
Riko duduk termenung di dalam apartemennya. Ia menginginkan Vara untuk menjadi istrinya, agar ibunya merasa senang. Riko tahu, ia dulu salah memilih Laras untuk menjadi istri, namun ia tidak menyesal karena ia memang mencintai Laras. Terlebih Bu Muji, tante Riko mengatakan betapa ibu Vara lebih menginginkan Riko menjadi menantunya. Bahkan kabarnya, jika Riko bersedia mengatur ulang perjodohannya dengan Vara, ibu Vara akan membujuk Vara agar mau berpisah dari suaminya.
Bagi Riko, mungkin ini memang sudah waktunya untuk melepas status dudanya sekaligus membuat ibunya senang. Entah apa yang dilakukan oleh Vara, hingga ibunya begitu menginginkan Vara sebagai menantu. Memang saat masih menikah dengan Laras, hubungan Laras dan ibunya tidak terlalu bagus. Mengingat betapa sibuknya Laras terhadap pekerjaannya, sehingga Laras terkesan mengabaikan mertuanya. Laras selalu membatalkan janji yang sudah dibuatnya dengan alasan ada pekerjaan penting yang harus dikerjakan setiap kali ibu Riko mengadakan jamuan makan malam dalam rangka kumpul keluarga.
Riko mulai menghitung anggaran yang harus ia siapkan untuk melamar Vara. Ia harus membuat resepsi pernikahan yang lebih mewah dan lebih megah daripada saat ia menikah dengan Laras dulu. Ia bisa saja meminjam dana di bank, namun ia tak mau berhutang setelah menikah. Lebih baik ia menjual kembali saja rumah yang dibelinya dari orang tua Vara. Lagipula setelah menikah ia bisa tinggal di rumah orang tuanya agar Vara bisa menemani ibunya. Ibunya memerlukan teman agar tidak kesepian mengingat Riko adalah bungsu dari tiga bersaudara dan dua kakaknya tinggal di kota lain.
Terdengar pintu apartemen Riko terbuka, sosok Laras menerobos masuk. Wanita itu terkejut mendapati Riko yang nampak berkutat di depan kertas-kertas yang bertebaran di meja makan.
"Tumben kau kemari, Laras," kata Riko.
"Mampir," jawab Laras singkat. "Kau sedang apa? Menghitung anggaran pernikahan? Kau mau menikah lagi?" tanya Laras mengambil dan membaca salah satu kertas yang berada di atas meja makan.
__ADS_1
"Begitulah," jawab Riko singkat.
"Wah, sepertinya kau akan membuat pesta pernikahan yang lebih mewah dan megah daripada pernikahan kita dulu," komentar Laras.
"Kau benar, karena itu aku harus menjual rumahku, kau bersedia membelinya?" tanya Riko.
"Aku tidak tertarik! Lagipula saat aku menikahi pria kaya, aku akan tinggal di rumah yang lebih mewah!" jawab Laras.
"Karena itu, bantu aku mendapatkan Pak Viceroy Royal Grup!" kata Laras.
"Astaga, Laras, apa kau sudah gila?! Carilah pria kaya lain, jangan atasanku! Mau ditaruh di mana mukaku?! Apa nanti kata orang saat mantan istriku menikah dengan atasanku! Harga diriku bisa rusak!" protes Riko.
__ADS_1
"Riko, saat aku menikahi Pak Viceroy, aku akan meminta beliau untuk memberimu modal, agar kau bisa membangun perusahaanmu sendiri!" kata Laras.
"Maaf, Laras, aku tidak bisa melakukannya, Pak Roy sudah begitu baik padaku! Lagi pula pria itu sudah menikah, sungguh tidak enak didengar bahwa pemicu keretakan rumah tangga beliau dikarenakan adanya pihak ketiga dan itu adalah kau," kata Riko.
"Riko, apa kau yakin pria itu sudah menikah? Memangnya kau tahu siapa istrinya?" tanya Laras mencecar Riko.
"Aku lebih siap bersaing dengan istri nyata Pak Viceroy, daripada melawan musuh tanpa wujud! Itu sama saja seperti kandidat pemilihan umum yang melawan kotak kosong!" cecar Laras.
Riko terdiam, hingga detik ini ia juga tak yakin bahwa Pak Roy telah menikah. Pria itu benar-benar menutup rapat kehidupan pribadinya. Seorang penggila kerja macam Pak Roy tiba-tiba menikah secara mendadak tentu saja sangat mengagetkan.
"Begini saja, Riko, kau bantu aku mencari tahu siapa istri Pak Viceroy! Aku sudah mencoba melakukan penyelidikan sendiri dan hasilnya nihil! Aku rasa pria itu hanya berhalusinasi!" Laras menambahkan.
__ADS_1