
Vara segera mengemasi barang-barang yang belum sempat ia kemasi. Ia tak menyangka pada akhirnya ia benar-benar meninggalkan rumah ini. Rumah yang sudah memberinya banyak kenangan. Bapak membeli rumah ini saat Vara berusia lima tahun. Lalu menjualnya untuk modal pulang kampung dan sebagian untuk membiayai pesta pernikahan Vara yang rencananya akan dibuat secara besar-besaran. Vara tidak mengerti kenapa bapak justru menjual rumah ini pada Riko. Alasan bapak tentu saja agar rumah ini menjadi milik Riko, lalu menghadiahkannya untuk Vara sebagai kado pernikahan.
Bapak sebenarnya tidak mau menjual rumah ini, namun Riko dan keluarganya membujuk bapak hingga akhirnya bapak menjual rumah ini pada Riko.
Viceroy menemani bapak yang menonton televisi, mereka berdua sedang menyaksikan opera sabun yang mengisahkan penderitaan istri atas kejamnya suami, mertua, hingga tetangga beracun. Viceroy bukan orang yang punya waktu untuk duduk dan bersantai menonton televisi. Namun, ia tentu harus menemani bapak mertuanya yang sedang kesal karena kemarahan ibu mertuanya.
"Pak, saya sungguh minta maaf, saya bukan orang yang tidak bertanggung jawab, saya bukannya meninggalkan Vara, hanya saja saya memang sedang banyak urusan yang harus diselesaikan," kata Viceroy pada bapak.
"Bapak mengerti, jadi pria itu memang harus bekerja keras demi bisa membeli beras," kata bapak mengarahkan pandangannya pada menantunya ini.
Viceroy mengangguk.
"Tapi barang kau keras saja kan?!" kata bapak.
Viceroy tersenyum kecut.
"Percuma kau bisa beli beras, tapi barangmu tidak keras! Yang penting jangan ada kekerasan dalam rumah tangga!" bapak mulai memberi wejangan untuk Viceroy.
"Terima kasih atas nasehat Bapak," Viceroy masih tersenyum kecut.
__ADS_1
"Viceroy, sekarang kau yang bertanggung jawab penuh pada Vara, tolong jaga Vara dengan baik, Bapak percaya padamu," lanjut bapak.
Viceroy mengangguk, "Baik Pak."
Viceroy segera menuju ke kamar Vara.
"Bawa barang seperlunya saja, besok aku akan menyuruh pihak ekspedisi untuk membawa barang-barang yang lain," kata Viceroy yang berdiri di ambang pintu.
"Viceroy, aku minta maaf, sungguh aku tak bermaksud membebanimu," kata Vara.
"Untuk apa kau minta maaf padaku, kau bahkan tak berbuat hal yang salah," kata Viceroy.
Bapak dan ibu harus meninggalkan rumah, karena Riko sudah meminta mereka untuk mengosongkan rumah. Riko melakukannya karena kecewa mendengar kabar bahwa Vara menikah dengan pria lain.
Keputusan Vara sudah bulat, ia sudah tidak bisa mundur lagi. Pekerjaan dan kebebasannya lebih penting. Inilah saatnya Vara menghirup udara kebebasan yang selama ini didambakannya. Hidup bebas melakukan apa yang dia mau tanpa ada yang mengekangnya lagi. Sudah tidak ada lagi orang tua yang mengekang hidup Vara.
Vara tertegun saat Viceroy membawanya ke sebuah hotel berbintang lima. Viceroy mengambil kunci kamar dari resepsionis. Mereka menuju ke kamar yang tertera pada kunci pintu. Vara memutar bola matanya saat mereka memasuki sebuah kamar berukuran luas dengan kasur berukuran besar. Terdapat sofa besar yang berada di depan jendela yang tertutup tirai.
Mengapa pria ini membawanya ke hotel?
__ADS_1
Kamar hotel ini pasti mahal.
Kenapa pria ini hanya memesan satu kamar?
Apa yang sedang direncanakannya?
Viceroy duduk di sofa, ia menatap Vara yang nampak mematung di depan pintu masuk. Vara tentu saja sangat luar biasa sungkan, ia tak pernah menginap di hotel, apalagi berduaan dengan pria di dalam kamar hotel.
Apa Viceroy memilih hotel berbintang lima agar mereka tidak digrebek Satpol PP?
"Viceroy, apa sebaiknya kita tidak tidur di kamar terpisah?" tanya Vara.
"Untuk apa? Kamar ini gratis, aku kebetulan mendapat voucer menginap, mubazir jika tidak dipakai," sahut Viceroy.
"Aku bisa membuka kamar lain," kata Vara.
"Tidak, kita perlu bicara, kalau tidak sekarang, aku tidak tahu apa masih ada waktu luangku," kata Viceroy.
nb : jangan lupa komen dan like kaka
__ADS_1