Akibat Taruhan Menikah

Akibat Taruhan Menikah
Rencana Baik


__ADS_3

Kabar kedatangan anak Pak Slamet yang datang dari kota langsung merebak ke segala penjuru kampung. Pak Nanang mendadak menjadi selebriti kampung begitu menceritakan pertemuan fenomenalnya saat Pak Slamet menjemput anak perempuan beliau yang diklaim secantik bidadari.


"Perempuan kota memang beda! Tidak sama dengan perempuan-perempuan yang ada di kampung ini!" Pak Nanang berkoar-koar saat nongkrong di warung kopi ternama di kampung.


"Cantik mana anak Pak Slamet atau istrimu, Pak Nanang?!" seru Pak Ambo seraya tertawa.


"Kalau aku masih muda, pasti sudah kukejar itu anaknya Pak Slamet! Asli cantik seperti artis!" lanjut Pak Nanang.


"Aih Pak, jangan-jangan salah itu, Pak Nanang kan lihatnya malam-malam!" celetuk Pak Iwan.


"Mataku ini masih berfungsi dengan baik saat melihat uang dan wanita cantik!" Pak Nanang membela diri.


"Aduh, Bapak-bapak, daripada rusuh di sini lebih baik langsung datang saja ke rumah Pak Slamet!" Tante Indo selaku pemilik warung kopi segera menyahut.


"Ngomong-ngomong, Pak Slamet itu kabarnya menolak untuk menjual tanahnya kepada perusahaan pengelola perkebunan kelapa sawit! Padahal sudah dinego harga bagus, loh!" kata Pak Ambo sambil menghembuskan asap rokoknya.


"Ditawar berapa, Pak Ambo?" tanya Pak Iwan.


"Yang pasti lebih banyak daripada waktu Tuan Takur menawarnya pertama kali!" sahut Pak Ambo.


"Bisa kaya mendadak itu Pak Slamet kalau tanahnya dijual! Aku sudah berkali-kali melihat para rombongan negosiator diusir Pak Slamet!" sahut Pak Nanang.


"Masalahnya, tanah Pak Slamet itu kan benar-benar masuk ke dalam zona perluasan area perkebunan kelapa sawit! Ck, seandainya saja itu tanahku! Sudah kujual itu, pergi aku dari kampung ini!" Pak Ambo terkekeh.


"Halo Bapak-bapak, tadi aku dengar kalian sebut-sebut Pak Slamet punya anak perempuan secantik bidadari!"


Bapak-bapak hadirin pengunjung setia warung kopi Tante Indo serempak menatap ke arah seorang pria berpenampilan nyentrik lantaran pria itu merupakan pria terkaya di kampung. Pria itu di panggil Tuan Takur. Pria itu kerap mengenakan kemeja motif bunga hibiskus, celana panjang yang bagian bawahnya lebar berwarna putih, dan memakai sepatu boot berwarna putih. Kalung emas bertumpuk selalu terlilit sempurna di lehernya. Tuan Takur selalu didampingi oleh Oleng, ajudan pribadinya yang selalu membawakan tas Tuan Takur ke mana-mana. Oleng sendiri adalah pria berperawakan lebih mungil dari Tuan Takur.


Tuan Takur adalah seorang juragan tanah di kampung tersebut. Ia jadi semakin kaya saat menjual tanahnya kepada perusahaan pengelola perkebunan kelapa sawit. Tuan Takur sangat dikenal sebagai playboy kampung yang mengincar semua kembang kampung untuk menjadi istrinya. Saat ini pria berusia tiga puluh enam tahun itu sudah memiliki empat orang istri dan selusin anak.


"Apakah anak Pak Slamet itu lebih cantik daripada istri-istriku?" tanya Tuan Takur.


"Bah! Mana ada apa-apanya istri-istri Tuan Takur dengan anaknya Pak Slamet!" seru Pak Nanang seraya tertawa.


"Pak Nanang! Tuan Takur hanya menikah dengan gadis-gadis tercantik di kampung ini!" sergah Oleng membela Tuan Takur.


"Kecantikan perempuan kota sudah jelas jauh berbeda dengan perempuan kampung, Oleng!" cibir Pak Nanang.


"Tidak percaya betul orang-orang ini! Ayo kita ke rumah Pak Slamet sekarang!" ajak Pak Nanang.


"Awas saja kalau kau tipu-tipu, Pak Nanang!" ancam Tuan Takur.


"Ayo kita pergi!" ajak Pak Ambo.


"Bapak-bapak! Sebelum pergi jangan lupa kopinya dibayar dulu!" seru Tante Indo.


"Tuan Takur, bayar dulu!" seru bapak-bapak memprovokasi Tuan Takur.


"Oleng! Bayar dulu!" perintah Tuan Takur.


"Siap, Tuan!" sahut Oleng.


...*****...


"Tidak, sampai kapan pun saya tidak akan menjual tanah saya!" kata bapak bersikeras.


Para pria bersetelan jas yang sedang duduk bersila di teras rumah nampak saling berpandangan. Mereka semua adalah para negosiator yang diutus oleh perusahaan pengelola perkebunan kelapa sawit yang datang untuk bernegosiasi perihal pembelian tanah Pak Slamet dalam rangka perluasan area pekebunan.


"Apa harga yang ditawarkan masih belum masuk, Pak?" tanya salah seorang negosiator.


"Yang jelas ini bukan masalah harga! Cukup, kalian tidak perlu datang kemari lagi! Saya muak melihat kalian datang terus ke rumah saya seperti penagih hutang!" cecar bapak.


"Tapi Pak, kami hanya menjalankan tugas dari atasan kami, mohon kerja sama yang baik, Pak," sahut negosiator yang lain.


"Saya tidak peduli! Suruh itu atasan kalian datang dan temui saya kalau dia punya nyali!" sergah bapak.


Lagi-lagi para negosiator kembali berpandangan.


"Sudah cukup, ini terakhir kali kalian datang kemari! Sana pulang dan jangan datang lagi!" bapak mengusir para pria itu pergi.


Bapak segera masuk ke dalam rumah, pria paruh baya itu terlihat begitu gusar.


"Pak, siapa para pria itu?" tanya Vara.


"Mereka utusan dari perusahaan pengelola perkebunan kelapa sawit! Tanah ini masuk area perluasan lahan perkebunan, mereka meminta Bapak untuk menjual tanah ini! Sudah berkali-kali Bapak menolak, namun mereka masih bersikeras!" jawab bapak.


"Kalau rumah dan tanah ini dijual juga, kita mau tinggal di mana?" tanya bapak ke arah Vara.


Vara sungguh paham, bapak bahkan sudah menjual rumah mereka di kota. Terlebih harga rumah sekarang tidaklah murah. Apalagi bapak termasuk orang yang sangat menyukai kegiatan berkebun yang areanya luas. Vara bahkan lelah karena sudah berkeliling rumah mereka. Pekarangan rumah yang begitu luas, terdapat kolam-kolam ikan dan kebun-kebun sayuran. Sungguh membuat Vara teringat rumah Viceroy. Entah mengapa Vara merasa rindu dengan rumah tersebut. Begitu banyak kenangan yang mereka torehkan di sana.


Apa kabar ya, rumah itu sekarang?


Apa kabar ikan-ikan di kolam dan kebun sayur-sayuran di sana?


Apakah masih tetap terawat seperti dulu?


Vara cepat-cepat mengusir rasa sedih yang tiba-tiba datang tanpa diundang di hatinya.


"Oh ya Pak, Ibu ke mana, ya?" tanya Vara.


"Ibumu biasanya mengunjungi saudara-saudaranya," jawab bapak.


"Oh begitu, mungkin nanti sore kita berkunjung ke rumah mereka ya Pak, Vara punya beberapa oleh-oleh untuk dibagikan," kata Vara.


"Vara, tidak masalah, kamu banyak-banyak istirahat saja dulu," kata bapak.


"Pak Slamet! Pak Slamet!" terdengar teriakan dari luar rumah.


"Siapa itu, Pak?" tanya Vara.


"Vara, kamu di kamar saja, ya," kata bapak.


Bapak segera keluar dari rumah, ia sungguh terkejut melihat begitu banyak orang yang datang ke rumahnya. Tuan Takur menjadi sosok yang langsung menarik perhatian bapak.


"Tuan Takur, ada apa datang kemari?" tanya bapak.


Apa Tuan Takur mau membeli tanahku? Pikir bapak.


"Pak Slamet, cepat keluarkan bidadari yang kau sembunyikan!" kata Tuan Takur.


"Hah? Bidadari apa, Tuan Takur?" tanya Pak Slamet.


"Itu kata Pak Nanang, anak Pak Slamet cantiknya seperti bidadari!" sahut Oleng.


Bapak merengut melihat Pak Nanang yang terkekeh menunggu di halaman rumah.


"Tidak ada! Pak Nanang halu saja itu!" jawab bapak.


"Anak saya tidak secantik itu, Tuan Takur," kata bapak.


"Tuan Takur, saya lihat sendiri!" seru Pak Nanang.


"Demi Tuhan, saya berani bersaksi!"


"Pak Slamet, kalau Pak Nanang sudah bawa-bawa nama Tuhan, masa' iya, Pak Nanang berbohong?!" tanya Tuan Takur.


"Ya, bukankah memang banyak orang yang sengaja menjual nama Tuhan?!" sergah bapak.


Dalam penglihatan Tuan Takur, semua bergerak dalam keadaan lambat saat matanya menangkap sosok seorang wanita berkulit putih dan mulus dengan rambut hitamnya yang tergerai indah. Baru kali ini dalam hidupnya pria itu melihat seorang wanita yang membuatnya percaya jika wanita ini adalah jelmaan bidadari. Keempat istrinya yang merupakan kembang kampung sungguh tak bisa dibandingkan dengan wanita yang saat ini sedang menatap ke arahnya.


Wanita ini sungguh cocok menjadi istri kelimaku! batin Tuan Takur tergelitik.


"Kau masih gadis atau sudah janda," Tuan Takur melantunkan potongan syair lagu dangdut klasik sambil berjoged mengelilingi wanita cantik berdaster putih itu.


"Baik katakan saja jangan malu," Tuan Takur masih menyanyi dan menari-nari mengelilingi si jelmaan bidadari.

__ADS_1


Tuan Takur mengelilingi wanita cantik itu untuk melihat apakah ada sayap ataukah selendang yang bisa dicurinya.


Vara menatap skeptis ke arah pria yang sedang menyanyi dan menari-nari mengitarinya. Ia melemparkan tatapan penuh keheranan pada bapaknya.


Vara mengamati sosok pria bertubuh ramping dengan tinggi seperti kebanyakan pria pada umumnya, yang pasti di bawah seratus tujuh puluh sentimeter. Kulitnya berwarna sawo matang, dengan model rambut klimis karena banyaknya menggunakan gel rambut. Pria berpenampilan nyentrik dengan perhiasan emas di leher itumembuat Vara jadi teringat Sofia. Entah apa maksud pria itu mengitari Vara sambil menyanyi dan menari.


"Bapak," Vara segera berlindung di belakang bapaknya.


"Oh, Adik berbaju putih! Tidak perlu takut pada Abang!" kata Tuan Takur sambil melotot lebar.


"Tuan Takur, Anda justru membuat anak saya takut," kata Pak Slamet.


"Oh, maaf, maaf kalau begitu! Perkenalkan nama Abang adalah Tajuddin, biasa dipanggil Tuan Takur, siapakah gerangan nama Adik cantik jelmaan bidadari ini?" tanya Tuan Takur dengan gaya slebornya.


"Saya Oleng!" sahut Oleng memperkenalkan dirinya.


"Oleng, tidak ada yang bertanya namamu!" cibir Tuan Takur ke arah Oleng.


Oleng terlihat mencebik.


"Nama saya Vara," jawab Vara ragu-ragu.


"Aduhai, nama Adik bahkan begitu cantik!" seru Tuan Takur lagi.


"Vara, kenapa keluar?" tanya bapak berbisik ke arah Vara.


"Habisnya Bapak seperti dikeroyok begitu," sahut Vara.


"Bapak-bapak hadirin yang berbahagia, saya mohon maaf sekali, silakan membubarkan diri, terima kasih," kata bapak segera mengusir kerumunan massa.


"Vara, ayo masuk," ajak bapak.


"Iya, Pak," jawab Vara.


"Pak Slamet, tunggu Pak! Pak!" seru Tuan Takur karena bapak sudah keburu menutup pintu rumahnya.


"Bah, harus kudapat memang adik cantik itu! Oleng, aturkan semuanya! Aku mau melamar anak Pak Slamet!" titah Tuan Takur.


"Siap, Tuan!" sahut Oleng.


...*****...


"Pak! Tolong dipercepat penyelesaian kapal itu! Apalagi sih yang kurang?! Jangan ditunda-tunda! Setelah kapalnya turun, langsung sea trial saja! Itu kapal harus sudah bisa cari uang!" Viceroy mengomel dengan ponsel yang masih menempel di telinga kirinya.


Sea trial sendiri adalah kegiatan uji coba untuk setiap kapal yang sudah selesai dibuat. Mulai dari menguji mesin hingga alat-alat komunikasi dan navigasinya. Viceroy sungguh murka karena kapal baru yang dibuatnya itu belum kunjung turun dari galangan kapal miliknya.


Riko sudah menunggu hampir setengah jam lamanya untuk menunggu atasannya itu selesai berkomunikasi. Riko akan kembali mengajukan permohonan cuti yang beberapa waktu lalu ditunda oleh atasannya lantaran masih banyak pekerjaan yang belum bisa ditinggalkan. Namun saat ini menurut Riko sangatlah tepat. Ia sudah memutuskan untuk datang ke orang tua Vara dan melamar Vara yang saat ini sudah resmi menjanda.


"Saya tidak mau tahu, akhir bulan ini, kapal Royal Varadisa harus sudah sea trial! Itu kapal sudah waktunya cari uang! Jangan hanya menghabiskan uang saja!" cecar Viceroy sebelum menutup teleponnya.


Viceroy melempar ponselnya ke atas tumpukan dokumen lalu memijat pelipis. Ia kesal karena banyak masalah pekerjaan yang harus diselesaikannya.


"Pak Riko, sampai di mana pembicaraan kita tadi?" tanya Viceroy ke arah Riko.


"Pak, ini estimasi pengajuan dana untuk pengurusan semua sertifikat Kapal Royal Varadisa, lalu pengajuan asuransi, dan juga pengurusan sertifikat kepemilikan kapal," kata Riko menyerahkan tumpukan dokumen lain yang dibawanya.


Viceroy mengamati satu persatu nominal yang diajukan.


"Lumayan banyak juga ya, Pak," komentar Viceroy.


"Benar Pak, untuk pengurusan kapal baru tentu menghabiskan biaya yang cukup signifikan," kata Riko.


"Pak, ini juga laporan pendapatan SPOB Varadisa 01 dan SPOB Varadisa 02, sudah saya alihkan semua ke rekening yang Anda minta," kata Riko.


"Baiklah, terima kasih, Pak Riko," sahut Viceroy.


"Ngomong-ngomong, Pak, kenapa Anda ngebut sekali menyelesaikan Kapal Royal Varadisa? Sepertinya kapal ini yang paling cepat sekali selesainya," tanya Riko.


"Anda benar Pak Riko, karena Kapal Royal Varadisa adalah mahar untuk istri saya," jawab Viceroy.


"Wah, mahar yang fantastis sekali, Pak," Riko terkekeh.


Riko mencebik, ia sangat tahu budget pembuatan kapal jenis Motor Tanker bernama Royal Varadisa itu. Kapal yang mampu menampung bahan bakar minyak lebih dari sepuluh juta liter itu sejauh ini menjadi kapal terbesar yang pernah dibangun oleh Royal Grup.


"Oh ya Pak, saya jadi bertanya-tanya mengapa Anda memberi nama kapal-kapal baru Anda, Varadisa?" tanya Riko.


"Tentu saja untuk menunjukkan rasa cinta saya pada istri saya, Pak Riko! Kalau nanti anak-anak kami lahir, saya jelas akan menamai semua kapal saya dengan nama anak kami," jawab Viceroy mengulas senyumnya.


Riko tertegun mendengar perkataan atasannya itu.


"Ada apa, Pak Riko?" tanya Viceroy.


"Bukankah nama istri Anda itu Sofia, Pak?" tanya Riko.


"Pak Riko, Sofia itu bukan istri saya! Sofia saja yang seenaknya mengaku-mengaku begitu!" Viceroy tertawa kesal.


Riko kembali tertegun, jadi Sofia bukan istri Pak Roy?


Bagi Riko entah mengapa nama Varadisa begitu familiar di telinganya. Setahu Riko, nama lengkap Vara juga Varadisa. Entah mengapa nama Vara begitu pasaran. Sepertinya jika punya anak nanti, Riko harus memikirkan nama yang tidak pasaran.


"Ada apa lagi, Pak Riko?" tanya Viceroy yang lagi-lagi membuyarkan lamunan Riko.


"Pak, bolehkah saya menagih pengajuan cuti yang tempo hari Anda undur?" tanya Riko berhati-hati.


Viceroy mengerutkan alisnya, menatap tajam ke arah Riko.


"Pak Roy, saya mau mengambil cuti karena saya mau pergi ke kampung calon istri saya untuk melamarnya," kata Riko.


"Anda serius mau menikah lagi, Pak Riko?" tanya Viceroy.


"Serius Pak, kalau perlu begitu lamaran sekalian saja saya bawa penghulu untuk menikahkan kami! Jadi begitu kembali ke sini, kami bisa langsung mengadakan resepsi pernikahan! Saya harap Anda bisa menyempatkan waktu untuk datang ke resepsi pernikahan saya, Pak," jawab Riko menjelaskan panjang lebar rencana besarnya tersebut.


Riko berharap dengan mengatakan hal sejujurnya, atasannya ini bisa mengerti keadaannya. Riko benar-benar sudah memantapkan hatinya untuk menikahi Vara begitu mendengar informasi dari tantenya bahwa Vara sudah resmi menjanda. Itu artinya saat ia datang melamar Vara, Vara tak punya alasan untuk menolak niat baiknya ini. 


"Berapa lama Anda akan mengambil cuti, Pak?" tanya Viceroy.


"Paling lama satu minggu, Pak," jawab Riko.


"Aduh, lama sekali itu, Pak!" keluh Viceroy.


"Jangan langsung diambil begitu Pak, bagaimana kalau dicicil dulu?"


"Resepsi bisa dilangsungkan nanti," kata Viceroy lagi.


"Masalahnya, calon mertua saya mau resepsi diadakan di dua tempat, Pak! Belum lagi keluarga besar saya juga minta diadakan acara ngunduh mantu," Riko menjelaskan.


"Hmm, kenapa bertele-tele seperti itu?" tanya Viceroy.


"Sudah jadi ketentuan masyarakat pada umumnya seperti itu, Pak! Apalagi calon istri saya ini kan, belum pernah menikah dengan mengadakan perayaan besar-besaran! Jadi ya, saya harus menunjukkankan padanya, Pak," jawab Riko.


Viceroy tertegun, entah mengapa pembicaraannya dengan Riko membuatnya jadi tergerak untuk menggelar pesta pernikahannya dengan Vara. Yah, mungkin itu ide yang bagus saat mereka rujuk kembali. 


"Pak Riko, saya setujui cuti Anda, tapi hanya tiga hari saja, bagaimana?" tanya Viceroy.


Riko nampak berpikir. Sungguh waktu yang sangat singkat sekali untuk mengadakan acara pernikahan. Sungguh susah punya atasan penggila kerja!


"Baiklah, Pak," jawab Riko, pada akhirnya memilih mengalah.


Riko pikir cuti tiga hari lebih baik daripada Pak Roy tidak memberinya cuti sama sekali.


Viceroy segera menandatangani permohonan cuti Riko.


"Pak Riko, pastikan ponsel Anda selalu aktif dua puluh empat jam!" kata Viceroy.


"Jangan sampai Anda beralasan karena di kampung susah sinyal, Anda jadi tidak bisa dihubungi," lanjutnya lagi sambil menyerahkan kembali formulir permohonan cuti Riko.

__ADS_1


"Baik Pak, saya mengerti, terima kasih," kata Riko mengambil formulir pengajuan cutinya.


Ia benar-benar senang karena urusannya nampak begitu dipermudah. Niat baik memang akan dilancarkan oleh Tuhan, itulah yang ada dalam benak Riko.


"Kalau begitu permisi, Pak," Riko segera keluar dari ruang kerja Viceroy.


Ponsel Viceroy berdering kembali. Ia menatap layar datar tersebut dengan jengah. Nama Pak Gunawan muncul kembali. Pak Gunawan sendiri adalah kepala proyek yang ia tunjuk untuk mengurus semua hal yang terkait dengan pengelolaan perkebunan kelapa sawit yang ia miliki.


"Halo Pak Gun, ada apa lagi, Pak?" tanya Viceroy.


"Pak Roy, ini mengenai masalah tim negosiator yang bernegosiasi dengan pemilik lahan yang hingga kini masih menolak untuk menjual lahan mereka, Pak," jawab Pak Gunawan di seberang sana.


Viceroy memijat pelipisnya.


"Aduh, Pak! Sudah berapa kali saya harus mendengar masalah ini lagi?! Bagaimana sih cara kerja para negosiator itu?! Mereka itu para negosiator yang ahli bernegosiasi! Mereka bukan tukang tambal ban, Pak!" cecar Viceroy.


"Pak, masa hal seperti ini harus saya lagi yang turun tangan?! Kalau saya lagi yang harus selesaikan, lantas mereka itu digaji untuk apa? Saya bayar mereka mahal-mahal itu untuk apa?!"


"Tapi Pak, pemilik lahan bahkan menantang untuk menemui Anda," Pak Gunawan menyela.


Viceroy memejamkan matanya. Saat ini proyek perkebunan kelapa sawitnya sudah mendapatkan investor besar. Tak ada alasan baginya untuk menunda memperluas area perkebunan kelapa sawitnya yang selama ini tertunda lantaran ada pemilik lahan yang bersikeras tak mau menjual lahannya kepada perusahaan.


"Saya tidak mau tahu! Maksimalkan kerja para negosiator itu, kalau memang sudah melambaikan tangan, nanti saya yang akan terjun langsung!" cecar Viceroy sebelum menutup teleponnya.


Terlihat para karyawan yang bekerja di luar ruangan Viceroy saling bersitatap.


"Gila ya, setiap hari Pak Roy marah-marah terus!" kata mereka.


"Asli kuat sekali sudah hampir satu jam marah-marah seperti itu".


"Kalau tidak kuat, bukan Pak Roy namanya!" mereka terkekeh bersama.


...*****...


Virda mengupas buah apel dan memotong-motongnya agar bisa dinikmati oleh Ryo yang saat ini nampak termenung menatap kosong ke luar jendela ruang VIP tempatnya menghabiskan hari-harinya. Kondisi Ryo sudah mulai stabil, namun menurut dokter, Ryo harus lebih berhati-hati lagi.


"Ke mana Roy ini, kenapa belum datang juga?" rutuk Virda.


"Mungkin Roy masih sibuk, Bu," sahut Ryo.


"Ryo, Ibu hanya menyuruh Roy membeli dua buah kelapa muda, bukan dua kontainer!" gerutu Virda.


Belum lima menit Virda menggerutu, Viceroy datang dengan menenteng dua buah kelapa muda utuh dan menyerahkannya pada Virda.


"Ini Bu, pesanan Ibu," kata Viceroy.


"Astaga, Roy! Apa-apaan ini?" tanya Virda melotot tidak percaya apa yang dilihatnya.


"Lho, bukannya Ibu pesan untuk dibawakan dua buah kelapa muda utuh?" Viceroy balik bertanya.


"Aku membawakan sesuai dengan pesanan Ibu, lalu salahku di mana, Bu?" tanya Viceroy yang merasa ibunya menganggapnya salah.


"Roy, Ibu memang menyuruhmu membawakan dua buah kelapa muda utuh, sekarang coba kau pikir bagaimana Ibu bisa meminumnya sedangkan kelapa ini tidak dikupas? Kau pikir Ibumu ini tupai?!" cecar Virda.


"Bisa naik tekanan darah Ibumu kalau kau begini, Roy!" keluh Virda.


"Ibu, sekarang aku tanya, apakah Ibu ada mengatakan padaku kalau kelapa muda ini akan Ibu minum? Siapa tahu Ibu hanya akan menjadikannya pajangan di kamar Ryo!" sahut Viceroy membela dirinya.


"Ibu, Roy ini kalau tidak dijelaskan detail apa yang Ibu mau, ya dia akan melakukan sesuai perintah Ibu saja," kata Ryo seraya tertawa.


"Kebiasaan kau ini, Roy!" cibir Virda.


"Ya sudah, Ibu akan mencari pinjaman pisau dulu dari perawat!" gerutu Virda sebelum pergi meninggalkan kedua anaknya.


Lebih baik Virda sendiri yang pergi mencari pinjaman pisau, daripada menyuruh Viceroy yang bisa saja akan membawakannya pisau bedah hanya untuk membuka buah kelapa.


"Roy, kau tidak datang bersama Bu Vara?" tanya Ryo ragu-ragu.


Viceroy segera duduk di sofa dan menatap lurus ke arah Ryo.


"Vara pulang kampung untuk menemui orang tuanya," jawab Viceroy.


"Oh," sahut Ryo datar.


"Aku sungguh baru tahu bahwa Vara ternyata karyawanmu, Ryo," kata Viceroy.


"Roy, yang aneh itu justru kau, kau itu suaminya, bagaimana kau bisa tidak tahu?" tanya Ryo.


Viceroy terkekeh.


"Ryo, aku dan Vara tidak pernah membahas masalah pekerjaan saat bersama. Urusan pekerjaan adalah pekerjaan!" sahut Viceroy.


Ryo menatap lurus Viceroy. Rasanya Ryo masih belum bisa memercayai bahwa Vara selama ini ternyata menikahi adiknya. Melihat karakter wanita itu yang begitu penurut dan tidak penuntut, tentu saja begitu mudah dikendalikan oleh adiknya ini.


"Roy, apa kau benar-benar mencintai Bu Vara?" tanya Ryo.


"Kenapa kau bertanya begitu?" Viceroy balik bertanya.


"Semua kejadian yang sudah terjadi ini, pasti membuat Bu Vara merasa kau hanya memanfaatkannya saja," kata Ryo.


"Ya, aku paham akan hal itu, makanya, aku membiarkannya pergi meninggalkanku seperti ini!" kata Viceroy.


"Hmm begitu ya, tapi saranku sebaiknya kau hati-hati!" kata Ryo.


"Apa maksudmu, Ryo?" tanya Viceroy.


"Aku kebetulan pernah tak sengaja beberapa kali bertemu dengan seseorang yang terang-terangan mengatakan akan menunggu jandanya Bu Vara!" sahut Ryo.


"Apa maksudmu, Ryo?" tanya Viceroy.


"Sungguh, aku tidak bercanda Roy! Aku sangat yakin karena menyaksikan dengan mata kepalaku sendiri!" jawab Ryo.


"Ryo, apa kau sedang berusaha menjebakku?" tanya Viceroy lagi.


Ryo mengulas senyum cemerlangnya.


"Roy, mana mungkin aku tega menjebakmu," kata Ryo.


Entah mengapa Viceroy merasa Ryo menyindirnya.


"Mana aku tahu kau sedang berusaha menjebakku dalam rangka mempersiapkan jebakan spektakuler, untuk membalasku," komentar Viceroy.


Ryo menggeleng.


"Roy, aku sungguh minta maaf padamu dan juga Bu Vara! Sungguh aku merasa sangat bersalah karena membuat kalian harus terpisah karena perbuatanku," kata Ryo.


Viceroy menatap kesungguhan dari mata Ryo. Terlihat jelas bahwa Ryo merasa amat sangat bersalah. Hasutan dan bisikan-bisikan gaib yang ia lontarkan pada ibu mereka membuat kekacauan yang begitu besar seperti ini.


"Seandainya saja aku tahu dari awal, bahwa kau menikahi Bu Vara, aku tidak harus melakukan hal-hal bodoh yang benar-benar merugikan kita semua," lanjut Ryo.


"Ryo, apa kau tahu, aku berusaha untuk tidak menyesali semua yang telah terjadi? Entah mengapa aku merasa bahwa pertaruhan yang kita lakukan membuatku mendapatkan cinta yang kudambakan dari seorang wanita yang menerimaku apa adanya," kata Viceroy dengan pandangan menerawang.


"Ryo, aku juga minta maaf padamu, harusnya sedari awal aku jujur dan tak perlu menutupi apa pun darimu dan juga ibu," kata Viceroy mengarahkan pandangannya ke arah Ryo.


"Jika kau benar-benar mencintai Bu Vara, bawa kembali dia ke sisimu! Paksa saja kalau perlu, daripada Bu Vara diambil orang!" Ryo terkekeh.


"Ryo, aku bukan orang yang suka memaksakan kehendak! Aku selalu melakukan negosiasi, memberi penawaran terbaik!"


"Dan aku mulai memahami bahwa Vara bukanlah orang yang bisa dipaksa! Karena semakin keras aku memaksanya, ia justru akan menghindariku!" kata Viceroy.


Viceroy jadi memahami karakter Vara saat ia berusaha untuk menyentuh Vara pertama kali. Vara sampai menangis gemetaran dan ketakutan karena Viceroy memaksakan kehendaknya. Dengan sabar Viceroy menunggu hingga akhirnya Vara sendiri yang datang dan menyerahkan dirinya.


Ryo mengulas senyumnya namun dalam hati ia benar-benar merasakan rasa sakit yang tak berdarah. Ia sudah begitu tega lantaran secara tidak langsung telah merenggut kebahagiaan Vara dan Viceroy.


Sehingga sudah saatnya ia harus mengikhlaskan perasaannya pada Vara.

__ADS_1


Cukup Tuhan saja yang tahu bahwa Ryo mencintai Vara.


Mencintai seseorang tidak perlu harus memilikinya, itulah yang saat ini ada dalam benak Ryo untuk membesarkan hatinya.


__ADS_2