
Vara duduk di kasur sedangkan Viceroy masih duduk di sofa. Atmosfer di sekitar mereka terasa begitu berat karena suasana mereka begitu tegang.
"Vara, aku ingin kau menemui ibuku," kata Viceroy.
"Aku bisa saja," jawab Vara.
"Masalahnya, ibuku akan memberimu serangkaian tes untuk mengujimu," Viceroy melanjutkan.
"Apa tujuannya?" tanya Vara.
"Tujuannya tentu saja untuk menentukan restu," jawab Viceroy.
"Apakah semacam wawancara seperti yang dilakukan bapakku padamu?" tanya Vara.
"Entahlah, aku juga tidak tahu, karena selama ini aku belum pernah melihat ada wanita yang diuji, kau diuji karena sudah menjadi istriku," jawab Viceroy.
Vara menegang, itu artinya ia akan menjadi wanita pertama yang diuji. Apa Viceroy tidak berkencan sebelumnya? Makanya, pria ini tidak pernah melihat ujian yang diberikan ibunya?
"Vara, aku tahu, pernikahan kita hanya bersifat formalitas untuk kita berdua, tapi untuk keluargaku ternyata tidak bisa, jadi kuharap kau bisa membantuku," kata Viceroy.
__ADS_1
"Lagipula sekarang akulah yang ditunjuk bapakmu untuk menjagamu, jadi kita harus bekerja sama sebagai tim yang baik!" lanjut Viceroy.
Apa yang dikatakan oleh Viceroy benar, saat ini memang hanya Viceroy yang akan menjaganya. Saat ini, status pria ini adalah suaminya yang sah secara hukum yang berlaku.
"Memangnya apa yang terjadi kalau aku tidak lulus uji sertifikasi ibumu itu?" tanya Vara.
Viceroy mengerutkan keningnya mendengar istilah uji sertifikasi yang dilontarkan Vara.
"Pernikahan kita terpaksa harus dibatalkan," jawab Viceroy.
Vara memutar bola matanya, jika pernikahannya dibatalkan, itu artinya Vara akan menjanda dan ibu akan menyeretnya untuk pulang kampung.
Tidak! Itu tidak boleh terjadi, batin Vara sambil menggeleng-gelengkan kepala.
"Baiklah, aku bersedia," jawab Vara mantap. "Kapan ujiannya? Jadi aku bisa mempersiapkan diri," kata Vara.
"Entahlah, anggap saja ulangan harian mendadak!" kata Viceroy.
Vara melengos, ia sungguh tidak menyangka menikahi Viceroy akan menimbulkan masalah lain untuknya.
__ADS_1
"Karena itu, kita tidak boleh membuang waktu, karena tesnya bisa berupa apapun, kita harus mulai mendiskusikan apa hal yang kau kuasai dan hal yang menjadi kekuranganmu," Viceroy melanjutkan.
"Viceroy, apa kau pernah mendengar istilah, jika ingin memenangkan perang, kau harus mempelajari musuhmu?" tanya Vara.
Viceroy mencebik, ingin rasanya ia tertawa karena Vara menganggap ujian ini sebagai perang.
"Jadi, apa yang mau kau ketahui tentang Ibuku?" tanya Viceroy.
"Aku juga harus tahu tentangmu, karena tidak menutup kemungkinan Ibumu akan menjadikanmu sebagai kartu As-nya," kata Vara.
"Apalagi uji sertifikasi ini untuk menilai kelayakanku sebagai istrimu, jika hipotesisku benar, kau pasti akan menjadi topik utama ujian tersebut," Vara melanjutkan.
Karena tidak mungkin yang menjadi topik ujiannya itu adalah orang lain.
Viceroy terpana mendengar pemikiran Vara. Rupanya Vara memiliki pikiran yang kritis juga.
"Baiklah, apa yang ingin kau ketahui tentangku?" tanya Viceroy.
"Aku ingin tahu, berapa lama kita akan berada di hotel ini?" kata Vara.
__ADS_1
"Saat ini rumahku masih dalam tahap penyelesaian, kita juga belum bisa tinggal di rumah utama, karena kau masih belum mendapat hasil sertifikasi, untuk sementara kita akan berpindah-pindah dari satu hotel ke hotel lain, sampai seluruh voucer gratis menginap di hotel yang kumiliki habis terpakai, sungguh mubazir jika tidak dipergunakan," Viceroy menjelaskan.
Vara mencebik, ia benar-benar baru tahu bahwa Viceroy ternyata orang yang sangat oportunis. Anehnya, Vara tidak merasa keberatan, karena kamar hotel ini begitu bagus. Viceroy sendiri juga tidak mau tinggal di tempat yang kurang nyaman.