
Riko mengisi formulir permohonan cuti kerja. Ia akan menemui orang tua Vara di kampung untuk membicarakan langsung mengenai pengaturan kembali perjodohannya dengan Vara. Riko sudah menjual rumah yang dibelinya dari Pak Slamet saat akan menikahi Vara. Pak Roy sudah begitu baik membantunya membeli rumah tersebut secara tunai. Dana pun sudah masuk ke rekening Riko, yang nantinya akan dijadikan Riko sebagai uang mahar untuk Vara.
Uang mahar ini sudah menjadi tradisi yang berada di lingkungan masyarakat setempat. Semakin tinggi nominal uang mahar, maka semakin tinggi juga prestise untuk calon mempelai perempuan.
Riko harus menunjukkan itikad baiknya tersebut, ia akan menunjukkan bahwa meski Vara sudah menjanda, Riko tetap menghargai Vara dengan uang mahar yang tinggi. Riko akan memberi Vara mahar berupa uang tunai sebanyak lima ratus juta, rumah orang tuanya, satu set perhiasan emas sebanyak seratus gram, serta sebidang tanah yang menjadi warisan ayahnya untuk Riko. Belum lagi pesta pernikahan yang sudah dianggarkan Riko menelan biaya hingga dua miliar termasuk biaya bulan madu keliling Eropa.
Sungguh untuk seorang janda, Riko siap menggelontorkan dana sebanyak itu. Ia sungguh sudah siap menghabiskan uang tabungannya untuk meminang Vara. Menebus semua kesalahannya lantaran dulu menolak perjodohannya dengan Vara dan menunjukkan pada semua orang betapa Riko lebih unggul dari mantan suami Vara itu.
Waktu Vara menikah, Vara bahkan sama sekali tidak mengadakan syukuran atau sekedar bagi-bagi nasi kotak ke tetangga agar mereka tahu bahwa Vara sudah menikah. Semua tetangga jadi menggunjingkan Vara yang terkesan tidak punya harga diri sebagai seorang wanita. Hanya karena katanya suaminya tampan, makanya Vara bersedia menikah meski tanpa uang mahar sepeserpun.
"Iya, kami lihat sendiri, suami Vara hanya menang tampang, tidak ada uangnya," kata Bu Muji saat Riko menemuinya.
"Sepertinya aku lebih unggul dari suaminya Vara itu ya, Tante," kata Riko.
"Tentu saja, Riko, bahkan ibunya Vara sudah merestuimu!" kata Bu Muji. "Tapi Riko, menurut Tante, kenapa kau tidak mencari wanita lain saja? Masih banyak gadis-gadis muda lainnya yang lebih cocok untukmu," kata Bu Muji.
"Tante, ibuku cocoknya sudah sama Vara, sungguh aku hanya ingin beliau bahagia dengan wanita yang bisa menemaninya melewati hari tuanya," kata Riko. "Aku rasa mungkin ini sudah jalan yang ditakdirkan untukku dan juga Vara, kami bersatu setelah sama-sama tahu bagaimana gagalnya berumah tangga," lanjut Riko.
"Yah, Tante hanya bisa mendukungmu saja, Riko, yang penting kau bahagia," kata Bu Muji.
"Tante, tolong rahasiakan hal ini dari ayah dan ibuku, aku ingin memberi kejutan untuk mereka," pesan Riko.
...*****...
Riko segera bergegas menuju ke ruangan Pak Roy yang sudah penuh dengan antrian karyawan yang menunggu. Pak Roy terlihat begitu segar dengan rambut yang masih setengah basah, membuka pintu ruangan kerjanya. Membuat semua karyawan langsung berkasak-kusuk.
"Tumben Pak Roy mandi siang-siang," bisik para karyawan.
__ADS_1
"Mungkin gerah karena dari luar," sahut yang lain.
"Mungkin tadi pulang minta jatah sama istrinya," bisik yang lain sambil cekikikan.
"Ehem," Riko berdeham membuat semua karyawan yang menjadikan Pak Roy sebagai bahan gunjingan terkesiap seketika. "Bicaranya jangan keras-keras, tidak enak didengar Pak Roy," kata Riko menasehati.
"Hehe, maaf, Pak Riko," sahut mereka.
Riko segera memasuki ruangan kerja atasannya itu. Benar saja, jelas sekali Pak Roy baru saja selesai mandi, rambutnya masih setengah basah, dan juga tercium aroma sampo dan sabun serta wewangian yang menguar memenuhi ruangan kerja itu.
Riko mengulas senyum, saat datang ke rumah pria itu, Pak Roy juga terlihat baru selesai mandi padahal hari masih siang. Biasanya meski pria itu melakukan inspeksi mendadak ke seluruh kapal miliknya yang berada di laut, melakukan survei ke lapangan yang membuat keringat bercucuran, pria itu tak pernah terlihat mandi di siang bolong.
Menjadi pengantin baru memang sangat menyenangkan, Riko sungguh tak sabar untuk mengulang kembali masa-masa harus berkali-kali mandi dalam satu hari lantaran gerah terbakar gairah.
"Ada apa, Pak Riko?" tanya Viceroy yang melihat Riko tersenyum-senyum menatapnya.
"Apa?! Cuti?!" tanya Viceroy keheranan.
"Tiga hari saja, Pak," jawab Riko.
"Pak Riko, pekerjaan saat ini masih begitu banyak, apa tidak bisa jangan ambil cuti dulu?" tanya Viceroy.
Riko terlihat mengerutkan keningnya.
"Memangnya anda mau ke mana, Pak?" tanya Viceroy.
"Saya mau pergi ke kampung, Pak," jawab Riko.
__ADS_1
"Pak Riko, bukannya orang tua anda semua ada di kota ini?" tanya Viceroy.
"Saya mau pergi ke kampung untuk menemui calon mertua saya, Pak," jawab Riko malu-malu.
"Pak Riko, anda berencana menikah lagi?" tanya Viceroy.
"Begitulah, Pak," jawab Riko.
"Jadi itu alasan anda menjual rumah?" tanya Viceroy lagi.
"Benar Pak, untuk modal menikah," jawab Riko.
"Kapan anda cuti?" tanya Viceroy.
"Akhir pekan ini, Pak," jawab Riko.
Viceroy menatap kalender duduk yang ada di meja kerjanya, kalender tersebut penuh dengan coretan di setiap tanggalnya.
"Minggu depan saja bagaimana?" tanya Viceroy.
Riko nampak berpikir, sebenarnya ini tidak mendesak juga, hanya saja, lebih cepat lebih baik. Rasanya ia sudah tidak sabar untuk bisa mempersunting Vara. Saat ini Vara memang masih berstatus sebagai istri orang, hanya saja ibu Vara sudah mengatakan pada tante Riko. Bahwa jika Riko serius untuk mengatur ulang perjodohannya dengan Vara, ibu Vara akan menyuruh Vara untuk bercerai dari suaminya. Apalagi mengurus perceraian itu hal yang lebih rumit ketimbang mengurus pernikahan. Terlebih jika suami Vara enggan menceraikan Vara, akan rumit sekali urusannya. Lain halnya suami Vara bersedia secara suka rela menggugat cerai Vara, akan lebih mudah urusannya, seperti saat Riko menggugat cerai Laras.
Sepertinya Riko juga harus mencari tahu siapa suami Vara. Kabar yang didengar Riko, suami Vara hanya seorang pedagang ikan yang saat ini sedang terlilit utang makanya sampai tidak bisa membuat pesta pernikahan untuk Vara.
Ya, Riko akan melunasi utang pria itu berapa pun nominalnya, asalkan pria itu bersedia menceraikan Vara. Kali ini Vara benar-benar harus menjadi istrinya. Demi membahagiakan ibunya dan tentu saja untuk dirinya juga.
__ADS_1