Akibat Taruhan Menikah

Akibat Taruhan Menikah
Kesibukan


__ADS_3

Viceroy menghela nafas berat, ia memijat belakang lehernya yang terasa tegang. Setengah hari ia habiskan hanya untuk mengomel kepada semua karyawannya. Padahal ia sudah mempekerjakan orang-orang yang punya ijazah bagus, tapi mengapa kerja tidak becus! Bertumpuk-tumpuk dokumen pengajuan dana harus ia periksa sendiri, karena bisa saja itu pengajuan dana abal-abal. Belum lagi laporan-laporan dari pihak operasional di lapangan yang kerjanya membuat Viceroy darah tinggi lantaran harus marah-marah setiap saat. Itu hal yang wajar, karena Viceroy sudah membayar mahal para karyawannya, sudah sewajarnya Viceroy menuntut mereka untuk bekerja semaksimal mungkin.


Ponsel Viceroy berdering, ia segera menjawabnya.


"Iya, Pak, untuk harga sudah saya beri harga bagus itu, Pak, harga minyak memang sedang naik, tapi harga dari saya sudah yang paling bagus," kata Viceroy.


Riko mengetuk pintu ruangan atasannya itu. Ia melihat bosnya sedang sibuk, Riko tahu betul, untuk menemui Viceroy di kantor memang sulit. Riko bahkan benar-benar harus menunggu hingga antrian karyawan lain berakhir. Sungguh Riko sebenarnya malas harus lembur di akhir pekan, namun ini sudah menjadi tanggung jawabnya terhadap pekerjaan.


"Baik, saya mengerti," sahut Viceroy. "Baik, baik, segera saya aturkan, terima kasih," sahut Viceroy, kemudian menutup telepon.


"Pak Roy," kata Riko, segera memasuki ruangan kerja Viceroy.


Viceroy hanya mengacungkan jempol sebagai pertanda bahwa Riko harus kembali menunggu.


"Bu Maria, tolong cek stok minyak hitam, di kapal mana yang tersedia, tolong diaturkan permintaan dari Agung Marine," kata Viceroy.


"Pak, tapi saya belum terima PO-nya, Pak," jawab Bu Maria.


"Menyusul saja, yang penting jalan saja dulu," jawab Viceroy sebelum menutup teleponnya.


Viceroy beralih pada Riko yang sudah duduk di depan meja kerjanya. Riko membawakan laporan keuangan yang diminta Viceroy.


Viceroy mengerutkan kening, membaca laporan keuangan di hadapannya.


"Kenapa pengeluaran jadi melonjak begini, Pak Riko?" tanya Viceroy.


"Proyek semakin banyak, Pak, tentu operasional juga makin bertambah," jawab Riko.


Viceroy memijat pelipisnya.


"Oh ya, Pak Riko, ini pengajuan pembayaran pajak, tolong kau kroscek kembali, aturkan pembayaran seminimal mungkin," Viceroy menyodorkan berkas dari tim pajak.

__ADS_1


Riko menerima berkas tersebut untuk dipelajarinya.


"Lalu, tolong kinerja tim penagihan dimaksimalkan lagi, saya cek masih banyak tagihan yang belum tertagih, jangan sampai dijadikan alasan customer kita tidak bayar!" Viceroy melanjutkan.


"Baik, Pak, saya mengerti," jawab Riko. "Apa ada lagi yang ingin disampaikan?" tanya Riko.


"Hal lain akan saya pelajari dulu," jawab Viceroy.


"Kalau begitu, saya permisi," kata Riko bergegas keluar dari ruangan kerja Viceroy.


Viceroy menatap sekilas jam tangannya, sudah pukul lima sore. Sepertinya ia melupakan sesuatu karena terlalu sibuk bekerja. Bagaimana keadaan wanita itu? Apa dia baik-baik saja?


Kalau tidak ada laporan apapun dari ibunya, harusnya Vara baik-baik saja. Tapi mengapa Viceroy jadi merasa tidak tenang? 


Viceroy segera kembali ke rumah ibunya, ia memarkirkan mobil. Ia terburu-buru memasuki rumah, namun Vara sudah tidak ada. 


"Bi Jiah, ibuku di mana?" tanya Viceroy.


"Nyonyah sudah pergi arisan," jawab Bi Jiah.


"Mbak cantik yang tadi sudah pulang sebelum makan siang," jawab Bi Jiah.


"Benarkah? Memangnya apa yang terjadi antara mereka berdua Bi?" tanya Viceroy.


"Tidak ada, Mas Roy, tadi Mbak cantik itu hanya menyiapkan teh untuk Nyonyah, terus disuruh pulang," jawab Bi Jiah.


Viceroy mengerutkan keningnya, kalau Vara memang disuruh pulang, memangnya wanita itu mau pulang ke mana? 


Viceroy menelepon Vara, menunggu wanita itu menjawab teleponnya. Terdengar suara berisik begitu Vara menjawab teleponnya.


"Kau di mana?" tanya Viceroy sembari melangkah menuju ke kamarnya yang berada di lantai tiga.

__ADS_1


"Bioskop," jawab Vara. "Sudah, ya, filmnya sedang seru, nanti kutelepon lagi."


Viceroy mencebik.


"Nyaman sekali hidupmu, bisa sesantai itu," gerutu Viceroy.


Viceroy mendelik gusar begitu memasuki pusat refleksi dan kebugaran nomor satu di kota. Ia bahkan tak pernah pergi ke tempat pijat seperti ini. Ia selalu merasa sehat dan sangat menjaga kesehatan. Mengapa Vara justru pergi ke tempat pijat refleksi? 


Usai mandi dan berpakaian, Viceroy yang tadinya mau menjemput Vara untuk langsung menuju ke hotel harus ditunda karena Vara memutuskan untuk pergi pijat refleksi. Entah mengapa ia jadi teringat Ryo, kakaknya yang gemar pergi ke pusat refleksi. Apa karena di sana banyak gadis muda, cantik, dan seksi yang pandai memijat?


Vara terlihat menunggu Viceroy di lobi. Ia duduk di salah satu kursi sambil menatap ke arah ponselnya.


"Kau ini seperti nenek-nenek saja, pakai pijat segala," gerutu Viceroy.


"Ini pijat refleksi, berbeda dengan pijat keseleo," sahut Vara. 


"Kau sering ke sini?" tanya Viceroy.


"Tidak sering," sahut Vara. "Kau mau juga? Ini pijat refleksi kaki durasi 1 jam," jawab Vara.


"Tidak, kau saja," sahut Viceroy menolak.


Untuk apa harus buang-buang uang untuk pijat-pijat tidak jelas, kesehatannya jauh lebih mahal. 


Viceroy memandang berkeliling, terlihat tidak terlalu ramai.


Seorang pria muda mendatangi mereka, Vara menunjukkan sebuah nomor antrian. 


"Silakan ikuti saya," kata pria itu, ramah.


Viceroy melotot, karena Vara mengikuti pria muda itu menuju ke tempat pencucian kaki.

__ADS_1


Viceroy tidak menyangka bahwa terapis refleksi untuk Vara adalah seorang pria. 


 


__ADS_2