Akibat Taruhan Menikah

Akibat Taruhan Menikah
Permintaan Ibu Suri


__ADS_3

Viceroy segera melajukan mobil menuju ke rumah Ibunya. Vara bisa merasakan perasaan tidak enak yang kini berkecamuk hebat di dalam dadanya. Apakah Ibu Suri sudah tahu bahwa Vara enggan untuk dimadu?


Viceroy menghela napas berat, entah apa lagi keinginan ibunya itu. Aduan aneh apa lagi yang dilontarkan oleh Sofia pada ibunya?


Mereka berdua masih tetap diam selama perjalanan menuju ke rumah mewah tersebut. Mereka tenggelam dalam pikiran mereka masing-masing. Meski saat ini Vara merasakan firasat tidak enak yang tengah menyelimutinya.


...*****...


Rumah mewah itu nampak sepi seperti biasa saat Vara berkunjung ke rumah yang interiornya bertema kerajaan Timur Tengah. Sepuhan-sepuhan emas menjadi hal yang wajib ada di dalam rumah tersebut.


Ibu Suri menyambut kedatangan mereka dengan tatapan dingin, ke arah pasangan suami-istri yang masih belum mendapat restu darinya. Matanya menangkap sosok istri anaknya yang terlihat menundukkan pandangan.


Vara merasa cukup lama tidak bertemu dengan Ibu Suri. Pasca permintaan wanita itu agar Vara bersedia dimadu, belum ada tugas negara aneh lagi yang harus dijalani Vara.


Wanita paruh baya itu masih tetap bergaya glamor dan mewah. Memakai gaun megah berwarna biru elektrik bertabur manik mutiara. 


"Roy, Ibu ingin bicara berdua saja dengan istrimu," kata Virda.


Viceroy menghela napas berat, ia menatap Vara yang memberinya anggukan tanda setuju. Viceroy segera meninggalkan mereka. Viceroy memilih untuk menunggu di teras depan. Entah apa yang akan dibicarakan ibunya dan Vara.


...*****...


Virda membawa Vara ke ruang makan. Wanita paruh baya itu duduk di meja makan, sambil menyesap pelan-pelan teh dalam cangkirnya.


"Kau pasti bertanya-tanya mengapa aku memanggilmu," kata Virda.


Vara hanya diam sambil mengangguk pelan.


"Apa Roy sudah memberi tahumu?" tanya Virda.


"Tentang apa, Nyonya?" tanya Vara.


"Sepertinya dia belum memberitahumu, ya," kata Virda.


Vara mengawasi Virda yang nampak mengulas senyumnya.


"Aku sudah menyiapkan calon istri untuk Roy," kata Virda.


"Ya, saya tahu," jawab Vara.


"Ya, kau menerima jika dimadu! Hanya saja, calon istri Roy keberatan jika harus dimadu," kata Virda.


Vara merasa kepalanya mendadak kosong.


"Berpisahlah baik-baik!" kata Virda sambil meletakkan cangkir tehnya di atas tatakan cangkir bersepuh emas.


Vara merasa ada petir yang menyambar di dalam kepalanya. Viceroy sama sekali tidak mengatakan apapun perihal perpisahan yang diminta oleh Ibu Suri.


"Kau bisa meminta berapa pun uang sebagai kompensasi," kata Virda.


"Aku akan memberimu rumah, mobil, perhiasan mewah yang kau inginkan," lanjut Virda.

__ADS_1


"Nyonya," kata Vara tertahan.


Namun ia harus mengutarakannya.


"Kalau Nyonya ada di posisi saya, apa yang akan Nyonya minta?" tanya Vara.


Virda terperangah mendengar perkataan Vara. Virda bisa melihat sorot mata Vara nampak mengintimidasinya.


"Pembicaraan kita selesai sampai di sini, terima kasih sudah menjadi istri Roy! Ke depannya, saat kau bertemu denganku ataupun Roy, berpura-puralah tidak saling mengenal!" kata Virda.


Vara terperangah lagi mendengar ucapan Ibu Suri.


"Satu lagi, hadiah yang kau berikan itu ambil saja kembali, aku dan anakku tidak butuh kemurahan hatimu!" kata Virda sebelum beranjak pergi.


Vara merasa pikirannya kosong. Ia hanya diam mematung. Seketika Vara merasa matanya memanas. Hatinya benar-benar terasa sakit dan terkoyak-koyak saat meninggalkan ruang makan. Vara menarik napasnya, berusaha agar tidak ada air mata yang jatuh.


...*****...


"Vara," kata Viceroy menghampiri Vara begitu melihat ibunya meninggalkan rumah karena sopir sudah menunggunya.


"Viceroy, ayo kita pulang," ajak Vara.


Sepanjang perjalanan pulang, Vara hanya diam. Membuang pandangannya ke luar jendela. Begitu tiba di rumah, Vara dan Viceroy mengeluarkan semua barang-barang belanjaan mereka. Viceroy bertanya-tanya, apa yang dibicarakan Vara dan ibunya. Apa ibunya memberi Vara tugas negara lagi?


"Viceroy, aku akan mandi lebih dulu," kata Vara.


"Mandilah, akan kusiapkan makan malam," kata Viceroy.


Viceroy segera memasak makan malam mereka, dengan perasaan yang tidak tenang. Ia benar-benar mencemaskan Vara. Entah apa pembicaraan ibunya yang benar-benar membuat Vara nampak terpukul. Viceroy sungguh harus memberikan Vara waktu untuk sendiri dan berpikir baik-baik.


Vara sudah selesai mandi dan berpakaian, ia segera menuju ke dapur. Viceroy sudah menyiapkan masakan yang menjadi makan malam mereka berdua. Vara segera duduk di meja makan.


"Bagaimana, enak?" tanya Viceroy saat Vara mencicipi masakan buatannya.


"Enak sekali," jawab Vara dengan senyum yang nampak dipaksakan.


"Habiskan," kata Viceroy.


Mereka menikmati makan malam dengan tenang. Viceroy jelas bisa melihat kesedihan dari sorot mata Vara yang nampak jelas berusaha disembunyikan wanita itu.


Viceroy segera mencuci piring begitu mereka sudah selesai makan malam.


"Viceroy, mengapa kau tidak mengatakan yang harusnya kau katakan?" tanya Vara.


"Maksudnya?" tanya Viceroy.


"Kenapa kau tidak mengatakan padaku kalau ibumu memintamu menceraikanku?" tanya Vara.


Piring yang dipegang Viceroy meluncur ke lantai dan hancur berantakan. Viceroy menatap air mata yang mengalir membasahi pipi Vara.


"Apa ibuku memintamu untuk bercerai?" tanya Viceroy.

__ADS_1


Vara hanya bisa menangis. Viceroy langsung memeluk Vara.


"Apa kau mengiyakan permintaan ibuku?" tanya Viceroy.


Vara hanya diam dan mulai menangis sesenggukan.


Viceroy memeluk erat Vara yang menangis dalam pelukannya.


"Vara, kumohon jangan menangis," kata Viceroy.


"Viceroy! Kenapa kau tidak memberitahuku? Kenapa kau menyembunyikannya?" Vara mendorong tubuh Viceroy menjauh darinya.


"Vara!" kata Viceroy mencoba menenangkan Vara.


"Viceroy, kau tidak mengatakan padaku bahwa akhir dari pernikahan kita adalah perceraian! Seandainya saja kau mengatakannya padaku dari awal, aku pasti tidak akan merasa sesakit ini," kata Vara dengan air mata yang kembali berlinangan.


"Viceroy, mengapa dari awal kau tidak menikah dengan wanita yang dipilih oleh ibumu? Kenapa kau malah menikah denganku?!" Vara masih tetap menangis.


Viceroy membiarkan Vara yang masih menangis, meluapkan kemarahan dan kekecewaannya. Vara merasa begitu bodoh lantaran terbawa perasaan pada pernikahan mereka yang jelas-jelas awalnya hanya berupa kesepakatan untuk melakukan kerja sama berupa pernikahan tanpa menjalani kehidupan pernikahan. Namun seiring berjalannya waktu, ia justru jatuh cinta pada pria ini.


Viceroy membawa Vara ke dalam pelukannya, ia mengusap lembut kepala Vara.


"Vara, kumohon berhentilah menangis, dan tolong dengarkan penjelasanku dulu," kata Viceroy.


Vara mencoba menenangkan dirinya. Ini sungguh berat untuknya. Ia bahkan baru merasakan indahnya saling mencintai dengan pria yang begitu dicintai dan diinginkannya. Pun demikian dengan Viceroy yang merasakan betapa ia bahagia mencintai dan dicintai oleh wanita yang menerimanya apa adanya. 


"Ibuku memang memintaku untuk menceraikanmu, tapi apa kau pikir aku mau menceraikanmu? Aku tidak sebodoh itu Vara", kata Viceroy.


"Vara, aku benar-benar ingin menikah dengan wanita yang kupilih sendiri! Aku sudah kapok dijodohkan yang berujung pada penolakan!" kata Viceroy ke arah Vara.


"Jika kau bertanya padaku mengapa aku menikahimu, jawabannya sederhana saja! Aku menikahimu karena kau mau menikah denganku! Seandainya saat itu kau tidak mau menikah denganku, aku pasti mencari wanita lain yang mau menikah denganku," Viceroy tersenyum lembut pada Vara.


Dihapusnya air mata Vara dengan jemarinya yang panjang dan kokoh. Vara menatap Viceroy lekat-lekat.


"Viceroy, apa kau tahu, jika kita berpisah, aku benar-benar akan sendirian, aku tidak punya siapa-siapa lagi di sini selain dirimu!" kata Vara.


"Ya, aku tahu itu! Makanya kumohon percayalah padaku! Ibuku memang bisa berencana, tapi tetap saja akulah yang berkehendak!" Viceroy berusaha meyakinkan Vara.


"Aku mencintaimu, Vara! Sungguh," kata Viceroy kembali memeluk Vara.


Tak terbayangkan oleh Viceroy, ia akan berpisah dari Vara. Dalam mimpi pun ia tak akan pernah melakukannya. Baginya Vara sungguh amatlah istimewa. Wanita itu hadir mengobati luka di hatinya karena keinginannya meminang Regina ditolak mentah-mentah, menyelamatkannya saat ia nyaris kehilangan tempat tinggal yang sudah susah payah didapatkannya, melayaninya dengan baik dan sepenuh hati. Vara sungguh begitu sempurna untuk Viceroy. Seakan takdir sudah menggariskan mereka untuk bertemu di waktu yang tepat.


...*****...


Viceroy membuka matanya saat mendengar ponselnya bergetar di atas nakas. Pelan-pelan ia meraih ponsel agar tidak membangunkan Vara yang masih terlelap dalam pelukannya. Ia sungguh lupa mematikan ponsel pribadinya. Dua ponsel lain selalu ia matikan menjelang tidur, agar ia tidak diganggu dengan urusan pekerjaan.


Nama kakaknya muncul di layar. Viceroy menyentuh tanda merah, tanda ia tak bersedia menjawab.


...Suruh penjaga gerbangmu membuka pintu....


Viceroy membaca pesan yang dikirimkan kakaknya. Viceroy menghela napas berat, ia sungguh tak mengerti mengapa Ryo, kakaknya itu, datang sepagi ini. 

__ADS_1


__ADS_2