
Viceroy menghela nafas berat, ia melempar ponselnya di atas tumpukan dokumen yang sedang diperiksanya. Ini sungguh di luar dugaannya, hal yang tidak ia rencanakan justru muncul. Padahal ia pikir dengan menemukan rekan, kemudian menikah, itu sudah cukup. Bagaimana ibunya jadi ikut campur menentukan masalah kelayakan wanita yang dinikahinya?
Apa karena ibunya masih bersikeras untuk mengaturkan perjodohan dengan orang-orang yang mengaku masih memiliki hubungan kekeluargaan dengannya?
Viceroy memijat keningnya, ia tentu tidak bisa memaksa Vara untuk bertindak sesuai keinginannya, karena Viceroy tidak memberikan bayaran apapun untuk Vara. Vara hanya meminta pria itu untuk meminta restu dari orang tuanya. Itu gratis, tidak mengeluarkan biaya, dan sungguh mudah untuk Viceroy.
Lagipula mereka hanya sepakat untuk menikah, bukan sepakat menjalankan pernikahan pada umumnya. Siapa yang akan menduga bahwa ibunya sampai harus melakukan uji kelayakan pada sebuah pernikahan yang hanya bersifat formalitas.
Viceroy bahkan tidak tahu apapun tentang Vara. Ia hanya tahu, bahwa Vara adalah wanita modern seperti wanita kebanyakan.
__ADS_1
Lima belas tahun yang lalu, wanita itu memang hanya gadis SMA pada umumnya. Vara hanya gadis yang rajin belajar, punya banyak teman, karena hampir setiap akhir pekan gadis itu mentraktir teman-temannya makan di kantin sekolah, sering kali membawa banyak makanan dan membagi-bagikan kepada teman-teman sekelas. Ya, Vara memang dermawan, ia termasuk anak dari golongan berada karena orang tuanya bekerja di perusahaan besar milik negara. Namun Vara tidak pernah menyombongkan diri.
Viceroy ingat, setiap tahun saat gadis itu berulang tahun, seharian teman-teman sekelasnya akan dijamu dengan banyak makanan yang dibawa oleh Vara. Mulai dari kue ulang tahun, tumpeng, kue-kue mini, hingga buah-buahan.
Tapi itu Vara lima belas tahun yang lalu, kini bahkan Vara terlihat merokok. Padahal dulu wanita itu yang kerap mengadu kepada guru saat memergoki teman-temannya merokok dalam kelas lantaran jam kosong.
Viceroy menghubungi ponsel Vara, setidaknya ia harus mendiskusikan masalah ibunya ini. Tentu saja Viceroy kurang nyaman jika harus membahasnya di rumah orang tua Vara. Apalagi sudah seminggu ini ia tidak menemui Vara, karena harus keluar kota untuk mengurus pekerjaan.
Untunglah ini hanya pernikahan yang bersifat formalitas, sehingga Viceroy tidak perlu merasa bersalah lantaran meninggalkan Vara, padahal mereka baru saja menikah.
__ADS_1
"Vara, bisakah kita bertemu di Kafe Xyz, jam lima sore ini?" tanya Viceroy begitu Vara menjawab teleponnya.
"Maaf Viceroy, malam ini aku harus lembur, aku akan menghubungimu lagi nanti," sahut Vara kemudian menutup teleponnya.
Viceroy mengerutkan keningnya, sepertinya Vara memang begitu sibuk bekerja. Mereka memang sudah sepakat untuk tidak mencampuri kehidupan pribadi masing-masing. Namun mereka tetap harus bertemu untuk membicarakan misi yang harus mereka hadapi. Ibu Viceroy termasuk tipe wanita yang keras. Keputusan beliau adalah absolut. Jika Vara gagal dalam uji kelayakan yang diberikan ibunya, sungguh pernikahan ini harus berakhir sia-sia.
Padahal Viceroy sudah membayangkan bahwa jika Regina yang ia bawa untuk menemui ibunya, ibunya pasti akan menyukai Regina. Kakaknya juga pasti akan menyukai Regina, karena Regina begitu cantik seperti selebriti asal negeri ginseng. Apalagi mereka cenderung memiliki selera yang sama terhadap wanita. Semua wanita yang diincar Viceroy pasti berakhir menjadi kekasih kakaknya. Makanya selama dua tahun terakhir, Viceroy menyembunyikan keberadaan Regina, karena ia takut Regina akan menjadi target kakaknya. Namun, mau dikatakan apalagi, Regina justru pergi meninggalkan Viceroy.
Setidaknya dengan menikahi Vara, Viceroy akan aman, karena Vara sama sekali bukan tipe wanita yang menjadi seleranya.
__ADS_1