
Vara segera menyelinap masuk ke kamar mandi di kantornya. Ia segera mengguyurkan tubuhnya di bawah kran air yang biasa digunakan untuk berwudhu. Rasanya sungguh menyegarkan begitu air dingin menyentuh permukaan kulit yang lengket usai berbagi keringat secara singkat bersama suaminya. Bagi Vara sungguh merepotkan harus mandi di kantor, karena harus menunggu semua orang pulang. Ia tidak mungkin bersedia sesi mandinya terganggu lantaran akan ada yang menggedor pintu kamar mandi karena ada karyawan yang kebelet pipis. Untunglah Vara masih menyimpan tas perlengkapan mandi di lemari yang ada di bawah meja kerjanya. Tas perlengkapan mandi yang berisi sabun cair, sampo, sikat dan pasta gigi serta handuk berukuran sedang. Kemudian ia juga masih menyimpan pakaian ganti yang selalu ia siapkan dalam tas lain.
Vara merasa segar sesaat setelah mandi. Sungguh kurang nyaman jika tidak mandi sehabis berolahraga siang bersama Viceroy. Vara segera melakukan ritual sehabis mandinya, sehingga ia benar-benar wangi semerbak sehabis mandi. Cepat-cepat Vara mengeringkan rambutnya dengan kipas angin portabel yang dulu dibeli saat AC di ruangan kerjanya rusak dan perlu waktu lebih dari dua minggu perbaikan lantaran teknisi AC kantor masih dalam perjalanan dinas dan belum kembali.
Vara memutuskan lembur karena pekerjaannya benar-benar menumpuk. Laporan tutup buku harian harus dikerjakannya, laporan pengajuan penggantian dana, laporan penggantian dana, hingga laporan uang kas fisik.
Pak Dul, supir Pak Ryo menemui Vara, mengantarkan makan malam untuk atasannya agar Vara menyiapkan makan malam Pak Ryo. Cukup banyak menu makan malam Pak Ryo. Vara bahkan meminta Pak Dul untuk membantunya mengantarkan makanan yang sudah ditata oleh Vara.
Pak Ryo terlihat duduk santai di sofa sambil menyalakan televisi dengan layar yang memenuhi dinding ruang kerja pria itu.
"Permisi, Pak," kata Vara segera memasuki ruangan Pak Ryo dan meletakkan nampan berisi makan malam ke atas meja kaca di depan sofa tempat Pak Ryo duduk.
"Terima kasih," kata Pak Ryo tersenyum. "Bu Vara, Anda sudah makan malam?" tanya Pak Ryo.
"Nanti saya masak mie instan di pantri saja, Pak," jawab Vara.
"Mari kita makan malam bersama," ajak Pak Ryo.
"Tidak, Pak, terima kasih," tolak Vara.
"Saya sudah memesan banyak makanan," kata Pak Ryo.
Vara sungguh tidak enak menolak tawaran dari Pak Ryo. Pak Ryo memang memesan banyak menu makanan dari restoran hotel bintang lima ternama yang menjadi restoran kesukaan beliau. Mulai dari nasi goreng, tumis brokoli bawang putih, ikan fillet asam manis, udang telur asin, kepiting lada hitam, kerang saus pedas hingga sup jagung. Belum lagi, untuk pencuci mulutnya berupa potongan buah-buahan segar dan puding mangga.
"Bu Vara, anda suka nonton film?" tanya Pak Ryo sambil mengetik layar ponselnya yang terhubung langsung ke televisi berlayar sebesar dinding di hadapan mereka.
"Lumayan, Pak," jawab Vara.
"Anda suka genre film apa?" tanya Pak Ryo.
__ADS_1
"Hmm, saya penikmat segala jenis genre. Hanya saja saya lebih memilih film genre aksi komedi daripada thriller," jawab Vara.
Pak Ryo nampak memilih salah satu film bergenre aksi komedi.
"Pernah nonton film Jonhy French ?" tanya Pak Ryo.
"Ya, saya suka sekali, seri terbarunya belum sempat saya tonton lantaran masa tayangnya di bioskop sudah keburu habis," jawab Vara.
"Anda suka nonton film, Pak?" tanya Vara.
"Ya, saya suka, hanya saja kalau ada waktu luang, seperti saat ini misalnya," jawab Pak Ryo. "Mari makan, mumpung masih hangat," ajak Pak Ryo.
Mereka mulai makan sambil menyaksikan film yang bercerita tentang petualangan agen rahasia yang begitu konyol dan kocak. Aksi konyol agen rahasia yang sungguh menggelitik dan mengocok perut.
Ryo menatap Vara yang tertawa lepas menyaksikan aksi konyol agen rahasia tersebut. Ryo tersenyum, sepanjang film ia justru menjadikan Vara sebagai tontonan yang menghiburnya. Sungguh Ryo merasa senang melihat Vara yang tertawa lepas, seakan tanpa ada beban hidup. Ryo jadi berandai-andai, bagaimana jika setiap malam mereka bersama seperti ini, menghabiskan waktu berdua di sela-sela penatnya pikiran lantaran pekerjaan.
Vara sungguh membuat Ryo bimbang. Di satu sisi ia ingin Vara ada di sisinya, namun di sisi lain, hatinya masih ragu. Ia ingin mengencani Vara, namun ia belum siap menerima konsekuensinya. Apa kata orang-orang kalau mereka tahu, Ryo mengencani karyawannya?
Hanya membayangkan kehidupan pernikahannya dengan Vara sudah membuat Ryo merasa senang, apalagi jika ia benar-benar menikahi Vara.
Tiba-tiba layar besar itu berubah menjadi panggilan telepon masuk. Ryo segera memutus sambungan ponsel pintarnya dari televisi untuk menjawab telepon dari ibunya.
Vara sungguh terkejut, ia tersadar bahwa ini bukan saatnya ia duduk santai makan malam sambil nonton film. Pekerjaannya masih menunggu untuk dikerjakan. Ia harus berpamitan pada Pak Ryo yang terlihat masih menerima telepon.
"Tunggu sebentar," kata Ryo pada Vara.
Vara kembali duduk di sofa dan mengabaikan Ryo yang masih berbincang di telepon.
"Baik Bu, aku mengerti," kata Ryo sebelum menutup teleponnya.
__ADS_1
"Pak, saya harus kembali bekerja, terima kasih atas makan malamnya," kata Vara pamit meninggalkan ruangan Ryo.
"Terima kasih sudah menemani saya makan malam, Bu Vara," kata Pak Ryo.
Vara mengangguk, ia segera pergi meninggalkan ruangan bosnya itu.
...*****...
Ryo berdecak kesal, ibunya menelepon di saat yang tidak tepat. Ibu memintanya untuk menjemput adiknya yang tak kunjung datang padahal sudah ditelepon hingga puluhan kali.
Ryo menelepon adiknya, yang tak juga menjawab teleponnya. Ryo kesal, sepertinya ia harus menelepon Laras, wanita itu pasti tahu keberadaan adiknya karena wanita itu adalah istri Roy.
"Malam, Pak Ryo," Laras menjawab telepon Ryo dengan nada manja nan genit.
"Malam, Bu Laras," sahut Ryo.
"Tumben Anda menelpon saya, Anda pasti rindu saya ya?" tanya Laras.
"Bu Laras, apa Pak Viceroy ada?" tanya Ryo.
"Pak Viceroy?! Kenapa anda mencari Pak Viceroy?" tanya Laras.
"Saya perlu bicara padanya," jawab Ryo.
"Pak Viceroy mungkin masih ada di kantornya Pak," kata Laras. "Memangnya kenapa, Pak?" tanya Laras.
"Saya pikir, beliau ada bersama Anda," jawab Ryo.
"Haha, saya maunya begitu, Pak, dua puluh empat jam bersama saya saja! Tapi itu tidak mungkin, Pak Viceroy begitu sibuk," sahut Laras.
__ADS_1
"Terima kasih ya, Bu Laras," Ryo menutup teleponnya.
Ryo mendelik gusar, betapa gila adiknya karena menikah dengan Laras. Sungguh adiknya benar-benar sudah kepincut pesona janda gatal dan binal. Itulah sebabnya mengapa janda begitu menggoda, karena janda sangat berani dan tentunya sudah berpengalaman dalam memuaskan pria, terlebih macam adiknya yang masih perjaka. Benar-benar Viceroy sudah menjadi sasaran empuk Laras si janda binal.