
"Yang Mulia Ratu, apa ada yang bisa hamba bantu?" tanya Viceroy menghampiri Vara yang sibuk memasak makan malam begitu mereka tiba di rumah.
Vara tersenyum ke arah Viceroy yang langsung memberinya kecupan lembut di keningnya.
"Duduk manis saja," jawab Vara.
Viceroy langsung memeluk Vara yang sibuk mengaduk-aduk panci berisi sup sayur untuk makan malam mereka.
"Aku ingin selalu memasak untukmu, Viceroy," kata Vara. "Karena aku tidak tahu, sampai kapan aku bisa memasak untukmu."
"Vara," kata Viceroy sambil menghela napas berat.
Viceroy masih bisa melihat jelas kesedihan yang terpancar dari sorot mata Vara. Permintaan ibunya yang menginginkan perceraian mereka sudah pasti sangat mengganggu Vara.
"Vara, jangan bicara hal yang begitu menyedihkan seperti itu," Viceroy meraih wajah Vara dengan kedua tangannya.
"Viceroy! Apa kau tahu, hanya memikirkan akan berpisah darimu sudah membuatku sangat sedih! Apalagi jika aku benar-benar berpisah darimu, aku tidak mau," kata Vara.
"Vara, perkataan ibuku jangan terlalu dimasukkan dalam hati! Masuk telinga kanan, keluar telinga kiri saja," Viceroy memberi kecupan lembut di bibir Vara.
"Saat ini yang terpenting adalah kita masih bersama, aku masih berada di sisimu," Viceroy tersenyum lembut pada Vara.
Vara menatap Viceroy yang selalu berusaha untuk menguatkannya.
"Viceroy, apa aku perlu berpura-pura gila agar ibumu tidak memintamu menceraikanku?" tanya Vara.
"Haha," Viceroy tertawa.
"Kenapa kau jadi menertawakanku? Aku serius, Viceroy," cibir Vara.
"Vara, sungguh kau tak perlu melakukan hal itu! Sudah cukup aku yang tergila-gila padamu," Viceroy tersenyum membelai wajah Vara.
"Viceroy, kenapa kau jadi suka menggombal begitu?!" protes Vara sambil mencubit kedua pipi suaminya itu dengan gemas.
"Memangnya kenapa? Yang kugombal kan istriku sendiri, bukan istri orang lain," Viceroy kembali mendaratkan bibirnya di kening Vara.
"Viceroy, kau benar-benar membuatku makin mencintaimu," Vara memeluk erat Viceroy.
"Ya, cintai aku sebanyak yang kau mau! Yang penting jangan mencintai laki-laki lain!" Viceroy mengelus rambut Vara.
Vara tersenyum lalu mengecup sekilas bibir Viceroy.
"Ayo kita makan, masakannya sudah siap," kata Vara.
Mereka segera menyantap makan malam yang dimasak Vara. Meski Vara hanya memasak sup sayuran, telur rebus, dan kentang panggang, sungguh membuat Viceroy merasa bahagia. Entah sampai kapan kebahagiaan mereka ini dapat bertahan. Teror perceraian yang diminta ibunya sungguh mengganggu kebahagiaan mereka.
__ADS_1
Masalahnya ibu Viceroy bukanlah orang yang bisa dibantah. Sekali beliau memberi titah, itu artinya adalah keputusan yang absolut. Viceroy menyadari bahwa saat ini ia sedang membawa Vara berjalan di atas permukaan danau yang membeku. Salah melangkah akan membuat permukaan es yang mereka pijak benar-benar hancur dan menenggelamkan mereka berdua. Sungguh saat ini yang bisa dilakukan Viceroy adalah diam dan mengawasi segalanya. Mengikuti semua yang diinginkan ibunya tanpa membantah.
...*****...
"Vara, ayo kita cari-cari keringat sebentar," ajak Viceroy.
"Mau di meja makan lagi?" tanya Vara.
"Vara, kenapa kau jadi berpikiran mesum, begitu?" tanya Viceroy keheranan.
Vara menyeringai, entah mengapa pikirannya jadi terdoktrin untuk bermesraan setiap kali mendengar kata keringat yang diucapkan Viceroy.
Viceroy mengajak Vara menuju ke gedung bulu tangkis yang berlokasi tak jauh dari rumah mereka. Gedung itu berukuran besar dengan pencahayaan yang cukup. Mereka segera memulai permainan bulu tangkis sebanyak satu set. Viceroy sungguh kagum pada permainan Vara yang nampak penuh dengan teknik. Seakan Vara sering bertanding dengan orang yang jago.
Mereka segera duduk di pinggir lapangan begitu permainan selesai.
"Raketmu sepertinya baru ya, Vara," kata Viceroy.
"Oh, ini hadiah waktu aku memenangkan turnamen internal kantor," jawab Vara.
Viceroy meneliti raket tersebut dengan seksama. Raket bulu tangkis berharga fantastis yang bahkan bagi Viceroy terlalu mahal untuk dimilikinya. Sungguh boros membeli raket semahal itu kalau sampai rusak.
"Wah, mahal sekali hadiah turnamennya," kata Viceroy.
"Hehe, tentu saja, aku kan juara pertama," sahut Vara dengan bangga.
...*****...
Viceroy menyandarkan tubuhnya di tumpukan bantal, menunggu Vara yang masih belum keluar dari kamar mandi. Padahal sudah lebih dari tiga puluh menit. Viceroy bahkan sudah menunggu sambil berpose seksi dan menantang. Ia sudah siap jika Vara menerjangnya begitu keluar dari kamar mandi. Malam ini harus mereka lewati dengan penuh kemanjaan seperti malam-malam sebelumnya.
Vara keluar dari kamar mandi, mengambil losion, dan duduk di pinggir kasur.
"Ada apa, Vara?" tanya Viceroy pada Vara.
Vara hanya diam saja sambil menyapukan losion ke kakinya.
"Bicaralah, aku tidak punya kekuatan untuk membaca pikiran," kata Viceroy.
"Viceroy, aku datang bulan," kata Vara akhirnya.
"Oh," kata Viceroy. "Kau mau memintaku membelikanmu pembalut lagi?" tanya Viceroy.
"Masih begitu banyak stok yang kumiliki," jawab Vara nampak uring-uringan.
"Lalu, masalahnya di mana?" tanya Viceroy.
__ADS_1
Vara menatap Viceroy yang terlihat memasang ekspresi datar.
"Kau jadi tidak bisa mendapat jatah preman," sahut Vara dengan wajah memerah.
"Haha," Viceroy tertawa.
Namun dalam hati ia sedikit kecewa juga karena niatnya untuk bermanja-manja harus diurungkannya. Vara mendelik gusar karena Viceroy menertawakannya.
"Maaf, maaf," kata Viceroy melihat Vara yang nampak merajuk.
"Vara, apa kau pikir aku membutuhkanmu hanya untuk melepaskan hasratku? Kau salah jika berpikir begitu," kata Viceroy.
Vara menatap Viceroy yang tersenyum lembut ke arahnya.
"Bukankah aku pernah mengatakan padamu, bahwa aku adalah pria terhormat, aku hanya menyentuh wanita yang kuinginkan dan menginginkanku, wanita yang kucintai dan mencintaiku, wanita yang kubutuhkan dan membutuhkanku," lanjut Viceroy.
Vara menatap Viceroy yang masih tetap tersenyum lembut ke arahnya.
"Vara, otakku ada di kepala, bukan di lutut!" kata Viceroy lagi.
Vara mengerucutkan bibirnya, membuat Viceroy tertawa. Sungguh memalukan mengutarakan hal tersebut pada Viceroy.
"Atau justru kau yang merasa gelisah karena tidak bisa kusentuh?" goda Viceroy masih tetap tertawa.
"Viceroy?!" Vara melotot terperangah, lalu mencubit lengan Viceroy dengan gemas.
"Aduduh, sakit! Lihat! Kulitku jadi merah-merah begini, ini kekerasan dalam rumah tangga!" Viceroy berpura-pura kesakitan.
Vara tertawa melihat kelakuan Viceroy. Viceroy tersenyum melihat Vara yang tertawa lepas.
Viceroy langsung membawa Vara ke dalam pelukannya. Pelukan Viceroy sungguh membuatnya merasa nyaman dan tenang. Bagi Vara, saat ini Viceroy adalah segalanya baginya. Pria ini adalah rumah untuknya, tempatnya untuk pulang dan bersandar.
"Viceroy, aku sungguh takut, menghadapi kenyataan saat harus berpisah darimu," kata Vara.
"Vara, ini adalah ujian untuk kita berdua. Kita harus bersabar dan bijaksana dalam menyikapinya. Aku yakin setiap masalah pasti ada jalan keluarnya dan pasti ada hikmah di balik semua kejadian," kata Viceroy.
"Viceroy, berapa usiamu sampai kau begitu dewasa seperti ini?" tanya Vara keheranan.
"Vara, jadi maksudmu aku sudah begitu tua?!" Viceroy balik bertanya. "Coba kau lihat baik-baik, apa di wajahku ini sudah ada kerutan?!" Viceroy mendekatkan wajahnya ke wajah Vara.
Vara tertawa, lalu menciumi pipi Viceroy dengan gemas.
"Vara, jangan begitu, nanti ada yang bangkit dan menuntut pertanggung jawaban," kata Viceroy menggelitiki perut Vara.
"Haha," Vara tertawa membalas Viceroy yang menggelitikinya.
__ADS_1
Vara berharap, saat ini waktu bisa berhenti berputar. Ia ingin terus menikmati kebersamaannya dengan Viceroy. Mengabaikan teror perceraian yang diminta oleh ibu mertuanya. Sungguh Vara akan melakukan apa saja, agar ia bisa selamanya bersama Viceroy.
Bagi Viceroy, kebahagiaannya benar-benar sangat sederhana yaitu melakukan hal yang ia sukai bersama dengan wanita yang dicintainya. Sungguh ia harus memikirkan cara terbaik untuk tetap mempertahankan Vara di sisinya tanpa harus membangkang perintah ibunya.