Akibat Taruhan Menikah

Akibat Taruhan Menikah
Kesepakatan


__ADS_3

Vara segera mengambil jatah kotak makan siangnya di pantri kantor. Suasana pantri nampak ramai, para karyawati sibuk bergunjing sambil menikmati makan siang mereka.


"Apa kalian sudah dengar info kalau Pak Ryo akan menikah?" tanya Alya memulai pergunjingan mereka.


"Serius? Menikah dengan siapa?" tanya Dinda antusias.


"Pastinya dengan wanita!" Imel menimpali.


Vara terpana mendengar teman-teman kantornya yang bergunjing dengan antusias, ternyata benar yang dikatakan oleh banyak orang bahwa dinding perusahaan ini memiliki telinga. 


"Wanita yang akan menikah dengan Pak Ryo pasti wanita yang luar biasa! Pak Ryo begitu tampan, muda, dan kaya raya, calon istrinya pasti dari kalangan atas," sahut Alya.


Vara segera kembali ke ruangan kerjanya, ia memutuskan untuk makan siang di ruangannya saja. Ia merasa sakit hati yang sungguh tidak beralasan. Ia bahkan bukan siapa-siapanya Pak Ryo, namun mengapa ia begitu sakit hati karena Pak Ryo akan menikah?


Apa karena selama tujuh tahun ini ia begitu memuja Pak Ryo?


Sehingga ia merasa sayang sekali Pak Ryo akan melepas status lajangnya.


Vara memakan makan siangnya dengan tidak selera sambil menatap kosong layar monitornya. Entah mengapa ia merasa sedikit menyesal sudah membuat kesepakatan dengan seorang pria yang baru ditemuinya lagi setelah lima belas tahun mereka tidak pernah berjumpa. Pria aneh yang memusuhinya selama masa sekolah dulu lantaran menuduhnya telah mencuri lip balm miliknya.

__ADS_1


Vara memang memberi tanda V untuk semua barang yang ia miliki sebagai penanda bahwa barang-barang itu adalah miliknya. Ia benar-benar tidak habis pikir, bagaimana mungkin ada seorang pemuda yang kebakaran jenggot hanya karena kehilangan lip balm. Menggeledah semua tas teman-teman sekelasnya hanya untuk mencari pelembab bibir! Vara sampai mencurigai pria bertampang sangar itu.


Jangan-jangan di dalam tasnya juga ada pembalut!


Vara benar-benar merasa tekanan darahnya meninggi jika harus mengingat kejadian itu. Dua malam yang lalu ia bahkan membuat kesepakatan dengan pria itu.


"Aku perlu rekan untuk menikah, bukan pernikahan pada umumnya, hanya untuk mengubah status di kartu tanda penduduk saja," kata Viceroy menjelaskan kepada Vara.


"Tidak ada pihak yang diuntungkan dan tidak ada pihak yang akan dirugikan, aku berani jamin hal itu," lanjut Viceroy.


"Kapan kau akan menikah?" tanya Vara.


"Kalau bisa sebelum akhir bulan ini," jawab Viceroy.


"Ini hanya pernikahan di atas kertas, maksudmu seperti itu?" tanya Vara lagi.


Viceroy mengangguk.


"Anggap saja kita sedang berbisnis," kata Viceroy lagi.

__ADS_1


Vara keluar dari ruangan kafe, ia menuju ke ruang terbuka. Mengambil kotak rokoknya, lalu menyulut sebatang rokok. Ia duduk sambil menikmati asap yang keluar dari mulutnya.


Apa keputusannya sudah tepat?


Menikahi pria yang tiba-tiba muncul kembali dalam kehidupannya. Rasanya penawarannya terdengar sangat menarik karena ia memang hanya membutuhkan status. Ini terlihat begitu mudah dan sempurna untuk Vara.


Apakah Tuhan sedang membantunya melalui pria yang saat ini sedang mengawasinya dari tempat duduknya?


Vara segera mematikan rokoknya, ia bergegas kembali ke tempat Viceroy yang duduk menunggunya.


"Baiklah, ayo kita menikah," kata Vara.


"Aku akan menyiapkan semua dokumen pernikahan kita, kau hanya perlu menyiapkan dokumen yang harus dipenuhi," kata Viceroy.


"Baiklah," jawab Vara.


"Untuk hal lain akan kita bahas lebih lanjut, aku akan mengirimkanmu draf," sahut Viceroy.


"Oh, ya, ada satu hal yang harus kau lakukan Viceroy," kata Vara.

__ADS_1


"Apa kau minta uang kompensasi?" tanya Viceroy.


"Tidak, kau harus menemui orang tuaku," jawab Vara.


__ADS_2