
Vara menaiki anak-anak tangga menuju ke ruang rapat tempat diselenggarakannya tes penerimaan perusahaan bernama Royal Marine bersama selusin peserta tes yang datang menghadiri undangan. Vara terpana melihat ruang rapat perusahaan tersebut. Ruangan berdinding kaca dengan banyak piagam penghargaan dalam bingkai akrilik bening yang menempel di dinding. Selain foto-foto kapal pengangkut bahan bakar minyak yang ditempel di dinding, terdapat juga visi dan misi serta kebijakan-kebijakan perusahaan.
Terdapat pula satu rak kaca bening yang di atasnya tersimpan miniatur kapal berwarna biru bernama VROY 3010 dalam kotak akrilik bening. Sisanya seperti halnya ruang rapat di tiap perusahaan, ada layar besar sepanjang dinding kaca, infokus, standing mic portabel di tengah meja persegi panjang besar berkapasitas lebih dari tiga puluh orang. Belum lagi sound system dan perlengkapan super canggih lain yang ada di ruangan tersebut. Pastinya lebih bagus daripada di ruang rapat Victory Grup.
Semua peserta duduk di kursi masing-masing. Lagi-lagi Sofia nampak enggan bergabung dengan peserta tes lain.
"Saya ini istri yang punya perusahaan! Bisa tidak saya ini dapat tempat khusus, di ruang kerja suami saya misalnya," kata Sofia.
"Maaf Bu Sofia, mohon ikuti prosedur yang ada," kata Mbak Ratih menahan merasa geram.
Mbak Ratih mulai membagikan lembaran-lembaran kertas untuk semua peserta tes. Lembaran tersebut adalah formulir biodata, lembar soal pengetahuan umum, dan lembar soal psikotes. Mbak Ratih memanggil nama peserta tes satu per satu untuk lembar soal terakhir yang disesuaikan dengan posisi pekerjaan yang dilamar.
"Ibu Varadisa!" panggil Mbak Ratih pada Vara.
Ratih nampak mengerutkan keningnya saat Vara maju dan mengambil amplop cokelat berisi soal tes untuknya. Dalam hati Ratih mempertanyakan mengapa nama wanita ini sama seperti nama kapal-kapal baru bosnya? Sungguh terdengar lucu sekali.
"Waktu tes dua jam dari sekarang, silakan dimulai!" kata Mbak Ratih.
"Huuh, saya ini istri yang punya perusahaan, masa iya, harus ikut tes seperti ini juga?!" celetuk Sofia lagi.
Vara mengerutkan alisnya, luar biasa sekali ada orang bawaan yang terang-terangan mengatakan hal tersebut. Vara jadi mengerti mengapa wanita itu berpenampilan nyentrik. Pasti karena ingin menunjukan eksistensinya sebagai istri dari pemilik perusahaan. Hanya saja kalau memang wanita itu adalah istri pemilik perusahaan, harusnya tanpa perlu mengikuti tes, langsung bekerja saja atau kalau perlu tidak usah bekerja, lantaran sudah jadi istri pemilik perusahaan sebesar ini. Begitulah yang ada dalam benak Vara.
Vara sudah lama sekali tidak mengikuti tes penerimaan karyawan. Vara nampak ragu saat harus mengisi kolom status perkawinan pada lembar biodata. Di KTP statusnya masih belum berubah, karena Vara belum ada waktu ke kantor kecamatan untuk mengubah status KTP-nya. Lagi pula ia masih menggunakan kartu keluarga lama. Ia bahkan belum mengurus kartu keluarga baru, yang mana nama Viceroy memiliki status sebagai kepala keluarga. Sepertinya saat nanti mereka mendapat restu, Vara akan mengurus semua administrasi kependudukan mereka demi menjadi warga negara yang baik. Entah mengapa Vara merasa begitu berdebar senang hanya karena memikirkan kartu keluarga barunya nanti. Sungguh kebahagiaan bagi Vara sangatlah sederhana. Ia benar-benar ingin berumah tangga yang damai dan diberkahi dengan kebahagiaan bersama Viceroy.
__ADS_1
Vara mulai mengerjakan soal psikotes sebanyak seratus soal, sungguh Vara sudah lama sekali tidak mengerjakan soal psikotes. Belum lagi ternyata ada soal bahasa inggris, pengetahuan umum, menggambar, hingga matematika dasar.
Ini tes penerimaan karyawan atau tes masuk perguruan tinggi? Pikir Vara.
Vara melihat sosok wanita nyentrik langsung mengumpulkan semua lembar jawabannya pada Mbak Ratih yang mengawasi jalannya tes. Sofia hanya mengisi lembar biodatanya dan semua lembar jawabannya dengan menuliskan satu kalimat sebesar rasa percaya dirinya.
..."SAYA ISTRI PAK ROY"...
Mbak Ratih sungguh harus memperbanyak stok sabar dalam menghadapi Sofia. Ia sungguh tidak percaya, wanita nyentrik, angkuh, dan norak ini adalah istri Pak Roy. Pak Roy sendiri sebenarnya bukan orang yang angkuh. Beliau hanya tegas dan penuh wibawa. Hal tersebut membuat Pak Roy benar-benar sangat disegani oleh karyawannya.
Istri Pak Roy bahkan dengan tegas menolak Mbak Ratih yang hanya karyawan. Padahal Mbak Ratih pernah satu lift dengan Pak Roy, namun Pak Roy tidak mengusirnya seperti istri pria itu.
Entah apa yang merasuki Pak Roy, sampai menikah dengan wanita sombong seperti itu. Cantik juga tidak, tapi angkuhnya selangit, mentang-mentang istri yang punya perusahaan. Mungkinkah wanita itu punya pengaruh yang begitu besar? Dari keluarga terpandang?
Sehingga Pak Roy bersedia menikahi wanita yang begitu angkuh dan seakan memamerkan diri bahwa ia adalah istri dari Pak Roy, pemilik Royal Grup yang tajir melintir terpelintir-pelintir. Pantas saja Pak Roy menyembunyikan pernikahan beliau, lantaran istri beliau memang patut untuk disembunyikan. Kalau perlu, ikat saja kaki beliau dan tenggelamkan bersama jangkar kapal!
Dua jam telah berlalu dan waktunya mengumpulkan lembar jawaban. Vara bukannya tidak percaya diri, hanya saja ia memang sudah lama tidak belajar. Vara tidak berharap banyak, ia hanya berusaha melakukan yang terbaik.
"Untuk seluruh peserta tes, bisa langsung pulang dan tunggu kabar selanjutnya," kata Mbak Ratih.
Vara dan para peserta lain bergegas pergi dari ruang rapat tersebut. Terlihat para karyawan yang bekerja di sekitar ruang rapat sibuk bekerja di balik kubikel mereka.
Vara menyusuri koridor menuju ke arah tangga.
__ADS_1
Lift berdenting, sosok seorang pria keluar dari pintu lift yang terbuka.
"Apa?! Yang benar saja, masa hal seperti itu saya juga yang harus selesaikan?! Kalau semua-semua saya, lantas kalian semua hanya makan gaji buta saja?! Begitu?!" terdengar teriakan seorang pria yang keluar dari lift.
Vara sungguh kaget karena suara pria itu begitu menggelegar. Vara menoleh sekilas, pria itu sudah pergi dari area lift. Vara hanya menatap sekilas punggung pria yang menghilang di balik sebuah ruangan. Entah mengapa Vara merasa familiar dengan punggung pria bersetelan jas hitam itu.
Perusahaan ini luar biasa, bahkan ada orang yang boleh berteriak-teriak di kantor, batin Vara.
Vara menuju ke lobi, matanya menangkap sosok wanita berkulit cerah, dengan potongan rambut bob berwarna cokelat terang. Wanita itu memakai setelan blazer berwarna biru gelap dengan kemeja hijau muda.
"Terima kasih Mbak, mohon maaf atas ketidaknyamanan ini," kata wanita itu.
Vara mengulas senyumnya, ia langsung merangkul lengan wanita itu begitu wanita itu keluar dari gedung perusahaan tersebut.
"Santika!" kata Vara riang.
"Vara?!" Santika terkejut.
"Sedang apa kau di sini?" tanya Vara.
"Justru aku yang harusnya bertanya untuk apa kau di sini?" Santika balik bertanya.
"Sebentar, ambil KTP dulu yuk," ajak Vara menuju ke pos keamanan untuk menukar badge pengunjungnya.
__ADS_1