada, kan?" tanya Viceroy balas menggoda Ozy karena biasanya Ozy-lah yang menggoda Viceroy.


"Ada dong itu, Pak," sungut Ozy sambil memegangi barang berharganya itu.


"Vara, kok kamu tidak bilang kalau Pak Roy ini suamimu?" tanya Ozy ke arah Vara.


"Kamu sengaja menjebakku untuk mempermalukanku?" tanya Ozy lagi.


"Pak Ozy, bagaimana kau bisa menuduh Vara seperti itu? Bukankah justru kau sendiri yang tidak memercayai bahwa saya adalah suami Vara," kata Viceroy membela Vara.


Ozy terdiam dan tak mampu berkata-kata.


"A-ampun Pak, habisnya saya pikir Anda itu orang yang berbeda, yah, cuma mirip tapi beda nasib saja!" cerocos Ozy.


'Rasanya saya masih belum bisa percaya, bahwa Anda orang yang sama dengan Mas Tampan! Anda begitu galak sementara Mas Tampan begitu ramah," kata Ozy.


Vara tersenyum ke arah Viceroy yang nampak menghela napas berat. Viceroy bukannya galak, ia hanya tegas dan keras dalam bekerja.


"Lantas karena saya terlihat berbeda maka Anda juga beda dalam memperlakukan saya, begitu?" tanya Viceroy pada Ozy.


"Ya tidak berani dong, Pak! Sama saja saya menggali lubang kubur sendiri!" kata Ozy.


Vara tertawa mendengar penuturan Ozy.


"Vara, jangan tertawa seperti itu, nanti ketubanmu pecah duluan!" cibir Ozy.


"Ozy, sungguh tak bisa kubayangkan, bagaimana seandainya kau datang ke resepsi pernikahan kami lalu benar-benar kesurupan?!" Vara kembali tertawa.


"Sepertinya ada hikmahnya ya, aku terkena diare saat itu! Makanya tidak bisa pergi sama sekali, eh, sekalinya dapat berita kalau Pak Roy kena tusuk begitu," cerocos Ozy lagi.


"Yah, namanya musibah, siapa yang mau minta-minta Ozy," kata Vara.


"Jadi Pak, bagaimana rasanya biasa menusuk tiba-tiba ditusuk?" tanya Ozy.


"Mantap memang tusukannya Pak Roy ini, sampai Vara buncit begitu!" Ozy terkekeh geli.


Vara tertawa lagi.


"Minta memang diinjak batang lehernya Ozy ini," kata Viceroy.


"Jangan diinjak leher saya Pak, saya maunya dicupang di leher!" kata Ozy.


Vara kembali tertawa melihat Ozy.


"Aduh, aduh perutku!" Vara merasa tiba-tiba perut buncitnya berkontraksi lantaran menertawakan Ozy.


"Vara, kau kenapa?" tanya Viceroy.


"Viceroy, perutku sakit!" jawab Vara.


Vara merasa perutnya bergejolak hebat, ia menahan rasa sakit yang muncul bak gelombang-gelombang. Inikah yang dinamakan gelombang cinta yang dikatakan para bidan saat ia mengikuti senam hamil? batin Vara bergejolak.


Ia berusaha untuk berdiri, tiba-tiba ia merasakan adanya rembesan air yang keluar dari tubuhnya yang membasahi bajunya. Ternyata darah yang keluar dari tubuhnya.


"Waduh Vara, kau harus cepat ke rumah sakit! Kau akan melahirkan!" seru Ozy nampak panik.


"Apa?!" seru Viceroy yang langsung panik seketika.


Saat itu juga, ia harus membawa Vara pergi ke rumah sakit bersalin.


...*****...


Ozy mendampingi pasangan suami istri itu. Terlihat Vara berjuang menahan rasa sakit yang luar biasa menjalar di sekujur tubuhnya.


Vara segera duduk di kursi roda karena ia merasa sudah tidak mampu untuk berjalan.


"Vara, sabar ya," kata Viceroy berusaha menenangkan Vara.


Viceroy segera mengurus administrasi rumah sakit. Untunglah ada Ozy yang bisa menemani mereka.


"Vara, apa kau sudah menghubungi orang tuamu? Mengabarkan pada mereka bahwa kau akan segera melahirkan?" tanya Ozy.


"Orang tuaku sedang pergi liburan, tur keliling tanah air," jawab Vara sambil menahan rasa sakitnya.


"Mertuamu? Iparmu?" tanya Ozy lagi.


"Mertua dan kakak iparku sedang berada di luar negeri," jawab Vara.


"Wah, daebak! Luar biasa, keluarga Sultan," kata Ozy.


"Ozy, ini bukan saatnya untuk kagum! Aku benar-benar kesakitan!" kata Vara.


"Vara, kata kakak-kakak iparku, ingat prinsip bahwa buatnya enak-enak, melahirkannya harus enak juga!" kata Ozy.


Vara tertawa mendengar perkataan Ozy. Entah mengapa yang dikatakan Ozy adalah sebuah kebenaran. Entah mengapa tertawa membuat rasa sakit Vara berkurang.


"Ibu Varadisa, mari ke ruang persalinan untuk observasi dulu," kata seorang bidan mengajak Vara.


"Ihiy, Vara sebentar lagi kamu jadi emak-emak," goda Ozy.


Vara terlihat mulai menangis lagi, rasa sakit yang dialaminya setiap menit terasa begitu menggila. Viceroy segera memeluk Vara dan mengusap lembut bagian punggung ke bawah.


"Bu Vara, jangan mengejan dulu, ya," kata bidan yang menangani Vara.


"Sakitnya sebentar saja, coba bayangkan sebentar lagi anak ibu akan lahir," lanjut bidan itu menasehati Vara.


Vara kembali menguatkan dirinya.


Ozy benar-benar merasa kasihan melihat Vara yang nampak tersiksa oleh rasa sakitnya.


"Apa perlu dioperasi saja?" tanya Viceroy pada Vara.


Vara menggeleng, ia sungguh ingin melahirkan secara normal. Menurut teman-temannya, melahirkan secara normal akan lebih cepat pulihnya daripada operasi caesar.


Vara sudah memulai proses persalinannya. Terlihat tiga bidan yang keluar dari ruang persalinan dengan raut wajah kelelahan.


"Padahal bukaan sudah lengkap, ketuban sudah pecah, kepalanya sudah terlihat, tapi belum juga bisa keluar," kata kepala bidan.


"Sayang sekali, tinggal sedikit lagi, ibunya tidak bisa mengejan dengan baik," sahut bidan yang lain.


"Apa sebaiknya kita siapkan alat vakum?" usul bidan yang lain.


Ozy yang mendengar obrolan bidan itu nampak terkejut.


Ozy menerobos masuk ke ruang bersalin dengan berjalan mundur, ia tentu tak mau melihat hal yang tidak perlu ia lihat.


"Ozy, ngapain kamu ikut masuk?" tanya Viceroy.


"Pak, gawat! Kalau anak kalian tidak segera lahir, nanti akan divakum! Sungguh berbahaya sekali loh vakum itu! Kepalanya disedot begitu kan jadinya!" kata Ozy masih menghadap ke arah tembok.


"Waduh, bahayanya!" Viceroy tercengang.


"Pak Roy, bisa kita bicara di luar sebentar? Tidak enak saya bicara sama tembok begini," kata Ozy.


...*****...


"Pak, mungkin Vara itu kurang rileks, dia tegang sekali, makanya anak kalian belum juga lahir," kata Ozy.


"Begitukah?" tanya Viceroy.


"Iya Pak, saya punya lima kakak perempuan, jadi saya tahu betul," kata Ozy.


"Jadi solusinya bagaimana?" tanya Viceroy.


"Kita buat Vara merasa senang, agar dapat menghilangkan rasa tegangnya!" sahut Ozy bersemangat.


"Ayo Bu, sedikit lagi, Bu," kata para bidan yang sudah bersusah payah membantu persalinan Vara.


Viceroy segera masuk kembali ke ruang persalinan membawa Ozy yang menutup matanya. Viceroy segera membuka dasinya lalu mengikat dasi tersebut untuk menutup mata Ozy.


"Pak Roy, kita jadi seperti di film Fifty Shade of Roy!" seru Ozy bersemangat.


"Love me like you do, love, love me like you do," Ozy mulai menyanyi sambil menggerayangi Viceroy.


Vara dan para bidan tertawa terbahak-bahak melihat aksi Ozy. Viceroy bahkan rela Ozy memeluknya demi mendapatkan adegan sensual yang justru terlihat begitu kocak di mata Vara dan para bidan.


"Eh, itu kepala anakku keluar!" seru Viceroy.


Para bidan dengan sigap menyelesaikan tugas mereka. Terdengar jerit tangis bayi yang langsung memenuhi ruang persalinan itu.


"Wah, sudah lahir, ya!" seru Ozy masih dengan mata tertutup dasi.


"Ozy, jangan buka mata dulu!" sergah Viceroy.


Vara sungguh tak menduga anaknya lahir dengan cara yang tak terduga. Viceroy segera mengecup kening Vara yang mulai menangis haru.


"Selamat ya, Bapak dan Ibu, anak laki-laki kalian lahir dengan sehat dan sempurna," kata kepala bidan itu masih terlihat menahan tawanya.


Sungguh baru kali ini ada kejadian ibu hamil yang melahirkan karena tertawa terbahak-bahak.


Ozy terlihat merangkak keluar dari ruang bersalin. Syukurlah ia senang Vara sudah melahirkan dengan selamat.


Viceroy segera keluar dari ruang bersalin untuk menemui Ozy yang duduk di bangku panjang yang ada di depan ruang bersalin.


"Pak Ozy, saya ucapkan terima kasih atas bantuan Anda," kata Viceroy.


"Tidak masalah Pak, saya sungguh senang bisa membantu teman saya," kata Ozy.


...*****...


Vara segera menggendong bayinya yang baru lahir. Bayi bermata besar dengan hidung yang mancung, kulitnya berwarna merah muda lembut begitu bersih dengan rambut hitamnya tebal.


"Aduh, bagus sekali hasil perbuatan kalian berdua!" seru Ozy heboh.


"Jadi ingin punya juga?" tanya Vara.


"Yah, mau sih, tapi belum ada yang mau jadi ibunya," jawab Ozy seraya terkekeh.


"Ozy, terima kasih banyak, ya," kata Vara.


Ozy tersenyum sumringah.


"Jadi, siapa nama anak ganteng kalian?" tanya Ozy.


Vara dan Viceroy berpandangan.


"Roywan Lavais," jawab Viceroy mantap. "Bagaimana menurutmu, Vara?" tanya Viceroy.


"Tidak masalah," jawab Vara.


Ozy tersenyum melihat pasangan yang sangat berbahagia itu. Ia segera meninggalkan keduanya untuk memberi mereka berdua waktu.


Viceroy kembali mengecup kening Vara, mereka berdua meneteskan air mata haru bersama.


"Vara, terima kasih, sudah memilih untuk hidup bersamaku," kata Viceroy.


"Viceroy, semoga kita selalu berbahagia selamanya," kata Vara.


"Itu pasti, you are my paradise, Varadisa," kata Viceroy menatap lembut Vara dan juga anak mereka.


...*****...


Epilog


PoV Vara


Pagi ini aku turun dari mobil jemputan yang mengantarku ke sekolah. Hari ini aku datang terlambat karena merasa kurang enak badan, namun aku memaksakan diri karena hari ini adalah hari pertamaku memakai seragam putih abu-abu. Terlihat banyak murid lain yang juga terlambat datang. Mataku menangkap sosok pemuda bertubuh tinggi dan kurus dengan sorot mata tajam dengan wajah yang nampak jelas seakan mengajak orang lain untuk baku hantam.


"Kalian ini hari pertama pakai baju putih abu-abu sudah terlambat," kata seorang guru piket.


Aku pun mendapat hukuman untuk memungut sampah yang berada di lingkungan sekolah.


"Kau tidak usah memungut yang di sebelah situ, biar aku saja," kata pemuda berwajah sangar itu padaku.


Pemuda itu menggantikanku memungut sampah, sementara aku hanya duduk di bawah pohon sambil mengamatinya.


Ketika tiba di kelas, aku kaget karena melihat pemuda itu juga berada di kelas yang sama denganku.


"Viceroy Lavais," pemuda itu memperkenalkan namanya yang terdengar aneh di depan kelas.


Terdengar semua orang menertawakan nama pemuda itu, namun bagiku namanya terdengar sangat unik.


Aku terus memerhatikan pemuda yang nampak selalu sendirian. Ia duduk di barisan depan dekat pintu masuk, ia selalu sendirian, tidak pernah ada yang menemaninya. Pemuda itu selalu nampak terkucilkan.


Entah sejak kapan aku jadi selalu memerhatikan Viceroy. Terlebih saat kami satu kelompok sebagai petugas piket karena nama kami sama-sama berawalan huruf V. Viceroy sungguh pemuda yang bertanggung jawab. Ia selalu mengangkat semua kursi ke atas meja sendiri dan menyapu kelas hingga bersih.


Aku selalu melihat Viceroy yang memilih tidur saat istirahat daripada jajan di kantin. Aku selalu menraktir teman-teman di kelasku setiap minggunya karena uang jajan yang diberikan bapak dan ibuku sangat banyak. Aku sungguh ingin mengenalnya, karena sepertinya aku menyukainya. Viceroy sungguh berbeda dengan kebanyakan pemuda di kelasku atau pemuda lain yang kukenal pada umumnya. Dia begitu dewasa dan tenang, atau karena dia memang pendiam?


Entahlah, yang pasti dia sangat berbeda.


Meski banyak pemuda berwajah tampan yang menjadi idola para gadis, di mataku hanya ada pemuda itu.


Aku sungguh kaget saat Viceroy mengajakku bicara untuk pertama kalinya. Aku pikir dia akan menyatakan cinta padaku. Ternyata dia justru menuduhku mencuri lip balmnya.


Viceroy jadi semakin menghindariku sejak kejadian itu. Kami pun benar-benar tidak pernah bicara lagi sejak saat itu. Meski kami selalu satu kelas selama tiga tahun lamanya.


Tiga tahun berlalu, tibalah hari kelulusanku. Aku dan semua teman-temanku merayakan kelulusan kami dengan mencoret-coret baju. Kami membubuhkan tanda tangan di seragam putih kami secara bergantian. Namun lagi-lagi pemuda itu menolak dan memilih pergi menghindar dari aksi coret-coret baju.


Hari itu terakhir kalinya aku melihat sosok Viceroy yang kemudian menghilang bak ditelan bumi. Ya, aku pun akhirnya kehilangan cinta pertamaku yang tak pernah tersampaikan.


Sedih sih, tapi mau dikatakan apalagi?


Setidaknya aku pernah merasakan jatuh cinta untuk pertama kalinya sebelum akhirnya harus menerima perjodohan yang telah diaturkan oleh kedua orang tuaku.

__ADS_1


Tuhan kalau dia memang jodohku, tolong persatukan kami dengan cara yang istimewa, jika dia bukan jodohku, tolong diperiksa lagi, siapa tahu salah.


- End -


__ADS_2