Akibat Taruhan Menikah

Akibat Taruhan Menikah
Pulang Kampung


__ADS_3

Suasana bandara begitu ramai. Terlihat antrian yang memadati konter check in sekaligus penyerahan bagasi. Vara sudah memegang tiket pesawat yang akan membawanya pulang untuk menemui orang tuanya. Sudah tak ada yang bisa menahan Vara untuk tetap bertahan di kota ini. Ia sudah melepaskan pekerjaan yang menjadi pusat hidupnya selama tujuh tahun terakhir. Pekerjaan yang benar-benar menyita hampir seluruh waktunya. Namun bagi Vara sungguh tidak masalah, karena ia begitu menikmati pekerjaannya.


Meski berat sekali harus melepaskan pekerjaan, namun bagi Vara keputusannya sudah bulat. Ia harus melangkah meninggalkan semua hal yang menjadi zona nyamannya.


Ramainya bandara tetap membuat Vara merasa sepi. Terlihat rombongan keluarga yang mengantar kepergian saudaranya, seakan mereka adalah peserta tur. Ada juga pasangan suami istri yang nampak berpelukan erat saat akan berpisah karena suami harus kembali bekerja di kota lain. Terlihat juga sepasang kekasih yang melepas kepergian kekasihnya untuk kembali kuliah.


"Ayah belajar yang rajin, jangan lirik-lirik gadis lain!" kata kekasihnya.


"Tenang Bunda, Ayah belajar yang rajin biar cepat-cepat lulus terus lamar Bunda," sahut kekasihnya.


"Nanti begitu sampai langsung kabari."


Vara menahan tawanya, anak zaman sekarang pacaran saja memanggilnya Ayah-Bunda. Mengantar kepergian kekasihnya yang akan kembali kuliah seperti akan mengantar ke medan perang saja.


Vara jadi teringat bahwa yang selalu mengantarnya ke bandara untuk kembali kuliah adalah bapak dan ibunya. Bapak dan ibu melarang keras Vara berkencan dengan laki-laki lain karena dikhawatirkan akan mengecewakan Riko.


"Vara, kamu pokoknya harus menjaga diri baik-baik, jangan sampai kamu dipacari laki-laki terus kamu dinodai! Kamu jangan sampai jadi mangga yang cuma dipencet-pencet, dicium-cium, dirasain, terus tidak jadi dibeli! Tidak ada harganya nanti kamu di mata Riko! Tidak akan kamu diberi mahar tinggi dari Riko! Dan sudah pasti kamu tidak akan dinikahi Riko!" tandas ibu.


"Jangan sampai kamu jadi bahan omongan tetangga, kuliah jauh-jauh, pulang bukannya bawa gelar malah bawa laki-laki sama anak bayi!" lanjut ibu.


Begitulah pesan yang selalu diingatkan ibu setiap kali Vara akan kembali kuliah. Kuliah jauh dari orang tua dan tanpa pengawasan langsung dari orang tua tentu membuat ibu sangat mencemaskan Vara. Ibu benar-benar sangat menjaga ketat anak gadisnya itu. Jangan sampai bikin malu keluarga, intinya seperti itu, dan Vara tentu hanya bisa menuruti semua permintaan ibunya.


Vara sungguh tak menyangka bahwa pernikahannya dengan Viceroy benar-benar seakan memutus hubungan Vara dan ibunya. Perang dingin berkepanjangan itu benar-benar harus diakhiri. Tidak ada kata mantan untuk orang tua dan Vara sadar bahwa orang tua adalah rumahnya yang sesungguhnya. Tempatnya untuk pulang dan kembali.


Lamunan Vara buyar saat matanya menangkap sosok pria yang berlari ke arahnya. Pria itu berlari dengan raut wajah ketakutan seakan ada waria yang mengejarnya di belakang. Pria itu segera menghentikan langkahnya tepat di hadapan Vara yang tersenyum ke arahnya.


"Vara, kumohon jangan pergi," pinta Viceroy.


"Viceroy, kalau aku tidak pergi, bagaimana kita bisa sama-sama memberi ruang dan waktu untuk menyadari posisi kita masing-masing?" kata Vara menatap Viceroy lekat-lekat.


"Vara," kata Viceroy terlihat memelas.


"Viceroy, sudah saatnya aku mengakhiri perang dinginku dengan ibuku! Aku sadar sudah menjadi anak yang membangkang keinginan beliau! Aku pasti sudah menjadi anak yang sangat mengecewakannya! Bakti dan kepatuhanmu pada ibumu menyadarkanku bahwa sebagai seorang anak, aku harus menunjukkan sikap baktiku pada orang tuaku mumpung mereka masih hidup," kata Vara.


Viceroy mencebik, ia bahkan menggunakan bakti dan patuhnya itu sebagai senjata untuk membangkang sekaligus memberi pelajaran pada ibunya untuk tidak mencampuri urusan hidupnya. Jika saja ini zaman Malin Kundang, Viceroy pasti sudah dikutuk menjadi batu karena sudah berani melimpahkan semua kesalahan pada sang ibu dan membuat ibunya menyesal dunia akhirat.


"Baiklah, aku mengerti," kata Viceroy.


"Tapi, bagaimana jika ibumu menjodohkanmu dengan pria lain?!" tanya Viceroy.


"Viceroy, kau bahkan sudah membawa semua cinta yang kumiliki, sudah tidak ada tempat lagi di hatiku untuk menerima cinta yang lain," jawab Vara.


Viceroy terlihat berpikir, pria itu mengusap wajahnya dengan telapak tangannya berkali-kali dengan gusar. Ia berusaha untuk tidak menitikkan air mata, padahal air mata sudah nampak menggenang di pelupuk matanya yang selalu menatap tajam.


"Vara, tidak adakah satu pelukan ataupun satu ciuman sebelum kita berpisah?" tanya Viceroy yang benar-benar ingin memeluk Vara sebelum Vara pergi meninggalkannya.


Vara menggeleng.


"Peluk dan ciumlah aku sepuasmu saat kita sudah halal lagi! Sungguh aku tak mau kau berpikir bahwa aku akan melakukannya dengan pria lain selain dirimu! Pelukan pertamaku, ciuman pertamaku, tubuhku, hingga cinta pertamaku pun sudah kau ambil semua," kata Vara.


Viceroy tertegun mendengar perkataan Vara.


"Tapi kau dipijat refleksi oleh laki-laki lain!" sergah Viceroy.


"Viceroy! Tolong dibedakan ya, antara yang pakai perasaan dengan yang tidak!" kata Vara.


"Ah, alasan! Tetap saja itu laki-laki lain yang menyentuhmu! Aku tidak mau! Kau adalah milikku! Aku sudah menandaimu!" kata Viceroy dengan nada mengancam namun dengan senyum hangat yang terulas.


Vara tersenyum ke arah Viceroy. Pria itu memang selalu penuh dengan kejutan dan tak bisa ditebak.


"Vara, apa kau serius mengatakan bahwa aku adalah cinta pertamamu?" tanya Viceroy.


Vara menjawab dengan senyumnya.


"Sejak kapan, Vara?" tanya Viceroy terlihat ingin tahu.


"Hmm, kasih tahu tidak, ya?" sahut Vara sambil mengulas senyum jahil.


"Vara, jangan salahkan aku jika nanti kau kuperkosa setiap saat!" kata Viceroy.


"Iya, diperkosa satu kali aku akan minta tambah sepuluh kali! Kalau perlu sampai pinggangmu lepas!" Vara terkekeh.


Viceroy mengerucutkan bibirnya, ia benar-benar gemas melihat Vara menggodanya seperti ini.


"Vara, apa yang harus kulakukan jika aku sangat merindukanmu?" tanya Viceroy.


"Pandanglah ke langit, sebutlah namaku tiga kali," jawab Vara.


"Dan kau masih tetap tidak ada di sisiku," sahut Viceroy seraya tertawa getir.


Vara membuka tas, dari dalam tas perlengkapan make up-nya, ia mengambil sebuah lipstik dan cermin saku. Vara mulai memulas lipstik merah menyala itu ke bibirnya.


"Astaga, Vara, merahnya lipstikmu! Tolong dihapus, sungguh aku tidak mau melihatmu terlihat begitu menggoda seperti itu," Viceroy mengeluarkan selembar saputangan berwarna putih dari saku yang ada di bagian dalam jasnya lalu menyerahkannya pada Vara.


"Ini ya, yang kata orang mengapa kalau wanita yang sudah jadi janda jauh lebih menggoda daripada saat masih jadi istri," gerutu Viceroy.


Vara menerima saputangan itu dan menempelkan bibirnya pada permukaan saputangan yang bersih hingga meninggalkan jejak bibir.


"Ambillah, ini uang muka untukmu," kata Vara menyodorkan saputangan itu kembali pada Viceroy.


Viceroy tertawa.


"Baiklah, aku benar-benar akan menagih pelunasannya secara tunai!" kata Viceroy.


"Viceroy, aku pergi sekarang, jaga dirimu baik-baik, salam untuk ibumu dan Pak Ryo, maaf aku tidak bisa berpamitan langsung, aku masih merasa sungkan pada mereka," kata Vara.


"Ya, pergilah, aku akan menjemputmu jika saatnya sudah tiba," kata Viceroy melepas kepergian Vara dengan hati yang sangat berat.


Vara melangkah pergi.


"Vara! Aku mencintaimu!" teriak Viceroy.


Viceroy sungguh berharap Vara menghentikan langkahnya. Vara berlari ke arahnya dan langsung memeluknya seperti di film-film hollywood. Namun ternyata Vara tetap melanjutkan langkahnya dan sama sekali tidak menoleh.


Vara sungguh tak menoleh meski Viceroy berteriak dan mengundang perhatian semua orang. Ia tak mau Viceroy melihatnya meneteskan air mata. Ia tak mau pria itu menganggapnya tak punya pendirian.


Vara sungguh mencintai Viceroy, namun ia tetap teguh pada keputusannya memberi ruang dan waktu untuk menyadari perasaan mereka masing-masing.


Terserah jika pria itu nantinya akan memilih wanita lain sebagai pendamping barunya karena merasa kecewa atas sikap Vara yang menolak untuk kembali padanya. Janji berupa ucapan lisan sudah pasti tidak bisa dipegang. Lagi pula mereka juga sudah tidak terikat apa pun lagi. Entah mengapa Vara merasa bersyukur dalam pernikahan singkat mereka, Tuhan tidak menghadirkan buah cinta untuk mereka.

__ADS_1


Vara mengusap air matanya begitu memasuki garbarata yang membawanya menuju ke dalam pesawat. Vara kembali menguatkan diri, jangan sampai menangisi kisah manis pernikahannya yang telah berakhir, dan kini hanya menyisakan kenangan yang indah meski ada juga yang pahit. Namun Vara memutuskan untuk mengambil kenangan manisnya saja.


...*****...


Kampung orang tua Vara berada di luar pulau. Setelah menempuh penerbangan selama satu setengah jam, Vara kembali melanjutkan perjalanan darat dengan menumpang bus yang diperkirakan akan menempuh perjalanan darat selama kurang lebih sepuluh jam. Di dalam bus semua penumpang nampak duduk berdesak-desakan lantaran bus tujuan kampung orang tua Vara hanya beroperasi sebanyak dua kali dalam satu hari. Para penumpang mayoritas adalah pekerja dan pedagang yang membawa banyak barang dagangan.


Sepanjang perjalanan menuju ke kampung orang tuanya, area perkebunan kelapa sawit menjadi suguhan pemandangan utama yang memanjakan mata Vara. Rombongan truk tangki pengangkut bahan bakar terlihat berkonvoi sepanjang jalan menemani bus yang melaju dengan membawa puluhan nyawa termasuk ayam dan kambing yang ikut berdesak-desakan bersama manusia.


Para penumpang yang bekerja di perkebunan kelapa sawit mulai turun dari bus. Sementara penumpang lain kembali melanjutkan perjalanan panjang dan melelahkan.


Sepanjang jalan Vara memikirkan apa yang harus ia katakan pada orang tuanya mengenai kepulangannya. Saat Vara menelepon bapaknya untuk mengabari bahwa Vara akan pulang, bapak menyambut antusias. Entahlah apa reaksi yang akan ditunjukkan ibunya.


Vara masih mengingat dengan jelas bahwa ibunya sudah memberinya ultimatum bahwa jangan sampai Vara pulang dan menangis karena suami tercintanya mencampakkannya. Padahal justru Vara sendiri yang memilih untuk meninggalkan pria itu. Karena Vara tahu, betapa kerasnya Ibu Suri terhadap keputusan yang dibuatnya. Jelas sekali Ibu Suri lebih memilih wanita dari kalangan keluarganya sendiri untuk menjadi pendamping anak-anaknya.


...*****...


Petang mulai datang, langit sudah gelap sempurna. Vara segera turun dari bus yang telah sampai mengantarnya di terminal kampung orang tuanya. Ia segera turun dari bus, seorang kernet membantu Vara mengeluarkan kopernya yang berada di bagasi bawah.


"Vara!" terdengar seruan bapak yang membuat Vara menoleh.


"Bapak," Vara berlari sambil menyeret kopernya.


Vara segera mengambil tangan bapak dan menciumnya. Berbulan-bulan mereka tidak pernah bertemu, hanya bisa saling mendengar suara sebagai pelepas rindu. Tidak ada jaringan internet super yang bisa membuat mereka saling melakukan panggilan video. Sungguh mubazir memiliki ponsel cerdas super canggih di kampung ini.


Bapak segera memasukkan barang-barang bawaan Vara ke dalam mobil.


"Pak Slamet," sapa seorang pria paruh baya kepada bapak.


"Oh, Pak Nanang," bapak balas menyapa pria itu.


"Jemput siapa, Pak Slamet?" tanya Pak Nanang.


"Anak saya, baru datang dari kota," jawab bapak.


"Serius ini anak bapak?" tanya Pak Nanang terbelalak tak percaya.


"Cantik sekali Pak, kirain Pak Slamet jemput bidadari," lanjut pria paruh baya itu.


Bapak nampak cemberut, sementara Vara hanya mengulas senyum tipis.


"Pak Nanang, kami permisi dulu, ya," bapak segera berpamitan.


Bapak segera masuk ke dalam mobil bersama Vara. Bapak segera menyalakan mesin mobil dan mengemudikan mobilnya menuju ke rumah.


"Dasar, Pak Nanang! Vara, bapak ini dulu tampan, loh! Bukannya langsung melar begini," cibir bapak yang merasa tersinggung dengan ucapan Pak Nanang.


"Iya, Pak, Bapak yang paling tampan!" Vara menanggapi cibiran bapak.


"Bapak itu dulu sebelas dua belas saja sama suamimu itu Vara, cuma kalah tinggi saja!" bapak terkekeh.


"Iya, Pak," sahut Vara membesarkan hati bapak.


"Oh ya, ngomong-ngomong suamimu kenapa tidak ikut datang Vara?" tanya bapak.


"Pak, nanti akan Vara jelaskan semuanya," jawab Vara.


...*****...


"Vara!" seru ibu yang keluar dari rumah dan langsung menyambut Vara dengan pelukan hangat.


Vara mendekap erat ibunya setelah berbulan-bulan mereka hanya saling berperang dingin.


Namun ternyata semua itu hanya ada dalam khayalan Vara saja. Ibu Vara hanya berdiam diri di ambang pintu dengan tangan terlipat di depan dada. Tatapan ibu sungguh mengintimidasi Vara, membuat Vara merasa gentar.


"Masih ingat punya orang tua?" sindir ibu.


"Maaf Bu, Vara benar-benar sibuk dan baru ada waktu sekarang," jawab Vara.


"Sibuk mabuk laki-laki!" sergah ibu.


Vara terkesiap mendengar perkataan ibu.


"Vara, kamu itu ya, mentang-mentang sudah kena enaknya burung langsung lupa semuanya! Langsung tidak mau mendengarkan perkataan orang tua!" cecar ibu.


"Ibu, sudah, anaknya baru datang jauh-jauh, capeknya belum hilang, sudah disindir-sindir begitu," kata bapak berusaha meredam kemarahan ibu.


Vara benar-benar memilih diam, seringnya menghadapi Ibu Suri membuat Vara jadi terbiasa untuk diam dan mendengarkan lebih dulu.


Ibu masih tetap melemparkan sikap tidak bersahabat pada Vara.


"Vara, kamu mandi dulu, Bapak akan siapkan air hangat, Bapak akan simpan semua barang-barang bawaanmu ke kamarmu," kata bapak.


"Iya, terima kasih, Pak," kata Vara.


...*****...


Rumah orang tua Vara berukuran tidak besar, meski terasnya sangat besar. Rumah itu terdiri dari ruang keluarga yang langsung menjadi satu dengan dapur. Terdapat dua buah kamar tidur dan satu kamar mandi. Kamar yang disediakan bapak tidaklah besar. Hanya berisi kasur lesehan, kelambu berwarna merah jambu, dan kipas angin. Jendela kamar Vara berukuran besar tanpa kaca.


Vara segera bergabung dengan orang tuanya untuk menyantap makan malam bersama. Tidak ada meja makan di rumah itu, semua makanan diletakkan di atas meja bundar. Vara segera duduk di lantai dan mulai menyantap makan malamnya.


"Semua ini Bapak yang masak loh, Vara, habisnya di sini tidak ada katering rumahan," kata bapak berusaha mencairkan suasana tegang yang terjadi.


"Wah, Bapak hebat," puji Vara.


"Vara, cepat katakan, sebenarnya apa tujuanmu datang kemari?" tanya ibu.


Vara menatap ibunya, entah mengapa semua keberanian yang dikumpulkannya selama di perjalanan ambyar seketika.


"Apa kau hamil dan suamimu tidak bertanggung jawab, jadi kau dipulangkan kemari?" tanya ibu masih dengan nada menyindir Vara.


"Ibu, sungguh tidak seperti itu," jawab Vara.


"Kalau tidak seperti itu, lalu seperti apa?" tanya ibu dengan emosi yang tersulut.


Vara menatap ibunya, ia berusaha menguatkan diri.


"Ibu, Vara minta maaf atas sikap Vara yang selama ini kurang berkenan di hati Ibu, Vara sungguh minta maaf dari lubuk hati yang terdalam, Vara sadar bahwa Vara mengecewakan Ibu. Akan tetapi, Vara harap Ibu bisa menghormati apa pun keputusan Vara, karena Vara sudah dewasa, Bu," kata Vara.


"Apa maksudmu, Vara?" tanya bapak.

__ADS_1


"Bapak, Ibu," Vara menatap orang tuanya bergantian.


"Vara sudah berpisah dari suami Vara," kata Vara.


Bapak dan ibu nampak terkejut mendengar pengakuan Vara.


"Bapak, Ibu, tolong hormati keputusan Vara, sungguh Vara sudah menerima hal ini dengan lapang dada," kata Vara.


"Vara, bagaimana bisa?" tanya bapak keheranan.


"Haha, apa kubilang! Laki-laki yang sekolahnya tidak tinggi, ya begitu! Semaunya dan seenaknya sendiri!" sahut ibu seraya tertawa.


"Ibu, sungguh tidak seperti itu!" kata Vara.


"Sudahlah Vara, mau apa pun alasannya, cerai tetaplah cerai, dan kau harus terima sudah jadi janda!" sergah ibu.


Vara kembali terdiam, ibu nampak terlihat senang, sedangkan bapak terlihat nampak terpukul.


...*****...


Vara sudah selesai mencuci semua piring. Ibu sudah mengunci diri di kamarnya, sementara bapak memutuskan untuk duduk menikmati angin malam di teras sambil menyeruput tehnya. Vara sungguh tidak enak dengan situasi rumahnya yang mendadak beku.


"Bapak," kata Vara segera duduk bersimpuh di samping bapak.


"Pak, maafkan Vara," kata Vara.


Bapak nampak tenang sambil menyesap teh dalam cangkirnya.


"Vara, apa kau sudah lama bercerai dari suamimu?" tanya bapak.


"Tidak bisa dibilang baru juga, Pak," jawab Vara.


"Kenapa kau bercerai darinya?" tanya bapak.


"Masalah internal kami berdua, Pak," jawab Vara.


Bapak menghela napasnya.


"Vara, Bapak ini sebenarnya kesal, rasanya mau marah! Tapi Bapak tidak tahu mau marah sama siapa?!" kata bapak.


Bapak menatap ke arah Vara.


"Marah saja Pak, kalau itu bisa membuat Bapak merasa lega," kata Vara.


"Vara, kenapa sih kamu tidak cerita lebih awal?" tanya bapak.


"Bapak pikir kamu dan suamimu itu baik-baik saja, Bapak sudah percayakan hidupmu padanya, Vara! Kenapa kalian malah bercerai?" tanya bapak.


"Pak, Vara dan Viceroy sungguh baik-baik saja! Viceroy sungguh pria yang baik dan memperlakukan Vara dengan sangat baik! Namun ada hal yang membuat kami sepakat untuk berpisah," kata Vara.


"Apa karena orang ketiga? Apa karena KDRT?" tanya bapak.


"Sungguh Pak, bukan karena itu," jawab Vara.


Bapak menatap tajam ke arah Vara.


"Vara, apa suamimu itu impoten? Lemah syahwat? Ejakulasi dini? Tidak bisa memuaskanmu dengan baik?" tanya bapak.


"Astaga, Bapak! Sungguh bukan seperti itu, Pak!" sahut Vara.


"Lah, terus apa? Bapak sungguh ingin tahu!" sergah bapak.


"Apa pria itu meninggalkanmu?" tanya bapak.


"Pak, justru Vara yang meninggalkan Viceroy! Vara yang meminta agar kami sama-sama menyadari, apakah hubungan kami sungguh atas dasar cinta ataukah tidak," jawab Vara diplomatis.


"Pak, tolong hargai keputusan Vara, Vara sudah dewasa dan bisa menentukan mana yang terbaik untuk Vara," lanjut Vara.


Bapak kembali menyesap tehnya. Pria paruh baya dengan rambut yang nampak mulai memutih sebagian itu terlihat berpikir.


"Baiklah, Vara, yang penting Vara bahagia itu sudah cukup," jawab bapak.


"Terima kasih, Pak," kata Vara.


...*****...


Sementara itu, ibu Vara yang mengunci diri dalam kamarnya segera mengambil ponsel. Wanita paruh baya itu merasa bahwa Tuhan sudah mengabulkan doanya.


Ia selalu berdoa agar Vara berpisah dari menantunya yang sama sekali tidak bisa dibanggakannya. Selama ini ia selalu menghindar jika semua orang menanyakan Vara. Saat semua keluarganya tahu Vara sudah menikah, ia selalu menghindar saat keluarganya bertanya mengenai suami Vara.


Apa yang bisa dibanggakan dari seorang pria yang hanya memiliki wajah tampan, wajahnya yang tampan karena pria itu masih muda. Pria itu tidak berpendidikan tinggi, pekerjaannya pun hanya tukang ikan. Vara yang punya ijazah S2 dan punya pekerjaan yang bagus tentu terlalu bagus untuk pria itu.


"Halo, Bu Muji, apa kabar?" tanya ibu begitu Bu Muji menjawab teleponnya.


"Kabar baik, Bu Slamet, Ibu sendiri bagaimana kabarnya?" tanya Bu Muji.


"Saya selalu baik-baik saja! Oh ya, Bu Muji, saya punya kabar baik untuk Riko!" kata ibu.


"Kabar baik apa, Bu Slamet?" tanya Bu Muji penasaran.


"Tolong disampaikan pada Riko bahwa Vara sudah resmi bercerai dari suaminya," kata ibu.


"Benarkah?!" kata Bu Muji terdengar terkejut.


"Benar, Bu Muji, ini Vara datang kemari dan mengatakannya langsung! Ya, ampun, tidak sia-sia saya berdoa siang dan malam pada Tuhan! Memohon dan meminta agar Tuhan menjodohkan Riko dan Vara!" kata ibu antusias.


"Wah, iya, ya Bu, mungkin ini sudah jalannya ya!" kata Bu Muji.


"Iya Bu Muji, saya tunggu kedatangan Riko untuk segera melamar Vara, Vara sudah pasti tidak akan punya alasan untuk menolak lamaran Riko," kata ibu.


"Baik, Bu Slamet, akan segera saya sampaikan pada Riko," kata Bu Muji.


"Terima kasih ya, Bu Muji, sampai ketemu lagi," kata ibu sebelum menutup teleponnya.


Ibu tersenyum senang, akhirnya Vara akan menikah dengan Riko. Riko yang selama ini sudah menjadi sosok menantu impiannya. Pria yang pintar dan berpendidikan tinggi. Punya pekerjaan yang bagus di perusahaan besar dan punya jabatan sebagai manajer. Ia sungguh tak sabar untuk memamerkan Riko sebagai menantunya.


Apalagi Riko sudah menyiapkan mahar fantastis untuk Vara meski Vara sudah menjanda. Riko bahkan sudah berencana untuk menggelar resepsi pernikahan besar-besaran.


Ibu sungguh tidak sabar untuk segera mendampingi Vara naik pelaminan. Menyambut semua tamu dengan suka cita karena berhasil memiliki menantu yang sangat membanggakannya.

__ADS_1


__ADS_2