
Vara sudah menunggu kedatangan Ozy dan Santika di sebuah restoran pinggir pantai yang menyajikan aneka seafood. Vara tahu, restoran ini terkenal mahal, namun bagi Vara tidak masalah karena makanan di sini nyata enak dan tempatnya juga nyaman untuk bersantai. Menikmati pemandangan matahari terbenam, tentu saja menjadi salah satu bonus yang ditunggu para pemburu senja seperti Vara yang jelas jarang sekali bisa menikmati senja. Vara sungguh karyawan yang pantang pulang sebelum petang. Ozy dan Santika akhirnya datang, dan langsung bergabung bersama Vara.
"Loh, Mas Tampan tidak datang, Vara?" tanya Ozy.
"Katanya kalau sempat menyusul," jawab Vara.
"Sayang sekali, padahal aku ingin ngobrol banyak dengannya, aku sungguh ingin tahu rahasia ketampanannya!" kata Ozy antusias.
Vara dan Santika berpandangan.
"Kenapa kalian menatapku seperti itu? Aku ini laki-laki yang masih suka perempuan, ya!" cibir Ozy.
"Sudah, sudah, ayo pesan, terserah kalian mau makan apa," kata Vara sambil memanggil pelayan.
"San, apa kau tahu, Vara ini sungguh mengagetkanku! Bisa-bisanya dia bertanya hal-hal aneh! Cari telur bersertifikasi, daging istimewa, sampai hewan perusak susu, apa-apaan itu!" cibir Ozy lagi.
"Haha...," Vara hanya bisa tertawa.
"Vara, apa kau mencari benda-benda aneh itu karena kau sedang mengidam?" tebak Santika.
"Hmm, tercium aura-aura bahagia! Aku bisa melihat bunga-bunga bertebaran di sekelilingmu, Vara!" kata Ozy.
"Haha, tidak seperti itu!" wajah Vara bersemu merah.
"Lihat, wajahmu sudah seperti kepiting rebus, Vara! Ya, Ampun! Bikin iri!" kata Ozy lagi.
"Hentikan, Ozy, kau membuat Vara nyaris meledak!" Santika melotot ke arah Ozy.
__ADS_1
"Oh ya, teman-teman, aku rasa aku mau cari kerja di tempat lain saja!" keluh Ozy.
"Ozy, bukankah kau baru pindah kerja?" kata Vara.
"Benar, baru juga satu bulan!" sahut Santika.
"Aduh, bisa gila aku rasanya! Gajinya, bonusnya, memang besar, tapi bosnya aduh, gila, galak sekali!" Ozy nampak gemetaran.
"Kok bisa?" tanya Vara dan Santika bersamaan.
"Aduh, semua-semua harus persetujuan beliau! Sudah begitu, tiap kali beliau marah, seperti Godzilla yang mengamuk menghancurkan kota! Amukannya sungguh dahsyat menggetarkan jiwa dan raga! Tiada hari tanpa cetar badai, sepertinya itu motto hidup beliau!" beber Ozy berapi-api.
"Kalian bisa membayangkan betapa tertekannya jiwa dan ragaku ini! Apalagi sekarang seniorku memberiku pekerjaan tambahan untuk mengurus sebagian pajak pribadi beliau! Astaga aku rasa uangnya sama sekali tidak ada nomor serinya!" lanjut Ozy.
"Kau bisa bekerja dengan atasan seperti monster begitu, Ozy?" tanya Vara.
"Makanya, Vara, aku rasanya belum siap jika nantinya setiap bertatap muka akan diamuk beliau!" jawab Ozy sambil menyeruput es tehnya yang baru saja diantarkan pelayan.
"Itu bosmu yang katanya baru menikah itu ya, Ozy?" tanya Santika.
"Benar! Semua karyawan jadi membicarakan, wanita mana yang bersedia menikah dengan pria temperamental itu!" sahut Ozy. "Kami semua sungguh mengasihani siapapun yang menjadi istri pria itu! Pasti istrinya kurus kering makan hati karena dimarahi habis-habisan! Mungkin setiap saat menyanyikan lagu kumenangis membayangkan betapa kejamnya dirimu!" lanjut Ozy.
"Iya, aku yakin, wanita yang menikah dengan bosmu itu, kalau tidak gila harta, ya benar-benar gila!" komentar Vara.
"Kau sungguh beruntung, Vara, punya suami yang tampan dan begitu baik," kata Santika.
"Kau benar, San, meski suamiku tidak bergelimangan harta, dia bersikap baik padaku, itu sudah lebih dari cukup," sahut Vara.
__ADS_1
Pelayan mengantarkan makanan pesanan mereka.
"Vara, apa ada lowongan staff pajak di kantormu?" tanya Ozy.
"Ozy, aku yang sudah tujuh tahun ini saja belum diangkat jadi pegawai tetap! Aku sungguh tidak berani merekomendasikan teman untuk bekerja di tempatku!" jawab Vara.
"Serius, Vara, kau belum juga jadi pegawai tetap?!" mata Ozy membulat.
Vara mengangguk.
"Aku juga, Zy, hanya saja, setiap dua tahun, aku pasti pindah kerja, cari yang gajinya lebih besar lagi, hehe...," Santika terkekeh.
"Betapa setianya kau pada perusahaanmu itu, Vara! Memangnya apa yang sudah diberikan perusahaanmu sampai kau begitu loyal? Tujuh tahun digantung begitu, dan kau masih setia?!" Ozy terkejut, terheran-heran.
"Perusahaan tempatku bekerja itu, sangat berarti untukku, sebagai tempat kerjaku yang pertama. Belum lagi aku merasakan kekeluargaannya, bagiku rejeki itu bukan hanya gaji, tapi kenyamanan di tempat kerja itu yang utama," Vara menjelaskan.
"Terus, atasannya Vara juga tampan sekali, Ozy!" Santika menimpali.
"Serius?! Setampan apa? Setampan suamimu?" tanya Ozy bersemangat.
"Tampan itu relatif, Ozy!" sahut Vara seraya tertawa.
"Ozy, apa kau tahu, atasannya Vara itu sepertinya naksir Vara juga!" kata Santika seraya tertawa.
"Syantik, tolong jangan menggiring opini," Vara melotot ke arah Santika yang masih tertawa.
"Ozy!" sapa seorang pria.
__ADS_1
Ozy langsung menoleh ke arah pria yang menyapanya.
"Pak Bagas!" Ozy langsung beranjak dari kursinya.