Akibat Taruhan Menikah

Akibat Taruhan Menikah
Kunjungan Tetangga


__ADS_3

Rumah orang tua Vara nampak ramai dipenuhi ibu-ibu perumahan. Mereka semua datang berkunjung karena mendengar kabar pernikahan Vara. Mereka bahkan datang membawa bingkisan besar yang dibungkus dengan kertas kado berwarna merah.


"Pengantinnya sudah kembali, Ibu-ibu," kata Bu Bejo mengomando massa yang dibawanya.


"Loh, di mana pengantin prianya?" tanya Bu Muji.


"Maaf, suami saya masih ada urusan lain," jawab Vara sambil menahan kekesalannya pada Bu Muji atas sikap nyinyir beliau selama ini.


"Padahal kami ingin bertemu dengan pengantin pria yang katanya tampan," Bu Rudi menimpali.


"Ya ampun, Ibu-ibu, menantuku tidak setampan itu, tampan itu tergantung siapa yang melihat," sahut ibu sembari terkekeh.


"Selamat ya, Vara, atas pernikahanmu, sungguh mendadak sekali, kami jadi tidak bisa menyiapkan kado yang spesial," kata Bu Bejo memberi penekanan kata mendadak yang menggiring opini publik.


"Iya, ya, mendadak sekali ya," Bu Rudi menimpali lagi.


Bu Muji melemparkan tatapan sinis ke arah perut Vara, membuat Vara merasa kurang nyaman.

__ADS_1


"Ini tidak mendadak Ibu-ibu, memang sudah waktunya saja Vara menikah," Bapak segera menyela pembicaraan ibu-ibu.


Ibu langsung melotot ke arah bapak, bapak langsung terkesiap dan pasang muka datar.


"Iya sih, akhirnya Vara menikah juga, lalu kapan pestanya Bu Slamet?" tanya Bu Bejo.


"Maaf, saya tidak menggelar pesta, Bu," jawab Vara. 


Para wanita paruh baya itu terbelalak mendengar jawaban Vara. 


"Ya, ampun, Vara, kau itu menikah seumur hidup sekali, masa iya, tidak membuat pesta besar-besaran? Apalagi kau ini anak tunggal! Benar kan, Bu Slamet?" cerocos Bu Muji ke arah ibu Vara.


"Iya ya, Bu, Riko dulu membuat pesta besar-besaran, tapi ujung-ujungnya cerai juga," celetuk Vara.


Bu Muji langsung terkesiap mendengar celetukan Vara. Suasana tiba-tiba saja menegang. Bu Muji tersinggung dengan ucapan Vara.


"Ibu-ibu, saya sebagai orang tua ikut saja kemauan anak," sahut ibu Vara mencairkan suasana yang tegang.

__ADS_1


"Begitu ya, anak-anak zaman sekarang memang mau praktisnya saja," sahut Bu Rudi.


"Yah, pokoknya sekali lagi selamat atas pernikahan Vara, semoga langgeng dan segera diberi momongan," kata Bu Bejo. "Kalau begitu, kami undur diri dulu," lanjut Bu Bejo.


"Terima kasih Ibu-ibu semua, maaf jadi merepotkan," kata ibu Vara yang jelas sekali memaksakan diri untuk tersenyum.


Ibu dan bapak segera mengantar tamu mereka keluar rumah.


Vara memutar bola matanya, entah apa maksud ibu-ibu yang selalu nyinyir terhadap kehidupan Vara. Saat Vara belum kunjung menikah, mereka nyinyir. Kini Vara sudah menikah, mereka tambah nyinyir.


"Saya yakin, Bu, Vara itu pasti sudah hamil duluan, mana suaminya sok misterius sekali, saya curiga jangan-jangan Vara menikah dengan suami orang!" celetuk Bu Muji begitu mereka berjalan meninggalkan rumah orang tua Vara.


"Makanya Vara tidak menggelar pesta pernikahan, takut ketahuan dia menikah dengan suami orang!" tebak Bu Rudi.


"Vara sungguh sombong menolak perjodohannya dengan Riko, dan kini justru menikah dengan suami orang! Lihat saja, akan saya cari tahu dan saya bongkar semuanya biar Vara tahu rasanya dipermalukan" kata Bu Muji berapi-api.


Ia sungguh tak terima Vara mengatai Riko akhirnya bercerai juga, padahal sudah menggelar pesta besar-besaran. Seingat Bu Muji, Vara memang tidak menghadiri pesta pernikahan Riko, dari kabar yang beredar, Vara tidak datang ke pesta pernikahan Riko yang diadakan secara mewah dan besar-besaran lantaran Vara depresi karena perjodohannya yang batal dengan Riko.

__ADS_1


nb : jangan lupa komen dan like


__ADS_2