
Vara sudah bersiap untuk pergi ke kantor. Ia mematut dirinya di depan cermin saku, memastikan penampilannya terlihat rapi. Tak lupa ia memulas lipstik berwarna jingga terang agar penampilannya terlihat lebih segar. Viceroy yang baru selesai sarapan langsung memasang wajah cemberut yang dibuat-buat.
Viceroy sungguh cemburu saat melihat Vara mengenakan lipstik berwarna terang, karena menurutnya membuat bibir Vara terlihat begitu menggoda.
"Vara, merah sekali bibirmu, kau mau ke kantor untuk bekerja atau menggoda pegawai pria?" Viceroy melotot ke arah Vara.
"Viceroy, apa kau juga cemburu dengan lipstik?" tanya Vara.
"Hmm, lipstikmu enak sekali karena terus menempel di bibirmu," sahut Viceroy.
"Viceroy, untuk apa kau cemburu begitu? Bukankah aku sudah menjadi milikmu sepenuhnya dan seutuhnya?" tanya Vara.
"Coba sebutkan dan jelaskan padaku, mana anatomi diriku yang belum menjadi milikmu?" tanya Vara lagi.
"Vara, kenapa kau jadi seperti guru Biologi yang memberi soal ulangan harian?" Viceroy terkekeh.
"Ya, habisnya kau cemburu begitu," tukas Vara.
Viceroy tersenyum dan langsung mengusap lipstik dari bibir Vara dengan bibirnya.
"Aku tidak mau kau menjadi objek fantasi para pria yang melihatmu," kata Viceroy.
"Aku ingin kau terlihat sangat cantik hanya di hadapanku," lanjut Viceroy sambil mengusap sisa lipstik yang menempel di bibir Vara dengan jarinya.
"Viceroy, kau bahkan selalu senantiasa terlihat begitu tampan! Para wanita yang melihatmu pasti juga sangat menginginkanmu!" cibir Vara.
"Lihat, bibirmu bahkan begitu merah meski tanpa lipstik!" lanjut Vara sambil mengusap bibir Viceroy dengan jarinya.
Viceroy menyembunyikan senyumnya, Vara sungguh tidak tahu bahwa banyak wanita lain bahkan terlalu takut untuk bertatapan mata dengannya.
"Vara, bibirku merah kan dari sananya," Viceroy mengacak gemas rambut Vara.
"Tidak mungkin! Seingatku saat masih sekolah dulu bibirmu tidak semerah ini," protes Vara.
"Benarkah? Kau sungguh memerhatikan bibirku dulu?" tanya Viceroy.
Wajah Vara memerah, mengapa ia jadi mengucapkan hal yang tidak perlu. Viceroy jadi tersenyum sumringah.
"Vara, apa jangan-jangan dari dulu kau naksir aku, ya?" tanya Viceroy.
"Viceroy, tolong jangan mengada-ada!" sahut Vara yang terlihat jelas menutupi rasa salah tingkahnya.
Viceroy tersenyum jahil sambil mengusap bibirnya.
"Lihat, bibirku jadi makin merah karena lipstikmu."
__ADS_1
"Viceroy, kau pasti sulam bibir, kan?" tanya Vara.
"Apa itu sulam bibir?" tanya Viceroy keheranan. "Apa maksudmu bibir yang dijahit? Bagaimana aku bisa bicara kalau bibirku dijahit? Vara, kau jangan mengada-ada," Viceroy kembali mengacak rambut Vara dengan gemas.
"Viceroy, ayo kita pergi sekarang, aku sudah hampir terlambat! Nanti gajiku bisa dipotong!" ajak Vara.
"Vara, memangnya gajimu dipotong berapa? Aku bisa menggantinya! Aku yang tanggung jawab!" sahut Viceroy.
"Viceroy, terlambat datang ke kantor bukan hanya memotong gajiku, tapi juga memengaruhi penilaian kinerjaku! Aku ini masih pegawai kontrak yang sedang berjuang untuk jadi pegawai tetap!" kata Vara.
Viceroy kembali tersenyum, Vara sungguh pegawai yang rajin.
"Baiklah," sahut Viceroy.
...*****...
Vara sudah duduk di meja kerjanya. Ia memulai rutinitas setiap pagi sebelum memulai pekerjaan. Berdoa menjadi hal wajib yang selalu ia lakukan. Kemudian memakai losion untuk telapak tangan dan menyemprotkan wewangian ke bajunya.
Vara menyisir dan menata rambutnya yang panjang hanya dengan diikat ke belakang.
"Vara, rambutmu jangan dibiarkan terurai, nanti banyak pria yang ingin membelai rambutmu," begitulah pesan Viceroy.
Vara tersenyum, suaminya itu benar-benar sangat posesif.
"Sejak punya pacar sepertinya Mbak Vara semakin cantik," sahut Jenah.
"Coba dikenalkan pacarnya yang katanya tampan itu, Mbak," kata Elva.
"Apa tunggu dikenalkan di pelaminan, Mbak?" tanya Jenah.
Vara hanya tersenyum malu-malu.
"Hei, kalian sedang apa?! Membicarakan aku, ya?!" kata Mbak Luna langsung bergabung.
"Ini, Mbak Lun, Mbak Vara sudah punya pacar, lho," kata Jenah.
"Wah, tercium bau-bau naik pelaminan ini," goda Mbak Luna.
"Sudah, sudah ayo kembali bekerja," kata Vara nampak salah tingkah.
"Ihiyy, ada yang salah tingkah," goda Elva.
Keseruan obrolan pagi-pagi mereka terhenti saat Alya memasuki ruang kerja Vara bersama seorang wanita berpenampilan nyentrik yang membuat Vara bergidik. Wanita yang ditemuinya saat mengikuti tes penerimaan karyawan di Royal Grup. Wanita yang mengaku sebagai istri pemilik Royal Grup.
"Teman-teman semuanya, perkenalkan ini Ibu Sofia. Beliau adalah adik ipar Pak Ryo, saat ini beliau sedang mengikuti program magang," Alya memperkenalkan wanita itu.
__ADS_1
Wanita itu mengenakan gaun berwarna hijau zaitun, bermandikan payet warna warni. Memakai wedges warna senada dengan bajunya. Tas tangan warna senada dari merek dagang ternama ditentengnya. Belum lagi aksesoris seperti kalung emas bertingkat, gelang emas yang melilit hingga ke siku dan cincin emas yang menghiasi sepuluh jarinya. Membuat wanita itu nampak seperti toko emas berjalan.
Rambutnya yang ikal di bawah bahu nampak mekar dan berwarna cokelat kemerahan. Kulitnya cokelat dan berperawakan gemuk.
Sofia mengedarkan pandangan, menatap wajah-wajah asing di hadapannya dengan malas. Sofia mengadu pada Tante Virda bahwa Viceroy kurang berkenan mempekerjakan Sofia di perusahaannya dengan alasan Sofia sama sekali tidak memiliki pengalaman kerja.
"Ibu, perusahaanku adalah tempat orang bekerja mencari uang, bukan untuk bercanda!" kata Viceroy saat Virda menghubungi anak bungsunya setelah menerima keluhan dari Sofia.
"Sofia baru saja lulus kuliah, berilah kesempatan, Roy," kata Virda.
"Maaf Bu, perusahanku hanya menerima orang-orang yang serius bekerja, bukan untuk tempat pamer kekuasaan," kata Viceroy.
Virda mengalah, ia sungguh paham bahwa Viceroy adalah orang yang sangat tegas dan keras dalam bekerja. Banyak keluarganya yang melamar pekerjaan di perusahaan tersebut, namun sama sekali tidak ada satu pun yang berhasil bekerja di perusahaan Viceroy. Mengingat standar yang ditetapkan Viceroy sangatlah tinggi. Hanya orang-orang berpengalaman dan berdedikasi tinggi yang bisa bekerja di perusahaan tersebut.
Oleh karena itu, Virda meminta tolong pada Ryo agar mengizinkan Sofia untuk bekerja di perusahaan Ryo. Ryo mengizinkan Sofia untuk masuk ke perusahaannya namun hanya sebagai karyawan magang. Lagipula kelak saat Sofia menikah dengan Viceroy, Sofia tidak perlu bekerja sama sekali. Dengan kekayaan yang dimiliki Viceroy, Sofia hanya perlu duduk manis menjadi seorang ratu.
Lagi pula saat masih kuliah, Sofia justru tidak pernah kuliah. Ia hanya bersenang-senang dengan teman-temannya. Semua tugas dan ujian dikerjakan oleh teman-teman yang ia bayar, begitu juga dengan skripsi yang ia beli dan menyuap para dosen. Ia sama sekali tak pernah merasakan susahnya jadi anak kuliahan, karena orang tua yang begitu memanjakannya dengan uang. Sehingga Sofia benar-benar dituntut untuk membalas budi orang tuanya.
"Bu Sofia, ini ruangan kas operasional perusahaan," lanjut Alya.
"Stafnya ada Mbak Rani dan Vara."
Sofia nampak mengabaikan kehadiran orang-orang yang menatapnya di ruangan itu. Semua orang harus tahu bahwa ia adalah adik ipar pemilik perusahaan ini. Meski statusnya hanya karyawan magang, ia adalah adik ipar Kak Ryo.
"Mari Bu, kita ke ruangan lain," ajak Alya.
Sofia dan Alya kembali melanjutkan tur mereka.
Semua orang saling berpandangan.
"Baru tahu Pak Ryo punya adik," komentar Jenah.
"Adiknya Pak Ryo pasti setampan Pak Ryo," sahut Elva.
"Sudah, sudah, lekas kembali bekerja," kata Mbak Rani pada semua orang.
Vara menatap ke arah Mbak Rani.
"Mbak Rani, serius Pak Ryo punya adik?" tanya Vara.
"Benar, Pak Ryo punya adik! Tapi seingatku tidak setampan Pak Ryo," jawab Mbak Rani. "Yang membuatku keheranan adalah, serius wanita itu berdandan nyentrik seperti itu untuk ke kantor?!" kata Mbak Rani. "Apa tidak salah kostum?!" sambungnya lagi.
"Mungkin sedang jadi tren berpenampilan seperti itu Mbak," jawab Vara.
"Biasa, orang kaya kan selalu harus tampil beda," Vara melanjutkan.
__ADS_1