Akibat Taruhan Menikah

Akibat Taruhan Menikah
Kunjungan Riko


__ADS_3

Viceroy memberi makan ikan-ikan yang ada di dalam kolam-kolam. Menyirami tanaman di kebun mini sambil memanen yang ingin dikonsumsinya. Ia segera kembali ke dapur dan melihat Vara yang masih sibuk memasak makan siang mereka. Viceroy tersenyum, ia sungguh merasa bahagia karena menikah dengan Vara. Menjalani kehidupan pernikahan yang didambakannya, kehidupan sederhana dan bahagia. Mereka bahkan tidak pernah bertengkar, karena Vara begitu dewasa dan bijaksana. 


Viceroy tidak bisa membayangkan bagaimana hidupnya jika menikah dengan wanita lain. Jika saat kencan buta yang dijaringnya bukanlah Vara, entah apa ia bersedia menikahi salah satu peserta kencan butanya. Viceroy merasa menyesal, mengapa ia tidak bertemu dengan Vara dari dulu, ya? Dulu mereka memang teman satu kelas. Maksudnya, mengapa mereka tidak bertemu sebelum Viceroy bertemu Regina?


Viceroy menyayangkan karena dua tahunnya terbuang sia-sia untuk dihabiskan bersama Regina yang bahkan tak pernah tertarik padanya. Sungguh rugi waktu, rugi tenaga, rugi pikiran, rugi perasaan, hingga rugi materi. Sebagai seseorang yang penuh dengan perhitungan, Viceroy sungguh merasa rugi bandar.


Viceroy bahkan sudah membeli cincin seharga dua miliar untuk Regina, dan harus dibuangnya percuma. Dua miliar bisa digunakannya untuk menambah bonus karyawan yang memiliki kinerja terbaik dalam enam bulan.


Regina benar-benar tidak bisa dibandingkan dengan Vara. Wanita itu bahkan memberikan segalanya untuknya. Wanita yang mencintainya bukan karena ada apanya. Wanita yang menerima Viceroy seutuhnya tanpa memedulikan latar belakang Viceroy. Viceroy sungguh benar-benar bahagia menjalani pernikahannya saat ini.


"Ada yang bisa kubantu?" tanya Viceroy menghampiri Vara.


"Tolong siapkan lalapannya, ya" jawab Vara.


Viceroy segera melakukan permintaan Vara, sementara Vara sudah siap menata meja makan. Vara memasak menu yang sederhana, hanya ikan nila goreng, sayur asem dan sambal terasi. Viceroy sungguh tergila-gila pada sambal buatan Vara. Apa karena Vara pernah ikut kursus memasak?


Viceroy merasa sangat bahagia memiliki Vara sebagai istrinya. Vara begitu cantik, penurut, dan pandai memasak. Vara juga tidak manja dan rewel seperti wanita-wanita lain pada umumnya. 


...*****...


Vara tersenyum melihat Viceroy yang nampak makan dengan lahap. Wajahnya memerah dengan keringat yang bercucuran, bibirnya yang sudah dasarnya merona merah, semakin merah seperti memakai lipstik.


"Pedas sekali, ya?" tanya Vara.


"Lebih pedas dari biasanya," jawab Viceroy.


"Kata orang, kalau sambal itu sangat pedas, pembuatnya berhati jahat," sahut Vara.


"Begitu, ya?!" Viceroy tertawa.


"Iya, aku begitu jahat karena hanya ingin memonopolimu," kata Vara.


Viceroy tertawa, Vara sepertinya benar-benar tidak bersedia dimadu.


Vara segera mencuci piring begitu mereka selesai makan. Viceroy langsung memeluk Vara dari belakang.


"Mana makanan penutupnya?" tanya Viceroy.


"Ada puding di lemari es," jawab Vara.


"Hmm, tapi aku maunya kamu," kata Viceroy yang langsung menggendong Vara ke atas meja makan.


"Viceroy, apa harus di meja makan?" tanya Vara.


"Kenapa, tidak? Sekalian tes kekuatan meja makan ini," Viceroy tersenyum jahil.


Vara tertawa saat Viceroy menjadikan Vara sebagai hidangan penutupnya.


...*****...

__ADS_1


"Vara, tidak usah pakai pakaian dalam lagi saat di rumah, ya," Viceroy kembali tersenyum jahil saat menyingkap daster yang dipakai Vara.


"Viceroy!" Vara mencubit perut Viceroy dengan gemas.


"Viceroy, aku selalu bertanya-tanya, mengapa di rumah ini hanya ada satu kamar?" tanya Vara pada Viceroy yang bersandar di tumpukan bantal sambil berkutat pada dua ponselnya.


"Tentu saja, agar selalu berduaan seperti saat ini," jawab Viceroy sambil meletakkan kembali ponselnya ke atas nakas.


Vara terperangah mendengar alasan Viceroy. 


"Viceroy, sepertinya kau lebih mesum dari Ozy ya?!" rutuk Vara.


Viceroy tertawa, ia bahkan sudah merancang rumah ini jauh sebelum mengenal Ozy.


Seharian ini mereka memang hanya menghabiskan waktu berdua saja. Vara memutuskan mengambil izin tidak masuk bekerja, dengan alasan sakit. Viceroy tersenyum saat mendengar Vara menelepon teman kerjanya.


"Maaf ya, Mbak, besok aku buat surat izinnya," kata Vara.


"Bohong, Mbak, bohong," kata Viceroy seraya tertawa. 


Vara melotot ke arah Viceroy yang menyeringai.


"Iya, Mbak, sakit aku, Mbak, tidak enak badan," lanjut Vara masih bermonolog.


"Sakit-sakit enak, Mbak," kata Viceroy lagi.


"Sakit tapi suka, benar, kan?" Viceroy kembali memeluk Vara.


"Iya, aku mau lagi," jawab Vara tanpa malu-malu.


"Nyonya Viceroy benar-benar ketagihan," Viceroy tertawa sambil kembali menciumi Vara.


Lagi-lagi mereka mengulang kembali perburuan kenikmatan mereka. Begitulah Vara, saat makan pun jika dirasa enak, ia bisa tambah berkali-kali. Apalagi setelah merasakan betapa nikmatnya surga dunia.


...*****...


Viceroy segera membuka pintu rumah begitu mendapati Riko yang sudah berdiri menunggunya dengan membawa setumpuk dokumen yang harus ditanda tangani. Tanpa tanda tangan Viceroy, operasional perusahaan tidak akan berjalan. 


Riko memang pernah diajak Viceroy mengunjungi lahan pribadi yang dibeli Viceroy dengan penuh drama persengketaan. Riko tahu persis, karena Riko yang ditunjuk untuk mengurus pembayaran lahan seluas puluhan hektar tersebut. Riko menatap rumah yang baginya terlalu sederhana untuk ukuran pria sekaya Viceroy. Lagipula bagi Riko, mungkin ini saat yang tepat baginya untuk bisa bertemu dengan istri bosnya ini.


Riko melihat Viceroy yang nampak baru saja habis mandi, dengan rambut yang masih basah, padahal hari masih siang. 


Riko menatap sekeliling ŕumah yang nampak sepi.


"Anda sendiri saja di rumah ini, Pak?" tanya Riko.


"Tidak, ada istri yang menemani saya," jawab Viceroy.


"Di mana istri anda, Pak?" tanya Riko.

__ADS_1


"Istri saya sedang beristirahat," jawab Viceroy.


Viceroy menatap malas tumpukan dokumen yang diletakkan Riko di atas sofa.


"Pak Riko, tidak bisa dikerjakan besok saja di kantor?" tanya Viceroy.


"Tidak bisa, Pak, anda sudah dua hari tidak masuk kantor," jawab Riko tegas.


"Yang mana yang paling prioritas?" tanya Viceroy.


"Semuanya, Pak," jawab Riko.


Viceroy tidak bisa asal tanda tangan, ia selalu memeriksa nominal pengeluaran perusahaan meski hanya sepuluh ribu. 


"Begini saja, saya pinjamkan dari rekening pribadi saya dulu, nanti tolong diaturkan setelah saya periksa semuanya," kata Viceroy.


"Baik, Pak," jawab Riko.


Viceroy segera kembali ke kamar untuk mengambil tas kerja, ia melihat Vara yang masih terlelap di kasur. Rupanya istrinya itu benar-benar kelelahan. Ingin rasanya Viceroy membangunkannya namun Vara harus beristirahat untuk menyiapkan tenaga lagi, karena nanti malam mereka harus kembali meleburkan diri.


Viceroy segera kembali ke ruang tamu untuk menuliskan cek.


"Sudah lama tinggal di sini, Pak?" tanya Riko.


"Belum lama," jawab Viceroy.


"Pak, bisakah anda membantu saya?" tanya Riko. 


Viceroy menatap Riko, ia tak pernah melihat Riko meminta bantuannya.


"Saya akan menjual rumah saya, barangkali anda berminat," kata Riko.


"Memangnya mau anda jual berapa?" tanya Viceroy.


"Saya buka harga sembilan ratus juta, nego bagus di kisaran tujuh ratus juta. Saya berani menawarkan harga tersebut karena, rumah berada di perumahan bagus dan lokasinya strategis, aksesnya mudah, serta fasilitasnya juga lengkap. Saya jual di bawah harga pasaran, karena butuh dana cepat," Riko menjelaskan bak sales perumahan.


"Perumahaan apa?" tanya Viceroy.


"Perumahan Hijau Zamrud," jawab Riko.


Viceroy nampak berpikir, Riko benar, perumahaan tersebut memiliki lokasi strategis. Berada di daerah pusat kota dan prospeknya bagus, lagi pula harganya juga masih masuk akal.


"Baiklah, nanti diaturkan saja," jawab Viceroy.


Riko bergegas pergi meninggalkan rumah atasannya. Sungguh sayang sekali ia tidak bertemu dengan istri pria itu. Padahal Riko ingin melihat langsung istri Pak Roy. Seperti apa rupa wanita itu sampai Pak Roy terkesan menyembunyikan istrinya.


Viceroy segera memeriksa pekerjaan yang harus dilakukannya. Padahal ia sungguh ingin kembali terlelap bersama Vara, namun banyaknya pekerjaan membuatnya harus mengalah.


 

__ADS_1


__ADS_2