
Sofia turun dari mobil, ia melangkah penuh percaya diri saat petugas keamanan Royal Grup menghampirinya. Sofia datang untuk mengunjungi calon suaminya atas perintah dari tantenya, yakni ibu Viceroy. Sofia bertubuh bongsor dan gempal, berkulit eksotis dengan rambut cokelat terang. Ia memakai gaya riasan yang sama dengan gaya riasan calon ibu mertuanya. Riasan smoke eyes gelap dipadukan dengan lipstik pucat. Ia menjadikan gaya busana Virda sebagai kiblat fashionnya. Tak ayal, Sofia yang baru berusia dua puluh dua tahun terlihat seperti sudah berusia kepala lima. Sofia mengadaptasi gaya Virda agar mendapat simpati dari Virda dan tentunya calon suaminya yang begitu tampan.
Sofia terpana menatap gedung perusahaan Royal Grup yang berdiri megah dengan dominasi kaca berwarna biru.
"Mohon maaf, Bu, ada yang bisa dibantu?" tanya petugas keamanan bernama Pak Edris.
"Pak, saya mau menemui Pak Roy," kata Sofia.
"Bisa pinjam kartu identitasnya, Bu? Untuk ditukar dengan kartu pengunjung," Pak Edris menjelaskan.
"Bapak tidak tahu siapa saya? Saya ini istrinya Pak Roy!" kata Sofia.
Pak Edris mengerutkan keningnya, lagi-lagi ada wanita yang mengaku sebagai istri Pak Roy. Pak Edris mengingat pesan Pak Roy untuk tidak membiarkan ada orang yang mengaku sebagai istri pria itu masuk ke kantor lagi.
"Silakan tunggu di pos keamanan ya, Bu," kata Pak Edris.
"Apa hak anda menyuruh saya menunggu di pos keamanan?!" sergah Sofia.
"Ini sudah ketentuan, Bu," kata Pak Edris.
Sofia nampak kesal, entah apa maksud petugas keamanan itu menyuruhnya menunggu di pos keamanan, sedangkan pengunjung lain dipersilakan masuk karena melamar pekerjaan. Rekan Pak Edris segera menghubungi resepsionis, melakukan konfirmasi perihal tamu yang mengaku sebagai istri pimpinan mereka.
"Pak Roy masih ada meeting di luar, Bu," kata Pak Edris menyampaikan informasi yang diterimanya.
"Jadi maksud anda, saya tidak dipersilakan masuk, dan harus menunggu di pos ini?!" cecar Sofia.
"Saya hanya menjalankan instruksi, Bu," jawab Pak Edris.
__ADS_1
Sofia sungguh tidak terima, ia merasa mendapat perlakuan yang tidak adil.
"Saya catat nama anda ya, Pak, siap-siap anda dipecat," tandas Sofia dengan geram.
...*****...
Riko segera keluar dari ruangan kerjanya begitu mendapat informasi dari resepsionis bahwa ada wanita yang mengaku sebagai istri Pak Roy datang dan terlibat cekcok dengan petugas keamanan. Riko hanya bisa menghela nafas berat, ia sudah cukup malu karena mendapat teguran dari Pak Roy, lantaran mengizinkan Laras yang mengaku sebagai istri Pak Roy datang ke kantor, menyiapkan layanan katering makan siang.
"Laras, kenapa kau datang dan mengaku sebagai istri Pak Roy?", tanya Riko pada Laras saat itu.
"Tentu saja, untuk memancing keluar istri asli pria itu!" jawab Laras. "Dengan begitu, istrinya yang asli pasti akan datang, dan aku bisa mengalahkannya Riko!" lanjut Laras.
"Riko, kau pasti pernah mendengar pepatah yang mengatakan, untuk memenangkan perang, kau harus mempelajari musuhmu, lihat saja, istri pria itu pasti akan muncul dengan segera," Laras melanjutkan.
"Laras, terserah kau saja, yang pasti, jangan pernah menyeretku!" ancam Riko.
"Tenang saja Riko, aku sudah siap untuk merebut Roy dari istrinya!" kata Laras.
...*****...
Ozy mendengar ada keramaian yang terjadi di lobi. Jiwa pencari informasinya bergelora, ia segera meluncur ke tempat kejadian perkara alias TKP.
Ozy mengerutkan alisnya, memandang wanita bertubuh gempal, berkulit eksotis dengan memakai gaun model kaftan berwarna merah marun yang dipenuhi dengan bling-bling itu mengaku sebagai istri Pak Roy. Ozy sungguh heran, waktu itu ada wanita yang berpenampilan seperti waria salon datang dan mengaku sebagai istri Pak Roy. Menyiapkan makan siang yang membuat mereka senang karena tak pusing mau makan siang apa di hari itu.
Dan sekarang, ada wanita berpenampilan nyentrik yang datang dan mengaku sebagai istri Pak Roy.
"Saya ini, istri Pak Roy! Kalian jangan macam-macam!" bentak Sofia.
__ADS_1
"Ada apa ribut-ribut begini?!" kata Viceroy begitu tiba di ambang pintu masuk lobi.
Ia keheranan melihat banyak orang berkerumun di sekitar lobi.
"Semuanya kembali bekerja!" bentak Viceroy membubarkan kerumunan massa.
"Ro-Roy," Sofia nampak gemetaran, namun senang karena melihat calon suaminya datang.
"Apa yang kau lakukan di sini?!" tanya Viceroy.
"Ta-tante Virda menyuruhku kemari," jawab Sofia.
Viceroy merutuk dalam hati, Ibu bahkan sampai menyuruh wanita ini datang menemuiku?! Mau apa sebenarnya?
"Kita bicara di ruangan saya," kata Viceroy.
Ozy masih mengintip dari ruangannya, tak percaya dengan pemandangan yang dilihatnya.
Astaga, segini saja, ya, seleranya Pak Roy? Seperti biduan dangdut di acara kondangan kampung, pikir Ozy.
Mbak Yuni keheranan melihat tingkah Ozy dan Pak Riko yang bersembunyi di ruangannya dan mengintai Pak Roy. Mereka menempel di dinding ruangan seperti cicak.
"Ozy, Pak Riko, mau sampai kapan kalian mengintip seperti itu?!" tanya Mbak Yuni.
Riko tersadar, ia langsung salah tingkah. Jelas sekali ia tertangkap basah karena kepo.
"Ih, Mbak Yuni, numpang ngintip dulu, ya,"kata Ozy.
__ADS_1
"Serius itu istrinya Pak Roy?" tanya Mbak Yuni.
"Itu, buktinya biduan dangdut itu diajak Pak Roy ke ruangan kerjanya!" sahut Ozy.