
"Mbak Vara, Bu Sofia minta untuk makan siangnya dipesankan makanan dari Hotel BS," kata Sari.
Sari selaku resepsionis di perusahaan tersebut bertugas mengatur menu makan siang untuk seluruh karyawan.
"Memangnya Bu Sofia tidak makan jatah kotakan kantor?" tanya Vara.
"Beliau tidak mau, katanya tidak selera makanan seperti itu," jawab Sari dengan kekesalan yang terlihat jelas di wajahnya.
"Memangnya beliau mau makanan seperti apa?" tanya Vara keheranan.
"Entahlah, Mbak! Sumpah, orangnya cerewet sekali! Mentang-mentang adik ipar Pak Ryo," jawab Sari terdengar mengeluh.
Menurut penuturan semua orang di kantor ini, Bu Sofia sungguh cerewet, sok berkuasa, dan bertingkah seperti orang yang punya perusahaan. Statusnya hanya anak magang, namun Sofia minta disiapkan ruang kerja sendiri, difasilitasi lengkap, dan tidak mau diperbantukan kepada divisi yang membutuhkan kemampuannya seperti anak magang pada umumnya.
Sofia merasa dia adalah adik ipar Pak Ryo, selaku pemilik perusahaan. Dan sudah menjadi rahasia umum, orang-orang yang bekerja di Victory Grup kebanyakan mengaku sebagai saudara Pak Ryo. Jumlah karyawan yang bekerja di Victory Grup pada awalnya kebanyakan berasal dari keluarga Pak Ryo sendiri. Hanya saja setiap tahunnya banyak karyawan yang berasal dari keluarga Pak Ryo tersebut mengalami pemutusan kontrak kerja dengan alasan penilaian kinerja yang buruk.
Makanya Vara tidak terlalu terkejut saat tahu bahwa Sofia adalah adik ipar Pak Ryo. Adik sepupu Pak Ryo pun juga bisa disebut adik ipar Pak Ryo, contohnya seperti Dinda yang mengaku masih memiliki hubungan sepupu dari sepupu-sepupu Pak Ryo sehingga ia bisa diterima bekerja di Victory Grup. Begitulah, banyak orang lain mengaku sebagai keluarga saat orang tersebut kaya raya.
Dinda bahkan tampak mengakrabkan diri dengan Sofia. Terlihat ada geng baru yang terbentuk sejak Sofia datang ke Victory Grup. Terlihat Dinda, Imel, dan Alya kerap berkumpul di ruang kerja Sofia.
Ruang kerja Sofia sendiri berada di ruang staff HRD yang diberi sekat pembatas agar membentuk ruangan khusus untuk Sofia. Dan bisa ditebak pekerjaan Sofia hanyalah mengurusi urusan orang lain.
"Oh ya, memangnya Pak Ryo punya adik, ya?" tanya Imel.
"Setahuku Pak Ryo memang punya adik, tapi tidak pernah ikut kumpul dalam acara keluarga karena katanya sibuk sekali," jawab Dinda.
"Kalian sungguh tidak tahu siapa adik Pak Ryo?" tanya Sofia tak percaya.
"Tidak tahu lah, Pak Ryo menutup rapat-rapat kehidupan pribadinya," jawab Alya.
"Aku dijodohkan dengan adik Pak Ryo, ke depannya aku akan jadi istri dari pemilik Royal Grup!" kata Sofia penuh kebanggaan.
"Apa?! Pemilik Royal Grup adalah adik Pak Ryo?!" seru Alya dan Imel bersamaan.
__ADS_1
Alya dan Imel benar-benar kaget karena pemilik Royal Grup adalah adik Pak Ryo. Perusahaan besar yang bahkan memiliki standar sangat tinggi dalam hal penerimaan pegawainya. Alya kebetulan pernah mengikuti tes penerimaan pegawai namun ia tidak lolos dalam tes tertulis.
"Aduh, Alya, aku bahkan tidak pernah dipanggil mengikuti tes di perusahaan itu!" keluh Imel.
"Ya, ujiannya sulit sekali! Informasi terakhir yang kudengar, Pak Danu, Manajer Keuangan sebelum Pak Bram, diterima bekerja di perusahaan tersebut," beber Alya.
"Suamiku bahkan sudah mencoba ikut tes sebanyak lima kali dan selalu gagal," keluh Dinda.
"Memang sih, gaji dan fasilitas yang diperoleh selevel dengan perusahaan multinasional! Kuakui manajemennya bagus sekali," Alya menimpali.
"Dan Sofia kau benar-benar akan menjadi istri dari pemilik Royal Grup?!" Imel begitu terkejut.
"Kenapa kalian kaget, ya? Aku pun juga kaget karena tiba-tiba dijodohkan dengan pria super kaya seperti itu," sahut Sofia dengan penuh kebanggaan.
"Wah, Pak Ryo saja sudah sekaya ini, apalagi yang punya Royal Grup ya?" komentar Alya.
"Yah, Sofia beruntung sekali pokoknya! Pak Ryo itu sampai sekarang masih melajang. Seandainya Pak Ryo memintaku untuk menceraikan suamiku, lalu aku diminta menikahi Pak Ryo, pasti akan kulakukan dengan senang hati," kata Imel seraya terkekeh.
"Ya ampun, Imel, kau serius dengan ucapanmu?" Alya tertawa bersama Dinda.
"Kau jadi menyesal, begitu, karena sudah menikah lebih dulu?" goda Dinda.
"Tentu tidak! Sekarang janda lebih cepat lakunya dibandingkan dengan perawan tua!" Imel tergelak.
"Hmm, sekarang janda memang lebih terdepan! Apalagi kalau sudah punya buntut! Beli satu dapat gratis satu," Alya terkekeh.
"Oh ya, ngomong-ngomong masalah perawan tua! Di kantor kita juga ada loh, perawan tua yang hingga kini masih betah melajang," Imel mulai bergunjing.
"Benarkah? Siapa?" tanya Sofia.
"Itu loh, Vara dari divisi keuangan," sahut Imel.
"Vara yang mana?" tanya Sofia lagi.
__ADS_1
"Petugas kas operasional," sahut Dinda.
"Yang mana ya orangnya?" tanya Sofia.
"Yang sok cakep lah, mentang-mentang berkulit putih! Hati-hati loh, dia itu perawan tua yang hingga kini belum kunjung menikah," kata Imel.
"Terlihat jelas Vara itu benar-benar menjilat Pak Ryo, terutama saat turnamen bulu tangkis internal beberapa waktu yang lalu," kata Imel yang masih memendam kekesalannya pada Vara.
"Bagaimana bisa?" tanya Sofia nampak begitu tertarik.
"Sofia, Vara itu bisa memenangkan pertandingan bulutangkis tanpa perlu berjuang! Semua orang jadi menggunjingkannya karena tiba-tiba saja bisa menang! Mentang-mentang menjadi pasangan ganda Pak Ryo," kata Imel.
"Iya Sofia, dia memenangkan pertandingan karena berpasangan dengan Pak Ryo, padahal dia tidak pernah ikut pertandingan, kan kesal jadinya," sambung Dinda.
"Apa Vara itu mengincar Pak Ryo?" tanya Sofia kembali terkejut.
"Sudah pasti lah, Vara mengincar Pak Ryo," jawab Alya seraya terkekeh.
"Vara itu memang mengincar status karyawan tetap, makanya harus menjilat Pak Ryo!" lanjut Alya.
"Aduh, Vara itu yang mana, ya?" tanya Sofia.
"Aku jadi penasaran pada orang yang berani terang-terangan mengincar kakak iparku itu!"
"Itu yang ruangannya di sebelah, yang kerjanya cuma pamer koleksi losion dan bagi-bagi uang perusahaan," seloroh Imel.
"Kabarnya, kudengar pacarnya itu kerjanya tukang ojek, makanya dia mati-matian berusaha untuk jadi pegawai tetap dengan jalan menggoda Pak Ryo."
"Ya ampun! Sungguh berbahaya sekali perempuan model begitu! Sungguh gatal sekali ya, yang namanya Vara itu!" komentar Sofia.
"Jagain memang itu kakak iparmu, Sofia! Perawan tua itu gatal sekali! Dia benar-benar licik karena merasa sok cantik!" Imel kembali menimpali.
"Dia pikir hanya dengan modal cantik saja bisa jadi karyawan tetap! Bertahun-tahun dia kerja di sini cuma jadi karyawan kontrak! Kasihan sekali sebenarnya, karena banyak yang masa kerjanya lebih baru dari dia tapi sudah diangkat jadi pegawai tetap loh," sambung Alya.
__ADS_1
"Wah, sepertinya aku harus memperingatkan Pak Ryo betapa berbahayanya Vara itu," komentar Sofia.