Akibat Taruhan Menikah

Akibat Taruhan Menikah
Bertemu Bu Rumi


__ADS_3

Luas area kebun buah-buahan Royal Grup mencapai puluhan hektar. Menyediakan berbagai macam pohon-pohon buah tropis, seperti durian, kelengkeng, nangka, cempedak, salak, mangga, nanas, pepaya, rambutan, buah naga, jambu, hingga kedondong. Dengan kemajuan teknologi budidaya tanaman, buah-buahan yang tadinya hanya bisa dinikmati secara musiman, bisa dinikmati setiap saat jika datang ke tempat wisata buah tropis milik Royal Grup. Tempat wisata ini dikelola secara profesional, dengan berbagai fasilitas seperti pertokoan, tempat makan, tempat outbond, dan eduwisata mulai dari pembibitan tanaman hingga buah-buahan yang dipanen. Belum lagi, untuk meningkatkan nilai ekonomisnya, buah-buahan tersebut juga diolah menjadi berbagai produk makanan mulai dari keripik, manisan, hingga selai.


Vara sungguh antusias melihat banyaknya buah-buahan yang ada, padahal di pekarangan rumah Viceroy juga terdapat beberapa macam buah yang siap dipetik kapan saja. Setelah mengumpulkan buah-buahan yang diinginkan dalam keranjang rotan, Vara membawanya ke petugas yang menghitung total buah yang harus dibayar. Mereka kemudian menuju ke gazebo yang berada di bagian utara, lokasinya dekat dengan pertokoan dan rumah makan.


Vara segera bergabung dengan Ozy dan Santika yang sudah duduk lesehan di gazebo. Terlihat Ozy sudah mulai mengupas buah-buahan yang diinginkannya. 


"Loh, Mas Tampan di mana, Vara?" tanya Ozy melihat Vara datang sendiri.


"Sebentar, ada yang masih harus diurusnya," jawab Vara.


"Pekerjaannya?" tanya Santika.


"Sepertinya begitu," jawab Vara.


"Vara!" terdengar seseorang memanggil Vara. 


Vara menoleh ke wanita paruh baya yang memanggilnya. 


"Bu Rumi," Vara balas menyapa wanita paruh baya itu.


Vara segera menghampiri wanita paruh baya yang dipanggilnya Bu Rumi. Bu Rumi adalah ibunya Riko, wanita yang nyaris menjadi mertuanya. 


Dari semua keluarga Riko, Bu Rumi menjadi salah satu yang menerima Vara dengan tangan terbuka. Bu Rumi sudah menganggap Vara seperti anaknya sendiri. Bu Rumi sangat menyukai Vara, di matanya Vara adalah gadis cantik dan penurut. Bu Rumi benar-benar ingin Vara menjadi menantunya. Saat Vara datang berkunjung ke rumah Riko bersama ibunya, Bu Rumi lebih suka menghabiskan waktu bersama Vara, sedangkan ibu Vara biasa menghabiskan waktu bersama Bu Muji, adik ipar Bu Rumi.

__ADS_1


"Riko suka sekali makan sambal, Vara harus pintar membuat sambal yang enak, Ibu akan ajarkan caranya," kata Bu Rumi yang langsung mengajak Vara ke dapurnya.


Bu Rumi sangat suka memasak, Vara jadi tertarik untuk belajar memasak karena Bu Rumi yang mengajarinya.


"Sambal tidak hanya harus pedas, harus ada rasa yang bisa membuat orang yang memakannya selalu ketagihan, bahkan rindu sambal buatanmu," kata Bu Rumi.


Ketika Riko pulang kampung dalam rangka liburan semester, Bu Rumi selalu mengajak Vara untuk memasak bersama, namun Riko tidak pernah bersedia memakan masakan yang dimasak anak kecil seperti Vara, padahal saat itu Vara sudah duduk di kelas satu SMA. Bu Rumi selalu berusaha mendekatkan Vara pada Riko, namun Riko tentu saja selalu menghindar.


"Vara, Riko suka perempuan yang tidak hanya sekedar cantik, harus cerdas, cekatan, dan pintar memasak. Hati Riko pasti luluh, Ibu sungguh tidak sabar melihat Vara jadi menantu Ibu," kata Bu Rumi yang berharap sangat pada Vara.


Namun, Bu Rumi kecewa saat Riko memutuskan menikahi Laras. Bu Rumi merasa tidak enak pada Vara yang nampaknya sudah berharap sangat seperti dirinya. 


"Tidak apa-apa ya, Vara, semoga nanti Vara berjodoh dengan pria terbaik untuk Vara," kata Bu Rumi pada Vara saat Riko menolak perjodohan yang diaturkan untuk mereka lantaran akan menikahi Laras.


"Terima kasih atas kebaikan Bu Rumi selama ini," kata Vara memeluk wanita paruh baya itu.


Vara segera mengecup punggung tangan dan memeluk Bu Rumi setelah bercipika-cipiki, seperti kebiasaannya sejak dulu ketika bertemu dan berpamitan pada wanita paruh baya bertubuh gempal itu.


"Apa kabar, Vara? Kau terlihat makin cantik," kata Bu Rumi melepas pelukan Vara, menatap Vara dengan tatapan berbinar.


"Vara baik-baik saja, Bu. Bu Rumi apa kabar?" tanya Vara.


"Kabar baik," jawab Bu Rumi. 

__ADS_1


"Ibu ke sini sendiri?" tanya Vara.


"Ada Bapak, sudah ke parkiran duluan, Ibu masih tunggu teman-teman," kata Bu Rumi. "Vara juga datang bersama teman-teman?" tanya Bu Rumi.


"Benar, Bu," jawab Vara.


"Oh ya, Vara, kabar yang Ibu dengar Vara sudah menikah, ya? Ibu dan Bapak ada urusan di luar kota waktu dengar kabar Vara mendadak menikah," kata Bu Rumi.


"Tidak mendadak, Bu, memang sudah waktunya," jawab Vara tersenyum ramah.


"Vara sudah isi, ya?" tanya Bu Rumi.


"Haha, kenapa Ibu bertanya begitu?" jawab Vara seraya tertawa.


"Habisnya, Ibu lihat agak gemukan," kata Bu Rumi.


"Ibu hanya lama tidak melihat Vara," kata Vara.


Vara tidak mungkin mengaku kalau dulu ibunya sangat mengawasi berat badan Vara. Ibu tidak mau Vara terlihat gemuk yang nantinya akan menjadi bahan omongan tetangga, masih bujang tapi sudah begitu gemuk, apalagi nanti sudah menikah, bisa-bisa sebesar tandon air. Selama hidup bersama Viceroy, tidak ada lagi yang mengawasi berat badan Vara. Vara bisa memakan apapun yang ia suka tanpa ada alarm peringatan yang berbunyi. 


"Vara, bagaimana kabar ibu dan bapak di kampung?" tanya Bu Rumi.


"Ibu dan bapak sehat-sehat saja, Bu," jawab Vara.

__ADS_1


"Baiklah, kalau begitu Ibu pamit dulu, sehat-sehat ya, kalau ada waktu mampir ke rumah, Ibu rindu masak bersama Vara," kata Bu Rumi berpamitan.


Vara mengecup punggung tangan, bercipika-cipiki dan memeluk erat Bu Rumi sebelum mereka berpisah. Sungguh dalam hati, Vara ingin memiliki ibu mertua seperti Bu Rumi. Entah dosa apa yang diperbuat Vara di masa lalu, hingga mempunyai ibu mertua macam Ibu suri yang bahkan memberinya ujian agar Vara membagi suaminya dengan wanita lain.


__ADS_2