
Vara meletakkan ponselnya ke atas meja usai memeriksa pesan yang masuk, ia kembali melanjutkan makan malamnya di sebuah pusat kuliner yang ada di pusat perbelanjaan. Ia sedang makan malam bersama Santika dan Ozy. Ozy adalah pria kemayu yang menjadi teman Vara saat mengikuti kursus memasak. Ozy ini sebenarnya diam-diam menyimpan rasa untuk Santika, namun pria ini tidak berani mengatakannya karena sudah terlanjur nyaman bersahabat dengan dua wanita modern dan mandiri ini.
"Cie, cek pesan dari suami ya, Vara?" goda Santika.
"Akhirnya, terpakai juga ilmu dari kursus masaknya," sahut Ozy.
"Haha, ilmuku belum bisa diterapkan, suamiku bahkan belum ada menemuiku sejak akad nikah kami," kata Vara sambil mengunyah capcay.
"Ih waw, berarti kalian belum ada bulan madu?" tanya Ozy.
"Yang ada aku jadi bulan-bulanan ibuku, para tetangga sudah terlanjur kepo, menanyakan suamiku yang tak kunjung datang! Mereka semua berpikir bahwa suamiku pergi meninggalkanku begitu saja!" sahut Vara seraya tertawa.
"Padahal suamimu sibuk dengan pekerjaannya?" tebak Santika.
"Ya, dia sepertinya memang sibuk sekali, setiap aku mencoba menghubunginya, teleponnya selalu sibuk," kata Vara.
"Astaga, Vara, kau ini, istri kedua ya?" tebak Ozy. "Atau jadi istri kesekian?" tanya Ozy.
"Ozy, kalau dia sudah punya istri, untuk apa menikahiku?!" gerutu Vara.
Ya, untuk apa Viceroy repot-repot mencari rekan menikah hanya untuk mengubah status di kartu tanda penduduknya saja.
"Ozy, kau sendiri bagaimana bekerja di tempat yang baru?" tanya Vara mengalihkan pembicaraan.
"Hmm, yah dijalani saja, gajinya besar, tapi katanya pemiliknya galak, aku memang belum pernah bertemu langsung dengan bosnya! Kabarnya, bosnya masih dalam masa bulan madu karena baru saja menikah," sahut Ozy sambil terkekeh.
"Vara, apa orang tuamu sudah pulang kampung?" tanya Santika.
"Belum, mereka mengundurnya sampai suamiku datang dan menjemputku," jawab Vara.
"Sungguh, penasaran sekali dengan suamimu, Vara," kata Santika.
"Haha, dia hanya teman sekelasku waktu masih SMA," jawab Vara.
__ADS_1
"Serius? Jadi, ceritanya ini cinta lama bersemi kembali?" Ozy bertepuk tangan heboh.
"Maaf ya, ini tidak seperti yang kalian bayangkan!" sahut Vara mengedikkan bahunya.
Ponsel Vara kembali berdering, Vara mendelik gusar.
"Suamimu ya, Vara? Cepat jawab!" perintah Ozy.
Vara menjawab teleponnya.
"Kau di mana?" tanya Viceroy di seberang sana. "Kau seperti tidak sedang bekerja."
"Ya, aku memang sedang makan malam bersama teman-temanku," jawab Vara.
Hening, tak ada jawaban dari Viceroy.
"Kau sudah makan malam?" tanya Vara.
"Baiklah, kita bertemu di rumah orang tuaku dua jam lagi," sahut Vara.
Vara masih mau menghabiskan waktu dengan teman-temannya ini, karena kapan lagi Vara bisa punya waktu luang sepulang bekerja.
"Kita harus bertemu sekarang, aku akan menjemputmu," kata Viceroy.
"Ke sini saja, Mas, kita ketemuan," Ozy menyahut lalu tertawa.
Vara melotot ke arah Ozy. Viceroy mengerutkan keningnya saat mendengar suara pria menyahut.
"Haha, Ozy, mulut Ozy, mulut," Vara tertawa namun masih melotot.
"Baiklah, aku ke sana sekarang, silakan berbagi lokasi," Viceroy menutup teleponnya.
"Hore, bisa bertemu suami Vara!" seru Ozy heboh.
__ADS_1
"Ayo tebak, suami Vara orangnya seperti apa?!" Ozy menyeruput es tehnya.
"Kata Vara, wajahnya cocok memerankan tokoh antagonis," sahut Santika.
Vara hanya tersenyum melihat kedua temannya yang melotot ke luar jendela, menunggu kedatangan suami Vara.
"Apa orangnya seperti bosmu yang tampan itu, Vara?" tanya Ozy.
"Jauhlah, lebih tampan bosku," sahut Vara.
Terlihat seorang pria bertubuh gempal nampak melambaikan tangan ke arah mereka. Ozy memutar bola matanya.
"Masa', itu suamimu Vara?" tanya Ozy.
"Bukan," sahut Vara.
Ternyata pria bertubuh gempal itu melambai ke arah pengunjung yang duduk di belakang mereka.
Terlihat pria bertubuh kurus memasuki tempat makan.
"Pasti itu ya, suamimu Vara, tipe pria kesukaanmu yang ramping-ramping begitu," tebak Santika.
Santika memang pernah melihat foto Pak Ryo, bos di tempat Vara bekerja yang selama ini menjadi idola Vara.
"Teman-teman, aku cuci tangan dulu," Vara berpamitan membiarkan teman-temannya masih bermain tebak-tebakan.
Ozy menangkap sosok pria bertubuh tinggi yang memasuki tempat makan. Ozy sampai tersedak saat mengunyah es batu. Pria tinggi dengan wajah begitu rupawan yang langsung mencuri perhatian pengunjung. Pria itu terlihat celingukan, seperti sedang mencari seseorang.
"San, lihat arah jam dua belas!" kata Ozy.
"Gila! Tampan sekali! Apa dia model? Aktor?" kata Santika terpana.
Mereka tambah melongo karena pria tampan itu menuju ke meja mereka. Ozy bahkan tidak bisa menutup mulutnya karena terlalu terperangah.
__ADS_1