Akibat Taruhan Menikah

Akibat Taruhan Menikah
Ngambek


__ADS_3

Viceroy menggerutu sepanjang perjalanan menuju rumah teman Vara, yaitu Santika, yang tempo hari dikenalkan Vara. Viceroy bahkan sudah begitu buru-buru turun dari pesawat dan langsung menuju ke hotel. Ia sungguh kaget karena Vara tidak membukakan pintu untuknya meski ia sudah menekan bel berkali-kali. Viceroy bahkan menghubungi resepsionis hotel untuk membuka pintu kamar hotel dengan kunci master. Tidak ada tanda-tanda bahwa Vara ada datang ke kamar yang begitu rapi.


Viceroy segera menghubungi Vara dan harus menjemput wanita itu untuk kembali bersamanya. Ia segera menyuruh sopir untuk membawakan sepeda motor kesayangannya itu ke hotel. Lalu bergegas menyusul Vara. Apa wanita itu tidak menginap di kamar yang sudah dipesannya? Sungguh mubazir! Membuang-buang uang dengan percuma.


Viceroy segera menelpon Vara begitu ia tiba di depan rumah Santika. Vara terlihat keluar dari rumah itu dengan didampingi temannya. 


"Maaf sudah merepotkan," kata Viceroy ke arah Santika.


"Tidak masalah," kata Santika.


"Terima kasih ya, San, aku pergi dulu," Vara berpamitan.


Ia segera duduk di belakang Viceroy, Viceroy segera melajukan sepeda motornya menembus dinginnya malam. Sepanjang perjalanan, mereka hanya diam, hingga mereka memasuki kamar hotel.


...*****...


Begitu selesai mandi, Vara bergegas mengganti pakaiannya. Ia melihat Viceroy yang sudah berbaring memunggunginya. Entah mengapa Vara merasa Viceroy marah padanya. Vara segera berbaring di kasur, atmosfer ruangan ini terasa begitu menyesakkan Vara. Biasanya mereka tak pernah saling berdiam diri seperti ini.


"Viceroy, kau sudah tidur?" tanya Vara.


"Sudah," jawab Viceroy dengan ketusnya.


Vara tersenyum.


"Kalau sudah tidur, kenapa kau bisa menjawabku?" tanya Vara lagi.


"Itu mulutku yang menjawab," sahut Viceroy masih dengan ketusnya.

__ADS_1


Vara jadi semakin yakin, pria ini pasti sedang marah padanya.


"Kau marah padaku?" tanya Vara.


"Sangat," jawab Viceroy.


Vara tersenyum lagi, ia segera mendekat ke arah Viceroy, lalu memeluk pria itu dari belakang. 


"Maafkan aku," kata Vara.


Viceroy berbalik, menghadap ke arah Vara.


"Apa kau tahu, kenapa aku marah padamu?" tanya Viceroy menatap tajam pada Vara.


"Maaf aku merepotkanmu," jawab Vara.


"Aku selalu menginap di kamar ini," jawab Vara.


"Kau berbohong padaku," kata Viceroy.


"Kau bisa periksa rekaman cctv hotel," sahut Vara. "Kupikir malam ini kau tidak datang, aku sungguh merasa kesepian dan juga ketakutan," Vara melanjutkan.


"Mengapa kau tidak menghubungiku sama sekali?" tanya Viceroy. "Apa kau menyelundupkan pria di kamar ini, sehingga kau sama sekali tidak menghubungiku?" tuding Viceroy.


"Kau bisa periksa rekaman cctv kalau aku ada membawa pria lain ke kamar ini!" tantang Vara.


"Viceroy, bukannya aku tidak mau menghubungimu, aku hanya tidak ingin mengganggumu, mana kutahu kalau ternyata kau sedang asyik berduaan bersama wanita lain dan aku mengganggumu," kata Vara.

__ADS_1


"Apa?! Wanita lain?!" Viceroy mengerutkan alisnya. "Bagaimana kau bisa menuduhku begitu?!" tanya Viceroy.


"Kau juga menuduhku membawa pria lain ke kamar ini," jawab Vara.


Viceroy terkekeh, "Aku bahkan langsung datang menemuimu karena kau bilang merindukanku!".


"Kau yang menyuruhku mengatakannya," kata Vara.


"Jadi kau tidak merindukanku?" tanya Viceroy.


"Tidak," jawab Vara. 


Viceroy mencebik, rasanya ia menyesal sudah pulang lebih awal dari yang sudah direncanakan. 


"Tapi aku benar-benar, amat sangat rindu sekali padamu," Vara menatap lembut Viceroy.


"Aku benar-benar marah padamu, bisa-bisanya kau tidak ada di kamar ini saat aku pulang!" gerutu Viceroy.


"Maaf, aku meragukan perkataanmu, dulu kau juga mengatakan akan datang setelah akad nikah kita, nyatanya aku bahkan tak mendengar kabar apapun darimu," kata Vara.


Viceroy tersenyum, ia langsung mendekap Vara ke dalam pelukannya. Vara begitu senang, ia merasa sangat nyaman berada dalam pelukan Viceroy. Seakan tubuh pria itu memang tercipta untuk memberinya kenyamanan dan ketenangan.


"Maafkan aku, sungguh, aku berusaha secepat mungkin agar urusanku segera selesai sehingga aku bisa langsung menemuimu lagi, aku sungguh merindukanmu, Vara," kata Viceroy.


"Terima kasih sudah menepati janjimu," kata Vara.


"Tidurlah, kau pasti lelah," kata Viceroy.

__ADS_1


Ia mengecup kening Vara dengan penuh kelembutan. Membiarkan dirinya hanyut dalam kerinduan pada seorang wanita yang belum pernah ia rasakan sebelumnya pada wanita manapun selama hidupnya.


__ADS_2