Akibat Taruhan Menikah

Akibat Taruhan Menikah
Keinginan Riko


__ADS_3

"Vara," sapa Riko yang dengan penuh percaya diri langsung duduk di gazebo.


Vara nampak menegang, Santika terlihat diam mengamati.


"Sungguh kebetulan bertemu di sini, Vara," kata Riko terfokus pada bibir mungil Vara yang nampak merona merah, terlihat begitu menggiurkan di mata Riko.


Vara hanya diam saja, menatap tajam Riko yang terlihat menatapnya penuh minat. Riko sungguh enggan mengakui bahwa Vara memang begitu menarik naluri lelakinya. Riko terpana, karena Vara terlihat begitu segar seperti buah yang ranum. Membuat Riko jadi membayangkan, apa yang ada di balik dress longgar yang dikenakan Vara.


"Kata ibuku, beliau bertemu denganmu," kata Riko ramah.


"Benar," jawab Vara singkat.


"Kau terlihat berbeda dari terakhir kita bertemu," kata Riko mengulas senyum miring.


Vara memilih untuk mengabaikan Riko, Vara tetap melanjutkan kegiatannya mengupas buah mangga.


"Vara, bagaimana kabar ibu dan bapakmu?" tanya Riko.


"Baik-baik saja," jawab Vara sekenanya.


"Vara, aku minta maaf saat terakhir kita bertemu, sungguh, aku hanya terbawa emosi, lantaran terhasut berita miring mengenaimu, sungguh semua itu karena aku peduli padamu, Vara," kata Riko.


Riko memang kerap mendengar berita tentang Vara dari Bu Muji. Bu Muji juga masih aktif berkomunikasi dengan ibu Vara. Apalagi menurut Bu Muji, ibu Vara masih belum menerima pernikahan Vara dengan suaminya. Bagi ibu Vara, hanya Riko yang pantas untuk mendampingi Vara. 


...*****...


Hari itu, ibu Vara menghubungi Bu Muji selaku tante Riko yang begitu dipercaya oleh ibu Vara. Ibu Vara tentu mendapat informasi tentang Vara dari berita-berita yang disampaikan oleh Bu Muji. Berita miring Vara yang kerap keluar-masuk hotel mewah untuk menjajakan tubuhnya pun tak luput menjadi bahan obrolan yang harus di sampaikan oleh Bu Muji pada Ibu Vara. Meski akhirnya kabar tersebut hanyalah sekedar berita, karena nyatanya Vara masih tinggal bersama suaminya yang hanya berwajah tampan namun sama sekali tidak sebanding dengan Riko yang begitu sempurna di mata ibu Vara. Ibu Vara sungguh malu karena Vara menikah dengan pria yang sama sekali tidak memenuhi kriteria menantu idamannya.


"Bu Muji, tolong bantu bicarakan pada Riko, apa masih ada kesempatan untuk mengatur ulang perjodohan?" tanya ibu Vara saat berbincang dengan Bu Muji via telepon.


"Bu Slamet, kenapa begitu? Bukankah Vara sudah menikah, saya ada bertemu dengan Vara dan suaminya, mereka terlihat baik-baik saja," jawab Bu Muji memprovokasi ibu Vara.

__ADS_1


"Sungguh, Bu, saya di sini tidak tenang, kepikiran anak saya itu, bagaimana dia menjalani kehidupannya, apakah dia hidup layak atau tidak? Saya sungguh malu, Bu. Setiap ada yang menanyakan anak saya, saya memilih menghindar!" kata ibu Vara.


"Ya, mau bagaimana lagi, Bu, bukannya apa ya, Vara itu sepertinya pilih suami hanya dari tampangnya saja, ya," kata Bu Muji.


"Ya, itu dia, Bu. Makanya, saya belum bisa menerima pernikahan mereka, mana mau saya menerima pria yang jelas sekali asal dipilih oleh Vara!" kata ibu Vara. 


"Begitu ya, Bu," sahut Bu Muji.


"Bu Muji pasti tahu sendiri, saya sudah mempersiapkan Vara dari dulu memang hanya untuk Riko, sungguh kesal rasanya ada pria lain yang langsung memetik hasil usaha saya!" lanjut ibu Vara.


"Benar, Bu, keponakan saya itu memang pria yang terbaik dari yang terbaik, banyak sekali wanita yang antri, Riko itu duda yang populer!" kata Bu Muji lagi.


"Benar, Bu Muji, Riko benar-benar pria yang sempurna, tampan dan mapan, sungguh membanggakan!" lanjut ibu Vara.


...*****...


"Bagaimana menurutmu, Vara? Ibumu bahkan lebih memilihku daripada suamimu itu! Jika kau adalah anak yang berbakti pada orang tua, harusnya kau memenuhi keinginan mereka," kata Riko yang teringat obrolan tantenya dengan ibu Vara.


Setelah Riko pikir-pikir, tidak masalah jika ia mempertimbangkan perjodohan ulangnya dengan Vara. Saat Vara menjanda, ia siap jika harus menikahi Vara. Tidak apa Vara menyandang status janda, daripada perawan tua. Apalagi janda tentu saja sudah sangat berpengalaman, sehingga Riko tidak perlu mengajarkan apa yang harus Vara lakukan untuk memuaskannya.


Apa ibu sudah tidak waras?


Vara harus bicara langsung pada ibu. Perang dingin dengan Ibunya benar-benar tidak bisa dibiarkan berlarut-larut.


Apa Vara perlu menyusul ibunya ke kampung? 


Karena sungguh, ibu Vara tidak mau bicara dengan Vara di telepon, setiap kali Vara menghubungi bapaknya.


"Riko, terima kasih atas perhatianmu yang begitu besar, kau begitu sibuk, tapi masih bisa memikirkan keluargaku, aku sungguh terharu dengan sikapmu," kata Vara yang merasa hendak muntah saking mualnya melihat sikap Riko.


"Vara, akan kujual rumah yang kubeli dari orang tuamu. Akan kubuatkan kau pesta pernikahan semewah mungkin, akan kuhidupi kau secara layak dan nyaman, tanpa kekurangan apapun, kujanjikan kau kehidupan mewah yang menjadi dambaan semua wanita," kata Riko.

__ADS_1


Santika memandang Vara yang terlihat mengabaikan penawaran dari seorang pria yang sepertinya punya masa lalu dengan Vara. Apa pria ini, adalah pria yang lamarannya ditolak oleh Vara?


"Tinggalkan saja suamimu itu, Vara! Suami tidak berguna yang hanya bisa mempermalukan orang tuamu! Lihatlah aku! Aku adalah pria yang akan membuatmu dan orang tuamu bangga! Tidak akan ada orang yang berani memandangmu sebelah mata, karena aku begitu sempurna!" lanjut Riko.


Santika mengulum senyumnya, pria di hadapan ini persis seperti penjual obat yang sedang mengklaim bahwa obat yang dijualnya adalah obat sakti mandraguna. Semua penyakit yang diderita langsung sembuh tanpa ampun.


"Eh, ada Pak Riko!" kata Ozy yang telah kembali dari toilet.


Riko menoleh ke arah Ozy.


"Lho, Ozy!" kata Riko terkejut melihat kedatangan Ozy.


"Pak Riko, sungguh kebetulan bertemu di sini, sedang piknik juga ya, Pak," kata Ozy yang langsung duduk di samping Riko.


Vara sungguh tak menduga bahwa Ozy mengenal Riko. Vara berpandangan pada Santika yang nampak mengedikkan bahunya.


"Tidak, tadi saya ada urusan dengan Pak Roy," jawab Riko.


"Apa?! Ada Pak Roy?," Ozy terkejut.


"Benar, sepertinya beliau melakukan kunjungan kerja, tidak mungkin beliau datang ke sini hanya untuk piknik," sahut Riko.


Ozy bernafas lega, syukurlah ia tak bertemu Pak Roy. Sudah cukup setiap hari mendengar teriakan pria itu yang seakan bisa merobohkan gedung kantor. 


"Oh ya, Pak Riko, ngomong-ngomong kenapa Bapak bisa nyasar di sini?" tanya Ozy keheranan.


"Saya menemui Vara," jawab Riko.


"Lho, Vara, kau kenal Pak Riko?" tanya Ozy ke arah Vara.


Riko menatap Vara yang hanya menjawab dengan senyum.

__ADS_1


 


 


__ADS_2